
"Ches, lu bener-bener nggak tahu menahu kabarnya Sylia? Try out selesai dan sebentar lagi ujian loh ini. Tapi si Sylia nggak masuk udah seminggu." Putri tiba-tiba bertanya di tengah keseruan mereka yang sedang bersenda gurau.
"Iya, selain gue nggak tau, gue juga nggak mau tahu." Jawab Chessy santai.
"Kalian ada masalah apa Ches? Wajarlah Ches kalau bersahabat itu tengkar kecil. Aku sama Putri juga gitu, tapi terus baikan lagi. Iyakan Put?" Kata Sintia seraya melirik Putri.
"Udah nggak perlu bahas Sylia, gue males banget. Kita bahas yang lain aja ya?" Jawab Chessy tiba-tiba merubah raut wajahnya.
"Ya tapi aneh aja Ches, katanya kalian udah bersahabat sejak SMP'kan? Terus sekarang …." Sintia tidak melanjutkan bicaranya karena mendapatkan kedipan mata dari Putri agar Sintia berhenti bicara. Chessy pun terdiam sejenak. Benar memang, walau bagaimanapun Chessy punya banyak kenangan indah bersama Sylia. Bohong, kalau Chessy nggak mau tahu masalah Sylia yang tak berkabar sudah satu minggu ini. Chessy sempat khawatir jika keadaan sahabatnya itu memburuk, tetapi rasa khawatir itu dikalahkan oleh dendamnya.
Namun, Chessy jadi teringat akan hal yang paling membuat Chessy begitu bahagia melihat Sylia adalah saat pertama kalinya Chessy merayakan ulang tahun Sylia. Saat itu Chessy sengaja mengumpulkan Papah dan Mamahnya serta kedua Kakaknya. Sylia terlihat begitu bahagia dengan wajah polosnya saat mereka berdua masih duduk dibangku kelas dua smp.
"Ches, gue seneng bisa kumpul bareng begini. Ini pertama kalinya dalam hidup gue saat ulang tahun punya kue black forest dan tiup lilin. Terima kasih banyak Chessy atas semua ini. Gue nggak tahu harus balas kebaikan lu kayak gimana? Tapi gue janji gue bakal selalu ada buat lu." Ucapan tulus Sylia itu begitu membius Chessy, bahkan kedua orang tua Chessy juga memeluk Sylia bergantian. Sylia juga mendapatkan kado ulang tahun dari kedua orang tuanya serta kedua kakaknya. Beberapa kali Sylia memeluk Chessy karena rasa bahagianya.
Namun, kebahagiaan itu seakan sirna tak berbekas jika Chessy ingat dengan anaknya Rara yang meninggal karena Sylia memaksa Devan untuk bulan madu, dan Sylia juga sudah hamil saat itu. Penghianat Devan juga membuat Chessy benar-benar dibakar amarah dan dendam.
"Chessy …." Putri memanggil Chessy yang sedang melamun dengan tatapan kosong. "Chessy …." Chessy pun tersadar dari lamunannya.
"Em lu bener Sin, tapi lu nggak tahu apa yang udah Sylia perbuat. Thanks kalian udah khawatir. Eh, btw lu sekarang agak putihan ya Put?" Chessy mencoba mengalihkan pembicaraan karena melihat Putri yang punya perubahan penampilan.
__ADS_1
"Iya nih, aku dikasih ibuku minuman yang katanya banyak mengandung kolagen sama vitamin c, biar wajahku bersih dan putih katanya." Jelas Putri.
"Bagus tuh, coba lu buat foto before after gitu. Terus lu upload foto lu ke sosmed, pasti viral nanti." Kata Chessy yang sangat ingat kalau Putri yang jadi selebgram sempat malu-malu untuk menunjukkan perubahan dirinya.
"Ah malu Ches, ini nggak akan menarik perhatian cowok juga. Aku cuma ngikutin kata ibuku aja yang nggak tahan sama omongan tetangga." Jawab Putri.
"Emang ya, mulut tetangga itu pedes banget ngalahin bakso mercon level sepuluh hahaha …." Chessy tertawa garing.
"Bisa aja lu Ches," Putri dan Sintia pun ikut tertawa.
____________________
Chessy berjalan cukup jauh dari sekolah untuk mencari sebuah taxy. Belum Chessy mendapatkan taxy, tiba-tiba ada yang menarik tangan Chessy dan memaksanya mengikuti langkah kaki seseorang yang kepalanya tertutup hodie hingga sebatas hidung. Chessy hanya melihat bagian mulutnya. "Ih, siapa sih lu? Lepasin tangan gue?" Chessy memberontak, tentu saja cengkraman itu semakin erat dan mengingatnya akan sosok Sylia. "Lu pasti Sylia?" Tanya Chessy yang kemudian tubuhnya dilempar ke dinding di sebuah gang sempit.
