
Chessy tengah melindungi kepalanya dengan kedua tangan agar tak terkena pukulan balok kayu dari Sylia yang tengah melayang ke arahnya. Sebenarnya Chessy bisa saja melawan karena di kehidupannya dulu, bahkan copet saja Chessy pukul hingga babak belur. Entah kenapa hati nuraninya tak kuasa untuk menangkis serangan Sylia dan hanya pasrah saja. Mungkin juga karena rasa iba Chessy pada Sylia.
Namun, bukannya merasakan rasa sakit karena sebuah pukulan, justru Chessy mendengar rintihan Sylia yang kesakitan. Chessy pun segera membuka mata dan terkejut karena Sylia sudah tersungkur cukup jauh darinya. Chessy segera berdiri dan menoleh pada sosok Erkan yang terlihat jelas sangat khawatir padanya.
"Mas? Kamu tahu aku disini?" Tanya Chessy karena benar-benar heran. Bukannya Erkan menjawab, justru Erkan segera menghampiri Chessy dan memeluknya.
"Kenapa kamu diam aja? Kenapa kamu nggak lawan dia malah meringkuk pasrah begitu? Untungnya aku nggak telat. Andai kamu terkena satu saja pukulan darinya, maka detik ini juga aku pastikan Sylia pulang hanya tinggal nama." Ujar Erkan seraya mempererat pelukannya.
"Mas, aku nggak bisa napas nih," keluh Chessy yang merasa sesak dengan pelukan dari Erkan yang cukup erat.
"Ah, iya maaf. Aku terlalu khawatir. Lagian kamu kenapa diem aja sih. Kalau begini, gimana aku bisa tenang ninggalin kamu Ches …." Erkan pun melepaskan pelukannya. "Ayo kita segera pergi dari sini." Ajakan Erkan membuat Sylia yang sejak tadi menahan rasa sakitnya, kini bangkit dan hendak memukul Chessy kembali dengan balok kayu yang sebelumnya.
"Dasar brengseek …." Pekik Sylia seraya kembali melayangkan lagi balok kayu ke arah Chessy, tetapi dengan cepat Erkan menangkap balok kayu itu dan mendorong lagi tubuh Sylia sekuat mungkin. Sylia pun tersungkur dan Chessy, bukannya senang karena rencana Sylia gagal untuk memukulnya, justru malah semakin kasian dengan keadaannya yang sekarang. Sylia kembali merintih kesakitan. Namun, tak ada waktu untuk Chessy berlama-lama menatap iba Sylia karena dengan segera Erkan menarik tangan Chessy untuk keluar dari gang sempit itu dan pergi menuju mobil.
"Kok kamu bisa tahu aku di gang sempit itu Mas?" Chessy kembali bertanya saat Erkan sudah siap untuk melajukan mobilnya.
"Iya, aku cek lokasi hpmu. Aku udah ngerasa nggak enak hati saat tahu titik lokasi kamu aneh. Jadi, aku putuskan buat nyusul kamu." Erkan tersenyum seraya mengusap ujung kepala Chessy kemudian melajukan mobilnya.
"Ya Allah … laki-laki ini benar-benar luar biasa bagiku," batin Chessy yang tak mau melepaskan tangannya pada Erkan. "Bagaimana mungkin aku dulu begitu bodoh menolaknya. Apa iya aku harus menyalahkan Sylia? Tapi keadaan Sylia bagaimana sekarang?" Lagi-lagi Chessy masih bertengkar dengan pikirannya.
"Jangan diliatin terus dong, nanti aku salting gimana? Kita jalan sekarang ya? Dan kamu jangan mikirin orang yang dulu kamu anggap sahabat itu." Kata Erkan penuh penekanan di akhir kalimat.
"Kenapa kamu begitu baik sih Mas? Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta sama kamu." Kata Chessy yang kemudian mengalihkan pandangannya karena malu telah mengungkapkan perasaannya.
"Benarkah? Em tapi kamu memang layak untuk mendapatkannya Ches." Jawab Erkan seraya tersenyum manis.
"Bagaimana bisa aku layak dan begitu beruntung diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mendapatkanmu Mas. Padahal aku bukan hamba yang taat."
"Allah sangat menyayangimu, begitu juga denganku, aku juga sangat menyayangi dan mencintaimu."
"Terima kasih Mas. Kamu selalu ada saat aku membutuhkanmu."
__ADS_1
"Aku udah bilang'kan, kamu harus mengandalkan aku, hehe …."
__________________
"Mas nggak mampir dulu?" Chessy cukup kecewa karena Erkan tak mau masuk dulu ke dalam rumah dengan alasan harus segera menjemput Kakek dan Aylin di rumah sakit. "Ayolah, masuk dulu sebentar. Aku masih pengen liat kamu Mas." Chessy tiba-tiba sadar akan ucapannya yang bar-bar. "Astaghfirullah, lu barusan ngomong apa sih Ches?" Batin Chessy yang kemudian melemparkan senyum kikuk pada Erkan.
