
Pagi ini Chessy sengaja bangun lebih pagi dan mulai menjalankan ibadah sholat yang selama ini dia tinggalkan. Setelah menjalankan ibadah sholat subuh, Chessy segera turun dan berjalan ke arah dapur. Di dapur, mamah Dewi sudah sibuk dengan aktivitas memasaknya. Chessy masih berjalan perlahan dan belum disadari oleh mamahnya. Ada satu penyesalan lagi dalam benak Chessy, yaitu, dia tidak pernah membantu meringankan pekerjaan mamahnya.
Keluarga Ginanjar bukan tidak mampu untuk membayar asisten rumah tangga, tetapi mamah Dewi ingin memastikan makanan yang sehat untuk keluarganya. Chessy sendiri selama menjadi istri Devan harus mati-matian belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci baju, menyetrika dan beres-beres rumah sebelum bisnis kulinernya melejit, barulah Chessy mencari asisten rumah tangga.
"Mah, Chessy sekarang tau persis bagaimana capeknya jadi Mamah. Chessy benar-benar minta maaf selama ini Chessy selalu jadi anak yang cuek," Chessy memeluk sang mamah dari belakang. Ucapan Chessy membuat mamah Dewi meneteskan air matanya.
"Anak Mamah ini kenapa? Tumben bangun pagi-pagi dan bicara seperti itu, membuat Mamah tersentuh," Mamah Dewi membalikan badannya dan memeluk Chessy kembali. Belaian kasih sayang mamah Dewi begitu Chessy rindukan. Penyesalan karena telah menyakiti mamahnya itu tidak akan bisa terukur lagi.
"Mulai saat ini Chessy janji akan menuruti semua keinginan Mamah. Chessy nggak akan nakal apalagi kabur dengan laki-laki bejat itu." tiba-tiba saja Chessy keceplosan karena terbawa perasaan. "Siall … aku salah ngomong," batin Chessy yang langsung salah tingkah.
"Laki-laki bejat siapa?" Mamah Dewi melepaskan pelukannya. "Cerita sama Mamah, siapa yang kamu maksud? Siapa yang udah jahat sama kamu Sayang?" Mamah Dewi merengkuh kedua bahu Chessy.
"Eng-enggak Mah, itu … em … ah iya itu loh Chessy tadi tu nonton drama Korea Mah, gila banget Mah tuh laki-laki selingkuh sama sahabatnya sendiri. Gemes banget Chessy," Chessy mengangkat kedua tangannya dan mengepal seolah ingin meninju pemeran yang dimaksud Chessy.
"His … kamu ada-ada aja. Bikin Mamah jantungan. Kalau ada cowok yang jahat sama kamu, bilang … Mamah bakal sunat lagi dia," ucap Mamah Dewi seraya mengangkat pisau di tangannya. Chessy terkekeh melihat tingkah sang mamah.
Dulu, saat mengetahui jika Chessy telah menikah siri dengan Devan dan memakai wali hakim, mamah dan papahnya sangat syok. Devan menikahi Chessy memang benar-benar mencintainya, tetapi karena harta yang dimiliki keluarga Ginanjar itu akan membuat dirinya semakin ternama dan kaya, jadi ada sedikit obsesi dan Devan buru-buru menikahi Chessy karena keinginan Chessy juga. Sayangnya saat itu Chessy diusir oleh Papahnya, dan keluarga Devan yang mengetahui jika Chessy diusir tanpa membawa uang sepeserpun, Devan pun ikut diusir oleh keluarganya. Akhirnya Chessy dan Devan pergi ke Surabaya kemudian mendapatkan modal usaha dari kakaknya.
"Tuh kamu melamun lagi? Akhir-akhir ini sering banget Mamah liat kamu melamun. Mikirin apa sih?" tanya mamah penasaran.
"Mikirin masa depan hehe …." Chessy tersenyum dengan menunjukkan semua giginya.
"Masa depanmu udah bagus Sayang. Kamu pinter, cantik, butuh apa lagi?" puji mamah Dewi.
"Masih butuh Mamah dalam segala hal. Chessy nggak mau jauh dari Mamah lagi," kata Chessy kembali memeluk mamahnya dari belakang.
