
Suasana di rumah itu masih sama seperti sebelumnya, walaupun mereka semua telah menjalankan ibadah sholat magrib berjamaah kecuali, Sylia. Setelah menjadi imam sholat, Erkan lekas kembali ke kamar dengan wajah masam. Chessy sendiri mengabaikan Erkan dan kembali ke kamar tempat dimana Sylia istirahat. Chessy juga membawa salep yang dia minta dari sang nenek untuk mengobati luka di sekujur tubuh Sylia.
Sylia hanya mengenakan daster yang kebesaran karena daster itu milik sang nenek. Chessy meminta Sylia untuk melepaskan daster itu agar mudah diolesi salep yang dia bawa, tentu dibantu oleh Aylin. Aylin sendiri belum tahu permasalahan mereka, makanya Aylin bersikap ramah dan hanya mengikuti apa yang dilakukan Chessy dengan rasa iba juga. Jika saja Aylin tahu apa yang dilakukan Sylia, tentu Aylin tidak akan mau untuk berbagi kamar dengannya.
"Perih Ches," keluh Sylia meringis kesakitan karena efek obatnya.
"Tahan aja, biar cepet sembuh. Perihnya cuma sebentar kok." jawab Chessy masih fokus mengolesi setiap inci tubuh Sylia karena nyaris tanpa luka.
"Lu benar Ches. Perih di hati lu pasti sangat lama." Sylia benar-benar terlihat menyesali perbuatannya.
"Sudah, jangan bahas itu. Kita sudah saling memaafkan." Jawab Chessy.
"Bagaimana sama pacar lu, Ches? Apa dia mau nolongin gue?" Sylia bertanya dengan wajah sedih dan tertunduk. Suaranya berat karena menahan tangisnya. "Aku …." Sylia ragu merubah gaya bicaranya. " Em … aku malu sebenarnya. Aku … saat aku di hukum oleh warga, hanya namamu yang aku sebut Ches. Aku … aku berdosa, sungguh aku ingin berubah. Bantu aku … aku mohon," Lanjutnya.
"Mas Erkan udah jadi suamiku Syl. Kami menikah sebelum ujian sekolah." kata Chessy.
"Syukurlah. Jelas aja suamimu marah tadi, dia pasti sangat sayang dan khawatir sama kamu Ches. Kalau dia nggak mau nolong aku, nggak masalah Ches. Jangan paksa dia." Sylia pun menitikan air mata tak kuasa dengan beban hidup yang menimpanya.
"Dia orang baik. Dia nggak sejahat itu Syl." jawab Chessy tanpa merubah posisi dan raut wajahnya.
"Tapi aku emang seorang pendosa Ches. Bahkan Tuhan pasti nggak terima taubatku." Sylia semakin menunduk.
"Udah selesai. Kamu istirahat ya. Kalau niatmu baik, pasti ada jalannya. Di tas-tas itu ada beberapa baju, tapi baju-baju muslim sih, entah kamu suka atau nggak. Cuma emang nggak ada baju lain lagi. Aku juga lagi berbenah diri buat menutup aurat." Chessy melirik beberapa paper bag yang barangnya dibeli di Mall tadi.
"Iya Kak Sylia, itu baju yang Aylin beli juga buat Kak Sylia aja. Kita nanti bisa beli lagi sebelum pulang ke Turki." Ucap Aylin begitu ramah.
__ADS_1
"Hah? Lu … em maksudnya kamu mau tinggal di Turki Ches?" Sylia terkejut dengan ucapan Aylin.
"Tentu. Mas Erkan kan pekerjaannya disana. Aku juga mau kuliah disana nanti. Kamu istirahat dulu. Tenangin pikiranmu dan berdoalah kepada Allah. Mintalah yang terbaik untukmu. Aku pergi dulu." Chessy dan Aylin pun bergegas pergi ke luar kamar.
"Nanti aku tidur sama Mbah Uti aja Kak. Soalnya Mbah Kakung katanya mau ikut ronda malam. Beberapa hari ini banyak maling di kampung." Kata Aylin yang berjalan bersama menuju ruang keluarga.
"Mbah Kakung ronda? Apa masih bisa lari kejar maling?" Jawab Chessy menahan senyum.
"Jangan salah Kak, Mbah Kakung masih kuat loh ngangkat padi sekarung juga." Keduanya pun cekikikan dan tiba di ruang keluarga lalu duduk bersama Nenek menonton televisi.
"Udah tidur Nduk Sylia-nya?" Tanya Nenek.
"Belum tahu Mbah, tadi sih udah Chessy suruh tidur." Jawab Chessy.
"Mbah Uti nggak tau masalah pribadi kalian, tapi jangan sampai kamu mengabaikan Er juga. Mbah Uti liat Er ngambek, jadi kamu bicarakan dulu apik-apik sama Er, Cah ayu," sang Nenek mengelus punggung tangan Chessy dan Chessy pun mengangguk lalu menyusul Erkan ke kamar.
"Astaghfirullah, Mas! Tadi nggak ada kok tiba-tiba muncul disini?" Chessy kini berhadapan dengan suaminya.
