
Alman membawa Erkan ke sebuah restoran biasanya yang tak jauh dari kantor untuk makan siang mereka. Erkan memang tidak pernah makan di kantin kantor karena merasa selalu jadi bahan perhatian para karyawannya terutama para wanita. Erkan merasa kurang nyaman. Jadi Erkan selalu makan di luar bersama dengan Alman juga Alzeer. Namun, karena Alzeer masih menjaga Alesia, akhirnya hanya makan berdua dengan Alman.
"Pesen apa Bos?" Tanya Alman yang sibuk dengan daftar menunya.
"Terserah," jawab Erkan yang masih saja menikmati rujak yang hanya tinggal beberapa potong itu.
"Awas aja kalau gue pesen sesuai selera gue terus lu protes Bos." Alman pun memesan makanan sesuai dengan apa yang dia mau.
"Ah, habis juga. Seger banget nih yang namanya rujak. Besok minta bikinin istriku ah." Erkan pun menutup kotak makanan itu yang masih menyisakan sambal rujak sedikit.
Beberapa saat kemudian, Erkan menatap datar menu makanan yang di pesan oleh Alman. Sekilas Alman khawatir kalau selera Erkan jadi buruk atau moodnya kacau dan tidak mau makan. Namun yang Alman pikirkan adalah salah karena Erkan menata makanannya di piring dan memakannya dengan lahap. "Laper Bos?" Ledek Alman yang merasa jika Erkan tidak biasanya makan begitu nikmat kecuali masakan istrinya.
Erkan tidak menanggapi ledekan Alman dan masih menikmati makan siangnya hingga makanan di piring itu habis tanpa sebutir nasi pun. "Alhamdulillah. Kenyang gue, ayo balik." Kata Erkan seraya mengelap bibirnya dengan tisu.
"Gila lu Bos makan banyak banget." Alman dibuat heran dengan Erkan yang makan siang dengan lahap. "Jam istirahat masih lama Bos, belum kelar nih makan udah ngajak balik aja." Protes Alman karena makan siangnya masih banyak.
"Gue ngerasa aneh deh. Lu tahu gue nggak pernah makan banyak kalau di luar begini. Gue makan lahap kalau makan masakan istri gue aja. Tapi hari ini gue ngerasa aneh. Kenapa makanan ini jadi enak, padahal kita bukan pertama kalinya datang kesini." kata Erkan menatap jauh ke luar jendela kaca yang transparan.
"Pas lagi mood aja kali Bos. Sebelum kawin kan Bos moodnya kacau. Jangankan makan banyak begini, sehari ada satu butir yang masuk ke perut aja udah bersyukur banget." jawab Alman dengan santainya. Erkan pun tak pikir panjang dan setelah selesai, mereka berdua kembali ke kantor.
____________
Chessy masih tidak beranjak dari tempat tidur dan hanya bolak balik berguling di tempat tidur. Chessy benar-benar kacau saat apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal Chessy sudah tidak sabar untuk hamil. "Kenapa ini, kenapa aku sama sekali nggak bisa tidur." Chessy kembali mengacak-acak rambutnya. Entah sudah berapa kali Chessy melakukan hal itu sejak mengetahui hasil dari tespeknya. Chessy bahkan enggan untuk keluar dari kamarnya padahal Surti sudah memanggilnya tiga kali untuk makan siang.
__ADS_1
Surti khawatir dan langsung mengadu pada Sylia. Surti tentu takut jika terjadi hal buruk pada majikannya karena tidak menjawab panggilannya. Sedangkan dia tidak berani membuka pintu tanpa seizin sang pemilik kamar.
"Hah? Serius Mbak?"
"Iya Mbak Sylia. Surti udah panggil Nona tiga kali dan Surti ketuk-ketuk juga kok pintunya. Tapi Nona sama sekali nggak jawab dan nggak mau buka pintu. Ini udah lewat jam makan siang Mbak Sylia, kasian Nona belum makan sejak pagi tadi."
"Ya udah, siapin aja makanannya, biar aku yang anter makanannya ke atas." Surti mengangguk dan menyiapkan makan siang Chessy. Sylia yang tadinya sedang mengaji, terpaksa menyelesaikan bacaannya dan pergi menghampiri Chessy di kamar. Sylia cukup gugup dan takut karena masalah tespek tadi pagi.
"Assalamu'alaikum, Ches … aku masuk ya?" Sylia mengucap salam dan membuka pintu kamar itu. Sylia meletakkan nampan yang berisi makan siang Chessy di atas nakas, kemudian mencoba memegang tangan Chessy. "Ches, kamu baik-baik aja kan?" kata Sylia dengan lirihnya.
"Aku cuma mau sendiri Syl. Tolong keluar." jawab Chessy tanpa merubah posisinya bahkan suara Chessy juga terkesan berat. Seperti sedang menahan tangis.