"Lagi? Emang kamu …." belum mamahnya bicara, Chessy yang sadar jika salah bicara lagi, langsung mengambil pisau dan menggantikan mamahnya memotong sayur.
__ADS_1
"Sini Mah, Chessy aja yang potong. Chessy juga bisa cuma begini doang," segera Chessy memotong sayur dengan cukup cekatan dan mencucinya.
"Sejak kapan kamu bisa main pisau begitu?" tanya mamah Dewi heran.
"Anaknya bisa main pisau kok heran sih Mah! Bukannya bagus kalau Chessy pinter masak hmm …." Chessy juga menyiapkan panci untuk memasak sup. Chessy melakukan itu semua dengan sempurna, bahkan membumbui sup itu layaknya sudah terbiasa memasak. "Nah beres Mah, tinggal tunggu mateng," Setelah itu, Chessy mencuci beberapa piring dan peralatan memasak yang kotor. Tentu saja mamah Dewi makin heran dengan Chessy yang bisa melakukan hal itu padahal sebelumnya mamah Dewi tidak pernah mengajarkan hal tersebut.
"Sayang? Kamu belajar dimana cuci piring dan masak begini? Ini rasanya juga pas banget loh," tanya mamah Dewi kembali setelah mencicipi sup masakan Chessy. Namun Chessy hanya tersenyum menjawab pertanyaan mamahnya.
"Mah tinggal goreng ikan aja kan? Aku tinggal mandi dulu ya mau siap-siap berangkat sekolah," Chessy lalu kembali ke kamarnya. Mamah Dewi lagi-lagi hanya bengong melihat tingkah Chessy yang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
____________
Menu sarapan sarapan sudah tertata rapi di meja makan. Mamah dan papah Chessy juga sudah duduk manis menunggu Chessy turun dari kamarnya, tentu saja tidak lupa dengan Sylia, sang wanita ular yang begitu Chessy benci dan mungkin tidak akan pernah dimaafkan.
Senyum manis begitu terpancar di wajah Chessy dengan pakaian sekolahnya dan rambut yang diurai karena masih sedikit basah. Perlahan Chessy menuruni anak tangga dengan pandangan yang tak luput dari Sylia yang sedang mengobrol akrab bersama kedua orang tuanya.
"Selamat pagi Mah, Pah," sapa Chessy dan mencium pipi keduanya. Chessy pun menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sylia. Chessy mencoba tetap sabar dan bersikap seperti biasanya. Kejadian dirinya yang kembali ke masa lalu tidak mungkin satu orang pun percaya akan ceritanya.
"Kamu masak? Sejak kapan hm … Papah enggak percaya deh dengan rasanya," kata Pak Ginanjar menatap heran wajah Chessy yang terlihat santai tanpa dosa sambil mengisi piringnya duluan. "Chessy …." Panggil sang papah dan Chessy pun menoleh.
"Iya Pah, udah jangan banyak tanya dan bicara Pah nanti aku telat. Saran Chessy, Papah jangan makan masakanku karena Papah bakal ketagihan terus minta Chessy buat masak lagi." jawab Chessy menyombongkan diri. Chessy kemudian kembali mengisi piring sarapannya dengan ikan goreng dan sup masakannya sendiri.
"Pah, gitu amat sih sama anak sendiri," tegur Mamah Dewi kemudian mengambil piring untuk suaminya sarapan. Satu persatu semua menu makanan di meja itu tertata di piring Pak Ginanjar. Bau lezat dari sup yang Chessy masak membuat Pak Ginanjar menelan air liurnya.
"Sejak kapan kamu bisa masak Mel? Ini seger banget supnya. Rasanya juga pas banget. Aku ajarin dong!" ucap Sylia sambil menyantap makanannya.
"Chessy bukan cuma bantuin masak tadi, tapi bantuin Mamah cuci piring juga Syl," lagi-lagi mamah Dewi membanggakan anaknya.
