Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Kabar Bahagia


__ADS_3

Langkah kaki yang cukup buru-buru membuat Chessy merasa sangat heran dengan perubahan suaminya itu. "Loh … kok malah ke resepsionis Mas?" Tanya Chessy yang makin heran dengan sikap Erkan.


"Nurut aja ya Sayangku. Kamu duduk dulu ya, Mas mau tanya dulu ke bagian resepsionis," kata Erkan seraya mengusap ujung kepala Chessy dan tersenyum begitu manis pada istrinya itu. Erkan pun berdiri di bagian resepsionis. "Sus, poli kandungan di sebelah mana ya?" Tanya Erkan pada seorang perawat yang ada di bagian resepsionis.


"Oh, dari sini lurus, nanti gang kedua belok kanan, terus lurus lagi gang keempat belok kiri ya Pak," jawab sang perawat.


"Jauh ya. Terima Sus," Erkan segera menarik tangan Chessy dan mengajaknya ke poli kandungan sesuai arahan sang perawat. "Sayang … agak jauh. Takut kamu capek jalan mau di gendong apa pake kursi roda?" Padahal Erkan tahu jika hasil tespeknya tadi pagi itu negatif, hanya saja harapan untuk Chessy hamil sangatlah besar karena dengan itu dia tidak akan melihat sang istri bersedih lagi.


"Lebay banget sih Mas? Jauh mana sama ke Indonesia. Udah buruan jalan, kita mau kemana?"


"Ke Dokter kandungan."


"Hah?"


"Nurut aja ya?"


"Tapi Mas … aku … aku takut hasilnya mengecewakan," Chessy merasa berat untuk berjalan menuju Dokter kandungan.


Namun, berbeda dengan Erkan yang begitu semangat dan tak henti-hentinya menebar senyum pada setiap orang yang dia temui dalam perjalanan ke poli kandungan. "Mas, nggak usah tebar pesona kenapa sih?" Bentak Chessy karena kesal.


"Mungkin sebagian dari mereka kenal sama Mas, jadi Mas harus ramah dong." Jawab Erkan tanpa merubah expresinya.


"Iya … tapi kalau kayak gitu caranya, mereka bakal salting dan kegeeran Mas …." Chessy makin geram.


"Manis banget sih kalau cemburu. Udah, nggak usah dibahas. Ayo jalan lagi." Erkan pun mencubit pipi Chessy. Terpaksa Chessy juga mengikuti langkah Erkan.


Tiba di poli kandungan, Erkan segera meminta nomor antrian dan menunggu seperti yang lainnya di ruang tunggu. Chessy sendiri hanya celingukan dan sesekali tersenyum melihat beberapa wanita dengan perut yang sudah membuncit disana. Dulu saat dia telat datang bulan dan tespek yang menunjukkan hasil positif, Devan juga begitu baik pada Chessy. Masa kehamilan Chessy juga tidak ada yang buruk sama sekali. Devan selalu menuruti semua mau Chessy. Sayang, sikap Devan berubah saat tahu kelainan yang diderita anaknya.


"Mas liat, kamu kadang senyum kadang cemberut, kenapa Sayang? Nanti juga bakal buncit begitu. Hm, pasti lucu deh kamu kalau kayak gitu Sayang. Perut buncit pipi bakpao, Mas bakal cubit setiap hari." Ucap Erkan lagi dan Chessy hanya memutar bola matanya.


"Nggak pa-pa kok," jawab Chessy seraya tersenyum.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, barulah giliran mereka masuk ke dalam ruang periksa. Dokter pun menyapa dengan ramahnya. Tentu saja lagi-lagi Chessy tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun, Erkan beberapa kali bertanya pada Chessy, itu pasti juga pertanyaan dari sang Dokter. Setelah itu, Chessy diminta naik ke brankar dan sang Dokter pun mulai memeriksa.


Chessy mengangkat tunik yang dikenakan itu dan perutnya tiba-tiba terasa begitu dingin. Chessy ingat jika tindakan seperti itu berarti Chessy akan di usg. "Sayang, kata Dokter ini anak kita masih sebiji kacang." Ucap Erkan menunjuk sebuah layar besar di depannya. Chessy tentu terkejut dengan penuturan Erkan.


"Ak-aku … aku hamil Mas?" Tanya Chessy dengan terbata.


"Hm. Kamu lihatkan? Itu anak kita." Kata Erkan yang kembali menunjukkan layar di depannya.


"Ta-tapi aku … aku udah tes kehamilan dan negatif Mas." Chessy benar-benar tidak percaya akan hal itu.


"Iya Mas udah bilang sama Dokternya, bisa jadi tespeknya nggak berfungsi dengan baik atau karena usia kandungan yang masih dini." Erkan begitu terlihat bahagia. "Mas juga udah bilang kalau nafsu makanmu berubah drastis tadi. Katanya itu hal biasa bagi ibu hamil." Lanjutnya.


