
Hari ini, Erkan sangat tidak fokus melakukan pekerjaannya di kantor karena sikap istrinya tadi pagi yang tiba-tiba tidak mau gelar resepsi. Erkan pun buru-buru pulang dari kantor sebelum jam makan siang. "Tapi gue kangen sama istri gue Al, lu kerjain sendiri deh," gerutu Erkan pada Alman sang manager. Erkan lalu mengambil jas yang dikaitkan ditempat biasa, kemudian memakainya dan bergegas pergi.
"Tapi Bos, berkas ini masih kurang dikit lagi, terus Bos tanda tangani dan besok langsung kita kirim ke …." belum Alman menyelesaikan bicaranya, Erkan tidak mau menghentikan langkahnya.
"Ya udah bawa aja berkasnya dan lu ikut gue balik, bereskan?" ucap Erkan tanpa mendapatkan penolakan dari Alman. Segera Alman membereskan berkas-berkas yang diperlukan dan mengikuti langkah Erkan secepat mungkin. Sejak kepergian Nayla, Alman makin memikirkan Sylia, wanita bercadar dengan mata yang indah menurut Alman. Dia sungguh ingin bertemu dengannya lagi. Situasi ini bisa menjadi alasan Alman basa-basi untuk mengenal Sylia.
"Kita ke toko buku dulu," kata Erkan pada Alzeer.
"Oke," jawab Alzeer.
"Ngapain ke toko buku Bos?" tanya Alman kepo.
"Beli novel," jawab Erkan singkat.
"Istri Bos suka baca novel?" tanya Alman lagi.
"Bukan, tapi sahabatnya yang suka. Gue mau kasih hadiah dia karena udah bantu istri gue kemaren," jawab Erkan.
"Hah? Sahabatnya? Emang istri Bos punya sahabat disini?" Alman semakin kepo.
"Dia tinggal di rumah juga. Wanita yang pake cadar. Itu namanya Sylia. Dia sahabatnya Chessy. Tapi lu kok tumben sih situasi begini masih panggil Bos." tanya Erkan balik.
"Hehe, ya kan lu emang Bos gue." Alman cekikikan.
"Jelas ada maunya ini." kata Erkan yang tak peduli lagi dengan Alman yang duduk di belakangnya. Erkan melirik Alman lewat kaca, dia terlihat senyum-senyum. "Gila lu ya dari tadi gue liat lu senyum-senyum terus," kata Erkan menoleh pada Alman di belakangnya.
"Nggak. Em … mungkin iya." jawab Alman seraya tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya. Erkan kembali cuek mendengar jawaban Alman.
"Mungkin dia lagi jatuh cinta," kata Alzeer tiba-tiba. Erkan kembali membalikkan badannya menantap wajah Alman dengan lekat.
"Bener Al? Sama siapa?" Lussi?" Kini Erkan yang kepo.
"Haha …." Alman malah tertawa terbahak-bahak mendengar nama Lussi. Pasalnya, Lussi memang mengejar Alman dan itu sudah jadi gosip di kantor. "Bukanlah. Nanti juga tahu." jawab Alman santai.
"Sial lu." kata Erkan.
Mereka pun tiba di sebuah toko buku dan Erkan sibuk bertanya pada penjaga toko untuk mencarikan beberapa novel best seller di bulan terbaru. Penjaga toko itu dengan senang hati menunjukkan buku-buku yang paling best seller. Namun, tanpa diduga Alman telah memegang beberapa buku yang akan ditunjukkan oleh sang penjaga toko.
__ADS_1
"Lu suka novel?" tanya Erkan heran. Dia memang tidak pernah melihat Alman membaca sebuah novel.
"Em … nggak terlalu sih, tapi gue tahu mana novel yang best seller. Nih, buat wanita bercadar itu." Alman menyodorkan novel-novel itu pada Erkan.
"Gila lu, ya bawalah ke kasir. Lu nyuruh Bos bawa beginian. Cepet … gue yang bayar tenang aja." Erkan menepis tangan Alman dan melangkah menuju kasir.
"Dasar Bos, emang paling benar," gundam Alman dan mengikuti langkah Erkan.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Erkan juga berhenti di toko bunga untuk membeli buket bunga mawar merah. "Er … lu nggak suka sama sahabatnya istri lu kan?" tanya Alman cukup terkejut melihat Erkan membeli bunga juga.
"Otak lu di dengkul ya? Bunga ini buat istri gue. Masak gue beliin Sylia bunga, yang bener aja. Lu aja sono yang beliin bunga." jawab Erkan ketus.
"Hehe … kirain lu mau meminang sahabat istri lu, kayak salah satu novel yang kita beli tadi," canda Alman.
"Gue cinta mati sama Chessy." tegas Erkan.
"Syukurlah." ucap Alman mengelus dadanya.
"Maksud lu apa?" Erkan memicing.
"Udah buruan, katanya kangen istri tapi berlama-lama," ledek Alman.
"Hah? Lu tau Er?" Alman sedikit malu-malu.
"Udah keliatan. Dasar lu …." Erkan lekas berlalu, sedangkan Alman langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal dan mengambil berkas serta novel yang dipilihnya tadi.