__ADS_1
"Wah serius Ches? Gila lu keren banget sekarang mau cuci piring. Nggak takut tangan lu kasar apa? Bukannya kenak sabun sedikit aja tangan lu gatel Ches?" Sylia kembali tidak percaya dengan apa yang dikatakan mamah Dewi. Sylia mulai penasaran dengan perubahan dari diri Chessy. "Lu masih dalam kekuasaan gue'kan Ches? Gue harus cepet bertindak karena Chessy mulai membuat bangga keluarga ini," batin Sylia.
"Ah … bukan hal besar Ches, lu nggak perlu terkejut gitu karena gue kan emang harus belajar dari sekarang masalah pekerjaan ibu rumah tangga, biar nanti kalau menikah udah terbiasa dan suaminya nggak cari istri yang pinter ngurus rumah, iyakan Mah?" Chessy langsung melemparkan pandangannya pada mamah Dewi dan mendapatkan anggukan.
Chessy belum diberi tahu jika Chessy akan dijodohkan dengan anak dari sahabat sang papah. Walaupun Chessy sendiri sudah tau rencana itu, tetapi Chessy masih bersikap normal dan mengikuti setiap alur yang berjalan di kehidupannya sekarang. Chessy kembali melahap makanan dengan santai.
"Emh … tapi ini emang seger banget Ches." Puji sang papah. "Pokoknya Papah mau Chessy sering masakin Papah ya?" benar dugaan Chessy jika sang papah akan memintanya untuk terus memasak.
"Chessy belajar dari YouTube aja kok Pah, jadi masih belajar dikit-dikit, belum seenak Mamah." Chessy merendah diri, padahal Chessy sudah cukup jago untuk memasak.
_______
"Hallo Kak … oh iya nanti Sylia sampein ke Chessy." Baru saja masuk mobil untuk berangkat sekolah, Sylia sudah mendapatkan panggilan telpon yang jelas Chessy bisa menebak dari siapa panggilan itu. "Ches, ponsel lu mati ya dari kemaren?" tanya Sylia mencolek lengan Chessy.
"Hm …." jawab Chessy singkat. Chessy malas sekali menerima chat dan panggilan dari Devan, untuk itu Chessy sengaja mematikan ponselnya. Dulu, ponsel itu tidak pernah kehabisan daya hanya karena selalu merindukan Devan. Namun berbeda dengan sekarang, bahkan sedetikpun Chessy tidak sudi mendengar apalagi bertemu dengannya.
"Pacar lu nyariin tuh. Buruan aktif'in ponselnya," titah Sylia tak mendapatkan respon dari Chessy yang sibuk dengan pandangan ke luar jendela.
"Chessy ….!" Sylia meninggikan suaranya.
"Apaan sih teriak-teriak. Telingaku masih waras Sylia …." protes Chessy dengan wajah ketus.
"Lagian lu tu ya diajak ngomong malah ngelamun. Mana ponsel lu? Aktif'in sekarang juga kalau nggak gue yang bakal ditelpon terus sama Kak Devan." Sylia segera meraih tas Chessy yang ada disisinya. "Gue aktif'in sekarang nih ya?" Sylia menekan tombol power ponsel Chessy setelah itu meletakan ponsel itu di pangkuan Chessy.
Baru saja aktif, ponsel Chessy sudah mendapatkan banyak notifikasi dan terus menerus bergetar tanda ada pesan masuk. "Risih banget nih ponsel nggak berhenti getar," Chessy melemparkan ponselnya ke pangkuan Sylia. "Tolong bacain Nel," kata Chessy masih dengan posisi menatap keluar jendela mobil.
Dengan penuh semangat Sylia mengambil dan melihat pesan-pesan yang masuk satu persatu. Kontak di ponsel itu tak banyak tentunya. Chessy tidak punya teman yang bisa dihubungi selain Sylia dan Devan serta keluarganya. Chessy memang tidak pernah menyimpan rahasia pada Sylia sejak mereka bersahabat.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum calon istriku …." suara Sylia terhenti membaca pesan yang masuk dari nomor baru. Sylia terlihat terkejut, tetapi tidak dengan Chessy. "Sepertinya akan ada sedikit yang berubah karena dia mengirimkanku pesan duluan." batin Chessy seraya memposisikan duduknya dengan benar.
###################