
"Baru pulang Bos," sapa Alman pada Erkan yang baru saja masuk ke dalam rumah. Alman cengengesan menatap wajah Erkan yang terlihat kesal menatapnya. "Biasa aja dong Bos mukannya, jangan mengintimidasi pengantin baru. Habis unboxing nih, jadi jangan disalahkan." Alman terlihat menahan tawanya karena dia tahu kenapa Erkan kesal dengan dirinya. Tingkah Alman membuat Erkan makin kesal lalu berjalan menghampirinya dan memukul bahu Alman dengan keras.
"Dasar manajer nggak punya tanggung jawab. Gue bunuh lu sini," Erkan kembali memukul Alman di bagian punggungnya. Alman mencoba menghindar tetapi Erkan juga dengan cepat mendapatkan kembali tubuh Alman untuk dia pukul.
"Ampun Bos, ampun …." Teriakan Alman membuat Chessy dan Sylia keluar dari kamarnya.
"Kenapa Mas?" tanya Chessy yang dengan buru-buru menuruni anak tangga.
"Ada apa Kak?" tanya Sylia yang terlihat khawatir.
"Beuh, lu teriak-teriak sok kesakitan sampe dua wanita di rumah ini langsung nyamperin. Dasar carper," Erkan menjauh dari Alman dan menghampiri istrinya. "Kenapa sih pake turun segala cuma gara-gara denger suara dia," kata Erkan menata sinis wajah Chessy yang kemudian ekor matanya melirik Alman.
"Cemburu itu Non." ledek Alman yang kemudian memeluk Sylia. "Sayang, aku dipukul tadi sama laki-laki yang punya jantung nggak punya hati itu." Alman mengadu pada Sylia dengan suara manjanya. Sylia malah tersenyum menanggapi sang suami yang begitu lucu itu.
"Cih, jijay." ujar Erkan yang meraih bahu Chessy dan mengajaknya untuk segera ke kamar.
"Kenapa sih Mas kok kayak kesel banget." Pertanyaan Chessy tak langsung dijawab oleh Erkan. Keduanya fokus menaiki anak tangga.
"Huu … kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja." Teriak Alman yang kembali meledek Erkan. Mendengar itu, Erkan menghentikan langkahnya dan langsung menoleh menatap Alman.
"Awas lu besok nggak berangkat, gue pecat lu." Ancam Erkan dan malah mendapatkan gelak tawa dari Alman. Erkan pun buru-buru masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Hah, capek banget." Keluh Erkan diiringi helaan nafas panjang.
"Kenapa Mas? Ada masalah?" tanya Chessy dengan lembutnya. Chessy pun duduk di sisi Erkan yang terbaring. Erkan merubah posisi dan meletakkan kepalanya di pangkuan Chessy.
"Iya, gara-gara manager somplak itu nggak berangkat, Mas jadi banyak kerjaannya. Capek banget rasanya." jawab Erkan yang menggesek-gesekkan kepalanya di pangkuan Chessy.
"Sabar dong. Namanya juga kerja pasti capek kan?" Chessy pun membelai lembut rambut Erkan yang dibelah tengah.
"Ya tapi dia kawin dadakan Sayang. Nggak ada yang ngehandle kerjaan segitu banyaknya. Apalagi Mas belum dapet pengganti Nayla." Mendengar nama Nayla, Chessy langsung mengangkat kepala Erkan dan menjatuhkannya di kasur. Chessy sendiri langsung beranjak dari tempat duduknya. "Loh, Sayang. Kok jadi kamu yang ngambek sih? Kan Mas cuma bilang belum dapet gantinya Nayla, apa yang salah?" Erkan pun duduk seraya mengangkat kedua bahunya karena bingung dengan sikap Chessy.
"Pengganti dihatimu maksudnya?" kata Chessy dengan ketusnya.
"Astaghfirullah. Mana ada begitu. Nayla itu kerja di kantor totalitas banget Sayang, maksudnya yang pengganti di kantor sebagai sekretaris." Erkan segera menghampiri Chessy dan memeluknya dari belakang. "Mana mungkin kamu tergantikan di hatiku. Namamu akan selalu ada di dalam hati dan pikiranku Sayang." Chessy menghela nafas panjang. Entah kenapa Chessy begitu sensitif pada Erkan. Bisa jadi karena Chessy tidak mau masa lalunya terulang kembali.
_____________
__ADS_1
Malam setelah makan malam bersama selesai, Erkan mengajak Chessy untuk duduk santai di balkon menatap indahnya para bintang yang berkedip ditemani oleh bulan yang hanya terlihat setengahnya.
"Sayang, aku mau bicara serius." Melihat wajah suaminya yang serius membuat Chessy cukup terkejut. Chessy mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman agar bisa mendengarkan suaminya berbicara.
"Tentang apa Mas? Kok tiba-tiba wajahnya begitu,"
"Tentang keluargaku yang telah menjadi keluargamu juga Sayang."
"Emang ada apa Mas?"
"Dengarkan aku baik-baik. Jangan langsung membantah ataupun menjawab apa yang aku katakan ini."
"Iya Mas."
"Sayang, keluargaku adalah salah satu keluarga yang tersohor di negara ini. Bisa dibilang keluarga yang paling berpengaruh dalam segala hal. Di luar sana sebenarnya banyak yang mengincar harta kami, termasuk banyak para pejabat yang menyerahkan anak perempuannya agar menikah denganku."
