
Chessy cukup bahagia mendapatkan pujian dari Erkan. Kini senyum Chessy mulai mengembang. Rasa percayanya pada Erkan mulai tertancap dalam hati dan pikirannya. Padahal sebelumnya Chessy cukup kesal dengan Erkan yang narsis dan blak-blakan. Chessy jadi ingat memberi nama Erkan narsis di handphonenya. Dia tidak salah memberikan nama. "Thanks, lu udah mau percaya sama gue. Apa mungkin lu juga ngalamin hal yang sama?" Tentu tidak salah jika Chessy berpikir seperti itu karena seperti mustahil jika Erkan percaya begitu saja.
"Andai aku bisa punya kesempatan kedua seperti yang kamu bilang, aku ingin kembali ke hari dimana aku memaksa kedua orang tuaku untuk pergi berlibur. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia, tapi malah terjadi petaka dan mereka pergi untuk selamanya. Aku iri padamu Ches. Kamu orang yang beruntung yang bisa mengubah takdir dan bisa membalaskan dendammu itu. Aku benar-benar ingin kembali ke masa lalu seperti katamu. Apa kamu punya rahasia dibalik kembalinya kamu di masa sekarang?" Erkan yang tadinya tersenyum, kini tertunduk menatap setir mobil dan wajahnya tampak sedih.
Chessy merasa iba pada Erkan. Tentu saja Erkan benar kalau dirinya adalah orang yang beruntung karena bisa kembali ke kehidupan yang lalu untuk memperbaiki semuanya. "Sorry! gue pikir lu percaya sama gue karena lu juga ngalamin hal yang sama. Gue turut sedih akan kejadian yang menimpa orang tua lu. Walaupun lu nggak bisa kayak gue, setidaknya lu laki-laki yang kuat karena selama ini lu bisa bangkit dan menjalani hidup dengan baik. Pasti Paman dan Bibi lu orang baik yang menjadi pengganti kedua orang tua lu. Lu nggak tau'kan hari dimana gue kehilangan anak gue Rara? Hari itu jadi hari paling hancur buat gue. Anak dan suami serta harta yang gue miliki, direnggut oleh Sylia. Dia orang yang selalu gue percaya dan gue turutin apa maunya, tapi dia nusuk gue dari belakang. Gue salut sama lu yang kuat dan tegar saat kehilangan kedua orang tua lu." Chessy mengelus bahu Erkan dan Erkan pun menoleh.
"Kamu juga hebat Ches." Erkan kembali dengan senyuman manisnya. "Terima kasih ya udah mau hibur aku dan cerita kisahmu. Terima kasih juga udah percaya sama aku. Kita berangkat sekarang ya? Aksi curhatnya udahan, takut kamu telat hm!" Lanjut Erkan dan tersenyum. Chessy membalas senyum Erkan dan mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mobil yang disupiri oleh Erkan, tiba di depan gerbang sekolah. "Udah sampe Ches. Inget ya jangan terlalu deket sama Sylia, bahkan jangan sampe tersentuh. Nanti aku jelasin apa yang aku tahu. Belajar yang baik ya, pulang sekolah aku jemput lagi." Erkan segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Chessy. Senyuman manis menghiasi wajah Chessy menatap Erkan yang terlihat cool saat membuka pintu mobil untuknya.
"Thanks Mas Erkan. Aku masuk dulu." Chessy sesegera mungkin masuk karena malu telah memanggil Erkan dengan sebutan 'Mas'. Entah inisiatif dari mana, tetapi nyatanya Chessy tiba-tiba merona dan Erkan terlihat begitu bahagia melihat punggung wanita pujaannya hingga menghilang di balik gerbang sekolah.
Chessy menatap gedung sekolahnya yang cukup luas itu dengan helaan nafas panjang. Chessy kembali tersenyum dan berjalan menuju ruang kelasnya. Chessy masa bodoh jika ada yang berbisik-bisik karena diantar oleh cowok yang mereka teriaki. Namun, kedatangan Chessy disambut hangat oleh Putri dan juga Sintia.
"Hai, selamat pagi!" Sapa Chessy pada keduanya.
__ADS_1
"Pagi juga Ches," jawab Sintia.
"Hai Ches, kamu keliatan bahagia banget? Abis dapet undian ya?" Ledek Putri.
"Abis dapet gebetan." Jawab Chessy santai dan meletakkan tas gendongnya.