Benar saja jika yang menarik tangan Chessy adalah Sylia karena Sylia membuka penutup kepalanya. Senyuman sinis terpancar jelas di wajahnya dengan sebelah pipi yang terlihat masih memar dengan warna yang kemerahan. Sylia mendorong tubuh Chessy dan menekan pipi Chessy hingga Chessy kesakitan. Tangan Chessy mencoba melepaskan tangan Sylia yang menekan pipinya, tetapi gagal.
"Lu senengkan lihat wajah gue yang buruk rupa ini hah? Harusnya yang punya wajah begini itu elu Ches. Andai lu yang begini, gue yakin keluarga lu bahkan calon suami yang lu banggain itu bakal jijik dan buang lu jauh-jauh. Saat itulah gue yang akan punya keluarga yang hangat dan suami yang tampan juga kaya raya. Tapi lu ngancurin hidup gue Ches, lu bener-bener nggak bisa balas budi sama gue. Gue bakal buat perhitungan sama lu hari ini juga." Sylia sangat marah bahkan tangan satunya menekan tangan Chessy ke dinding begitu kuat.
Chessy tiba-tiba merasa iba melihat wajah Sylia yang buruk rupa dan menatap jauh ke dalam sorot mata Sylia. Terlihat jelas jika sorot mata itu adalah sorot yang mendambakan sebuah kebahagiaan. "Sylia Agustina … sadar … lu lagi dikuasai ilmu hitam. Taubat Syl, lu salah jalan. Gue bakal terima lu di kehidupan ini kalau lu mau taubat dan kembali ke jalan yang benar." Susah payah Chessy bicara, nyatanya tak membuat Sylia melonggarkan cengkraman tangannya pada Chessy.
__ADS_1
"Apa lu bilang hah? Di kehidupan ini? Maksud lu apa?" Tanya Sylia penuh penekanan di setiap kata dan semakin menekan tangannya .
"Gue bakal maafin semua kesalahan lu Ches, asal lu nggak iri dengan apa yang gue punya. Gue yakin lu juga bakal punya kebahagiaan yang jauh lebih baik dari pada gue asalkan lu mau sabar dan iklas jalani kehidupan lu Ches. Gue bakal bantu lu asal lu tinggalin apa yang harusnya nggak lu lakuin dari dulu." Jelas Chessy yang makin merasa sakit di bagian pipinya tetapi harus ditahan demi menenangkan Sylia.
"Lu kira gue bodoh hah?" Sylia malah makin marah dan makin menekan tangannya pada pipi Chessy.
"Em …." Chessy ingin bicara, tetapi tidak bisa karena tekanan dari tangan Sylia.
"Kenapa? Sakit? Hati gue lebih sakit Ches. Lu tahu? Selama ini gue nahan sakit di dada gue ini karena kebahagiaan yang lu dapet begitu sempurna. Sedangkan gue? Tuhan begitu kejam Ches, Dia ngambil kedua orang tua gue yang bahkan gue nggak tahu gimana wajah mereka berdua. Gue hidup penuh hinaan dan pukulan dari Paman gue. Gue cuma pembantu dan mesin uang bagi mereka Ches. Tapi kehidupan lu begitu sempurna. Lu punya orang tua yang utuh dan begitu sayang sama lu juga harta yang berlimpah. Lu bisa beli apa aja tinggal lu sebutin. Bukan itu aja, lu punya Kakak yang baik dan sayang sama lu. Belum lagi lu punya pacar yang penyayang. Gimana dengan gue Ches? Gimana?"
Sylia pun menangis dan cengkraman tangannya terlepas. Sylia ambruk dengan tangisan yang cukup membuat Chessy makin merasa iba. Kedua tangan Sylia menutup wajahnya dengan terisak-isak. Sungguh, Chessy sangat iba menatap keadaan dan isi hati Sylia. Chessy tahu, sebenarnya Sylia hanya butuh kasih sayang dan sebuah perhatian atas perasaannya.
"Syl, gue tahu lu cuma ingin bahagia, tapi jalan lu salah Syl," Chessy berjongkok dan memeluk Sylia dari belakang. "Gue bisa ngerti perasaan lu, gue tau apa yang lu rasain Syl," Chessy bicara begitu lembut dan penuh rasa iba.
Sayang, mendengar perkataan Chessy, hati Sylia kembali merah padam. Sylia tidak butuh belas kasihan. Sylia mendorong kuat tubuh Chessy dari pelukan Chessy dan kembali berdiri. "Munafik … nggak akan satu orang pun yang ngerti perasaan gue …." Sylia berteriak dan melirik sebuah balok kayu yang tak jauh darinya. Sylia mengambil balok kayu itu dan dilayangkan ke arah Chessy.
Brug!
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1