
"Serius kamu hamil?" Tanya Chessy lagi meyakinkan apa yang dia dengar dari mulut Sylia. Namun Sylia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Chessy. Sylia sungguh tidak enak hati karena telah berbohong padanya. "Alhamdulillah, kamu juga hamil ternyata. Tespek yang dibeli Surti bener-bener nggak akurat. Masak kalah sama tespek harga goceng yang ada di Indonesia." Gerutu Chessy seraya melirik Surti yang sedang berdiri di sisi kursinya.
"Ma-maaf Nyonya, Surti bener-bener minta maaf," ucap Surti.
"Nggak perlu begitu Sayang, itu juga bukan salah Surti loh," sahut Erkan tetapi Chessy masih cemberut.
"Ches, aku yang harusnya minta maaf." Kata Sylia meraih tangan Chessy dan tangan itu begitu bergetar juga basah.
"Kamu kenapa minta maaf. Kan kamu nggak salah." Jawab Chessy.
"Sebenarnya, tespekku itu hasilnya positif Ches, tapi waktu aku liat keadaan kamu dengan tespek hasil negatif, aku takut kamu bakal marah sama aku dan makin menyiksa dirimu Ches, jadi aku bohong tentang hasilnya. Tespek yang aku tunjukin ke kamu itu tespekmu." Sylia pun tertunduk.
"Syl, kamu benar-benar sahabat terbaikku. Kamu selalu menjaga perasaanku dan mau mengerti aku, terimakasih banyak Sylia. Aku beruntung banget punya sahabat kayak kamu. Aku maafin kamu kok. Aku ngerti maksud kamu bohong." Chessy langsung memeluk Sylia.
"Aku yang beruntung punya kamu Ches," sahut Sylia.
"Sepertinya kita juga harus berpelukan Bos," ledek Alman pada Erkan.
"No!" Jawab Erkan. Tawa di ruangan itu pun pecah seketika.
____________
"Huek …. Huek …." Entah sudah keberapa kalinya Chessy muntah di kamar mandi. Chessy benar-benar sudah lemas karena isi perutnya sudah terkuras.
"Sayang, kita ke Dokter lagi ya? Mas nggak tega liat kamu begini," Erkan bahkan tak sedetikpun meninggalkan Chessy dan memijat bahunya.
__ADS_1
"Nggak perlu Mas. Ini emang wajar buat ibu hamil muda. Waktu aku hamil Rara juga begini, cuma nggak separah ini sih. Aku lemes banget Mas, ambilin aku minum Mas, air hangat ya," Chessy menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi karena enggan untuk beranjak. Chessy sangat malas harus berbaring lagi di tempat tidur karena sebentar lagi rasa mual itu akan muncul.
"Iya Sayang, kamu harus kuat ya. Mas ke dapur dulu ambil minum," Erkan dengan sigap segera berlari menuju dapur dan mengambilkan air hangat.
"Tuan, apa Chessy baik-baik saja?" Tiba-tiba Sylia datang menghampiri Erkan.
"Engga, sejak subuh tadi dia bahkan nggak keluar dari kamar mandi karena mual muntah terus. Apa kamu juga begitu?" Namun, Erkan menatap Sylia yang terlihat begitu sehat, tidak seperti istrinya.
"Nggak Tuan. Saya baik-baik saja. Bahkan saya merasa lapar terus. Apa yang bisa saya bantu Tuan," ucap Sylia yang merasa khawatir dengan keadaan Chessy.
"Baguslah, setidaknya Alman nggak perlu izin dari kantor. Kamu lakukan aja yang biasa dilakukan ibu hamil. Nggak perlu khawatir dengan keadaan Chessy." Erkan pun bergegas pergi kembali ke kamarnya.
Sylia terlihat kecewa karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Sylia kembali ke dalam kamarnya. Sylia bingung harus berbuat apa karena Alman suaminya sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali sebab ada meeting yang harus di handle.
Erkan pun mengusap lembut perut Chessy dan beberapa kali terlihat sedang membaca sesuatu sebelum kemudian mencium kembali perut Chessy dan hal itu terjadi berkali-kali. Chessy hanya bisa mengulas senyum manis menatap sang suami. "Makasih ya Mas udah perhatian sama aku." Kata Chessy dan membuat Erkan merasa tidak senang.
