
Jam pulang sekolah pun tiba. Chessy buru-buru merapikan mejanya dan memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas. Sayang, saat Chessy ingin segera bergegas pergi, tangannya ditarik oleh Sylia. "Tunggu, kenapa lu buru-buru banget? Lu mau ninggalin gue lagi?" Sylia bersuara sedikit meninggi.
"Bukan urusan lu Sylia Agustina. Lepasin tangan gue." Chessy berusaha melepaskan tangannya, tetapi gagal. "Sakit Syl, lu mau apa sih?" Chessy menatap tajam mata Sylia.
"Lu harus ikut gue ke suatu tempat." Sylia menarik tangan Chessy secara paksa. Putri dan Sintia ingin menolong, tetapi Sylia membentak keduanya dan terus menarik Chessy. Sebelumnya, Sylia sudah menghubungi Devan agar rencananya lebih mulus, jadi Devan sudah menunggu Sylia di depan gerbang dengan sebuah mobil.
"Syl, apa sih! Lepasin gue." Chessy masih terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Sylia, tetapi masih gagal. Chessy hanya berharap jika Erkan sudah ada di depan pintu gerbang sekolah supaya bisa menolongnya. Namun matanya terkejut melihat Devan yang sudah membuka pintu agar Sylia dan dirinya segera masuk ke dalam mobil. "Kalian sekongkol? Kalian mau bawa gue kemana?" Chessy masih terus berontak untuk menolak masuk ke dalam mobil yang dibawa Devan.
"Lu nggak usah banyak omong, cepet masuk." Sylia terus menarik tangan Chessy, tetapi sekuat mungkin Chessy menolaknya. Devan tidak tinggal diam dan membantu Sylia untuk memasukan Chessy ke dalam mobil.
"Sayang … nurut aja ya?" Devan hendak membopong Chessy agar lebih mudah masuk ke dalam mobil.
Brug!
Brug!
Devan mendapatkan dua kali pukulan tak terduga. Chessy tahu siapa yang memukul Devan dan Chessy pun segera berlari ke arah belakang orang itu. Tentu saja itu Erkan, laki-laki yang sejak tadi punya firasat tidak enak sesegera mungkin pergi menjemput Chessy. Untungnya dia datang tepat waktu.
"Eh Kak ganteng …." Sylia berusaha sedekat mungkin dengan Erkan agar bisa berbisik ditelinga Erkan, tetapi Erkan tahu gelagat Sylia tidak beres, dia langsung mundur saat Sylia melangkah maju.
"Jangan berani sentuh calon istri gue lagi." Ucap Erkan mengancam Devan juga Sylia dengan telunjuk yang mengarah bergantian ke keduanya.
"Brengseek lu," Devan hendak membalas pukulan Erkan, tetapi secepat kilat Erkan menghindar dan malah Devan yang kembali mendapatkan pukulan. "Sial …." Umpat Devan mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"Mas, jangan diladeni. Kita segera pergi aja." Chessy menarik tangan Erkan yang siap menghantam tubuh Devan lagi.
"Chessy … kenapa lu malah bela laki-laki brengsseek ini hah?" Devan ikut kesal dengan sikap Chessy yang membela Erkan.
"Gue udah muak sama kalian. Gue nggak mau ketemu kalian berdua lagi. Kalian yang brengsseek, bukan dia!" Seru Chessy yang kemudian memeluk lengan Erkan. "Kita pulang sekarang Mas." Chessy menarik lengan Erkan dan keduanya pun berbalik badan untuk segera masuk ke dalam mobil. Sylia tak tinggal diam, segera Sylia berlari dan berusaha untuk mendekati telingan Erkan. Untungnya Erkan selalu sigap dalam segala hal dan tahu maksud Sylia.
