
Chessy tak hentinya menatap Erkan di sepanjang perjalanan menuju meja makan. Erkan menarik kursi dan meminta Chessy untuk duduk. Senyuman khas suaminya itu benar-benar membuat Chessy merasa nyaman. "Sayang … kamu kenapa sih liatin Mas terus?"
"Suamiku manis. Aku bisa-bisa kenak diabetes karena kamu terlalu manis Mas,"
"Bisa aja gombalnya." Erkan yang gemas langsung mencubit kedua pipi Chessy dan duduk disisinya. "Surti … siapin makan buat Nyonya," teriak Erkan dan Surti langsung menyiapkan makanan.
"Mas, masakan Mbak Surti tadi nggak enak loh, makanya aku sampe mual muntah." Protes Chessy yang kemudian merubah raut wajahnya.
"Tadi waktu perjalanan pulang, Mas udah minta dia masak lagi kok. Nanti Mas cicipin dulu ya biar kamu nggak mual lalu muntah lagi." Lagi-lagi senyuman Erkan mampu membuat Chessy mengiyakan apa yang diucapkan sang suami.
Beberapa saat kemudian Surti datang dengan nampan yang berisi beberapa mangkuk sayur dan lauk pauk. "Ma-maaf Nyonya, kalau masakan Surti nggak enak." Ucap Surti merasa sedih dan bersalah.
"Lain kali masak yang bener ya. Mbak Surti kan udah aku ajarin beberapa menu yang aku bisa kemarin." Sahut Chessy yang sedikit kesal dengan Surti.
"Iy-iya Nyonya. Masakan ini baru saja matang. Masih anget." Surti kemudian menyusun masakannya di atas meja.
"Udah, kamu tinggal aja." Erkan kemudian beranjak dari duduknya dan mengambilkan sedikit nasi di atas piring juga sayur dan lauk pauknya. Sebelum Erkan menyuapi Chessy, terlebih dahulu dia mencicipi makanan itu. "Hm. Enak Sayang. Yuk sini Mas suapin." Erkan menarik kursinya agar bisa duduk lebih dekat dengan Chessy.
Chessy hanya mengangguk, dan membuka mulutnya ketika sendok itu mendekati bibirnya. Perlahan Chessy mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya itu. "Huek …." Chessy menekan mulutnya dengan satu tangan dan menggelengkan kepalanya beberapa kali menatap Erkan. Chessy pun berlari menuju dapur dan memuntahkan kembali makanan yang belum selesai dia kunyah. "Huek …. Uhuk …. Mas. Aku udah bilang kalau masakan Mbak Surti nggak enak." Chessy sangat kesal dan membersihkan mulutnya dengan air.
"Sayang, masakan Surti nggak ada masalah. Mas kan udah makan. Kamu juga tahu tadi." Erkan memijat tengkuk Chessy secara perlahan. Setelah merasa lebih baik, Chessy kembali duduk di ruang makan. "Sayang, nih Mas makan ya?" Erkan makan beberapa suap dihadapan Chessy dengan santainya. Bukannya Chessy senang, Chessy malah bergidik melihat suaminya yang lahap dengan makanan yang sangat tidak enak itu. "Serius loh, ini enak banget Sayang. Mirip masakan kamu." Kata Erkan lagi seraya minum.
"Nggak. Aku nggak mau makan." Chessy membuang muka dan melipat kedua tangannya. Perdebatan itu membuat Sylia dan Alman menghampiri mereka.
"Kenapa Non?" Sapa Alman. Chessy tidak menjawab dan hanya melirik Alman karena masih kesal. Alman menatap Sylia dan Sylia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Sayang, kita ke rumah sakit aja ya? Mungkin emang ada masalah dengan lidahnya." Bujuk Erkan.
"Kok kamu jadi nyalahin aku sih Mas. Jelas-jelas masakan Mbak Surti itu nggak enak." Chessy makin kesal.
__ADS_1
"Ches … tapi tadi juga gitu. Masakan Mbak Surti baik-baik aja, tapi kamu bilang masakan itu asin." Sylia pun ikut bicara.
"Kalau gitu kita makan di luar aja ya? Gimana?" Tawar Erkan yang membuat Chessy menghela nafas panjang. Tiba-tiba dia ingat sesuatu dan memasang wajah ceria.
"Aku mau mie instan yang pernah kamu buat itu Mas. Masakin sekarang." Kata Chessy terlihat memohon.
"Siap Sayang. Mas buatin sekarang juga." Erkan pun bergegas menuju dapur.
"Ches, kamu sebaiknya emang ke rumah sakit deh. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Lagian kamu belum makan nasi sejak pagi, tapi malah mau makan mie instan. Nggak baik buat perut kamu," Kata Sylia menatap Chessy.
