Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Ikatan Cinta


__ADS_3

Sylia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tentu saja yang paling panik dan khawatir adalah Chessy. Entah sudah berapa kali Chessy menatap pintu ruang rawat sahabatnya itu. Chessy takut jika dia kan kehilangan Sylia untuk selamanya sebelum Sylia mendapatkan kebahagiaannya.


"Mas … gimana ini? Gimana dengan Sylia? Gimana keadaannya sekarang." Chessy menangis dalam pelukan Erkan. Chessy sangat khawatir dengan keadaan Sylia. Pasalnya, Sylia mengatakan jika kepalanya sudah tidak pernah merasakan sakit, kalaupun sakit, Sylia langsung minum obat. "Aku takut Mas, aku takut …." Chessy masih sesenggukan dalam pelukan Erkan.


"Kamu harus tenang Sayang. Kita harus berdoa dan berkhusnudzon," kata Erkan seraya menepuk-nepuk punggung istrinya.


"Tapi Sylia nggak pernah ngeluh sakit Mas. Ini kenapa tiba-tiba pingsan?" kata Chessy lagi.


"Tenang ya Sayang, kamu harus tenang. Kita harus berdoa, bukan menangis." jawab Erkan dengan lembutnya.


"Sylia sakit apa sebenarnya? Apa dia punya riwayat penyakit? Di cv nggak dijelaskan kalau dia lagi sakit." tanya Alman yang tak kalah khawatir dengan keadaan Sylia.


"Iya, belum lama ini dia menjalani operasi tumor otak," jelas Erkan dan sontak membuat Alman terkejut. Dia kemudian lebih memilih diam menunggu Dokter.


Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Sylia telah selesai memeriksa. Dokter itu keluar dari ruangan setelah melakukan beberapa tahapan pemeriksaan sesuai dengan keadaan Sylia saat di Indonesia yang telah dijelaskan oleh Erkan. Alman tentu tak mau melewatkan hal itu dan ikut bersama Erkan menemui sang Dokter. Setelah Dokter itu selesai bercakap-cakap, Chessy melihat kalau Erkan menghela nafas lega saat itu, Chessy segera menghampiri suaminya setelah kepergian sang Dokter.


"Mas, Dokter itu bilang apa?" Chessy sungguh tidak sabar mendengarkan kabar Sylia.


"Dokter bilang nggak ada hal yang fatal Sayang. Katanya, bisa jadi Sylia tertekan dengan keadaan, dia nggak boleh terlalu capek dan banyak pikiran aja. Sylia akan dipindahkan ke ruangannya," jawab Erkan seraya melemparkan senyuman manisnya agar Chessy merasa tenang.


"Alhamdulillah," Chessy menghela napas panjang.


"Apa yang buat dia tertekan sebenarnya. Apa mungkin selama beberapa hari ini dia terbebani untuk mengambil keputusan menerima lamaranku?" kata Alman yang tiba-tiba merubah raut wajahnya dari senang karena tidak terjadi apa pun pada Sylia menjadi sedih karena merasa Alman terlalu terburu-buru dengan rencana pernikahannya. "Nona Chessy, apa Dek Sylia benar-benar menerima lamaran Saya?" tanya Alman yang mulai meragukan keputusannya.

__ADS_1


"Iya. Sylia bilang kalau dia bermimpi Kak Alman memberikan sesuatu, tapi Sylia nggak inget apa yang Kak Alman berikan." jelas Chessy. "Apa ada yang salah?" Chessy cukup khawatir melihat raut wajah Alman.


"Saya takut jika Dek Sylia tertekan. Bolehkan jika saya menikahi Dek Sylia saat ini juga?" tanya Alman pada Chessy.


"Aku nggak bisa ambil keputusan apa pun, kita ke ruang rawat Sylia aja dan tanyakan pada Sylia secara langsung. Dia yang akan menjalani kehidupan barunya, bukan aku." jawab Chessy.


Erkan, Chessy juga Alman pergi menuju ruang rawat Sylia. Saat tiba disana, ternyata kamarnya masih tertutup oleh gorden karena Sylia masih menjalani beberapa pertanyaan dari Dokternya. Beberapa saat kemudian, gorden itu terbuka dan Sylia terlihat menyipitkan matanya menandakan kalau dia sedang tersenyum.