"Iya Mas mau keluar tadi, mau cari udara segar." Erkan pun memegang kenop pintu dan hendak pergi, tetapi secepatnya Chessy menahannya. "Kenapa? Jika itu tentang Sylia, jangan harap." Ucap Erkan masih memegang kenop pintu.
"Mas, ayo bicara sebentar." Bujuk Chessy dan menarik tangan Erkan menuju tempat tidur. Keduanya duduk di sisi ranjang. "Mas, aku liat ketulusan Sylia Mas. Aku yakin dia mau berubah." Lanjut Chessy.
"Nggak Sayang, Mas nggak mau nolong dalam hal apa pun yang bersangkutan dengannya, pokoknya Mas nggak mau kamu deket-deket atau terlibat dengannya lagi." Jawab Erkan dengan tatapan dingin.
"Mas. Kamu bukan orang yang seperti ini. Aku tahu itu. Aku udah nggak dendam sama dia, jadi aku mohon Mas, kita ajak aja Sylia ke Turki." Lagi-lagi Chessy masih berusaha membujuk suaminya.
__ADS_1
"Apa? Kamu gila? Nggak, Mas makin nggak setuju dengan keputusan itu. Kamu pikir dong Sayang, apa yang udah dia perbuat. Belum lagi kalau dia ikut ke Turki, kamu nggak khawatir dia bakal goda aku seperti kehidupanmu sebelumnya?" Erkan terlihat sangat marah. Chessy meraih tangan Erkan, lalu menggeser duduknya agar lebih dekat dengannya. Chessy sangat yakin kalau Sylia sudah berubah, jadi Chessy akan berusaha sekuat mungkin supaya Erkan setuju.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di pipi Erkan. Chessy tersenyum. "Kamu bukan laki-laki yang mudah tergoda karena kamu cinta mati sama aku, Mas. Juga … dengan penampilan Sylia yang seperti sekarang, nggak mungkin kamu mau sama dia," ledek Chessy tetapi sedetik kemudian mencium pipi Erkan kembali. "Em ... yang sebelahnya mau juga?" Tawar Chessy dengan wajah mesam-mesem. Bukannya menolak, Erkan malah menoleh agar satu pipinya juga mendapatkan ciuman yang sama.
Cup!
Chessy kembali tersenyum, kemudian menangkup kedua pipi Erkan dengan kedua tangannya. Kini keduanya saling menatap penuh cinta. Chessy mendekatkan wajahnya, dekat dan semakin dekat dengan bibir Erkan. Chessy akan mencium bibir suaminya tetapi Erkan tahu maksud Chessy melakukan itu dan Erkan langsung menepis kedua tangan Chessy dengan lembut. Chessy cukup kecewa, tetapi hanya beberapa detik saja karena Erkan meraih tengkuknya dan melahap bibir Chessy. Chessy terkejut dan merasa tidak siap dengan serangan dadakan dari Erkan. Namun semakin lama Chessy menikmati ciuman itu dan memejamkan matanya. Entah berapa lama keduanya berciuman.
Erkan menyudahi ciuman itu terlebih dahulu, walaupun malu, Chessy bener-bener menikmatinya. "Demi Sylia kamu sampe berani merayuku. Baiklah, apa pun keputusanmu Mas akan mengikutinya, asalkan kamu bahagia." Erkan pun tersenyum seperti halnya sikap sebelumnya. "Boleh dong cium lagi?" Goda Erkan yang mulai jail lagi.
"Kamu mencuri kesempatan Mas," Chessy mencubit perut Erkan.
"Kamu yang mulai kok. Lagian kamu juga menikmati ciuman manisku ini."
"Ih, jangan buat aku malu." Chessy membuang muka karena pasti wajahnya tengah merona karena malu.
"Makin manis deh," Erkan tak mau membuang kesempatan dan mendorong lembut tubuh Chessy agar berbaring di atas kasur. "Mas mau melakukannya sekarang, bolehkan?" Ucap Erkan yang kini berada tepat di atas tubuh Chessy. Entah setan mana yang merasuki tubuh Chessy sehingga dia mengangguk mengiyakan ucapan suaminya itu. "I love you Chessy …," Erkan pun kembali mencium Chessy.
Namun, Chessy tiba-tiba takut dan mendorong kembali tubuh Erkan. "Mas … aku takut. Jangan lakukan disini ya?" Mohon Chessy.
"Sayang … Mas nggak kuat. Mas mau kamu seutuhnya." Erkan begitu memohon.
"Tapi Mas, ini akan sakit pastinya. Belum lagi … em itu … aku … aku takut besok nggak bisa jalan dengan normal. Aku malu kalau harus jalan kayak pinguin. Mas ... Please … kita lakukan setelah di Turki? Boleh?" Chessy mengedipkan matanya beberapa kali sebagai tanda permohonannya, sayang Erkan malah semakin gemas dan tidak tahan akhirnya kembali mencium bibir manis Chessy. Namun, Erkan harus benar-benar menahan hasratnya yang bergelora itu demi istrinya. Tentu Erkan tidak mau melakukannya jika Chessy juga tidak mau melakukan hubungan suami istri itu. Dia tidak mau bersikap egois.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...