Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Menegangkan


__ADS_3

Aksan terkejut dengan suara yang tidak asing lagi untuknya. Sesegera mungkin Aksan membalikan badannya dan langsung membulakan matanya. Benar-benar diluar dugaan, Aksan melihat banyak polisi memenuhi gedung pernikahan itu. Bukan hanya itu, Aksan lebih terkejut lagi saat melihat Erkan tengah berdiri tegak dan berpakaian rapi ada di antara para polisi tersebut.


"Ches, Tuan datang." ucapan Sylia membuat Chessy yang sejak tadi menundukkan kepalanya, kini mendongak dan menatap ke arah segerombolan orang yang baru saja masuk. Benar saja, Erkan ada diantara mereka. Erkan masih hidup dan foto yang dia lihat itu benar-benar sebuah kebohongan.


"Mas Erkan?" Ucap Chessy seraya tersenyum dan berdiri. Chessy kembali mengangkat gaun pengantinnya agar memudahkan dia berlari menuju sang suami.


"Mau kemana?" Aksan dengan cepat meraih tangan Chessy yang akan melewatinya menuju Erkan. Aksan mengeluarkan pistol dalam saku celananya dan menodongkan pistol tersebut pada Chessy yang berada dalam kungkungan Aksan.


"Sayang …."


"Chessy …."


Semua tamu undangan riuh dengan suara teriakan melihat sang pengantin tengah di sandra. Banyak dari mereka yang keluar mencari aman dan banyak juga yang hanya mundur beberapa langkah lalu berjongkok.


"Bagaimana bisa kamu bocah sialan masih hidup? Jelas-jelas aku sudah menebakmu tadi." Teriak Aksan yang tertuju pada Erkan.


"Jangan macem-macem kamu Aksan!" Teriak Ahsan yang tak jauh dari tempat Aksan menyandera Chessy.


"Siall kalian semua." Aksan semakin menekan pistol itu di kepala Chessy.

__ADS_1


"Aksan …." Lagi-lagi Ahsan berteriak.


"Cepat tanda tangan berkas itu dan minta polisi untuk keluar dari ruangan ini atau aku tembak dia?" Ancam Aksan.


"Chessy …." Bu Dewi kini yang berteriak.


"Tembak saja kalau berani. Itu hanya akan memberatkan hukumanmu. Aku nggak akan kehilangan dia dan bisa cari wanita lain untuk menjadi istriku," ucap Erkan dengan santainya. Aksan tercengang dengan jawaban dari Erkan. Berbeda dengan Chessy yang malah naik darah mendengar ucapan itu.


"Mas, tega kamu ya? Kamu bilang kamu cinta mati sama aku. Sekarang kamu bilang nggak butuh aku?" Teriak Chessy seraya mengepalkan tangannya menahan rasa marah yang menggebu-gebu di dadanya.


"Maaf. Tapi itu adalah kenyataan yang harus kamu terima. Di gedung ini banyak yang mau menjadi istriku, Chessy." Lagi-lagi ucapan Erkan membuat Chessy makin naik pitam.


Chessy yang mencoba menahan amarahnya dengan mengepal kuat-kuat, kini bersiap untuk melepaskan diri dari Aksan. Chessy menginjak kaki Aksan sekuat mungkin hingga cekalannya longgar kemudian Chessy membalikan badan dan memberikan tendangan lagi pada rudal milik Aksan. Alman yang sejak tadi mencari celah untuk menyelamatkan Chessy, kini segera bertindak dengan mendorong tubuh Aksan hingga tersungkur.


"Ack … brengsek. Kamu mau mati …." Aksan murka dan mengarahkan pistol itu pada Chessy. Seperdetik kemudi, ada darah yang mengalir di lantai yang bernuansa biru muda itu. "Bangsattt … bajingan kalian semua." Aksan telah ditembak bagian tangannya yang tadi menodongkan pistol pada Chessy. Seketika pistol itu jatuh. Mata Chessy bertemu dengan mata Aksan yang kemudian menatap pistol yang jatuh itu. Chessy tahu jika Aksan masih bisa mengambil pistol tersebut, tetapi sayang sekali Alman dengan cepat menendang pintol itu agar menjauh dari Aksan. "Kurang ajar …." Aksan kembali berteriak seraya memegang satu lengannya yang tertembak timah panas dari salah satu polisi yang mengepungnya.


