Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Copet


__ADS_3

"Jangan sok kaget liat muka gue."


"Ngapain lu disini?"


"Ini tempat terbuka buat semua orang, kenapa lu sewot."


"Lu ganggu, jadi gue sewot. Pergi lu!"


"Yakin? Nggak mau peluk dulu?"


Chessy hanya bisa menatap bergantian kedua laki-laki yang sedang bicara berhadapan dan berwajah sama-sama dingin. Namun, wajah itu seketika berubah menjadi senyum manis khas masing-masing.


"Gila lu, bener-bener gila, udah kawin aja." Setelah berpelukan dan memukul punggung masing-masing, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak. "Tega lu kawin nggak undang-undang."


"Sorry. Gue belum gelar resepsi pernikahan gue kok. Lu apa kabar? Eh iya ini istri gue Chessy namanya." Erkan mengenalkan istrinya pada laki-laki di hadapannya. Chessy mengulurkan tangannya, tetapi laki-laki itu malah menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Gue Almansyah. Panggil aja Alman." Chessy malu dan menarik tangannya lagi.


"Dia orang yang sangat taat Sayang. Dia nggak akan bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahramnya." Jelas Erkan.


"Ah, sorry." Kata Chessy menahan malu.


"Nggak masalah. Tapi ngomong-ngomong kok lu mau sih kawin sama kutub es ini?" Tanya Alman membuat Chessy gugup dan gagap.


"Em, itu … em …."


"Sial lu," Erkan memukul bahu Alman. "Dia wanita yang pernah gue ceritain waktu itu, cewek di Indonesia dulu. Dia cinta pertama gue." Erkan yang menjawab pertanyaan Alman.


"Wah, jodoh emang nggak ada yang tau ya. Lu cinta mati sama dia sampe lu cuekin seluruh cewek di Turki ini. Tapi akhirnya lu juga bisa nikahin dia. Ah, gue iri. Eh gue lagi ada urusan lain. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Ntar gue maen ke rumah lu ya!" Setelah menepuk bahu Erkan dan mengucapkan salam, Alman pun pergi.


"Kalian kayak akrab banget Mas?"


"Iya, dia udah kayak saudara. Kita sekolah sampe kuliah barengan terus. Dia juga manager di perusahaan Mas."


"Kayaknya dia orang yang baik ya?"


"Iya, sekarang dia orang yang sangat baik dan taat."


"Jadi, dulu dia orang yang seperti apa?"


"Sama seperti Sylia."

__ADS_1


"Hah?"


"Dia pecandu, pezina, pemabuk dan pembunuh."


"Astaghfirullah. Kamu serius Mas? Kalau dia pembunuh, bagaimana dia bisa hidup bebas disini?"


"Saat dia sangat marah karena terpengaruh alkohol, dia membunuh seekor kucing."


"Ya Allah, Mas … aku tuh udah serius dengernya, kamu malah bercanda."


"Siapa yang bercanda. Itu faktanya Sayang. Sudah ah, kamu nggak boleh kepo masalah orang lain. Apalagi dia laki-laki."


"Cemburuan."


"Biarin. Em pulang yuk. Udah malem."


_______________


"Sayang, Mas hari ini boleh kerja dong?" Erkan memeluk erat Chessy dari belakang. Chessy sedang menyisir rambut panjangnya di depan cermin. Keduanya pun saling menatap dari pantulan cermin. "Kamu boleh ikut. Sekalian nanti Mas kenalin sama semua karyawan Mas disana. Gimana?"


"Mas, bolehkan hubungan kita ini dirahasiakan saja?" Erkan terkejut dengan permintaan istrinya, lalu mengambil kursi lain untuk dia duduk di sebelah Chessy.


"Kenapa? Kamu malu punya suami sepertiku?" Chessy menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa kamu minta hubungan kita dirahasiakan?"


"Astaghfirullah. Dikerjain istri."


"Kamu yang paling sering ngerjain aku Mas."


"Iya Mas minta maaf. Jadi Mas boleh kerja?"


"Ya bolehlah. Kerja tinggal kerja. Asalkan kamu nggak lupa diri aja."


"InsyaAllah enggak Sayang. Oiya ini kamu pegang ya buat beli keperluan kamu." Erkan memberikan sebuah kartu berwarna hitam.


"Aku boleh pergi ke swalayan nggak Mas? Rencananya aku mau pergi sama Sylia."


"Boleh. Jangan hanya berdua ya? Ajak juga Surti, walaupun dia baru disini, tapi dia udah bisa bahasa Turki dan udah sedikit paham dengan lingkungan disini."


"Makasih. Apa yang harus aku siapin buat keperluan kamu Mas?"


"Mas bisa sendiri Sayang. Kalau Mas nggak bisa pasti langsung minta bantuan kamu. Kalau ada apa-apa langsung telpon ya? Atau kalau mau ke kantor, langsung dateng aja. Mas siap-siap dulu ya." Setelah mengusap ujung kepala Chessy, Erkan masuk ke ruang ganti.

