
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Chessy sudah siap dengan gaun berwarna abu-abu dengan balutan burkat berwarna senada. Rambut panjangnya terdapat dua kepangan di sebelah sisi kanan dan kiri, dan hiasan rambut untuk mempercantik penampilannya. Chessy sangat suka penampilannya yang begitu cantik. Dulu, setelah memilih menikah dengan Devan dulu, Chessy belum pernah beli gaun mahal atau sekedar berdandan, semua itu tidak sempat untuknya karena keadaan Rara dan Devan tidak mau menjaga anaknya. Mengingat hal itu Chessy sangat ingin mengumpat, tetapi dia tahan karena masih ada mbak-mbak yang sibuk meriasnya.
Setelah siap, Chessy pun menuruni anak tangga dan langsung jadi pusat perhatian. Aylin langsung mengenali Chessy karena sudah pernah bertemu di Mall saat itu. Aylin yang iseng, mencubit pinggang Erkan dan sontak membuat Erkan geli lalu menggeser posisi duduknya. Chessy sendiri cukup terkejut melihat sosok Erkan adalah calon suaminya karena Chessy menilai jika Erkan adalah sosok yang dingin.
"Hah? Cowok itu lagi? Jadi dulu gue bener-bener bego ya karena memilih Devan dari pada dia. Jelas-jelas dari tampang aja udah kalah telak si Devan. Dasar Chessy …." Batinnya seraya duduk di sisi Bu Dewi.
"Loh … Cah Ayu, kamu kan yang waktu itu nolong Mbah Uti nyebrang jalan ya? Kebetulan sekali …." Sapa Nenek Erkan yang juga langsung mengenali Chessy dan dengan senang hati menggenggam tangan Erkan. "Babamu memang tidak salah pilih," lanjutnya menatap Erkan tetapi Erkan masih berexpresi datar.
"Eh Mbah! Hallo …." Chessy membalas sapaan Nenek Erkan dan mencoba menahan malu sekaligus kesal dengan Erkan karena expresinya. "Apa-apa sih gue udah kayak abg aja, cuma kaya gini gue deg-degan. Ini cuma perkenalkan Chessy. Tu cowok wajahnya kok biasa aja sih." Batin Chessy yang kesal pada dirinya sendiri lalu melirik laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Erkan terlihat sedang menatap Chessy dengan mata dingin dan expresi wajah yang datar. "Gila tu muka datar banget. Gue udah secantik ini tapi dia nggak keliatan kagum sama sekali." Chessy makin kesal dengan sosok Erkan. "Gue kira lu lebih baik dari Devan." Batinnya lagi.
"Kak, masih inget aku nggak?" Sapa Aylin dengan senangnya dan sok akrab.
"Em … eh iya kita pernah ketemu di Mall ya. Waktu itu saya nabrak kamu." Jawab Chessy yang mulai santai walaupun cukup sulit untuknya memakai bahasa baku karena suasana yang cukup menegangkan tadi.
"Biasa aja Kak. Nggak usah terlalu formal. Namaku Aylin, sepupu cowok muka datar ini hm …." Jawab Aylin yang memang sudah suka pada Chessy sejak awal.
Setelah beberapa saat, akhirnya perkenalkan pun dimulai. Sebelumnya, para orang tua saling sapa dan membahas hal yang tidak cukup penting, tetapi lama semakin lama pembahasan itu pun semakin menarik bagi Erkan setelah dia mendengar nama lengkap Chessy.
"Masyaallah, jadi dia Chessy Manohara Putri Ginanjar? Anak yang waktu itukan? Dia tumbuh secantik ini? Ya Allah, inikah yang namanya jodoh?" Batin Erkan yang kemudian melebarkan senyumnya menatap Chessy.
"Heh, tu cowok aneh bin ajaib ya? Tadi tu muka, datar dan dingin, sekarang manis banget sampe hati gue berasa meleleh." Batin Chessy lagi mengalihkan pandangannya karena takut ketahuan kalau Chessy mengagumi sosok Erkan dengan senyumannya.
"Sepertinya dia nggak inget sama aku. Alhamdulillah hamba sangat bersyukur dan berterima kasih ya Allah karena jodoh hamba ternyata cinta masa kecil hamba." Lagi-lagi Erkan melebarkan senyumnya mengingat kejadian di masa lalunya. "Berarti ini rumah Rakha dan Rikho. Aku udah lama banget nggak tahu kabar mereka, sekarang mereka nggak ada di sini juga, kemana mereka?." Erkan masih bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya Nak Erkan sangat suka sama kamu Ches. Mamah liat di tadi dia senyum-senyum terus ke arah kamu." Bu Dewi berbisik dan memberikan isyarat dengan sikunya pada Chessy yang membuat Chessy hampir salah tingkah.