"Wah, serius Ches? Siapa?" Sintia juga Putri antusias ingin mendengarkan Chessy.
"Em … rahasia." Jawab Chessy penuh penekanan dan cekikikan. Sintia juga Putri menghela nafas karena kecewa dengan jawaban Chessy.
"Ches, lu kok akhir-akhir ini cuek banget sih sama gue? Dan juga lu lebih memilih laki-laki asing itu dari pada gue, sahabat lu sejak SMP Ches," keluh Sylia yang terlihat sedikit berkeringat. Chessy menahan senyum saat melihat Sylia uring-uringan dan merasa capek. Pasti di dalam angkot panas dan bau, belum lagi dia harus berlari menuju sekolah untuk mengejar waktu.
"Gue cuma lagi menghargai keputusan orang tua gue Syl. Kalau gue nolak tu cowok, gue bakal buat bokap nyokap gue sedih. Lagian lu nggak mau'kan jadi obat nyamuk antara gue sama calon suami gue?" Chessy mengalihkan pandangannya pada buku yang sudah sejak tadi dia keluarkan dari dalam tas dan pura-pura membaca. "Em dari pada marah-marah nggak jelas, mending lu belajar biar pas try out lu nggak kebingungan." Chessy bicara dengan gaya meledek.
"Gue kan selama ini nggak pernah kebingungan karena lu selalu kasih gue contekan Ches. Nggak mungkin dong kali ini lu mau biarin gue kebingungan juga?" Sylia menggenggam tangan Chessy dengan wajah meChessys.
__ADS_1
"Ih lu tu kayak lagi ngerayu pacar aja sih pake pegang tangan segala. Nanti mereka yang liat kita, mikir kalau kita cinta sesama jenis lagi. Ih amit-amit gue masih normal loh." Jawab Chessy masih dengan nada meledek.
"Chessy, semua orang juga tau kali kalau kita bersahabat. Ingat Ches, kita bersahabat saat gue nolongin lu dari kecelakaan maut." Sylia menekankan kalimat terakhirnya. Ya, Chessy jadi ingat saat pertama kali bertemu dengan Sylia. Saat itu dirinya sedang asik memandang sebuah hadiah yang diberikan oleh kakaknya Rakha, tetapi karena Chessy cukup ceroboh, Chessy hampir tertabrak mobil. Untungnya Sylia menarik Chessy dan keduanya terjatuh ke lain arah. Sylia cindera ringan dan sejak saat itu Chessy dan keluarganya memanjakan Sylia karena merasa punya hutang budi telah menyelamatkan nyawa Chessy.
"Ah, iya gue lupa Syl kalau gue punya hutang nyawa sama lu. Tenang aja Syl, semua kebaikan lu juga bakal dapet balesan dari Tuhan. Hehe … duduk sana, lu nggak capek dari tadi berdiri terus? Kesemutan loh!" Lagi-lagi Sylia dibuat kesal akan tingkah Chessy yang semakin membuat Sylia ingin bertindak lebih jauh lagi. Sylia menghentakkan kakinya dan kemudian duduk di kursi yang berjarak dua kursi ke belakang dari tempat Chessy duduk. Beberapa menit kemudian bel masuk kelas berbunyi dan guru pun tiba lalu membagikan soal try out.
Dua jam setelah itu, waktu untuk mengerjakan soal telah habis. Sylia yang sejak tadi kebingungan untuk jawaban dari setiap soal, akhirnya melemparkan pulpennya ke sembarang arah. "Chessy bener-bener nggak kasih gue jawaban. Awas lu Ches, gue udah nggak tahan sama sikap lu yang semakin keterlaluan." Batin Sylia dengan kepalan tangan yang begitu erat.
Hari ini hanya ada dua mata pelajaran untuk dikerjakan, jadi Chessy pulang lebih awal dari biasanya. Saat jam istirahat, sebisa mungkin Chessy menghindari Sylia karena ingat akan pesan dari Erkan untuk menjauhi Sylia. Tiga puluh menit sebelum waktu pengerjaan soal mata pelajaran kedua selesai, Chessy segera mengirim pesan pada Erkan untuk menjemput nya.
@Erkan Narsis
"Oke sayang, aku otw skrng ya. Jangan fokus mikirin aku ya, tapi fokus ke soal."
Begitulah balasan pesan dari Erkan dan membuat Chessy benar-benar menahan tawanya karena menatap layar ponsel yang disembunyikan di kolong meja. Takut ketahuan, Chessy segera memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1
...######################...