"Syl, kamu baik-baik ajakan? Apa yang sakit? Jangan buat aku khawatir." Chessy langsung duduk di sisi brankar Sylia dan meraih tangan untuk dia genggam.


"Aku nggak pa-pa. Dokter disini bisa ya bahasa Indonesia." Sylia malah mengalihkan pembicaraannya.


"Sylia … aku serius. Kamu nggak pernah bilang kalau kamu sakit." Chessy hampir meninggikan suaranya karena kesal dengan Sylia yang malah bercanda.


"Dek Sylia, apa Dek Sylia yakin?" Alman pun membuka suaranya.


"Iya Kak Alman. Maaf ya buat kalian semua khawatir. Kemarin aku lupa minum obatku. Mungkin karena itu juga," jawab Sylia dengan lembutnya.


"Dek Sylia, saya mau melakukan ijab qobul besok pagi, apa Dek Sylia keberatan? Maaf saya sangat khawatir dengan keadaan Dek Sylia. Saya ingin menjaga Dek Sylia dengan halal. Jika Dek Sylia keberatan, nggak pa-pa." ucapan Alman membuat Sylia kembali tersenyum.


"Kak Alman, niat baik memang nggak boleh ditunda-tunda lagi. Bismillah, Sylia menerima lamaran Kak Alman dan Sylia mohon di bimbing agar bisa semakin dekat dengan-Nya. Sylia percaya dan yakin jika ini memang takdir indah yang Allah berikan buat Sylia." jawaban Sylia membuat semua orang tersenyum bahagia.


"Er, gue mau siapin semuanya." Alman memeluk Erkan saking bahagianya dengan jawaban yang dia terima.

__ADS_1


"Ya ya terserah lu. Gue mau kok jadi saksinya," jawab Erkan seraya menepuk-nepuk punggung Alman.


"Thanks Er." Alman melepaskan pelukannya dan kembali menatap Sylia yang terbaring lemah. "Dek Sylia mau mahar apa?" tanya Alman sebelum dia pergi.


"Cukup seperangkat alat sholat Kak, itupun kalau tidak memberatkan," jawab Sylia dengan senyuman.


"Nggak akan ada yang berat Dek." Alman pun tersenyum lebar lalu bergegas pergi ke luar dan benar-benar mencari seorang penghulu juga mencari mahar untuk pernikahannya.


*


Pagi-pagi sekali, ruang rawat di rumah sakit itu kini tiba-tiba menjadi ruangan yang penuh ketegangan. Ada dua orang asing yang Sylia lihat sedang bercakap-cakap dengan Alman dan Erkan. Paman Ahmed juga Bibi Lunara datang beserta Aylin. Mereka sempat dilarang ikut ke rumah sakit saat Sylia pingsan, tetapi karena Erkan meminta agar Paman Ahmed menjadi saksi pernikahan Sylia, akhirnya mereka pun pergi ke rumah sakit.


Sylia memang tidak perlu wali nikah untuk pernikahannya. Dia cukup memakai wali hakim dan nasab yang mengikuti ibunya. Setelah beberapa saat, ijab qobul pun dilakukan. Sylia tidak mau sesuatu yang mewah, apalagi harus memakai baju pengantin segala. Sylia hanya memakai gamis berwarna hitam dengan Khimar dan cadar berwarna lilac.


"Sah!"


Ucap Paman Ahmed juga Erkan bersamaan. Kata-kata itu terdengar indah bagi Sylia setelah mendengar Alman mengucapkan ijab qobul.


"Alhamdulillah Syl, kamu udah sah jadi istri Kak Alman." Chessy terlihat menitikkan air mata kebahagiaan dan memeluk sahabatnya itu. Sylia juga melakukan hal yang sama saking bahagianya dengan hari pernikahannya.


Setelah memakaikan cincin di jari Sylia, Alman meletakkan sebelah tangannya di kepala Sylia lalu memanjatkan doa. Alman kemudian mencium ujung kepala Sylia seraya tersenyum. "Terima kasih Dek Sylia sudah mau menikah dengan saya dan melengkapi apa yang kurang. Saya berjanji hanya akan memberikan Dek Sylia kebahagiaan," ucap Alman membuat Sylia tiba-tiba merona.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2