"Ches, tadi pagi katanya kamu nggak sarapan dan ini udah lewat jam makan siang. Paling nggak makan sedikit ya biar kamu nggak sakit." Rayu Sylia tetapi tak membuat Chessy menatapnya. Tubuh Chessy masih miring dengan memeluk guling dan selimut yang tingginya sampai dada.
"Chessy … aku nggak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Aku mungkin nggak akan bisa mengerti apa yang kamu rasakan ini. Aku juga bukan dukun yang bisa menebak apa yang kamu rasakan. Tapi, aku mohon, kalau kamu punya masalah besar, masalah kecil, coba cerita sama aku dan kita cari solusinya. Nggak ada masalah yang nggak punya jalan keluarnya bukan? Seperti aku ini contohnya. Ayo makan sedikit aja, setelah itu aku akan keluar dari kamar ini." Sylia masih kekeh mencoba merayu Chessy.
Akhirnya, Chessy mau bangun dengan kepala yang tertunduk. Rambutnya acak-acakan dan matanya bengkak karena Chessy pasti menangis sejak tadi akibat dari tespek yang negatif. Sylia kemudian mengambil sisir dan menyisir rambut Chessy dengan hati-hati lalu mengikatkan dengan ikat rambut. Sylia mengusap pipi Chessy yang masih sedikit basah dengan tangannya.
"Nah, sekarang tinggal senyum aja, maka kecantikan di dunia ini menjadi milik Chessy Manohara." Ucapan Sylia berhasil membuat Chessy tersenyum walaupun tipis.
"Kamu tahu, aku sangat berharap untuk hamil. Aku udah telat cukup lama. Rasa nggak nyaman di badanku itu menunjukkan sekali kalau aku lagi hamil." Kata Chessy masih terlihat sedih.
"Chessy, gimana kalau kamu periksa ke Dokter aja. Bisa aja kan tespek itu salah. Namanya juga cuma alat, kalau ke Dokter kan bisa di usg dan diperiksa lebih lanjut." Sylia mencoba menguatkan Chessy.
__ADS_1
"Apa iya harus begitu. Tapi kalau hasil pemeriksaan Dokter juga sama kalau aku belum hamil gimana? Apa aku wanita mandul saat ini?"
"Astaghfirullah. Chessy, jangan bicara begitu. Kamu menikah bahkan belum ada satu tahun. Kalau kamu masih belum hamil, berarti Allah masih kasih kamu kesempatan untuk terus berduaan dan berpacaran secara halal dengan Tuan Erkan. Ambil segi positifnya, jangan berpikir negatif."
"Tapi nggak bisa. Aku nggak bisa melakukannya Syl. Aku nggak bisa melakukan apa yang kamu sarankan. Aku tetep merasa wanita yang kurang kalau belum kasih Mas Erkan keturunan."
"Aku yakin kamu akan hamil secepatnya. Sekarang kamu harus makan dulu ya. Kamu harus punya tenaga. Aku akan suapin kamu."
Sylia pun mengambil piring dan mengambil sedikit nasi lalu beberapa sayur serta lauk pauknya. Sylia mengaduk nasi itu dengan sayur dan menambahkan secuil ikan goreng. Sylia mengangkat sendok itu dan mengarahkan ke mulut Chessy. Terpaksa juga Chessy membuka mulutnya dan mencoba mengunyah makanan itu.
"Huek …." Chessy menutup mulut dengan tangan karena tiba-tiba merasa sangat mual setelah merasakan perpaduan rasa nasi yang masuk.
"Kenapa?" Sylia mengambil satu sendok dan mengunyahnya. Tidak ada masalah dengan rasa dari makanan itu.
"Emh …." Chessy menggelengkan kepalanya, kemudian beranjak ke kamar mandi dan memuntahkan isi mulut.
"Ches, kamu kenapa? Mungkin masuk angin kamu karena telat makan." Sylia mengikuti langkah Chessy.
Chessy membasuh mulutnya dan mengambil tisu untuk mengeringkan mulutnya. Chessy menarik napas dalam-dalam. "Gila … masakan itu asik banget Syl. Lidahmu nggak normal ya?" Chessy kembali duduk di tepi ranjang dan menatap eneg nasi yang ada di piring itu.
"Aku udah coba, dan nggak ada masalah dengan rasanya." Ucap Sylia yang kemudian mengambil satu sendok lagi dan memakannya. "Tuh, nggak ada masalah. Ikannya juga enak nggak bau amis." Lanjut Sylia.
"Aku mau tidur aja. Eh aku belum sholat. Aku mau sholat dulu abis itu tidur. Kamu bawa lagi aja makanan ini, liatnya aja aku pengen muntah." Chessy kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sedangkan Sylia benar-benar keluar dari kamar Chessy dan membawa makan siang itu.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...