"Sayang, kenapa sih kamu selalu bilang makasih. Aku itu suami kamu, dan kamu itu tanggung jawabku. Aku begini ya karena aku harus melakukannya, bukan karena meminta sebuah kata terima kasih," Erkan terlihat serius menatap Chessy dan sesaat kemudian mengulas senyum tipis dibibirnya. "Aku mencintaimu dan hanya akan membuatmu bahagia. Kita suami istri yang harus saling melengkapi." Erkan pun memeluk Chessy.
"Iya Mas, kenapa aku begitu beruntung ya Mas. Aku punya kamu yang begitu mencintaiku dan aku juga punya Sylia yang begitu mengkhawatirkanku. Apa yang pernah aku lakukan sebenarnya sampai aku bisa seberuntung ini mengulang takdirku."
"Sepertinya Allah tahu kalau kamu itu benar-benar wanita baik yang memang harus menjalani kehidupan yang begitu sempurna."
"Iya Mas," Chessy membelai lembut rambut Erkan yang cukup lebat itu. Beberapa saat kemudian, ada sebuah ketukan pintu dan dibaliknya ada Surti yang mengatakan jika ada tamu yang datang. Chessy dan Erkan pun turun dan berjalan menuju ruang tamu bersama.
Dari kejauhan, Erkan melihat sekilas laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita tanpa hijab sedang mengobrol bahasa Italia. Erkan bisa menebak jika wanita itu adalah tunangan dari Alzeer. Melihat kedatangan Erkan, Alzeer segera berdiri hendak menyambut Erkan, tetapi seperdetik kemudian tiba-tiba Alesia memeluk Erkan layaknya memeluk seorang kekasih. Erkan terkejut dan hanya mengangkat kedua tangan karena takut menyentuh tubuh wanita yang sedang memeluknya begitu erat.
__ADS_1
Chessy terlihat sangat marah melihat wanita lain memeluk suaminya bahkan di depan mata. Segera Chessy menarik tangan Alesia dan berusaha untuk melepaskan tangan yang memeluk Erkan. "Dasar wanita gatel, lepasin." Ucap Chessy seraya meraih dan berusaha melepaskan pelukan Alesia. Setelah lepas, Chessy buru-buru memeluk Erkan.
"Ma-maafkan tunangan saya Nona." Ucap Alzeer.
"Enak aja minta maaf. Wanitamu mau menggoda suamiku secara terang-terangan, dan kamu malah minta maaf untuknya?" Kata Chessy dengan nada tinggi. Sedangkan Erkan hanya senyum-senyum senang melihat sang istri begitu cemburu dan membalas pelukannya. "Kamu itu laki-laki waras atau gila sih tunangan peluk laki-laki lain tapi kamu malah minta maaf buat dia." Lanjut Chessy.
"Itu Nona, itu adalah cara dia mengekspresikan dirinya dan cara dia berterima kasih pada orang lain. Tunangan saya sudah terbiasa di Italia dulu kalau mau bilang terima kasih selalu memberikan sebuah pelukan, dan Bos Erkan tahu akan hal itu." Jelas Alzeer.
"Apa? Dia tahu?" Segera mungkin Chessy melepaskan pelukannya dan menatap sinis suaminya itu.
"Sayang, kok dilepas sih pelukannya?" Protes Erkan.
"Wah, kamu menikmati pelukan wanita lain ya Mas?" Tanya Chessy masih dengan tatapan yang sama.
"Eng-enggak kok. Siapa bilang. Mas terkejut tapi Mas emang udang dikasih tahu sama Alzeer sebelumnya kalau cara Alesia berterima kasih memang begitu," jawab Erkan.
"Ya tapi dosa Mas," kata Chessy dengan nada tinggi.
"Mas cuma menghargai dia kok. mas bener-bener nggak Menik …."
"Bohong …." Teriak Chessy yang memotong ucapan Erkan. Chessy pun pergi kembali ke kamarnya.
"Sayang …."
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1