__ADS_1
"Usaha lu sia-sia jika niat busuk lu untuk gue. Hati-hati dengan timbal balik dari ilmu hitam yang lu gunain itu." Erkan kembali mengancam Sylia dan kali ini Erkan tidak bertele-tele untuk segera masuk ke dalam mobil sebelum ada hal yang lebih buruk. Sylia terlihat sangat kesal dan menghentakkan kakinya berkali-kali.
Erkan terlihat mengatur nafas saat sedang sibuk menyetir mobil. Chessy ingin bertanya, tetapi memilih diam sebelum Erkan menjelaskannya sendiri. Setelah beberapa menit berlalu, nafas Erkan sudah mulai membaik dan sadar akan Chessy yang melihatnya dengan rasa khawatir.
"Tenang aja, aku nggak pa-pa kok. Cuma kalau terlalu banyak mengeluarkan tenaga, nafasku emang sering sesak." Jelas Erkan seraya mengusap ujung kepala Chessy.
"Kenapa begitu?" Tanya Chessy penasaran.
"Sejak kecelakaan itu, aku mengalami trauma. Intinya aku nggak bisa liat tindakan kekerasan atau sebuah kecelakaan." Jawab Erkan.
"Kalau kamu melihat itu semua, kamu bakal sesak nafas?" Chessy bersikap sopan, dan bahkan gaya bahasanya pun kini berbeda membuat Erkan mengembangkan senyumnya.
"Kamu manis banget sih. Kamu tenang aja ya, ini nggak akan lama kok." Setelah menatap Chessy seperdetik, Erkan kembali fokus menyetir hingga berhenti di sebuah cafe.
"Ngapain kesini?" Chessy melihat suasana cafe yang cukup ramai.
"Makan siang dong, kamu nggak laper emang?" Erkan kemudian membukakan pintu mobil untuk Chessy, setelah itu keduanya masuk dan mencari tempat duduk. Ternyata ada waiters yang mengarahkan mereka untuk mendapatkan tempat duduk kosong. Waiters itu pun memberikan daftar menu di cafe itu. "Mau pesen apa Ches?" Tanya Erkan.
"Bakso dua sama es jeruk dua dan kentang goreng satu ya Kak." Erkan memberikan kembali menu makanan itu dan waiters pun pergi untuk menyiapkan pesanan. "Apa kita percepatan aja Ches pernikahan kita?" Pernyataan Erkan berhasil membuat Chessy membulatkan matanya dengan sempurna.
"Hah? Jangan bercanda. Gue belum ujian." Chessy terlihat begitu serius menanggapi perkataan Erkan sampai-sampai gaya bicaranya kembali lagi seperti sebelumnya.
"Haha …." Erkan tertawa puas melihat respon Chessy. "Manis banget sih kamu Ches. Cuma aku cukup serius dengan ucapanku karena aku ingin melindungimu seutuhnya Ches." Kali ini wajah Erkan yang nampak serius.
"Iya niatnya baik, tapi masalahnya gue bahkan belum ujian. Cuma kurang dari dua bulan aja loh. Masak iya sih lu begitu ngebet pengen kawin." Chessy terlihat mengejek kali ini.
"Bu …." Erkan ingin mengelak karena kata 'kawin' yang disebut Chessy, sayangnya pesanannya tiba, jadi Erkan harus menjeda dulu ucapannya sampai semua hidangan tersusun rapi di atas meja. "Bukan begitu …." Erkan lagi-lagi harus menghentikan bicaranya karena jari telunjuk Chessy tepat berada di bibir Erkan. Spontanitas Erkan malah mencium jari telunjuk Chessy. "Emuah," Chessy segera menarik lagi jarinya.
"Ih … mengambil kesempatan dalam kesempitan." Celetuk Chessy yang kesal dengan sikap Erkan. Chessy mengalihkan rasa gerigi dan pipinya yang mungkin saja terlihat merona dengan segera mencicipi bakso di depannya.
