Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Bujukan Nayla


__ADS_3

Nayla menatap Erkan dengan sayu. Matanya merah karena terlalu lama menangis. Mulutnya berat untuk berucap, tetapi harus dia paksa untuk menahan kepergian laki-laki yang begitu dia cintai. "Tunggu!" Langkah Erkan tertahan saat tiba-tiba Nayla kembali membuka suaranya. Walaupun lirih, tetapi Erkan masih bisa mendengarnya.


"Aku nggak peduli Nayla. Apa kurang jelas ucapanku tadi? Aku nggak merasa dirugikan walaupun kamu meninggal sekalipun. Apa perlu aku ulangi kata-kataku?" ujar Erkan tanpa menoleh. Erkan tak peduli seberapa menyakitkan perkataannya itu.


"Kamu sombong Er. Kamu gila … kamu nggak waras … kamu brengsseek …." gertak Bu Belle.


"Terserah Bu, dia bukan siapa-siapa Saya," tegas Erkan.


"Ada wanita yang mati karena mencintaimu dengan tulus, dan kamu … kamu malah membiarkan dia begitu saja? Bagaimana jika …." Mulut Bu Belle di dekap Pak Naveen.


"Mam … cukup. Papi setuju dengan Erkan. Papi juga nggak mau anak yang nggak bisa berpikir jernih seperti Nayla. Papi memberinya pendidikan dan juga lingkungan pesantren yang terbaik, tapi apa yang dia lakukan sekarang. Papi sangat kecewa. Anak kita bukan cuma dia Mam," sahut Pak Naveen.


"Dia anak kita Pi. Anak perempuanmu." Bu Belle kembali bernada tinggi setelah melepaskan tangan Pak Naveen dari mulutnya.


"Kak," suara Nayla terdengar kembali, tetapi kali ini sangat berat. "Apa kamu benar-benar nggak bisa terima cintaku? Aku sudah tujuh tahun mencintaimu Kak. Apa yang udah aku lakukan untuk keluargamu juga untukmu nggak bisa buat kamu menerimaku? Tujuh tahun Kak, tujuh tahun aku sabar menunggumu," suara itu sangat berat, benar-benar berat. Nayla pun duduk dengan tangan yang memeluk kedua kakinya.


"Sayang … Nayla …." Bu Belle langsung menghampiri Nayla saat tangannya sudah tidak lagi memegang pecahan kaca. Bu Belle memeluk Nayla seraya menangis. "Jangan begini Nayla, Mami mohon jangan begini. Istighfar Nayla, istighfar …. Kamu wanita yang cantik, kamu pintar, kamu bisa dapatkan laki-laki manapun Sayang. Biarkan laki-laki sombong itu. Dia nggak pantes buat kamu Sayang." Dengan penuh kasih sayang, Bu Belle membelai lembut rambut Nayla.


"Maaf. Cinta nggak bisa dipaksakan Nayla. Aku nggak bisa menerimamu hanya karena kamu telah menolong Aylin dua kali dan keluargamu berjasa pada keluargaku. Bukan cinta itu Nayla. Semoga Allah yang membalas kebaikanmu dan juga kebaikan keluargamu, Nayla." jawab Erkan tanpa expresi.


"Tapi cinta bisa tumbuh kalau kita terbiasa bertemu Kak. Apalagi saat kita udah jadi mahram. Kita akan saling mencintai saat kita sering melakukan segala sesuatu bersama." lagi-lagi Nayla masih bernada memohon.


"Lali saat aku bersamamu, satu istriku akan cemburu dan aku menyakiti hatinya. Begitu juga saat aku bersama Chessy, kamu akan cemburu dan aku menyakiti hatimu. Itu yang kamu mau?" Erkan masih bernada datar.

__ADS_1


"Aku bisa membaginya Kak. Aku nggak akan cemburu. Bisa bersamamu saja aku sudah sangat beruntung. Tolong pikirkan lagi Kak." Nayla masih memohon.


"Nyatanya selama tujuh tahun ini aku nggak bisa merasakan getaran cinta padamu Nayla, padahal kita sering bersama dan kamu juga yang mengurus keperluanku. Hatiku nggak pernah berdebar saat di dekatmu. Apa kamu pernah buat aku tersenyum atau tertawa dengan candaanmu? Nggak Nayla. Maaf sekali lagi. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintaimu karena Allah. Assalamu'alaikum." Erkan benar-benar pergi kali ini.


