Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Perubahan Erkan


__ADS_3

Chessy benar-benar tidak habis pikir jika suaminya tiba-tiba bernada bicara kasar padanya. Sedangkan wanita yang sedang duduk di depan terlihat sedang menahan tawanya karena merasa bahagia. "Kak Chessy, Kak Erkan nggak suka diganggu saat lagi fokus sama kerjaannya. Siapapun itu dia pasti marah. Jadi, besok kalau Kak Er lagi fokus begitu, Kak Chessy lebih baik duduk cantik aja liatin Kak Er. Jangan diganggu apalagi sampai merebut barang yang dia pegang," Nayla memberikan saran dan penjelasan yang menurut Chessy cukup detail dan yang luar biasa bagi Chessy, seorang sekretaris begitu paham dengan sifat suami yang baru satu bulan dinikahinya.


"Ches, kita diem aja ya?" Sylia mengusap punggung Chessy. Segera Chessy memeluk lengan Sylia dan membuang pandangannya ke luar jendela. Entah setan apa yang merasuki Erkan karena untuk pertama kalinya Erkan bicara dengan nada tinggi pada Chessy.


"Nayla, aku nggak jadi makan. Kita langsung pulang aja. Aku capek mau istirahat. Udah nggak laper juga " Chessy bicara dengan nada pelan, tetapi Nayla masih mendengar.


"Iya Kak." Jawab Nayla dengan senyuman yang tak biasa. Lebih aneh lagi, tidak ada protes dari Erkan saat dia membatalkan rencananya untuk makan. Suasana di mobil pun hening beberapa waktu, tanpa suara tanpa ada yang bertanya atau pun tertawa hingga mobil itu terparkir di sebuah rumah cukup mewah dan megah bagi Chessy. Sylia memberikan isyarat pada Chessy untuk segera keluar dari mobil.


"Ches, udah sampe kayaknya." Sylia berbisik pada Chessy. Diliriknya sang suami, dan benar saja Erkan masih sibuk dengan jari telunjuknya. Chessy sangat kecewa sekaligus kesal yang teramat dalam. Bahkan, mobil telah berhenti pun matanya masih fokus menatap ipad. Segera Pak Romi membukakan pintu mobil dan Sylia diikuti Chessy segera keluar dari mobil. "Udah Ches, biarin aja suamimu itu. Kita masuk aja terus istirahat. Jangan lupa kunci kamarnya nanti." Lanjut Sylia dan meminta Pak Romi untuk mengantar Chessy masuk rumah. Nayla sendiri belum turun dari mobil dan masih menunggu Erkan. Chessy tak peduli, Chessy sudah terlanjur marah dengan sikap Erkan.


Chessy duduk di sofa bersama Sylia. Chessy menyandarkan kepalanya di sandaran sofa itu dan menatap langit-langit rumah yang masih asing untuk Chessy. Ada dua art yang menghampiri Chessy. "Non, maaf istri Tuan yang mana?" Tanya satu art yang terlihat masih begitu muda. Dia bingung dengan penampilan Sylia yang bercadar dan dengan penampilan Chessy yang sedikit berantakan karena hijabnya tidak terpasang dengan benar.


"Saya Mbak, nama saya Chessy, dan ini sahabat saya Sylia. Dia akan tinggal disini juga." Jawab Chessy seraya mengulurkan tangannya pada kedua art itu. Mereka berjabat tangan dengan penuh kesopanan.


"Nama saya Surti Non, dan ini Mbok Gani. Supir yang bersama Nona tadi namanya Pak Romi." Kata Surti memperkenalkan diri. Chessy mengangguk dan kembali duduk. "Non haus? Mau minum apa Non?" Tawar Surti.

__ADS_1


"Aku minta air mineral aja Mbak. Sylia juga air mineral ya. Eh … aku yang dingin ya Mbak, tubuhku panas banget sampe kayak mau meledak rasanya," jawab Chessy dengan nada yang dibuat-buat karena berharap Erkan muncul, tetapi tentu saja itu hanya sebuah harapan. Titah Chessy langsung mendapatkan anggukan. Surti dan Mbok Gani pun berlalu.