"Huft … bismillah, nggak boleh grogi." ucap Alman seraya melangkahkan kakinya.
"Nggak usah lebay lu." ledek Alzeer.
"Lu nggak pernah sih ngerasain cinta pada pandangan pertama." ketus Alman.
"Pernah. Menurut lu gue ngapain lama-lama disini?" Alzeer tak kalah ketus.
"Mana gue tahu, lu nggak pernah cerita. Oiya dan nggak penting juga." Alman mempercepat langkahnya mendahului Alzeer.
"Brengseek lu …." umpat Alzeer melayangkan sebelah tangannya ingin menimpuk Alman.
__ADS_1
Erkan sengaja tak mengucap salam dengan keras, dia ingin memberikan Chessy surprise karena pulang lebih awal. Namun, ternyata Chessy dan Sylia sedang asik bersenda gurau di ruang keluarga. Sylia sedang menjelaskan tokoh protagonis dari novel yang sedang dibacanya.
Erkan tidak langsung menyapa Chessy dan Sylia yang sedang asyik tertawa, melainkan masih betah menatap wajah dan mendengarkan tawa Chessy. Sejak pulang ke Turki, Erkan belum melihat wajah Chessy yang begitu bahagia itu.
"Loh Mas, udah pulang," sapa Chessy yang menyadari jika ada tiga pria yang sedang menatap mereka berdua. Sylia yang mengetahui jika Erkan telah pulang, segera beranjak untuk masuk ke dalam kamar.
"Iya Sayang, aku kangen." jawab Erkan segera menghampiri Chessy.
"Eh tunggu." suara Alman membuat Chessy dan Sylia menoleh padanya. Sylia menatap Chessy dan Chessy langsung mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu maksud dari teman suaminya itu.
"Maaf, apa anda memanggil saya Tuan?" kata Sylia seraya kembali menundukkan kepalanya.
"Ah, kok panggil Tuan sih. Gue Alman. Ini gue mau kasih novel yang dibeli Erkan tadi. Katanya ucapan terima kasih." ucap Alman dengan menyodorkan paper bag yang berisi novel. Lagi-lagi Sylia menoleh pada Chessy, dan Chessy langsung tersenyum.
"Aku cuma bayar Syl, yang pilih novel-novel itu dia karena dia suka sama lu." Erkan langsung to the point.
"Sial lu … kenapa langsung bilang?" Alman kesal dengan Erkan dan melayangkan tangannya tanda ingin memukul Erkan.
"Mau pukul? Sini kalau berani, langsung gue pecat lu. Udah Sayang … jangan meladeni mereka. Biar mereka pacaran. Ini bunga mawarnya takut layu kalau lama-lama di deket cowok yang lagi kasmaran." ucap Erkan seraya meraih tangan Chessy mengajaknya menaiki anak tangga.
Alman langsung salah tingkah di hadapan Sylia. Sedangkan Sylia belum berani mengambil paper bag yang di sodorkan padanya.
"Jangan lembek lu jadi cowok." ucap Alzeer makin membuat Alman salah tingkah dan kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Alzeer langsung menuju dapur untuk mencari makanan.
"Em, maaf ya. Mereka emang suka brengseek. Eh maksudnya suka iseng. Ini ambil novelnya. Semua ini best seller bulan ini. Semoga kamu suka." Alman tersenyum manis, sayangnya Sylia tidak begitu. Dirinya cukup sadar kalau Sylia bukan wanita yang pantas untuk dicintai. Sylia yang masih tertunduk segera mengambil paper bag itu.
"Terima kasih. Saya mau masuk …." belum Sylia menyelesaikan bicaranya, Alman langsung memotong.
"Tunggu. Izinkan aku mengenalmu lebih jauh. Jujur, yang Erkan katakan tadi adalah kebenaran." kata Alman kini terlihat serius dengan gaya kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan berdiri dengan tegak di hadapan Sylia.
"Maaf Tuan, aku cuma pembantu disini. Aku bukan wanita yang terhormat yang pantas untuk Tuan kenal. Sekali lagi terima kasih karena sudah memilihkan novel-novel ini." Sylia tak basa-basi dan langsung mempercepat langkahnya menuju kamar. Segera Sylia menutup dan mengunci pintunya.
Tawa Alzeer menggelegar melihat Alman yang langsung mendapatkan penolakan. "Haha … belum apa-apa udah ditolak." ledek Alzeer.
"Brengseek … diem lu." Alman cukup kesal dengan ledekan Alzeer.
"Temui keluarganya dan langsung nikahin. Bukan cuma diajak kenalan." cetus Alzeer serius.
__ADS_1
"Gue juga tahu, nggak usah sok bijak." Alman pun menjatuhkan diri ke sofa karena tak percaya jika dirinya langsung mendapatkan penolakan. Dia pikir semua wanita akan tergila-gila padanya karena dia cukup tampan sebagai seorang laki-laki. Nyatanya, ada wanita yang menolaknya. "Jangan-jangan dia udah punya calon suami atau pacar. Tapi mana ada wanita bercadar pacaran," gundam Alman dan memejamkan matanya.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...