Chessy terlihat cukup terkejut. Baru beberapa hari di Turki, tetapi Chessy begitu banyak menerima kejutan-kejutan dari suaminya itu.
"Bukan cuma aku yang diincar, tetapi Aylin juga. Bahkan Aylin sampai memalsukan identitas agar bisa bersekolah dengan tenang. Kami juga sering menghindar dari kamera dan media supaya wajah kami tidak begitu terexpose."
"Sepenting itukah Mas?"
"Hah?"
"Mereka ada di Italia. Tepatnya di Venesia."
"Kenapa disana?"
"Menghindari bahaya. Adik Kakek yang gila akan harta sedang berusaha membunuhnya agar semua warisan keluargaku jatuh padanya. Seluruh harta Kakek belum diwariskan padaku. Setelah resepsi pernikahan kita, Kakek barulah akan mengumumkan bahwa dirinya akan mewariskan seluruh hartanya padaku dan juga pada Aylin."
"Astaghfirullah. Manusia memang nggak punya rasa cukup. Kenapa nggak ke Paman Ahmed dan Bibi Lunara Mas?"
"Banyak pertentangan karena Paman Ahmed adalah seorang menantu, bukan darah asli dari keluargaku. Sedangkan ayahku telah meninggal. Jadi otomatis aku yang akan menerima semua ini. Aylin akan mendapatkan bagiannya saat setelah menikah. Sama sepertiku."
"Jadi kamu menikahiku dengan tujuan agar harta itu bisa segera teralihkan?"
"Salah satunya begitu."
__ADS_1
"Dasar pembohong, kamu bilang kamu cinta mati sama aku."
"Aku bilang dengerin dulu, jangan langsung dipotong." Erkan mengusap lembut ujung kepala Chessy agar Chessy tenang dan tidak terbawa emosi.
"Baiklah, lanjut."
"Awalnya aku akan melanjutkan kuliah sarjanaku terlebih dahulu, barulah aku akan menerima perjodohan yang sudah di atur oleh ayah dan Kakekku. Tapi Bibi Lunara nggak setuju kalau harus menunggu dua tahun lagi karena kesehatan Kakekku yang nggak bagus. Aku pun menerima perjodohan ini dengan tujuan akan membuat kesepakatan dengan calon istriku. Ternyata istriku cinta pertamaku, ya kesepakatan itu nggak akan pernah ada. Aku nggak bohong tentang rasa cintaku ini Sayang."
"Baiklah, baiklah aku percaya. Kamu percaya denganku, maka aku juga harus percaya denganmu kan Mas?"
"Terima kasih. Tapi Sayang, aku mau minta sesuatu. Kamu bisa menurutinya? Ini demi kebaikanmu."
"Apa itu Mas?"
"Jangan kuliah."
"Hah? Kenapa?"
"Resepsi pernikahan kita akan digelar kurang dari satu bulan lagi. Pendaftaran kuliah masih sekitar dua bulan lagi. Setelah resepsi pernikahan kita, maka otomatis kamu akan jadi sorotan media dan banyak wanita yang akan membencimu. Demi menjaga keselamatanmu, resepsi pernikahan kita nanti aku mau kamu memakai cadar seperti Sylia. Aku nggak mau banyak orang mengenalimu dan membahayakan nyawamu. Jadi, aku harap kamu menyetujui permintaanku ini."
Chessy yang sedari tadi menatap lekat wajah Erkan, kini pandangannya teralihkan pada bulan yang walaupun hanya setengah yang terlihat, tetapi cahayanya cukup meneduhkan pandangan. Chessy menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum menatap bulan tersebut.
"Sebenarnya aku juga nggak begitu ingin kuliah Mas. Aku ingin fokus menjadi istrimu yang baik. Terlebih lagi tujuanku yang ingin sekali mendapatkan Rara kembali walaupun mungkin itu mustahil. Aku tahu apa pun keputusanmu itu pasti yang terbaik untukku. Aku akan menuruti semua kemauanmu Mas."
"Satu hal lagi, aku nggak bisa ajak Papah dan Mamah kesini saat resepsi pernikahan kita."
"Kenapa begitu? Kamu kan janji Mas."
Chessy kembali menatap wajah suaminya yang masih menunjukkan sebuah keseriusan. Chessy pun mengerucutkan bibirnya dan memainkan jari jemarinya dengan perasaan yang kesal.
"Jika mereka datang, itu akan menarik perhatian media untuk menyelidiki keluarga kita di Indonesia Sayang. Apa kamu mau mereka terusik di sana? Mereka bakal dikejar-kejar wartawan dan tinggal dirumah tanpa ketenangan?"
Chessy terlihat berpikir. Apa yang dikatakan Erkan memang ada benarnya.
"Kamu tenang aja Sayang. Aku akan tetap membawa mereka kesini, hanya saja saat resepsi mereka akan tetap tinggal di rumah. Kamu masih bisa melepaskan rindu pada kedua orang tuamu dan juga kedua Kakakmu." Chessy pun mengembangkan senyumnya dan kemudian mendekati Erkan untuk dia peluk. "Aku nggak mungkin dong biarin senyum manis istriku hilang." Erkan mengusap lembut punggung Chessy.
"Terima kasih Mas. Seperti aku nggak salah pilih jalan lagi di kehidupanku sekarang."
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...