Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Jalan Berdua


__ADS_3

Chessy masih belum percaya jika laki-laki yang akan dijodohkan dengannya ini sedang duduk menjadi supir. Pesonanya benar-benar tidak bisa dipungkiri oleh Chessy. Entah sudah berapa kali Chessy melirik Erkan yang fokus menyetir mobil.


"Jangan cuma dilirik aja dong, tapi diajak ngobrol juga." Sepertinya Erkan menyadari sikap Chessy dan malah membuat Chessy gugup dan salah tingkah. Chessy mengambil tisu dan mengusapkannya pada kening, pipi bahkan leher karena tiba-tiba muncul keringat. "Kamu sakit? Kok tiba-tiba keringetan?" Erkan menempelkan telapak tangannya di kening Chessy dan seketika Chessy langsung membatu. "Nggak panas kok? AC juga nyala, kenapa kamu keringetan?" Pertanyaan Erkan tak membuat Chessy membuka mulutnya.


"Chessy lu gila ya? Sadar Ches sadar. Dia emang mempesona, tapi lu harus inget tujuan lu Ches tujuan lu …." Chessy hanya bicara dan memperingati dirinya sendiri.


"Ches?" Erkan pun menepikan mobilnya karena khawatir dengan Chessy. "Are you okey?" Erkan menepuk bahu Chessy dan akhirnya Chessy pun tersadar dari lamunannya.


"Ah sorry … em … gue nggak pa-pa kok." Chessy mencoba tersenyum, tetapi masih terlihat kikuk.


"Aku tahu, kamu pasti gugup kan satu mobil dengan cowok ganteng kayak aku? Pasti begitukan? Nggak perlu segugup itu Ches." Celetuk Erkan yang begitu pedenya.


"Sial … dia emang pede banget. Sialnya lagi tingkah gue bisa dia tebak," batin Chessy mengumpat dirinya sendiri.


"Ches?" Panggil Erkan lagi. "Kamu ngelamun terus sih? B aja sama aku. Kalau kamu gugup, gimana saat kita menikah nanti?" Lagi-lagi ucapan Erkan mampu membuat Chessy makin gugup. Tarikan nafas panjang begitu terdengar oleh telinga Erkan. Chessy berusaha menenangkan dirinya dan mengingat akan tujuannya karena kesempatan kedua ini.


"Iya sorry, gue emang gugup di dekat lu. Ngomong-ngomong gue bingung mau panggil lu apa, nama aja atau dengan panggilan Kak? Atau Om aja?" Chessy berusaha mencarikan suasana hatinya dan mencoba membuang rasa gugupnya, apalagi memikirkan tentang ucapan terakhir Erkan tentang menikah, sungguh Chessy belum mau terpikirkan sampai sejauh itu.


"Haha … kamu masih lucu dan imut Ches. Terserah kamu aja mau panggil aku apa, asalkan bukan ayah atau kakek haha …." Erkan dibuat terbahak-bahak oleh ucapan Chessy, sedangkan yang berucap sendiri makin terpesona dengan Erkan.

__ADS_1


"Astaga Chessy … lu pasti punya banyak amal baik di kehidupan sebelumnya sampe lu bisa seberuntung ini sekarang." Batin Chessy yang ingin ikut tertawa tetapi masih saja kikuk.


"Kalau gitu, kita jalan lagi ya Ches," Erkan pun melajukan mobilnya kembali. "Eh iya Ches, aku mau bilang masalah pesan yang aku kirim waktu itu, maaf ya itu kerjaan Aylin. Dia itu emang iseng banget, dan saat Bibiku kasih nomormu, Aylin langsung iseng kirim pesan dengan kata-kata calon istriku. Cuma aku nggak pa-pa sih sekarang karena kamu emang calon istri aku." Erkan senyum-senyum sendiri seraya fokus dengan setirnya.


"Lu emang begini ya orangnya?" Chessy tiba-tiba mempunyai pertanyaan pada Erkan.


"Begini bagaimana? Aku asik ya?" Puji Erkan pada dirinya sendiri.


"Bukan, tapi nyebelin. Lu udah bilang semalem dan lu bilang lagi, ngapain coba." Chessy pun melemparkan pandangannya ke luar jendela dan melipat tangannya.