"Ches, ada yang salah sama suamimu? Kenapa dia jadi berubah drastis begitu. Belum lagi mereka masih di dalam mobil. Sepertinya hubungan mereka bukan hanya sekedar sekertaris dan atasan deh. Apalagi …." Sylia ragu untuk meneruskan ucapannya dan mulai menunjukkan sikap kesalnya pada Erkan. Padahal sebelumnya Sylia begitu bersyukur karena Chessy menikah dengan seorang laki-laki yang begitu lembut.


Chessy tidak langsung menjawab apa yang baru saja dikatakan Sylia. Merasa sangat lelah, Chessy kembali menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap langit-langit lagi. Surti pun datang dengan dua gelas air dingin. "Non, ini minumnya." Mendengar suara Surti, Chessy mengubah posisi duduk menjadi tegap.


"Kamarku dimana Mbak? Udah dikasih tahu belum kamar buat Sylia juga?" Tanya Chessy menatap art yang terlihat begitu polos itu.


"Sudah Non. Kami sudah siapkan semuanya. Nona kamarnya di atas. Disana cuma ada dua ruangan Non. Kamar Tuan sama ruang kerja Tuan. Kalau buat Nona satu ini, kamarnya sejajar sama kami di sebelah sana." Surti menunjuk sebuah ruangan.


"Saya baru lulus sekolah satu tahun yang lalu Non. Saya disini baru enam bulan." Jawab Surti.


"Sama aku biasa aja Mbak Surti. Aku satu tahun lebih muda dari Mbak. Nanti aku juga bantu-bantu pekerjaan dirumah ini kok. Jadi jangan panggil aku Nona ya, panggil nama aja kayak temen." kata Sylia lagi.


"Tapi jangan biarin dia kecapekan ya Mbak. Dia baru aja …."

__ADS_1


"Udah, jangan khawatir. Aku nggak mau tinggal gratis di rumah mewah ini. Kamu nggak usah khawatir. Aku bisa jaga diriku sendiri. Kalau capek pasti langsung istirahat." Sylia menyela ucapan Chessy.


"Tetep aja kondisi kamu belum bener-bener pulih. Tolong anter dia ke kamarnya Mbak. Pak Romi, tolong dong, koper warna biru itu punya Sylia ya, tolong anter ke kamarnya ya." Chessy membalikkan badan lalu berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Di ujung tangga atas, Chessy menoleh ke arah pintu utama. Sama sekali tidak ada penampakan Erkan disana. Entah apa yang sebenarnya Erkan lakukan sekarang, Chessy tak peduli. Chessy lelah dan butuh tidur. Dia pun masuk ke dalam kamar.


"MasyaAllah, ini kamar atau istana merdeka? Luas banget dan desainnya bener-bener buat aku takjub aja. Ukiran-ukirannya unik-unik lagi." Chessy mengelilingi ruangan itu seraya menyentuh lembut beberapa ukiran dan benda yang ada di kamar itu. "Seberapa kaya suamiku itu?" Gunam Chessy lagi dan dia pun sadar kalau Erkan masih di dalam mobil. "Sial … eh astaghfirullah. Balik lagi sifat burukku. Gara-gara kamu Mas. Ngapain sih kamu di mobil," Chessy menghentakan kakinya beberapa kali bahkan meremaas tangan seolah sedang memberikan pelajaran pada Erkan. Terlalu lelah dengan perjalanan dan pemikirannya, Chessy pun malas memikirkan suaminya lagi, Chessy segera menjatuhkan diri di atas kasur.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar. Chessy sangat terkejut hingga posisi tidur yang enak mengharuskan dia untuk segera bangun dan duduk.


"Sayang …."


"Apa?" Chessy menghindar saat Erkan akan memeluknya.


"Sayang ma-maafin Mas. Sayang … Mas sungguh …." Erkan memohon pada Chessy, tentu saja Chessy terus mengelak.


"Sayang-sayang? Palak lu peang." Chessy menepis tangan Erkan yang terus membentang dan berjalan ke arah balkon. "Nggak usah ngikutin aku. Urus aja ipadmu itu Mas. Pergi sana …."

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2