"Mamah, jangan begitu. Chessy malu tau'. Kenapa tiba-tiba di senyum-senyum ya Mah, padahal tadi keliatan dinginnya." Keduanya hanya bicara lirih, tetapi Erkan tidak begitu saja melepaskan pandangannya pada Chessy. Laki-laki yang begitu terkenal dingin dan bermuka datar kini terlihat sebaliknya.
"Maaf Om, Tante, berarti ini rumah Rakha dan Rikho'kan?" Erkan yang sejak tadi diam kini angkat bicara karena rasa penasarannya untuk lebih meyakinkan kalau gadis di depannya itu gadis kecilnya.
"Loh … Nak Erkan kenal sama anak kembar kami?" Sahut Pak Ginanjar.
"Saya teman sekelas mereka saat di SMP." Kata Erkan sangat ramah dan lemah lembut.
"Wah … kebetulan sekali ya. Jadi, Rakha dan Rikho lagi di Surabaya karena permintaan Chessy kemarin, dan juga melarang keduanya kesini sebelum Chessy lulus sekolah," jelas Bu Dewi.
Erkan hanya mengangguk walaupun dia cukup penasaran dengan pernyataan itu. Sementara Chessy makin merasa canggung karena ternyata Erkan adalah teman kedua kakaknya.
"Apa boleh saya berbicara pada Chessy berdua di depan?" Pinta Erkan dan melirik Chessy yang tiba-tiba gugup.
"Cie cie mau kencan loh," goda Aylin.
"Udah, buruan Ches," Bu Dewi tak kalah dengan Aylin yang mencoba menggoda anaknya. Chessy hampir salah tingkah, tetapi jiwa kedewasaannya membuat Chessy bisa mengontrol dirinya. Akhirnya kedua pasangan perjodohan itu keluar bersama dan duduk di kursi taman depan rumah.
"Kamu masih tetep cantik dan manis. Ternyata Allah begitu baik padaku Ches karena mempertemukan kita kembali," kata-kata itu membuat Chessy melongo. Chessy heran karena seolah mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, tetapi Chessy tidak ingat sama sekali selain saat di alun-alun kota dan di Mall. "Selama ini aku menutup mata untuk semua wanita karena berharap bisa bertemu denganmu lagi, dan Allah mewujudkan keinginanku yang konyol ini." Lanjut Erkan.
"Gila nih cowok kok sweet banget sih? Gue hampir ge-er ini." Batin Chessy yang belum berani bicara.
__ADS_1
"Apa kamu setuju dengan perjodohan ini Ches?" Tanya Erkan yang kini menoleh pada Chessy dan menatapnya membuat Chessy gugup.
"Eh … itu … em … anu … gue belum pikirin. Eh, maksudnya aku belum mikirin hal itu karena masih sekolah dan mau fokus ujian." Chessy benar-benar gugup melihat sorot mata Erkan. "Gila … kenapa gue begini sih astaga gue gugup banget di depan dia. Enggak, gue nggak boleh begini, gue harus bisa merubah apa yang udah gue sia-siakan. Cowok ini nggak buruk dan dari ucapannya dia terlihat baik." Batin Chessy yang mengangguk-angguk dengan pemikirannya.
"Kamu kenapa manggut-manggut Ches?" Tanya Erkan heran.
"Ya Tuhan … malu banget gue," batin Chessy lalu melempar pandangan ke sembarang arah untuk menutupi wajah malunya.
"Oiya, masalah pesan singkat yang nyebelin itu, sebenarnya itu … em … maaf ya karena Aylin iseng banget orangnya. Aku takut kamu ngira aku yang ngirim pesan." Jelas Erkan.
"Eh, iya nggak pa-pa. Kalau perjodohan ini memang membawa kebahagiaan, aku setuju kok." Tiba-tiba saja bicara Chessy jadi lancar. "Padahal gue udah terbahak-bahak baca pesan dia, ternyata bukan dia yang kirim pesan, haha …," batin Chessy yang hampir tertawa di depan Erkan.
"Makasih udah percaya Ches." Erkan terlihat sangat senang.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Kata Chessy yang sejak tadi ingin bertanya begitu.
"Iya, kita pernah bertemu saat di alun-alun." Jawab Erkan.
"Hah?" Chessy melongo.
"Bukan yang kemarin Ches, tapi sepuluh tahun yang lalu." Kata Erkan makin membuat Chessy heran.
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Kamu gadis kecil yang udah buat aku mati rasa dengan wanita manapun."
#######################