Chessy masih belum percaya jika dirinya benar-benar hamil, hingga pemeriksaan selesai pun Chessy masih terlihat bengong. Dokter memberikan banyak saran pada Erkan dan setelah itu memberikan buku kehamilan dan resep vitamin yang harus Chessy minum. Erkan dan Chessy pun keluar dari ruangan itu.


Chessy memegangi buku kehamilan miliknya, bahkan sesekali dicium dan dipeluk erat. Erkan tidak melarang bahkan meledeknya. Erkan hanya tersenyum bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Baba. "Sayang, Mas tebus resep dulu ya? Kamu duduk disini aja." Chessy hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kehamilan miliknya.


Setelah menebus obat, Erkan dan Chessy pun pulang. Di sepanjang perjalanan pun, Chessy masih sibuk dengan buku yang sejak tadi tidak terlepas dari pelukannya. "Sayang, apa kamu bahagia? Raut wajahmu beda banget dari sebelumnya." Tanya Erkan seraya fokus dengan pandangannya.


"Iya Mas, aku bahagia banget. Entah kenapa aku sebahagia ini Mas. Aku nggak berharap ini Rara, tapi setidaknya aku punya pengganti dia nantinya. Makasih ya Mas kamu udah sabar banget ngadepin aku."


___________


"Syl … Sylia …." Chessy tiba di rumah dan langsung teriak memanggil Sylia karena mereka berdua tadi memakai tespek yang sama, tetapi Chessy tidak tahu jika hasil dari tespek Sylia sudah positif. Erkan hanya mengikuti langkah Chessy dan beberapa kali menggelengkan kepalanya melihat sebegitu bahagia dan antusiasnya sang istri. "Sylia … ya ampun, kemana sih?" Chessy sesegera mungkin berjalan ke kamar Sylia dan mengetuk pintu kamarnya. "Syl, aku pulang." Teriak Chessy seraya mengetuk pintu kamar Sylia.


Beberapa saat kemudian, barulah Sylia membuka pintu kamarnya. "Ma-maaf, tadi lagi itu." Jawab Sylia malu-malu.


"Jam segini udah main-main aja kalian, bikin iri." Celetuk Erkan.


"Mas!" Chessy hendak melayangkan protes, tetapi diurungkan dan langsung bicara dengan Sylia. "Nih Syl, liat aku positif hamil." Chessy pun menunjukkan buku kehamilan pada Sylia. Terlihat mata yang menyipit, Sylia langsung memeluk Chessy dan menitikkan air matanya.


"Selamat ya Ches, alhamdulilah kamu hamil. Berarti tespek itu rusak ya?" Ledek Sylia yang masih dalam pelukan Chessy. Mendengar ucapan Sylia, Chessy langsung tertawa dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Iya, alhamdulilah Syl. Aku tadi usg. Ini hasilnya. Anakku masih sebiji kacang kata Dokter. Syl, kamu juga harus periksa ke Dokter sekarang juga." Ucap Chessy menoleh ke arah Alman. "Cepet anter istrimu ini ke Dokter kandungan Kak Alman. Harus sekarang juga." Titah Chessy pada Alman.


"Loh, Sayang. Emang Sylia hamil juga?" Tanya Erkan.


"Tadi Sylia juga aku beliin tespek Mas karena dia juga telat mens." Jawab Chessy dan kembali menoleh pada Alman.


"Gila lu canggih bener langsung jadi." Ledek Erkan yang memukul bahu Alman.


"Bibit unggul Bos. Bismillah kalau gitu." Jawab Alman tersenyum lebar.


"Sekarang aja, semakin cepat semakin baik. Kalau tahu Sylia hamilkan kedepannya bisa lebih hati-hati." Tutur Chessy lagi. Alman dan Sylia pun bersiap untuk segera pergi ke Dokter kandungan yang ditunjuk oleh Erkan.


Sepanjang perjalanan, Sylia merasa sangat bersalah. Alman menatap Sylia yang begitu gelisah dan tidak duduk dengan tenang. Sylia juga terlihat meremas jari jemarinya dan terlihat hentakan kaki beberapa kali.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Mas, aku udah bohong sama Chessy."


"Hah? Bohong apa?"


"Jadi, tadi itu hasil tespek Chessy negatif sedangkan punyaku positif dan …."


"Jadi kamu bener-bener hamil Sayang?"


"Ya nggak tahu Mas, kita baru mau periksa."


"Alhamdulillah,"


"Mas, jangan seneng dulu. Kita lihat hasilnya dan baru ucap alhamdulilah. Aku takut kamu kecewa Mas. Setelah itu aku juga harus minta maaf sama Chessy."


"Iya Sayang. Bismillah, semoga kita juga diberikan kepercayaan untuk segera mempunyai anak seperti Nona Chessy."

__ADS_1


"Aamiin."


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2