__ADS_1
"Kamu yang nyuguhin kok." Erkan merasa sangat senang dan ikut mencicipi bakso. Chessy pun mengambil kecap, saus dan juga sambal yang begitu banyak dan mengaduk baksonya agar rasanya sesuai selera Chessy. Berbeda dengan Chessy, Erkan hanya mengambil sambal satu sendok tanpa kecap dan saus lalu meneguk es jeruk terlebih dahulu sebelum benar-benar menikmati menu baksonya.
"Baksonya enak ya?" Chessy mencoba mencari topik lain agar bisa duduk santai sambil menikmati makanannya.
"Iya enak banget, apalagi makannya bareng kamu." Jawab Erkan tanpa menoleh pada Chessy. Jika hal itu terjadi, Erkan tahu persis kalau pipi Chessy pasti makin merona dan malu.
"Gombalnya pinter banget ya? Udah berapa cewek yang berhasil digombalin?" Tanya Chessy penuh penekanan.
"Aku udah bilang'kan kalau cuma ada kamu di hati aku, jadi jangan pernah berpikir apa pun yang aku katakan itu udah pernah aku ucapkan sama cewek lain." Jawab Erkan dengan santainya sambil menikmati kuah bakso yang menurutnya begitu pedas karena sesekali Erkan meminum es jeruknya untuk menghilangkan rasa pedas di mulutnya.
"Ah iya, lupa kalau Mas Erkan udah cinta mati sama Chessy Manohara Putri Ginanjar." Bukannya merasa Erkan laki-laki yang sweet, Chessy malah memuja dirinya sendiri tetapi dengan nada meledek Erkan.
"Iya, kamu emang udah buat hatiku mati dari wanita manapun." Lagi-lagi Chessy dibuat kalah telak dengan ucapan Erkan.
"Kamu pikir aku bakal terbang dipuji-puji terus? Heh sorry ya, Chessyti bukan wanita gampangan." Sebenarnya Chessy sangat terharu dengan perkataan Erkan, tetapi dia tentu harus jaga image-nya sebagai seorang wanita.
"Nggak mungkin kamu nggak merasa terharu dengan perkataanku yang begitu jujur dan tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa Erkan hanya mencintai Chessy bahkan sejak Chessy masih duduk dibangku sekolah dasar kelas enam." Ucap Erkan mengelus ujung kepala Chessy kemudian kembali menikmati baksonya.
"Aduh … Chessy, jantung lu mau copot ini dari tempatnya," batin Chessy yang sekarang benar-benar merasa tersentuh dengan sikap Erkan.
"Udah biasa aja, jangan deg-degan. Makannya abisin dulu." Kata Erkan seolah tahu apa yang Chessy rasakan, karena tidak mau menambah malu Chessy segera menyantap kembali baksonya.
"Dasar nggak tahu terima kasih …." Suara wanita yang sedikit berteriak itu tiba-tiba terdengar tidak asing di telinga Chessy dan Erkan. Chessy cukup terkejut karena asal suara itu adalah Sylia yang sedang memegang sebuah botol kaca yang sedang melayang di udara. Perkiraan Chessy botol itu akan mengarah ke arahnya.
Erkan memang selalu sigap dalam segala hal. Melihat Sylia yang akan bertindak sesuatu, Erkan segera bangkit dari tempat duduknya dan botol yang Sylia pegang dengan tujuan utamanya adalah Chessy, kini botol yang berisi air keras itu malah tumpah ke wajah Sylia.
"Ack … panas … ack … brengsseek …." Teriak Sylia yang menarik banyak perhatian pengunjung cafe tersebut. Devan mendengar teriakkan Sylia segera menyusul dan menuntunnya keluar dari cafe itu.
"Astaghfirullah … Sylia benar-benar sudah dibutakan mata hatinya oleh ilmu hitam." Gunam Erkan tetapi Chessy masih mendengar suaranya.
__ADS_1
"Maksudnya apa Mas?"
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...