
Pagi-pagi sekali Chessy segera memasak menu sarapan untuk suami dan Sylia di rumah sakit. Di bantu Surti, pagi ini Chessy memasak rendang dan juga sayur daun singkong. Chessy belum tahu tentang resep makanan khas Turki, jadi Chessy memasak apa yang dia bisa saja.
"Sayang, Mas nggak ikut ke rumah sakit ya. Mas harus ke kantor karena ada rapat penting pagi ini. Nggak pa-pa ya kamu sendiri ke rumah sakitnya?" kata Erkan yang kemudian duduk di kursi untuk sarapan.
"Nggak mau. Aku maunya sama suami aku. Pokoknya aku nggak mau kemana-mana tanpa suamiku. Suamiku itu harus ada dua puluh empat jam, eh dua puluh lima jam sama aku. Kalau lebih penting rapat ya udah sana langsung berangkat, nggak usah sarapan sekalian." Chessy mbesengut menatap Erkan lalu melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka.
"Sayang, ajak Surti aja ya? Mas serius ini. Rapatnya penting banget. Nanti pulangnya Mas beliin, em beliin es krim." rayu Erkan seraya menangkup kedua tangannya.
"Kamu pikir aku anak kecil? Kamu cinta nggak sih sama aku? Ngerti nggak sih apa mau aku? Aku tu maunya sama-sama kamu terus. Dasar laki-laki nggak pekak. Rapatnya kan bisa diundur. Kamu lebih milih kerja dari pada sama aku?" jawab Chessy masih dengan nada yang sama.
"Sayang, kan Alman di rumah sakit. Jadi nggak ada yang gantiin di kantor. Ini bukan masalah cinta atau enggak Sayangku. Please! Jangan marah ya?" Kata Erkan masih terus memohon.
"Terserah kamu Mas. Aku nggak jadi ke rumah sakit. Aku mau di rumah aja. Aku mau tidur. Capek!" Chessy beranjak dari tempat duduknya dengan hentakan kaki dan hendak pergi menaiki anak tangga. Namun dengan cepat Erkan memeluk Chessy dari belakang.
"Iya, Mas mau temenin kamu ke rumah sakit. Maaf ya. Jangan ngambek lagi. Rapatnya Mas batalin aja." ucap Erkan seraya mengeratkan pelukannya. "Maaf ya yang tadi?" lanjutnya.
"Bener mau temenin aku ke rumah sakit?" tanya Chessy mengulang perkataan Erkan.
"Hm. Masa istriku pengen sama-sama terus ditolak. Bisa-bisa nanti malem nggak dijatah." canda Erkan. Seketika itu Chessy langsung tertawa terbahak-bahak. Erkan bingung kenapa Chessy malah tertawa karena merasa kata-katanya nggak ada yang salah. Erkan membalikkan tubuh Chessy dan menatapnya yang masih menahan tawanya lagi. "Apa yang lucu, hm?" tanya Erkan serius.
"Kamu itu yang lucu Mas. Aku cuma bercanda. Gampang banget isengin kamu. Udah ayo sarapan terus berangkat ke kantor. Kalau kamu nggak kerja siapa yang kasih aku nafkah nanti." Chessy menarik tangan Erkan dan memintanya duduk kembali. Erkan masih mencerna kata demi kata yang Chessy lontarkan.
"Sial, pagi-pagi kena prank." umpat Erkan dan seketika Chessy kembali tertawa.
"Hus, nggak boleh ngumpat." Chessy meletakkan jari telunjuknya di mulut supaya Erkan tidak melanjutkan umpatannya.
"Astaghfirullah," kata Erkan mengelus dadanya.
__ADS_1
"Emang enak," jawab Chessy seraya mengambilkan sarapan untuk Erkan.
"Siap-siap nih bakal kenak prank tiap hari." ledek Erkan.
"Nggak mau?" Chessy meletakkan piring yang sudah terisi nasi juga lauknya di depan Erkan.
"Mau kok. Kalau nggak mau makanan enak ini pasti nggak dikasih." Erkan meringis dan segera menyantap sarapannya.
_____________
"Sayang, mau sarapan menu yang lain nggak?" Alman meletakkan jatah sarapan dari rumah sakit di atas nakas kemudian mengelus ujung kepala Sylia dengan sangat lembut seraya tersenyum. Sylia membalas senyuman itu dan melirik menu sarapan dari rumah sakit.
"Em, kenapa ya menu makanan di rumah sakit selalu nggak menggugah selera." kata Sylia yang kemudian membuang muka karena tidak tertarik sama sekali dengan sarapannya.
"Kamu harus coba ini Sayang. Ini enak loh. Namanya Menemen. Menu ini terbuat dari telur, garam, bawang, oregano, cabai manis, dan juga merica, dan beberapa sayuran, seperti halnya tomat dan paprika. Ada dagingnya juga sedikit." jelas Alman yang kemudian mengambil sarapan Sylia dan hendak menyuapinya.
