
Hidup memang hanya sekali, tetapi mungkin dalam lingkungan kita ada orang yang mati dan hidup lagi, mereka menyebutnya mati suri. Namun, Chessy bukan mengalami semacam mati suri, tetapi suatu hal yang sangat sulit untuk diterima oleh nalar. Walaupun demikian, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk hamba-Nya. Hanya saja, jangan pernah menyepelekan hal yang terlihat sepele, karena diluar sana masih banyak suatu hal yang bisa diterima oleh nalar.
Setelah selesai mencurahkan isi hatinya pada Sylia, entah kenapa Chessy merasa begitu lega bicara dari hati ke hati pada Sylia. Mungkin karena saat itu Chessy telah menyimpan dendam yang begitu berat pada Sylia saat tahu jika dirinya diberi kesempatan kedua untuk merubah takdirnya. Namun, melihat sebuah penyesalan dalam diri Sylia, Chessy merasa telah mengeluarkan beban berat dalam hidupnya. Mungkin juga karena rasa dendam itu sudah benar-benar hilang digantikan oleh rasa cinta dan sayangnya pada Sylia, terlebih dia melihat bagaimana hijrahnya Sylia.
Chessy pun mengantar Sylia kembali ke kamarnya untuk istirahat, dan dia sendiri juga kembali ke kamarnya karena harus banyak istirahat juga. Apalagi fisik Chessy saat ini berbeda, tidak seperti Sylia yang masih cukup kuat bahkan masih bisa makan enak.
"Udah selesai Sayang?" Tanya Erkan yang memang telah menunggu Chessy sejak tadi.
"Iya Mas. Aku udah ceritain semuanya sama Sylia Mas, dan aku ngerasa lega banget. Kayak rasa sesak dan rasa aneh itu hilang gitu aja. Kenapa ya Mas?" Chessy duduk di sofa tepat di sisi Erkan dan memeluk lengannya.
"Mungkin karena dulu kamu sangat dendam dan sekarang kalian benar-benar jadi sahabat sejati. Tapi, semua itu juga tidak luput dari kebaikan kamu sendiri, Sayang." Erkan mengusap lembut kepala Chessy kemudian menciumnya.
"Iya ya Mas. Aku bener-bener penasaran sama diri aku sendiri kenapa bisa dapet kesempatan kedua ini. Aku pernah berpikir keras tentang kebaikan apa yang pernah aku lakukan, dan nyatanya aku nggak nemuin itu. Tapi Mas, setelah ini apa yang akan terjadi sama aku? Apa aku akan meneruskan kehidupanku seperti ini? Atau aku akan mati dalam keadaan baik?"
"Jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja apa yang terjadi. Urusan hidup dan mati itu urusan sang pencipta dan makhluk-Nya. Kita tidak boleh mendahului takdir, artinya jangan mencemaskan hal yang belum tentu terjadi. Biarkan Allah yang mengatur semua. Yang jelas, Mas sangat bahagia karena bisa menjalin rumah tangga bersama kamu Sayang. Apalagi sebentar lagi akan hadir Erkan junior."
Chessy melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang suami yang begitu meneduhkan pandangan mata. Chessy tersenyum, begitu juga dengan Erkan yang membalas senyuman Chessy.
"Mas, apa aku terlihat aneh dimatamu?"
"Iya. Sangat aneh dan unik."
"Ih, kamu kok gitu sih."
"Faktanya, Mas cukup ragu untuk percaya pada cerita kamu Sayang, tapi rahasia kehidupan itu memang banyak."
__ADS_1
"Makasih Mas udah mau sabar ya selama ini dengan sikap-sikap aku."
"Iya Sayang."
____________
Hari berganti hari dan semuanya makin terasa hangat bagi Chessy. Walaupun Chessy harus tersiksa di pagi hari karena morning sickness, Chessy menikmati masa-masa itu. Dukungan dari Erkan dan Sylia membuatnya tetap semangat menjalani masa kehamilannya. Lagi pula, Chessy tepar hanya saat pagi menjelang, jika matahari sudah lewat dari atas kepala, Chessy merasa biasa saja bahkan makan juga biasa saja.
Mendengar cerita dari Alman saat Erkan dengan lahapnya makan rujak dari karyawannya, Chessy mengambil kesimpulan jika suaminya itu tengah mengalami kehamilan simpatik atau sindrom couvade yang Sylia ceritakan waktu itu. Erkan juga sering mengeluh sakit pinggang, padahal sebelumnya itu tidak pernah terjadi. Erkan juga mengalami perubahan pola makan dari yang biasanya pilih-pilih menjadi sesuka hati.
