
"Udah siap keliling Negara Turki, Sayang?" Tanya Erkan sebelum meminta Pak Romi menyalakan mesin mobilnya.
"Siap suamiku … tapi nanti jangan jalan cepet-cepet ya? Masih sakit nih," Chessy berbisik seraya tersenyum lalu memeluk lengan Erkan.
"Hm. Manis sekali. Apa perlu Mas gendong?" Ledek Erkan tetapi malah mendapatkan cubitan di bagian perut.
Siapa yang tidak mengenal Turki? Negara satu ini adalah salah satu pilihan destinasi para traveler. Selain menyimpan keindahan alam yang menarik, Turki juga memiliki banyak tempat bersejarah yang menyimpan banyak cerita. Bangunan-bangunan di Turki memiliki keunikan hasil perpaduan antara Eropa dan Asia. Banyak diantaranya yang menyimpan sejarah tentang islam.
Erkan meminta Pak Romi untuk pergi ke masjid Blue Mosque terlebih dahulu. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Istanbul. Disana Erkan dan Chessy melakukan shalat Dhuha dan berkeliling masjid. "Mas, kenapa namanya Blue Mosque?" Tanya Chessy setelah puas mengelilingi masjid itu.
"Ya karena warnanya biru Sayang."
"Iya juga ya, hehe. Tapi masak nggak ada sejarahnya sama sekali? Ini masjid terbesar katanya."
"Ya enggak Sayang, karena memang keramik-keramik yang menutupi dinding serta kubah masjid berwarna biru."
"O … gitu."
"Ada hal unik lainnya nggak Mas?"
"Ada. Masjid ini memiliki 6 menara dan konon katanya saat itu Sultan Ahmed 1 mendapatkan kritikan karena memiliki jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Mekkah. Jadi, untuk mengatasi hal itu, akhirnya Sultan Ahmed 1 menyumbang biaya pembuatan menara ketujuh di Masjidil Haram."
"Waw. Keren banget ya Mas."
"Hm. Kita lanjut jalan lagi yuk?"
Erkan pun kembali naik mobil dan mengajak Chessy melihat Sufi atau Whirling Dervishes. Tarian Sufi ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu si penari anak berputar selama lima belas menit dalam keadaan stabil sambil mengenakan kostum unik yang anak mengembang ke atas ketika si penari mulai berputar.
"Ya ampun Mas, nggak pusing apa ya muter-muter gitu?" Chessy dibuat takjub dengan para penari itu.
"Mereka udah latihan, Sayang. Suka nggak?" Erkan mengecup kening Chessy.
"Hmm … suka banget. Turki sangat indah."
__ADS_1
"Kita ke Cappadocia. Disana lebih indah dan kamu pasti makin jatuh cinta sama suamimu ini."
"Ya Allah, kumat penyakit narsis suamiku. Baiklah, aku akan ikut kemana suamiku pergi, karena aku tau disana adalah tempat balon udara yang terkenal seantero jagat raya." Erkan mengusap lembut ujung kepala Chessy dan kembali melanjutkan perjalanan wisata mereka.
Benar, salah satu wahana balon udara paling terkenal di dunia berlokasi di Cappadocia. Balon udara disana tidak hanya menawarkan pemandangan indah dari seluruh sisi kota, tetapi juga akan membantu menemukan tempat-tempat tersembunyi yang menakjubkan. Cappadocia benar-benar menyuguhkan keindahan alam yang luar biasa bak berada di planet lain. Pemandangan lembah, ngarai juga perbukitan sangat mendominasi tempat itu. Keunikan lainnya adalah bangunan rumah, gereja juga restoran dan terowongan yang ada di kawasan itu terbuat dari pahatan bebatuan.
Chessy terdiam beberapa saat setelah melihat suguhan keindahan menaiki balon udara itu. Erkan memeluk pinggang Chessy kemudian mencium pipinya. Mendapatkan perlakuan itu, Chessy menatap Erkan dan tersenyum sedih.
"Ada yang kamu pikirkan Sayang?"
"Hm. Aku inget sama Rara, Mas. Aku sangat merindukan dia. Kalau dia masih ada, betapa senangnya dia bisa ada ditengah-tengah kita."
"Em kita akan bekerja keras untuk membuat Rara lagi, gimana?"
"Hm, emang bisa? Kan bibitnya beda."
"Ya sampai bisa. Kita buat sampai ada yang mirip dengan Rara."