"Ya udah kamu mau sarapan apa? Atau minum dulu aja susunya?" Alman menyodorkan segelas susu hangat pada Sylia. Kali ini Sylia menerimanya.
"Chessy akan kesini Mas. Dia pasti bawain aku sarapan." jawab Sylia yang membuka sedikit cadarnya dan memiringkan tubuhnya untuk meminum susu yang Alman berikan hingga setengah gelas. Sylia memberikan gelas itu lagi pada Alman.
"Sayang, em apa kamu nggak mau buka cadarmu? Kita udah halal loh." goda Alman. Namun respon Sylia diluar dugaan. Sylia langsung tertunduk sedih dan menggelengkan kepalanya. "Hei, kenapa raut wajahnya jadi begitu?" Alman meraih mengangkat dagu Sylia agar Sylia menatapnya. Sorot mata keduanya pun bertemu. "Sayang?" panggil Alman lagi.
"Aku takut kamu jijik liat wajah aku Kak." jawab Sylia lirih. Namun bukannya Alman melepaskan tangannya, justru Alman malah mencium bibir Sylia yang tertutup cadar. Sylia membulatkan matanya karena terkejut dengan sikap Alman yang begitu lembut padanya.
"Aku udah pernah melihatnya. Kalau aku jijik, aku nggak akan jadi suamimu saat ini." Alman kembali mendaratkan ciumannya. Kali ini Sylia memejamkan mata. "Apa kamu bisa merasakan bibirku?" ledek Alman, tetapi Sylia malah tersenyum. "Lagi?" kata Alman dengan raut wajahnya yang teduh. Sylia hanya mengangguk. Alman pun meraih tengkuk Sylia dengan sebelah tangannya dan menyibak sedikit cadar yang Sylia kenakan lalu menciumnya perlahan tanpa meninggalkan rasa basah disana. "Di rumah aja, takut ada yang liat terus iri." Alman menutup lagi bibir Sylia dan memperbaiki cadar Sylia. Alman tahu dibalik cadar itu, pipi sang istri tengah merona.
"Telat, udah ada yang liat." Suara itu membuyarkan kemesraan kedua sejoli yang baru sehari menikah.
__ADS_1
"Chessy!" panggil Sylia yang sedikit malu karena adegan dengan sang suami dilihat oleh Chessy dan Surti.
"Cie, udah first kiss nih. Atau udah kiss yang kesekian kalinya?" Goda Chessy yang kemudian memeluk Sylia.
"Kamu, jangan buat aku makin malu." Sylia menepuk punggung Chessy dan melepaskan pelukannya.
"Iya, nggak pa-pa dong. Udah halal ini. Setiap sentuhan yang kalian lakukan itu ibadah, jadi nggak usah malu-malu. Eh aku bawa rendang nih sama daun singkong. Mau sarapan sekarang?" Chessy menunjuk Surti yang membawa makanan yang Chessy maksud tadi.
"Tuh'kan Kak, Chessy pasti bawain aku sarapan." Sylia menoleh pada Alman yang terlihat malu-malu dengan Chessy.
"Makasih Non." kata Alman dengan anggukan kepala dan tersenyum malu.
"Nggak perlu sungkan. Oiya, kalian mau pulang kemana nanti?" tanya Chessy seraya menyiapkan sarapan untuk Sylia dan Alman. "Ke rumah aja dulu kalau tempat tinggalnya belum disiapkan. Kalau udah siap baru pindahan." tawar Chessy membuat Sylia terharu karena Chessy begitu mengerti apa maunya.
"Ah iya Non. Sebenarnya saya mau ajak Sylia ke apartemen. Saya tinggal disana sejak kerja di kantor Bos. Cuma karena Bos mau melanjutkan pendidikan sarjananya, mungkin saya akan cari tempat tinggal yang deket sama kantor." jawab Alman.
"Kalau gitu hari ini tinggal aja dulu di rumah. Besok dibicarakan lagi masalah tempat tinggal kalian nanti. Nih, kamu mau disuapin suami kamu atau makan sendiri?" Lagi-lagi Chessy menggoda Sylia.
"Sendiri."
"Suapin."
"Duh duh, masak nggak kompak. Aku keluar dulu deh. Sarapan yang banyak ya?" Chessy mengedipkan sebelah matanya dan pergi ke luar dari ruangan itu untuk memberi waktu pada Sylia dan Alman.
Alman menutup gorden dan mengambil piring yang sudah berisi nasi serta rendang dan daun singkong yang disiapkan Chessy tadi. "Ayo, buka cadarnya Sayang." titah Alman langsung Sylia lakukan. "Mulai sekarang, kita hanya akan makan dan minum di piring dan gelas yang sama." Alman tersenyum begitu manis. Sylia hanya mengangguk dengan senyuman tipis.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1