Chessy juga cukup tenang karena walaupun keluarga Erkan begitu terpandang, tetapi Chessy jauh terhindar dari kejaran wartawan ataupun gosip miring. Erkan benar-benar menjaga keluarganya dari hal semacam itu. Erkan tahu jika Chessy akan merasa tidak nyaman kalau sampai hal itu terjadi. Jadi, Erkan selalu menjaga ketat keluarganya dari kejauhan.
Berbeda jauh dengan Erkan, saat kehamilan Sylia, Alman tidak merasakan adanya perubahan drastis dalam dirinya. Sylia sendiri hamil juga seperti wanita yang tidak hamil karena hampir tidak pernah ada keluhan sama sekali dalam dirinya. Makanya, Sylia selalu bisa menjadi penghibur bagi Chessy.
"Sayang …." Erkan tengah pulang dari kantornya dan begitu tiba dirumah, Erkan segera memeluk istrinya dengan rasa yang tidak bisa dia ungkapkan. Hal serupa juga Alman lakukan pada Sylia.
"Jadi gini Sayang, kamu ingatkan waktu itu Mas sibuk banget ngurus proyek yang berlainan triliun itu?" Erkan membuka suara. Chessy hanya mengangguk saja, sedangkan Sylia dan Alman fokus memperhatikan Erkan yang terlihat akan menjelaskan sesuatu hal yang penting. "Nah, hari ini proyek itu berhasil Mas dapetin Sayang," Erkan dengan gembiranya menceritakan hal itu dan kembali memeluk sang istri.
"Hoi hoi … jangan lupa kalau saya juga ikut andil Tuan Erkan." Sinis Alman dan membuat Erkan terpaksa segera melepaskan pelukannya.
"Ya ya Tuan Alman, saya tidak lupa." Jawab Erkan tak kalah sinis.
"MasyaAllah, jadi kalian berhasil dapetin proyek itu tanpa Nayla?" Tutur Chessy yang kini berekspresi sangat bahagia.
Erkan kembali menatap Chessy dan mengangguk." Iya Sayang. Alhamdulillah. Proyek itu luar biasa sekali. Walaupun begitu sulit dan ribet, tapi alhamdulilah Mas dan Alman berhasil." Jelas Erkan seraya mengusap sebelah pipi Chessy.
__ADS_1
"Alhamdulillah, jadi hadiahnya apa Tuan?" Ledek Sylia.
"Iya Tuan Erkan, jangan pelit-pelit." Alman mendukung ledekan Sylia.
"Iya bawel kalian. Kita akan double date dan jalan-jalan keliling kota Turki. Gimana? Setuju nggak?" Ucap Erkan dengan raut wajah yang benar-benar terlihat bahagia.
"Setuju banget Mas …." Jawab Chessy seketika dan langsung memeluk sang suami.
"Alhamdulillah Sayang, akhirnya kita bisa jalan-jalan berdua." Kata Alman pada Sylia yang kemudian juga keduanya berpelukan.
"Alhamdulillah, semoga keluarga kita selalu mendapatkan rahmat dari-Nya seperti ini. Mas seneng banget Sayang." Erkan semakin mengeratkan pelukannya pada Chessy.
"Aamiin …." Jawab Alman dan Sylia secara bersamaan.
"Tapi Sayang, gimana dengan kehamilanmu? Apa nggak pa-pa dibawa jalan-jalan. Aku takut kamu kecapekan nanti." Erkan kini terlihat khawatir dan kemudian melepaskan pelukannya.
"Kita harus konsultasi sama Dokter dulu Ches. Aku juga nggak mau kamu kenapa-kenapa saat kita sedang merayakan keberhasilan suami kita." Mata Sylia menyipitkan dan itu artinya Sylia sedang tersenyum. Chessy pun mengangguk.
"Kita harus buat jadwalnya dulu Bos. Melihat kondisi Nona yang kadang nggak stabil juga cukup mengkhawatirkan. Vitamin dari Dokter sepertinya juga tidak akan membantu. Kita tunda jalan-jalannya atau gimana Bos?" Alman juga terlihat khawatir.
"Jangan ditunda dong, nanti nggak seru." Sahut Chessy.
"Kamu punya solusinya Sayang?" Tanya Erkan.
"Sebaiknya kita konsultasi dulu Mas. Dan lagi, ada kok obat penguat kandungan, jadi kita bisa minta itu Mas." Tutur Chessy lagi.
__ADS_1
"Selama itu baik, apa pun itu, aku akan mendukungmu Sayang." Erkan pun mencium kening Chessy. "Kita akan ke Dokter malam ini juga ya, semakin cepat semakin baik juga." Lanjut Erkan dan Chessy mengangguk.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...