"Hm, baiklah kalau calon istriku memaksa, mau bagaimana lagi." Jawab Erkan yang kemudian turun dari mobil terlebih dahulu untuk membukakan pintu. "Mari turun ratuku," ucapan Erkan membuat pipi Chessy makin merona karena tersipu malu. Chessy turun dan keduanya masuk ke dalam rumah.
"Aku buatin minum dulu ya Mas. Mau jus jeruk?" Tawar Chessy seraya meletakkan tasnya di sofa.
"Boleh deh," jawab Erkan.
"Kok rumah sepi sih? Mah … Pah … Chessy udah pulang. Calon mantu juga datang nih …." Teriakan Chessy tidak ada satu orang pun yang menjawab. Chessy celingukan dan tidak fokus akan langkah kakinya. Chessy terjatuh andai Erkan tak menarik tangannya. Tubuh Chessy dan Erkan ambruk di sofa dengan posisi Erkan yang menindih tubuh Chessy. Keduanya bertatap mata cukup lama. Entah kenapa, tangan Erkan malah menyeka rambut yang menutup wajah Chessy. Erkan tersenyum dan Chessy membalasnya.
"Apa-apa kalian hah?" Teriakan Bu Dewi membuat kedua sejoli itu jadi salah tingkah dan langsung memposisikan duduknya dengan benar.
"Mah, ini nggak seperti yang Mamah lihat." Chessy mencoba menjelaskan, tetapi hanya dapat penolakan.
"Maaf Tante, ini tadi Chessy kesandung …." Erkan juga mencoba membela diri, tetapi ucapannya juga terpotong.
"Halah, Mamah nggak mau tahu ya, malam ini juga kalian harus ijab qobul. Bikin malu aja. Apa kata orang kalau kamu hamil diluar nikah Ches?" Bu Dewi masih terlihat marah dan kecewa.
"Mah … ini tuh bener-bener nggak sengaja Mah." Chessy masih kekeh dengan niatnya menjelaskan kejadian barusan.
"Nggak. Mamah mau kalian malam ini menikah. Erkan, kamu panggil keluargamu sekarang juga." Bu Dewi juga tak mau kalah dengan niatnya.
"Kenapa teriak-teriak Mah?" Tanya pak Ginanjar.
"Pah, mereka berdua mau melakukan itu sebelum nikah Pah. Pokoknya malam ini juga mereka harus menikah." Jelas Bu Dewi pada suaminya.
"Apa? Benar-benar bikin malu." Pak Ginanjar terlihat kaget.
__ADS_1
"Pah, ini nggak bener." Jelas Chessy.
"Kalian jangan coba-coba beranjak dari tempat duduk. Papah akan siapkan semuanya." Pak Ginanjar dan Bu Dewi pun pergi dari hadapan Erkan dan Chessy.
"Gimana ini Mas? Aku kan belum ujian? Kenapa sih tadi pake jatuh segala. Siall banget …." Chessy terlihat gelisah.
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi gelisah gini dan buat keluarga kamu salah paham. Udah jangan ngumpat. Istighfar aja." Erkan terlihat begitu menyesal tetapi masih mencoba tersenyum manis dan sedikit bersyukur karena akan menikah dengan gadis pujaannya.
"Engga Mas, ini salah aku yang ceroboh. Maaf ya, keluarga kamu pasti terkejut nanti dan pasti mikir aku cewek yang enggak-enggak lagi." Chessy pun tertunduk.
"Nggak pa-pa. Mereka nggak akan mikir begitu. Bukannya malah bagus kita menikah malam ini."
"Hah?"
"Iya, baguskan aku bisa jagain kamu selama dua puluh lima jam non stop."
"Mas, bukan waktunya bercanda. Aku belum ujian dan kalau pihak sekolah tahu, bisa-bisa aku nggak boleh ikut ujian dan nggak lulus."
"Nggak masalah. Lagian keluarga Ginanjar kan donatur terkuat disekolah. Mana mungkin sekolah berani ngelarang kamu buat ikut ujian, hehe …."
"Mas, jangan bercanda. Aku serius loh." Chessy mencubit pinggang Erkan dan membuat Erkan tertawa geli.
"Haha kalau tingkahmu begini dan diliat Mamah Papah, mereka pasti makin membenarkan kalau kamu nggak sabar buat nikah sama aku."
"Astaghfirullah Mas, jangan bercanda terus."
"Haha …."
Sementara Bu Dewi dan Pak Ginanjar sedang menahan tawanya melihat tingkah Chessy dan Erkan yang terlihat begitu akrab. "Alhamdulillah Pah, akhirnya Mamah bisa liat anak Mamah bahagia." Bu Dewi hingga meneteskan air mata saking terharunya.
"Iya Mah, Erkan memang laki-laki yang baik dan layak untuk anak kita. Ayo kita siapkan semuanya Mah." Pak Ginanjar juga tak kuasa membendung air matanya melihat Chessy yang bisa tertawa bahagia dengan Erkan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...