Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Bertemu Kebencian


__ADS_3

Film telah selesai diputar. Erkan menoleh pada Chessy dan melemparkan senyum. "Ada yang kamu mau Ches? Atau mungkin ada yang pengen kamu beli?" Tanya Erkan tentu dengan tatapan hangat dan suara yang lembut.


"Em enggak sih, gue ikut lu aja." Jawab Chessy santai seraya menghabiskan sisa popcornnya.


"Kalau gitu kita jalan-jalan bentar ya mumpung magrib masih lama." Kata Erkan lagi dan beranjak dari tempat duduknya. Chessy hanya mengangguk dan kembali mengikuti langkah Erkan disisinya. Chessy memang bukan tipe yang suka shopping sejak menikah dengan Devan, berbeda saat masih begitu menurut dengan Sylia, uang jajan pun selalu habis untuk shopping dan memberikan apa yang Sylia mau. "Kok kamu kayak punya beban sih Ches aku liat," Erkan menghentikan langkahnya dan berdiri berhadapan dengan Chessy.


"Ah iya memang, tapi bukan urusan lu juga, dan lagi lu nggak akan pernah percaya sama apa yang gue ceritain." Jawab Chessy cukup tenang walaupun jarak mereka dekat, Chessy sudah mulai bisa mengontrol dirinya.


"Ches, apa pun yang membebani pikiranmu, ceritain aja sama aku dan kalau aku bisa bantu, aku bakal bantu sekuat dan semampuku." Erkan memegang kedua bahu Chessy. "Aku percaya sepenuhnya sama kamu Ches. Kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa ceritakan semuanya sama aku dan aku siap jadi pendengar setiamu." Kata Erkan masih dengan wajah yang hangat dan tampannya.


"Ya Tuhan, emang iya ada lelaki yang begini? Mungkinkah dia cuma pura-pura baik dan setelah itu jatuhin gue layaknya Devan?" Batin Chessy tanpa mengalihkan pandangannya pada Erkan yang begitu rupawan.


"Ches? Jangan melamun lagi." Tegur Erkan. "Ayo kita jalan lagi. Kalau kamu belum siap buat cerita, nggak masalah. Air yang terus menetes saja pada batu bisa mengikisnya, begitu juga denganku yang pasti bisa mengikis hatimu." Erkan mulai berjalan, tetapi Chessy masih mematung di tempatnya. "Ches, buruan nanti keburu sore." Seru Erkan lagi.


"Iya bawel." Chessy pun tersadar dan langsung ikut berjalan. Erkan cukup tertarik melihat baju gamis dengan warna cream yang cukup simpel dan diperkirakan pas dengan ukuran Chessy.


"Ches, tunggu dulu." Erkan menghampiri baju tersebut dan mengangkatnya lalu menoleh pada Chessy, kemudian menatap baju gamis itu lagi secara bergantian untuk melihat ukurannya. "Pasti cocok. Tunggu sini dulu ya." Erkan masuk dan berjalan ke bagian kasir dengan gamis tersebut. Namun Erkan tidak langsung membayar melainkan sedikit bercakap dengan pegawai di toko itu. Beberapa saat kemudian Erkan seperti kebingungan dengan jilbab instan di depannya. Erkan sedang mencoba memadukan warna gamis dengan jilbab tersebut supaya serasi. Setelah itu barulah Erkan membayar dan kembali pada Chessy. "Ini buat kamu." Erkan memberikan tote bag yang berisi gamis dan jilbab yang dia beli tadi.


"Hah? Buat gue?" Chessy melongo karena tidak percaya Erkan membelikan dia baju yang dia dilihat cukup syar'i tadi. Seumur hidupnya Chessy belum pernah memakai baju gamis, kalaupun mau memakai jilbab, dia hanya pakai celana jeans dengan setelan kaos atau tunik. "Serius?" Lanjutnya masih tidak percaya.

__ADS_1


"Iya. Aku lihat baju ini tadi cukup simpel. Kamu pasti makin cantik pakai ini." Kata Erkan melemparkan senyum. "Pulang yuk." Ajak Erkan yang merasa gemas dengan respon dari Chessy.


"Ah okey." Jawab Chessy seraya menenteng tote bag pemberian Erkan. Namun, belum juga jauh berjalan, Devan dan Sylia menghadang perjalanan mereka. Erkan yang sejak tadi memasang wajah manis kini berubah dingin.


