
Suara ketukan pintu yang cukup keras dan begitu mengganggu itu entah sudah berapa kali terdengar, membuat Erkan dan Chessy terbangun dari tidurnya. "Siapa sih Mas … astaghfirullah … itu nggak sopan banget," keluh Chessy.
"Kamu tunggu disini aja, Sayang." Setelah lelah melakukan olahraga dibalik selimut, Erkan pun terpaksa bangun dan mengucek matanya. Chessy hanya membalikan badan karena memang malas membukakan pintu. Apalagi dia masih bertubuh polos dibalik selimutnya. Erkan bangun dan terlebih dahulu masuk ke walk in closet untuk mencari baju karena dia juga masih bertubuh polos.
Bermodal celana pendek berwarna hitam di atas lutut dan kaos polos dengan warna senada yang cara pakai baju pun masih sangat malas, Erkan berjalan sempoyongan seraya menguap beberapa kali kemudian membuka pintu kamarnya yang tidak berhenti bersuara itu.
Sungguh, Erkan ingin marah karena orang itu sangat lancang terus menerus mengetuk pintu, bahkan jika saja pintu itu tidak di kunci, Erkan meyakini kalau pintu itu akan dibuka paksa tanpa permisi dan menerobos masuk layaknya pencuri.
"Hai … Kak Er," sapa Nayla tersenyum manis menatap wajah Erkan yang sangat tampan dengan baju santai itu.
"Kamu kenapa mengetuk pintu seperti itu tadi?" Tanya Erkan masih bersikap biasa.
"Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama Kak Erkan," jawab Nayla masih berwajah manis.
"Sepenting apa sampe kamu ngetuk pintu nggak punya aturan begitu? Aku dan istriku lagi tidur, apa kamu nggak tahu adab bertamu." Tanya Erkan dengan tatapan dingin.
"Biasanya juga kan kayak gitu Kak. Eh Kak, aku udah masakin sup buntut dan perkedel kesukaan Kak Er." Nayla mengatakan kotak makanan yang dia bawa di depan Erkan. Tanpa merasa bersalah bahkan minta maaf, dengan pedenya Nayla bicara seraya tersenyum manis. Chessy yang mendengar suara wanita yang dia benci, langsung bangun dan segera mengambil handuk kimono di kamar mandi kemudian cepat-cepat memakainya. Chessy sangat takut jika kejadian di masa lalu terulang lagi. Chessy sangat takut jika makanan itu telah diberi jampi-jampi oleh Nayla. Chessy segera keluar dan menghampiri nenek lampir itu.
"Wah, ada tamu tak di undang nih," ucap Chessy seraya menyeka rambutnya ke belakang kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. "Suamiku nggak akan makan masakan wanita yang tak dikenal. Dia udah punya istri yang pinter masak." Ucap Chessy dengan nada sombong.
__ADS_1
"Eh Kak Chessy, abis mandi ya?" Nayla bicara dengan sopan-nya.
"Iya, abis mandi basah karena lelah bercinta. Kenapa?" Jawab Chessy tanpa merubah nada bicaranya.
"Ah, Kak Chessy. Aku bukan orang lain dan bukan wanita yang tak dikenal loh Kak. Aku di keluarga ini udah tujuh tahun. Kak Chessy itu yang orang lain karena baru beberapa hari saja disini. Harusnya tau diri dong. Paling nggak ya ngaca gitu sebelum ngomong begitu." Nayla menekankan setiap kata-katanya.
"Heh, Nenek Lampir. Lu yang harus ngaca. Saya itu Nyonya di rumah ini. Jadi apa hak lu nyuruh gue ngaca?" Kali ini Chessy makin naik pitam.
"Sudah cukup!" Erkan akhirnya angkat bicara. "Nayla, tolong jaga sikap kamu. Kamu ini wanita muslimah yang harus menjaga marwah. Aku udah punya istri Nayla, kamu harus bisa jaga sikap dan terutama jaga perasaan istriku."
"Enggak Kak. Sampai detik ini aku nggak terima kamu menikah dengan dia. Kamu harusnya menikah denganku Kak, bukan dengan dia." Jawab Nayla.
"Jaga ucapanmu." Teriak Nayla.