"Engga Ches, aku tu orangnya asik loh. Kamu juga harus ingat, begini-begini, kamu bakal bucin nanti haha …. Aku bilang lagi kan takut kamu bucin sama isi pesan aku." Chessy tidak merespon ucapan Erkan dan hanya fokus pada pandangannya ke luar jendela setelah merasa Erkan memang sangat terlalu percaya diri.


____________________


“Maksudnya?” Chessy tidak tahu maksud pertanyaan Erkan.


“Ya kenapa kamu jalan di belakang aku? Kan kamu bisa jalan di sisiku. Kalau kamu jalan di belakang aku, sama aja kamu itu pengawal aku, bukan calon istriku.” jelas Erkan.


“Ya ya maaf,” Chessy sedikit menundukan kepalanya karena malu banyak yang menatapnya. “Sial cowok ini bikin gue malu,” batin Chessy. Namun Erkan mengusap ujung kepala Chessy dan membuat Chessy mendongak menatap laki-laki di depannya yang kini terlihat lagi wajah tampan dan manisnya. "Dasar cowok aneh, tadi marah-marah sekarang sok care," gerutu Chessy dalam hati.

__ADS_1


"Maaf, aku bukan mau marahin kamu, tapi cobalah untuk bersikap biasa aja. Nggak perlu sungkan atau nggak enak hati sama aku karena sebentar lagi kita akan menikah. Kalau kamu belum bisa mencintaiku, cobalah untuk mengenalku tanpa ragu. Kita salat asar dulu ya? Setelah itu aku mau ajak kamu nonton." Selesai bicara, Erkan menurunkan tangannya dari kepala Chessy. Chessy tertegun sejenak dan merasa kalau calon suaminya itu memang orang yang baik karena saat merasa bersalah, dia langsung minta maaf. Jarang sekali laki-laki yang mau langsung minta maaf saat sadar atau tidaknya dia berbuat salah.


Chessy merapikan mukenanya setelah selesai menghadap sang pencipta dan menunggu Erkan di depan pintu masuk mushola yang ada di Mall itu. Cukup lama Chessy berdiri sampai Chessy merasa kakinya akan kesemutan. "Dzikirnya pasti panjang banget ini. Aduh nggak bisa bayangin gue kalau salat jamaah sama dia saat udah nikah nanti, betah nggak ya gue ngikutin dia. Eh tunggu! Kenapa gue udah mikir tentang hidup berdua sama dia? Astaga Chessy … jangan bilang lu udah jatuh cinta sama tu cowok." Chessy menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Kenapa geleng-geleng?" Suara yang tidak asing itu tiba-tiba saja terdengar di dekatnya.


"Dasar jelangkung, datang nggak dijemput, pulang nggak diantar." Chessy kesal dan tidak sengaja memukul tangan Erkan.


"Yah …." Keluh Erkan.


"Astaga … nggak sakit kali dipukul begitu aja." Protes Chessy.


"Astaghfirullah, bukan astaga." Erkan mengusap kembali ujung kepala Chessy.


"Iya maaf. Lagian di pukul gitu aja ngeluh." Jawab Chessy.


"Iya karena kamu pegang jadi wudhunya batal deh. Aku wudhu lagi bentar ya." Erkan pergi untuk mengambil air wudhu lagi.


"Dia memang pria idaman." Gundam Chessy. Setelah menunggu kurang dari lima menit, Erkan pun kembali menghampiri Chessy dan memberi isyarat lirikan mata untuk mulai jalan ke bioskop.

__ADS_1


"Bentar ya aku beli tiket dan cemilannya dulu." Erkan pergi ke bagian kasir dan membeli apa yang seharusnya dibeli kemudian keduanya masuk dan memilih kursi depan agar lebih puas menatap layar bioskop. Begitu film diputar, tidak ada percakapan antara keduanya, dan hanya fokus pada film seraya makan popcorn. Namun, Chessy tidak benar-benar fokus dan menghayati setiap adegan karena Chessy harus memutar otaknya untuk memikirkan masalah kedepannya menghadapi Sylia juga Devan. Chessy belum puas jika kedua orang itu belum menerima karma.


...#######################...


__ADS_2