__ADS_1


Chessy menatap kartu yang diberikan Erkan. Kartu itu bukan sembarang kartu karena ada nama yang tertera di kartu berwarna hitam itu. Chessy cukup tahu guna dari kartu yang tanpa batas limit itu. Lagi-lagi Chessy hanya bisa menghela nafas panjang. Chessy belum begitu mengenal suaminya. "Benarkah aku cinta matinya? Seberapa kaya Mas Erkan ini sampai punya kartu istimewa seperti ini. Belum lagi rumah yang bak istana. Seperti apa pekerjaannya di kantor sampai dia bisa semarah waktu itu. Apa iya aku harus kesana buat tau pekerjaan dia?"


______________


"Tuan Er udah berangkat Ches?" Tanya Sylia yang baru saja keluar kamar dan melihat Chessy sedang membereskan meja makan.


"Kenapa kamu panggil dia Tuan?" Tanya Chessy.


"Nggak salah kan Ches, kalau dia nggak kasih ijin kamu buat nyelamatin aku, mana mungkin aku bisa hidup dan sebaik ini sekarang!" Jawab Sylia yang ikut membantu membereskan meja makan.


"Ya udah terserah kamu aja kalau gitu, yang penting kamu nyaman tinggal disini. Kamu nggak boleh sungkan ya sama aku?" Sylia hanya mengangguk. "Eh, nanti kita pergi ke swalayan ya?" Sylia mengangguk lagi. "Kamu kalau butuh apa-apa bilang aja Syl, inget! Kamu tanggung jawabku sekarang." Sylia kembali mengangguk.


"Aduh, Non … maafin Surti. Ini Surti kira Tuan belum berangkat." Surti langsung merebut tumpukan piring yang akan Chessy bawa ke tempat cucian.


"Nggak pa-pa Mbak. Aku juga nggak sibuk. Oiya Mbak, nanti ikut aku ke swalayan ya? Kata Tuan tadi suruh ngajak Mbak Surti kalau mau pergi."


"Iya Non, Surti beresin ini dulu Non."


"Syl, kamu sarapan dulu ya? Aku mau ke taman belakang dulu." Chessy pun pergi.


"Tuan kalau di rumah gimana selama ini Mbak Surti?" Sylia bertanya pada Surti seraya mengambil sarapan yang dimasak Chessy tadi.


"Iya baik Mbak. Tapi kalau pas marah, ampun pokoknya, semua orang nggak ada yang berani berkutik, kecuali Nona Nayla."


"Hah?" Sylia terkejut mendengar nama Nayla. "Kenapa bisa Erkan tunduk sama Nayla?"


"Katanya Nona Nayla punya jasa besar untuk keluarga ini Mbak. Jadi mungkin itu juga alasan Tuan nggak pernah marah sama Nona Nayla. Baru kemaren itu Surti liat Tuan agak bersuara tinggi. Sebelumnya nggak pernah sama sekali." Jelas Surti yang membuat Sylia cukup penasaran dengan keluarga Erkan dan juga Nayla.


____________


Chessy sudah siap untuk pergi ke Mall bersama Sylia dan Surti. Bermodalkan google, Chessy lebih memilih Cevahir Mall dari pada Mall of Istanbul. Berdasarkan review, Cevahir Mall barangnya lebih mahal-mahal, tetapi jaraknya lebih dekat dari Mall of Istanbul.


Chessy membeli beberapa kebutuhan rumah tangga juga beberapa baju dengan style yang biasa wanita di Turki pakai. Chessy juga membelikan baju untuk Sylia dan kebutuhannya, begitu juga dengan Surti dan untuk Mbok Gani juga Pak Romi.


Setelah dirasa cukup berbelanja, Chessy mengajak Sylia dan Surti untuk mencicipi kuliner di Mall tersebut dan juga melihat beberapa wahana permainan disana. Walaupun Chessy teringat lagi dengan Rara, tetapi pikiran itu ditepis karena tidak ada yang tahu masalah Rara, kecuali suaminya sendiri.


Lelah berkeliling Mall, Chessy pun memutuskan untuk pulang. Sayangnya, sesaat baru keluar dari pintu utama, ada yang menarik tas yang Chessy pakai. "Copet …." Teriak Chessy diikuti oleh Sylia juga Surti. Pak Romi yang tadi berdiri di dekat mobil menghampiri Chessy.


"Nggak pa-pa Non, nanti saya laporkan pada Tuan." Kata Pak Romi menenangkan.


"Kenapa lapor Tuan? Nggak lapor polisi aja? Cepet kita lapor polisi sekarang." Ucap Chessy begitu panik.

__ADS_1


"Tidak perlu Non, kita pulang saja. Nona jangan panik. Tas itu akan kembali dengan cepat jika lapor Tuan Er. Mari Nona," Pak Romi memaksa Chessy untuk segera masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Chessy dibuat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa suaminya ini? Hanya dengan lapor padanya, tas yang dicopet bisa kembali dengan cepat?


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2