Di perjalanan, Erkan memikirkan sebuah cara untuk menjelaskan kejadian di rumah sakit itu pada Chessy. Erkan tahu Chessy sangat takut kehilangannya. Chessy takut jika takdirnya sekarang akan sama dengan sebelumnya. "Al, lu tau cara merayu wanita nggak?" tanya Erkan pada Alzeer yang masih fokus menyetir.


"Tidak Tuan." jawab Alzeer singkat.


"Terus, cara lu ngerayu pacar lu itu gimana?" tanya Erkan lagi.


"Langsung menemui keluarganya dan mengatakan kalau saya akan menikahinya." jawab Alzeer dengan bangganya.


"Gentleman juga lu langsung ketemu keluarganya. Tapi masalahnya gue udah kawinin dia Al, ah sial lu." Erkan benar-benar kehabisan cara untuk bicara dengan Chessy.


"Kita pergi ke toko bunga Tuan." tawar Alzeer.


"Ya beli bunga buat istri Tuanlah. Masak mau mabuk-mabukan." jawab Alzeer.


"Emang wanita kayak istriku itu bisa dirayu sama bunga? Dia itu orang yang berbeda Al."


"Hampir semua wanita menyukai bunga Tuan."


"Terserah lu deh. Bunga apa yang cocok buat menggambarkan cinta tulus gue?"

__ADS_1


"Bunga tulip Tuan. Tulip merah melambangkan cinta abadi dan mengungkapkan fakta bahwa cinta tidak memiliki batas."


"Serius?"


"Tuan bisa tanyakan nanti sama tukang bunganya Tuan."


"Ide lu cemerlang." Erkan menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Alzeer. "Cepet ke toko bunga sekarang juga." Alzeer mengangguk.


Tiba di toko bunga, Erkan langsung menemui penjual bunga tersebut dan memintanya mengirimkan 99 tangkai bunga tulip merah yang dimaksud Alzeer tadi. Erkan meminta pengiriman bunga itu sesegera mungkin. Sang penjual bunga langsung menyiapkan bunga pesanan Erkan dengan senang hati. Setelah memberikan alamat dan melakukan pembayaran, Erkan pulang dengan senyum bahagia. "Bismillah. Semoga Chessy nggak ngambek," gundam Erkan.


Erkan pun tiba di rumah dan langsung masuk lalu berjalan menuju kamarnya. "Assalamu'alaikum," ucap Erkan seraya membuka pintu kamarnya. Di dalam sana sudah ada Paman Ahmed dan juga Bibi Lunara. Aylin dan Sylia juga ada dan duduk di sisi Chessy yang sedang melamun. Semua orang kompak menjawab salam Erkan seraya menoleh padanya, tetapi dengan tatapan membunuh.


"Dasar suami nggak bertanggung jawab." Bibi Lunara memukul Erkan terus menerus tanpa ampun dengan tangannya. Jelas sang Bibi marah karena Erkan meninggalkan Chessy saat sedang pingsan.


"Ampun Bi ampun, sakit. Sayang … tolong Mas." ucap Erkan memohon pertolongan Chessy. Sayangnya Chessy hanya melirik sinis dan kembali membuang muka.


"Kamu pikir Chessy bakal maafin kamu hah! Suami macam kamu memang harus dibuang ke laut." sahut Bibi Lunara masih memukul Erkan.


"Cukup Bi, Erkan bakal jelasin semuanya." Erkan langsung berlari dan duduk di sisi Chessy. Namun Aylin langsung menarik tangan Erkan agar menjauh dari Chessy.


"Ngapain deket-deket Kak Chessy?" kata Aylin bernada tinggi. "Kak Chessy nggak akan maafin kamu," lanjut Aylin.


"Sayang, aku bisa jelasin. Tolong … dengarkan penjelasan Mas dulu ya? Please …. Semua yang kamu khawatirkan itu nggak akan terjadi. Aku bersumpah demi Allah kalau …." bicara Erkan terputus.

__ADS_1


"Jangan bawa nama Allah dalam sebuah kebohongan Mas. Kamu sudah berkali-kali menyakitiku dan sumpahmu itu hanya sebuah sumpah serapah. Aku nggak percaya lagi ucapanmu bahkan kata cintamu itu semuanya bulsitt ... Aku benci kamu Mas. Aku mau pulang ke Indonesia sekarang juga. Aku nggak mau tinggal disini lagi." ucap Chessy menyela penjelasan Erkan.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2