"Sayang … kenapa lu mau jalan sama cowok model begini sih? Untungnya Sylia kasih tau gue tadi." Devan menarik tangan Chessy dan memposisikan Chessy disisinya. "Dia pacar gue dan kita udah pacaran lebih dari tiga tahun. Lu jangan macem-macem." Ancam Devan dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Erkan.


"Gue calon suaminya …." Jawab Erkan penuh penekanan di akhir kata. Setelah itu Erkan kembali menarik Chessy agar Chessy berdiri di sampingnya.


"Heh … cowok nggak tau diri. Gue udah bilang kalau dia itu pacar gue." Devan menarik tangan Chessy lagi.


"Tapi gue yang bawa Chessy kesini dan gue juga yang bakal pulang sama dia." Erkan kembali menarik tangan Chessy. Merasa dirinya menjadi rebutan karena ditarik sana sini, Chessy menjadi geram.


"Chessy …." Seru Sylia. "Nggak mungkin kan lu belain cowok asing itu dari pada pacar lu sendiri? Sadar Ches! Dia pasti cuma mau manfaatin lu aja." Kata Sylia menunjuk Erkan dengan ekor matanya. Perkataan Sylia malah membuat Chessy naik darah. Chessy memang belum tahu Erkan benar-benar mencintainya atau ingin memanfaatkannya, tetapi sekarang Chessy sangat tidak mau berurusan lagi dengan kedua manusia tidak tahu diri itu. Jelas-jelas merekalah yang memanfaatkan kepolosan Chessy.


"Dia emang calon suami gue. Setelah ujian nanti, gue dan cowok ini bakal nikah dan pergi ke Turki." Chessy merangkul lengan Erkan dan menatap sini Devan serta Sylia secara bergantian.


"Chessy …." Teriak Devan.


"Hei Bung, jangan coba-coba meneriaki calon istri gue …." Sahut Erkan penuh ancaman.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian pergi saja berdua seperti malam kemaren yang kalian habiskan untuk mencari kenikmatan surga dunia. Mulai sekarang gue nggak punya hubungan lagi sama lu." Chessy menujuk Devan dengan jari telunjuknya. "Jangan pernah temui gue lagi karena gue udah jijik dengan kelakuan kalian." Ucap Chessy hendak melangkah pergi.


"Ches, nggak terjadi apa-apa antara gue sama Sylia. Gue cuma cinta sama lu Ches. Kalau lu pengen nikah, gue sikap nikah sekarang juga Ches. Please! Stay with me Ches," wajah Devan tiba-tiba memelas.


"Iya Ches, gue cuma temenin Kak Devan minum aja. Nggak lebih dari itu." Sylia ikut membela diri.


"Gue nggak bodoh. Sylia nemenin lu minum sampe mabuk dan di antara kalian nggak terjadi apa-apa? Kalian pikir gue bocah ingusan yang nggak cari tau hah? Udahlah, gue bakal lupain semua. Gue pergi dulu dan jangan ikutin gue sama calon suami gue ini." Chessy menarik tangan Erkan untuk meninggalkan kedua manusia laknat itu.


Tiba di parkiran, Chessy melepaskan tangannya yang sejak tadi merangkul lengan Erkan. "Sorry buat masalah tadi. Gue terbawa suasana." Chessy terlihat sedih.


"Nggak pa-pa Ches, aku suka karena kamu mengakui aku sebagai calon suami kamu." Erkan mengusap ujung kepala Chessy seraya tersenyum manis.


"Makasi." Kata Chessy singkat.


"Kita balik?" Tanya Erkan yang langsung mendapatkan anggukan. Erkan pun membukakan pintu mobil untuk Chessy dan Chessy langsung naik ke dalam mobil. Erkan memutar jalan dan kemudian ikut masuk juga. "Udah jangan sedih lagi apalagi nangis. Keputusan udah tepat Ches," hibur Erkan, tetapi Chessy masih tertunduk. "Aku bakal selalu ada buatmu Ches. Ceritakan semuanya karena dengan bercerita bisa buat hatimu sedikit tenang nanti." Erkan masih menatap Chessy yang tertunduk sedih.


"Sorry, kita langsung pulang aja. Gue capek." Pinta Chessy yang kemudian menyandarkan kepalanya di kursi dan tatapannya kosong ke luar jendela. Tanpa menunggu lagi, Erkan menyalakan mesin mobilnya dan melaju pulang.


...########################...

__ADS_1


__ADS_2