"Sayang …. " Erkan langsung berlari dan memeluk Chessy. Pelukan itu sangat erat hingga Chessy hampir tidak bisa bernafas. Chessy ingat dengan kata-kata Erkan yang akan mencari istri lagi. Chessy menginjak kaki Erkan dan sekuat tenaga Chessy mendorong tubuh Erkan agar menjauhkan diri darinya yang masih begitu kesal dengan ucapannya.


"Enyah dariku Mas. Dasar brengseek …." Teriak Chessy seraya mundur cukup jauh dari Erkan.

__ADS_1


Aksan yang hendak mendekati Chessy untuk dijadikan sandera kembali, malah membuat kembali mendapatkan tembakan di kaki. Chessy terkejut karena dia salah melangkah. Langkah mundurnya menjauh dari dari Erkan, sedang langkah itu malah membuat Chessy kembali mendekati Aksan.


"Ack …." Pekik Aksan menahan sakit karena tembakan di kakinya. Aksan pun berlutut. Polisi pun segera menangkap Aksan dan beberapa orang-orangnya.


Ada kelegaan dalam benak orang-orang yang menyaksikan ketegangan beberapa saat lalu. Namun berbeda dengan Chessy yang menatap tajam wajah Erkan. "Laki-laki brengseek kamu Mas. Tega kamu bilang pada kakek tua itu untuk membunuhku dan menikah lagi. Dasar bajingan kelas kakap." Chessy pun meluapkan emosinya.


"Sayang … bukan itu maksudnya. Sungguh." Erkan masih berusaha mendekati Chessy. Namun, saat Erkan melangkah maju, Chessy juga melangkah mundur.


"Chessy," tiba-tiba Bibi Lunara ada dibelakang Chessy dan meraih kedua bahunya. "Maksudnya Erkan tadi bilang begitu agar kamu bisa melawan Kakek Aksan. Erkan begitu tahu sifatmu sehingga dia bisa menebak apa yang akan kamu lakukan jika Erkan berkata begitu. Semua ucapan hanya agar kamu marah dan memberikan polisi celah untuk melumpuhkan Kakek Aksan." Penjelasan sang bibi langsung bisa Chessy terima.


Chessy yang tadinya diliputi amarah, kini mulai luluh dan mengetahui hal itu, dengan segera Erkan memeluk Chessy. "Maaf. Sungguh aku nggak maksud mengatakan hal itu. Sumpah … demi apa pun, aku harus bersikap biasa saja saat kamu disandera tadi. Kalau aku ketakutan, Kakek Ahsan bakal …." Erkan langsung memeluk Chessy karena begitu takutnya mengingat kejadian tadi.


Kakek Ahsan pun menghampiri Chessy dan Erkan. "Hiduplah dengan penuh kebahagiaan untuk kalian. Mari kita lanjutkan resepsi pernikahan ini." Kakek Ahsan menepuk bahu Erkan. Kini Erkan berbalik badan dan memeluk Kakek Ahsan. "Terima kasih telah berjuang. Jika tadi kamu nggak mengirim pesan pada Kakek terlebih dahulu, maka Kakek juga akan mati berdiri melihat fotomu dengan lumuran darah itu." Sang Kakek melirik foto Erkan yang masih ada di layar lebar.


"Ini semua juga karena Alzeer Kek. Dan syukur alhamdulillah kami bisa selamat, begitu juga dengan Alesia." Erkan melepaskan pelukannya pada Chessy dan menatapnya penuh kelembutan. Erkan kemudian mencium bibir Chessy yang tersembunyi dibalik cadar.


"Huuaa …." Sorak gembira dari tamu undangan membuat Chessy merona. Resepsi pernikahan itu pun dilanjutkan sesuai dengan rencana. Senyum dan tawa bahagia terpancar jelas di wajah semua orang yang ada di gedung pernikahan itu hingga acaranya benar-benar selesai.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2