Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Berdebat


__ADS_3

Chessy telah selesai dengan aktivitasnya di dalam kamar mandi karena air hangat yang merendam tubuhnya mulai dingin. Chessy pun memakai baju gantinya dan hendak keluar dari kamar mandi kemudian membuka pintunya. Di saat bersamaan, Erkan yang sudah lama menunggu Chessy hendak mengetuk pintu kamar mandi karena sudah tak sabar untuk buang air kecil.


"A …!" Chessy akan berteriak, tetapi Erkan segera membekap mulut Chessy.


"Kenapa kamu mau teriak? Mamah Papah bakal mikir yang enggak-enggak nanti. Tenang … okey?" Ucap Erkan yang kemudian melepaskan tangannya dari mulut Chessy setelah Chessy mengangguk.


"Lagian kenapa sih cuma pake anduk setengah badan begitu. Aku kaget Mas." Protes Chessy kemudian pergi dari ambang pintu kamar mandi.


"Kaget atau kagum hm? Memang kamu belum pernah liat roti sobek yang asli?" Ejek Erkan.


"Jangan ge-er ya? Aku bener-bener kaget. Lagian roti sobek apanya? Roti basi iya." Jawab Chessy sinis dan tentu gengsi untuk jujur.


"Kita udah mahram, kita udah jadi suami istri, emang apa salahnya dada suamimu yang bagus ini dilihat istri sendiri? Harusnya kamu bangga dong. Em, jadi si Devan itu nggak sebagus Masmu ini'kan dadanya?" Erkan kembali mengejek Chessy dengan rasa percaya dirinya.


"Udah sana buruan kalau mau mandi, nggak usah mikir aneh-aneh. Narsis banget jadi cowok. Dan … jangan sebut nama Devan diantara kita." Jawab Chessy kesal tanpa menoleh lagi pada Erkan.


"Jangan begitu, nanti kamu ketagihan loh liat roti sobek ini …." Lagi-lagi Erkan menggoda Chessy. Namun Chessy hanya memutar bola matanya dan langsung masuk ke ruang ganti baju. Erkan sendiri langsung masuk kamar mandi dengan cekikikan.


Setelah berganti baju, Chessy membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan nyaman. Ditariknya selimut hingga menutupi dada. Chessy menatap pintu kamar mandi dan masih tertutup rapat. "Dia mandi apa tidur sih lama banget," gundam Chessy yang kemudian memejamkan matanya. Pikiran tiba-tiba terfokus pada Sylia. "Gimana ya dia sekarang? Apa dia baik-baik aja? Apa pamannya mukulin dia terus? Suami Sylla dimana ya? Aku belum ketemu sama dia." Sesaat kemudian Chessy membuang semua pikiran itu dan mencoba memejamkan mata. Namun belum Chessy memasuki alam mimpinya, terdengar suara pintu terbuka dan Erkan pun berjalan mendekati Chessy yang terbaring di tempat tidur seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Astaghfirullah … pemandangan macam apa ini …." Batin Chessy.


"Sayang … bajuku mana ya?" Tanya Erkan yang masih sibuk dengan rambut basahnya.


"Ah iya aku lupa bawain tas yang dibawa Aylin tadi. Aku ambil ke bawah dulu ya." Chessy buru-buru keluar dari kamar karena tak tahan melihat Erkan yang mempesona. "Ya Allah … dia … ah … mikir apa sih lu Ches," Chessy memukul kepalanya berkali-kali seraya menuruni anak tangga. Pemandangan itu dilihat oleh Bu Dewi.


"Kenapa Ches?" Tanya Bu Dewi dengan nada meledek.


"Ish … Mamah pasti mikir yang enggak-enggak," jawab Chessy sambil celingukan mencari tas baju ganti suaminya.


"Mikir apa sih, Mamah belum mikirin cucu kok, jadi tenang aja ya jangan buru-buru hehe …." Bu Dewi pun meninggalkan Chessy.


"Mah … nggak lucu tau' …." Teriakkan Chessy tak dianggap oleh Mamahnya. "Dasar Mamah! Jangan-jangan mereka sengaja lagi nikahin gue malam ini? Atau mereka punya rencana lain? Hah … sudahlah, mikir terlalu banyak nanti stres. Lagian ini juga tujuan awal gue nikah sama Mas Erkan." Chessy pun mengabaikan pikirannya dan kembali mencari tas baju Erkan. Setelah Tas ketemu, Chessy segera kembali ke dalam kamar.


"Kok lama? Masmu ini udah kedinginan tau'," gerutu Erkan seraya mengambil tas ransel yang dipegang Chessy. "Kalau emang niat mau menghangatkan sih nggak pa-pa." Ledek Erkan.