"Iya Non, istri saya benar. Sebaiknya juga biar diperiksa sama Dokter." Sahut Alman membenarkan ucapan istrinya.
"Makasih perhatian kalian. Tapi aku merasa nggak kenapa-kenapa kok. Kalian jangan khawatir ya?" jawab Chessy dengan santainya dan sesekali menoleh pada sang suami yang sibuk di dapur karena tidak sabar ingin segera makan mie instan itu.
"Tapi Ches, kamu belum makan dari pagi dan sekarang cuma mau makan mie instan. Ini nggak baik Chessy." Kata Sylia lagi.
"Iya betul itu Non." Sahut Alman kembali.
Beberapa menit kemudian, Erkan datang dengan semangkuk mie instan yang diminta Chessy. Dari bau yang Chessy cium, Chessy sudah merasa sangat kelaparan. "Mie sudah siap. Kamu harus makan yang banyak ya Sayang." Erkan pun meletakkan mie instan itu di depan Chessy.
"Harum banget Mas. Baunya langsung menggoda sekali. Aku makan sekarang." Chessy segera mengambil sendok yang ada di sisi mangkuk itu dan mengambil kuah dan mie instan di depannya. "Hm. Ini baru enak. Kalian jangan minta. Kalau mau buat sendiri." Kata Chessy menatap bergantian Sylia dan Alman. Tentu mereka hanya tersenyum.
"Setelah ini kita ke rumah sakit ya?" Bujuk Erkan yang sebenarnya sedang sangat heran pada Chessy karena sebenarnya mie instan itu telah dia beri tambahan garam dan sudah dia cicipi kalau kuah mie itu sangatlah asin.
"Ya … ya … terserah kamu Mas." Jawab Chessy tanpa mengalihkan pandangannya dan makan dengan lahap.
__________
"Mas, rumah sakitnya bau banget sih. Astaghfirullah … aku agak mual nih." Chessy kembali mengeluh bau setelah di dalam mobil juga mengeluh bau. Entah ada apa dengan Chessy, Erkan merasa kalau istrinya itu benar-benar sakit karena setelah lidah, kini hidungnya yang bermasalah.
__ADS_1
"Sayang, rumah sakit ya emang begini kan baunya? Agak bau etanol dan obat-obatan." Erkan merangkul bahu Chessy dan berusaha memberikan pengertian.
"Tapi Mas, ini tuh bau banget. Aku bener-bener mual Mas. Rasanya pengen muntah." Chessy menutup mulut beserta hidupnya dengan tangan.
"Nggak pa-pa, nanti kita periksa ya sama Dokter." Erkan pun mendaftarkan diri ke bagian resepsionis dan telah mendapatkan nomor urut. Erkan mengajak Chessy duduk di ruang tunggu karena antriannya juga cukup panjang.
"Mas, kita tunggu diluar aja ya? Aku nggak tahan dengan baunya." Lagi-lagi Chessy hanya mengeluh bau.
"Sayang, kalau tunggu diluar nanti nomornya dipanggil nggak kedengeran terus kelewat terus harus minta nomor baru." Erkan berusaha memberikan pengertian pada Chessy yang sungguh membuat Erkan merasa aneh.
"Kamu tuh nggak ngerti sih Mas." Chessy kembali marah dan membuang muka.
Namun, beberapa saat kemudian nomor urut yang dipegang Erkan dipanggil oleh salah satu perawatan. Erkan segera menuntun Chessy dan mengajaknya masuk ke ruang periksa. Walaupun Chessy tidak senang dan tidak cukup nyaman, Chessy hanya menurut saja.
Setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan, Chessy pun diajak duduk santai di kursi yang berhadapan dengannya. Erkan dan Dokter itu terlihat akrab karena bicara dengan santai tetapi dengan menggunakan bahasa yang Chessy tidak tahu artinya, jadi Chessy hanya menjadi pendengar.
"Kamu salah Dokter."
"Maksudnya gimana?"
"Harusnya istri kamu ini kamu bawa ke Dokter kandungan, bukan dokter umum sepertiku."
"Maksudnya istriku hamil?"
"Ya itu cuma diagnosa awal. Maka dari itu bawa istrimu ke Dokter kandungan."
Erkan terlihat sangat bahagia. Sedangkan Chessy mengangkat satu alisnya menatap sang suami yang tidak jelas dengan expresinya itu.
"Kenapa sih Mas?" Erkan tidak langsung menjawab dan malah memeluknya. "Mas? Ada apa?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Sayang, Dokter ini nggak bagus. Kita pindah Dokter." Erkan segera keluar dari ruangan itu dan membawanya menuju poli kandungan.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...