"Kamu yang harus jaga ucapanmu Nayla." Teriak Erkan pada Nayla. Erkan benar-benar sudah tidak bisa bersikap pura-pura baik lagi pada Nayla karena sikapnya sudah sangat keterlaluan.
"Kak! Kamu berani berteriak padaku demi wanita yang baru beberapa hari menjadi istrimu ini? Kamu memintaku menjaga perasaannya, tapi apa kamu nggak sedikitpun mikirin perasaanku Kak? Apa selama tujuh tahun ini adalah hal yang sia-sia untukku menunggu cintamu?" Nayla pun menangis.
Chessy merasa takut, sungguh Chessy takut jika Nayla membuat drama di depan Erkan dan membuat hati Erkan luluh karena tujuh tahun kebersamaan mereka berdua. Memang, seperti mustahil jika antara seorang laki-laki dan seorang wanita yang bersama selama tujuh tahun tidak terpaut akan cinta. Walaupun Erkan sudah berjanji dan bersumpah, Chessy tetaplah takut.
__ADS_1
"Kak! Jawab! Jangan cuma diam dengan pura-pura pusing begitu. Apa sedikit pun kamu nggak punya ketertarikan padaku Kak? Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku nungguin kepastian darimu Kak. Kamu pamit untuk menjenguk Mbah Uti dan Mbah Kakung, tapi nyatanya kamu pulang membawa wanita ini. Kamu udah nyakitin perasaanku Kak!" Nayla menangis makin menjadi. Chessy menatap wajah Erkan yang sedang menatap Nayla.
"Hentikan dramamu Nayla!" Tiba-tiba, dari arah lain seorang laki-laki berteriak membuat Erkan dan Nayla menoleh, sedangkan Chessy masuk ke dalam kamar karena tidak memakai jilbab. Chessy menutup pintu kamar tanpa tahu siapa yang berteriak tadi.
Laki-laki itu berjalan menghampiri Erkan dan Nayla. Bukannya menyambut, Nayla malah membuang muka seraya melipat kedua tangannya di dada. "Jangan ganggu Erkan. Please …. Sadarlah Nayla. Apa kamu lupa atau pura-pura bodoh? Dia sudah menikah Nayla, Erkan sudah punya istri." Laki-laki itu adalah Alman. Manager di perusahaan Erkan, sekaligus sahabatnya.
"Nggak usah ikut campur urusanku. Kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kamu nggak ada hak buat ngatur urusan pribadiku." jawab Nayla ketus tanpa menatap wajah Alman.
"Tolong … lu bawa dia. Gue nggak mau ada salah paham antara gue dan istri gue." Erkan hendak melangkah masuk ke dalam kamarnya, tetapi dengan cepat tangan Nayla menarik kaos Erkan.
"Kita belum selesai bicara Kak. Tolong … dengarkan aku bicara dulu," Kata Nayla.
"Lepaskan tanganmu. Seharusnya kamu tahu kalau seorang Erkan tidak suka disentuh siapapun." Jawab Erkan seraya melirik tangan Nayla yang masih memegang kaos Eldar.
"Nayla …!" Seru Alman lagi.
"Kenapa sih kamu, kenapa harus datang sekarang hah?" Nayla melepaskan tangannya dari kaos Erkan dan menoleh pada Alman. Nayla juga melemparkan wadah makanan yang dia bawa tadi ke sembarang arah. Hentakan kakinya menandakan jika Nayla sangat kesal pada Alman. "Jangan mentang-mentang Papi suka sama kamu dan berniat menjodohkan kita, kamu jadi punya hak atas urusanku. Inget, aku nggak akan mau menjadi istrimu. Aku cuma mau menikah dengan Kak Erkan. Kamu ngerti nggak sih, hah!" Nayla menatap tajam sorot mata Alman. "Aku peringatkan lagi, jangan … ikuti … aku … dan jangan … campuri … urusanku …. Ngerti!" Nayla bicara dengan nada tinggi seraya mengulurkan jari telunjuknya pada Alman tepat di depan wajah Alman. "Oh ya, malam ini jangan harap aku akan menemuimu karena rencana pertunangan kita … Ba ... tal …." Fatimah pun berlalu begitu saja dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1