"Aku berharap sekali dan sangat menantikan hal itu Mas."
"Kamu tau Mas julukan untuk istri yang ditinggalkan suaminya?"
"Hm. Namanya janda. Sayang, kok ngarah kesitu sih omongannya?" Erkan jadi ikut sedih menatap wajah istrinya.
"Kamu tau Mas julukan untuk suami yang ditinggalkan istrinya?"
"Hm. Itu duda namanya. Jangan coba-coba buat ninggalin Mas, karena Mas nggak mau jadi Duda tampan."
Sayang, lagi-lagi candaan Erkan tak membuat Chessy tersenyum.
"Kamu tau Mas julukan untuk anak yang ditinggalkan orang tuanya?"
"Iya, namanya yatim untuk yang ditinggalkan ayah, dan piatu untuk yang ditinggalkan ibu. Kenapa Sayang?"
__ADS_1
"Apa kamu tau julukan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya?" Erkan langsung terdiam dan mencerna perkataan Chessy. Sekarang Erkan paham arti dari pertanyaan Chessy. "Nggak ada ya Mas? Nggak ada julukan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya. Kenapa? Karena nggak ada yang tahu bagaimana perasaan mereka saat ditinggalkan anaknya. Makanya nggak ada julukan untuk mereka."
Erkan langsung memeluk tubuh Chessy dan memberikan kehangatan. Erkan juga mencium kening Chessy beberapa kali untuk memberikan ketenangan supaya bisa sedikit meredakan rasa rindunya pada Rara. "Maaf, Mas memang belum tau rasanya, kamu harus bisa menahan rasa rindu itu ya?" Erkan kembali mencium kening Chessy dan Chessy pun mengangguk. "Setelah ini kita akan kuliner. Kamu harus makan yang banyak karena menahan rindu juga butuh tenaga." Ucapan Erkan kali ini berhasil membuat Chessy tersenyum. "Alhamdulillah, istri solehahku makin cantik kalau senyum begitu. Jadi pengen cium ****-**** deh." Erkan pun kembali jail.
"Mas, ada orang lain. Jangan ngaco." Chessy membuang muka karena malu dengan ucapan suaminya.
"Ya nggak pa-pa. Dia juga nggak ngerti bahasa kita." Jawab Erkan dan langsung mendapatkan cubitan perut dari Chessy.
"Awas kamu Mas sembarangan ngomong lagi. Walaupun dia nggak ngerti, tapi kamu harus jaga sopan santun Mas. Nggak boleh ngumbar kemesraan." Chessy mulai kesal dengan sikap suaminya dan kembali mencubit perut Erkan.
"Benar Tuan, anda tidak boleh pamer kemesraan."
Erkan dan Chessy melongo mendengar seorang laki-laki yang sedang mengendalikan balon udara itu berbahasa Indonesia.
"Saya sedikit tahu bahasa Indonesia Tuan dan Nyonya. Hanya sedikit saja. Jangan khawatir."
Erkan dan Chessy malah tertawa terbahak-bahak mendengar gaya bicara laki-laki itu.
____________
Turun dari balon udara, Chessy masih tak habis pikir dengan laki-laki yang mengendalikan balon udara. Chessy masih senyum-senyum dan kadang tertawa jika mengingat kejadian itu. Erkan pun sama. Mungkin karena dia cukup terbiasa dengan turis dari Indonesia jadi dia tahu bahasa Indonesia.
"Dia tau nggak ya bahasa cium ****-****." Erkan kembali tertawa.
"Hm pasti tau lah Mas. Kamu sih ah bikin malu. Untung nggak kenal."
"Asli wajah laki-laki itu lucu banget saat ngomong,"
"Udah Mas udah, perutku kaku nih ketawa terus. Ayo kita kuliner. Udah laper nih." Erkan pun berhenti tertawa dan mengajak Chessy ke restoran untuk makan.
Chessy sangat terhibur hari ini. Rasa sedihnya akan ingatan pada Rara mulai hilang karena Erkan terus menerus memberikan kebahagiaan pada Chessy hingga malam pun menjelma. Chessy sangat menyukai tempat barunya itu. Dulu, dia tidak punya waktu sama sekali untuk berlibur. Sedangkan sekarang, Chessy mempunyai banyak waktu dan tentu suami yang sangat menyayangi dirinya.
"Wah, ada pengantin baru yang lagi bulan madu nih. Asyik banget pasti," Erkan terkejut melihat sosok yang baru saja menyapanya.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...