"Tadi Mamah ngajak berantem dulu. Jangan mikir macem-macem." Chessy pun kembali merebahkan diri di atas kasur. Erkan segera masuk ke ruang ganti untuk memakai bajunya, setelah itu menjalankan sholat isya dan mengaji sebentar.


"Sayang, udah tidur?" Erkan duduk di tepi ranjang dan mengusap ujung kepala Chessy yang berbaring membelakanginya.


"Belum. Mas harus tidur di sofa pokoknya." Chessy menggeser posisi tidurnya agar menjauh dari Erkan.


"Nggak mau ah, maunya tidur bareng."


"Jangan mikir aneh-aneh. Aku nggak mau."

__ADS_1


"Kita kan udah suami istri."


"Iya tapi kan aku belum ujian sekolah."


"Jadi kalau udah ujian boleh tidur bareng? Em tinggal dua minggu lagi kan ujiannya?"


"Mas?" Chessy pun duduk menghadap Erkan karena tak tahan dengan ejekannya.


"Loh bener'kan?" Erkan tersenyum manis. "Lagian tidur di sofa tuh nggak enak loh. Kalau suamimu ini sakit siapa yang repot coba?" Erkan masih berusaha merayu Chessy. "Belum lagi kalau Mamah dan Papah tahu suamimu ini tidur di sofa, bisa-bisa mereka murka."


"Jangan coba-coba merayu."


"Halal ini."


"Mas!"


"Iya Sayang."


"Tau ah,"


Chessy pun kembali tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sayang …." Tidak ada jawaban.


"Kalau nggak mau buka, Masmu ini bakal masuk ke dalam selimut dan menyerangmu. Ah iya, pasti kamu udah ahlikan?" Chessy langsung terperanjat membuka selimut dan bangun untuk kembali duduk berhadapan dengan Erkan.


"Astaghfirullah Mas, kamu tuh agresif banget sih,"


"Hehe, Mas cuma mau bilang, kamu jangan mikirin Sylia ya?" Erkan mengusap lembut sebelah pipi Chessy.


"Kok Mas tahu aku mikirin Sylia?" Chessy menatap lembut wajah laki-laki tampan di depannya itu.


"Iya. Hatimu itu terlalu baik Sayang. Awalnya mungkin kamu memang sangat dendam pada Sylia, tapi Mas yakin kamu khawatir dengan keadaannya sekarang."


"Kamu bener Mas. Aku memang membencinya bahkan sangat ingin membunuhnya waktu itu. Tapi dengan kondisinya sekarang, aku merasa iba dan sedih Mas. Entah kenapa aku ingin sekali memeluknya. Mungkin karena kenangan indah kita terlalu banyak dulu."


"Terus gimana perasaanmu sama si Devan itu? Jangan bilang kamu masih cinta sama dia?" Erkan tiba-tiba menjadi bete.


"Ck dasar, aku udah bilang jangan sebut nama dia Mas. Jangan-jangan kamu cemburu."


"Ya iyalah. Secara kamu kan sama dia udah menjalin rumah tangga yang cukup lama. Berapa kamu bilang itu … em … tujuh tahun ya?"


"Kamu tenang aja Mas, aku nggak ada mikirin laki-laki hidung belang itu lagi kok. Aku mau fokus dengan hidupku yang sekarang." Kini Chessy tak terlihat kesal lagi.

__ADS_1


"Jadi, apa kamu mau membuat Rara ada di tengah-tengah kita?" Erkan meledek.


"Tuh kan jadi menyimpang lagi," Chessy kembali kesal.


"Hm, terima kasih banyak Sayang."


"Terima kasih untuk apa Mas?"


"Terima kasih karena kamu mau menjalani hidup denganku. Entah apa yang terjadi saat kamu menolakku dua kali."


"Ish …."


"Eh tapi bener deh Mas penasaran gimana nasibku dulu saat kamu tolak?"


"Aku nggak tahu Mas karena kita kan nggak ketemu. Udah ah, jangan bahas masa lalu."


"Bukannya masa depan?"


"Ya kan aku sekarang disini berarti jadi masa lalu.


"Maksudnya kita bahas masa depan aja?"


"Mas?"


"Iya Sayang."


"Geli ih, sana tidur di sofa."


"Nggak mau, tidur disini aja."


"Mas?"


"Iya Sayang."


"Please deh jangan sayang-sayangan terus."


"Kenapa? Aku suka."


"Tapi aku belum terbiasa dan risih."


"Makanya dibiasaiin nanti lama-lama juga bucin." Perdebatan itu pun terus berlanjut hingga keduanya kelelahan dan akhirnya tidur bersama di kasur yang sama.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2