
Di perjalanan menuju sekolah, Chessy sebenarnya ingin bertanya perihal Erkan dan Sylia yang tadi bertemu. Ada sedikit rasa yang mengganjal dalam hatinya. Bisa jadi Chessy cemburu karena Erkan sempat ngobrol dengan Sylia. "Kenapa sih cowok ini tadi harus ngobrol sama Sylia? Mereka berdua ngomongin apa coba? Tapi tadi dia marah waktu Sylia pegang tangan gue, kenapa dengannya?" Batin Chessy dan ingin sekali melirik Erkan yang fokus menyetir, tetapi diurungkan karena tidak mau kejadian tempo hari terulang kembali.
"Kenapa diem aja Ches? Bukannya kamu itu orang yang cerewet?" Tiba-tiba Erkan membuka suara. "Oiya, kamu jangan cemburu ya karena tadi aku duduk berdua sama temen kamu itu di ruang tamu." Erkan tersenyum mengejek dan Chessy langsung menatap Erkan.
"What? Cemburu?" Kata Chessy merasa tidak terima kalau dia sedang cemburu.
"Oo belum ya? Berarti aku harus bekerja keras nih biar kamu cemburu waktu aku deket sama cewek lain." Lagi-lagi Erkan tersenyum mengejek.
"Ya ya terserah lu aja deh." Jawab Chessy santai.
"Tapi Ches, kamu belum dapet nama panggilan yang pas buatku? Soalnya sama sekali loh aku tu belum denger kamu panggil namaku atau sebutan lagi. Paling cuma lu dan lu terus." Protes Erkan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Emang, maunya dipanggil apa?" Tanya Chessy.
"Sayang dong hehe," Erkan kembali mengejek Chessy.
"Ih … ogah …. Pede banget lu," Jawab Chessy cepat dan malah membuat Erkan tertawa.
"Ah sekarang aja ogah, nanti pasti bucin parah." Lagi-lagi ucapan Erkan begitu mengejek.
"Udah ah, males bahas itu." Chessy pun duduk sedikit miring menghadap kaca karena tak mau melihat Erkan yang begitu menjengkelkan. Namun, hal tersebut tentu membuat Erkan malah gemas dengan Chessy. Tiba-tiba, Erkan ingat dengan Sylia lagi.
"Oiya Ches, aku harap kamu jangan terlalu dekat sama temenmu tadi ya." Ucap Erkan.
__ADS_1
"Dia bukan temen gue." Jawab Chessy tanpa mengubah posisinya.
"Terus apa kalau bukan temen? Sahabat?" Kata Erkan lagi.
"Ih, najis banget punya sahabat kayak dia." Jawab Chessy cepat.
"Aku merasa ada hal yang nggak biasa dari cewek tadi. Tingkahnya juga kayak nggak biasa. Apalagi auranya. "Setelah pulang sekolah nanti, jangan makan kue dan air yang dibawa temen kamu tadi ya? Buang aja." Kata Erkan tiba-tiba terlihat serius.
"Kenapa sih? Lu ada pikiran apa tentang Sylia? Lu suka sama dia? Gue selalu bodo amat sama dia." Tanya Chessy penasaran.
"Tapi aku serius Ches, kalau bisa jangan sampe kamu deket-deket sama dia, bahkan jangan juga makan dan minum darinya. Jangan ada hubungan apa-apa bila perlu. Anggap saja dia nggak ada." Ucap Erkan.
"Gue juga nggak mau deket-deket sama dia. Gue hanya terpaksa demi anak gue Rara." Chessy bicara begitu saja dan tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan. Erkan cukup terkejut dengan perkataan Chessy dan langsung menepikan mobilnya.
"Anak? Maksudnya?" Erkan menatap Chessy yang kini menatap lurus ke depan karena terkejut dengan Erkan yang ngerem mendadak. Chessy pun tersadar. Chessy merasa jadi terbawa perasaan dan asal bicara.
"Chessy?" Suara yang hangat dan lembut itu membuat Chessy langsung menatap Erkan. Entah kenapa, tetapi begitu saja lehernya harus menoleh ke arah Erkan.
"Hm … sorry. Gue tadi ngelamun. Ayo jalan, takut di klakson orang." Ucap Chessy mengalihkan pembicaraan.
"Kita lagi di pinggir jalan Ches, nggak akan ada yang klakson. Aku tanya lagi, apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa kamu benci dengan Sylia tapi kamu masih terus berteman dengannya?" Erkan benar-benar ingin mendapatkan jawaban dari Chessy. Suara Erkan tidak tinggi juga tidak rendah. Bahkan, Chessy menganggap jika Erkan ini benar-benar mencintainya dan khawatir.
"Sorry, gue belum bisa cerita sama lu masalah gue ini." Chessy menunduk seraya memainkan jari jemarinya dengan semua rasa dalam hatinya.
__ADS_1
"Chessy, aku tau aku ini orang baru buatmu. Aku tiba-tiba datang dalam kehidupanmu dan buat kamu nggak nyaman. Ches, aku benar-benar khawatir. Aku ingin kamu mengandalkanku Ches, siapa tau aku bisa bantu masalah yang membebani pikiranmu. Aku nggak mau terjadi apa pun sama kamu Ches." Perkataan Erkan benar-benar membius Chessy. Dia yang tertunduk kini menatap begitu dalam mata Erkan. Benar! Terpancar jelas di matanya kalau apa yang Erkan ucapkan itu begitu tulus. Chessy benar-benar bisa menilai ucapan Erkan dari sorot mata Erkan.
"Lu percaya kalau orang dari masa depan bisa kembali lagi ke masa lalu buat mengubah takdir hidupnya?" Masih dengan posisi yang sama, keduanya masih beradu mata untuk sekedar mencari sebuah jawaban.
"Di dunia ini memang banyak hal di luar nalar yang nggak bisa dijelaskan. Tapi, takdir Allah itu nyata. Nggak ada yang tau apa yang Allah rencanakan buat kehidupan kita Ches." Jawab Erkan masih bertatap dengan Chessy.
"Gue tanya, lu percaya nggak?" Tegas Chessy.
"Iya aku percaya. Maksudnya kamu adalah Chessy yang udah hidup di masa depan dan kembali ke masa lalu buat balas dendam'kan?" Chessy tidak percaya kalau Erkan bisa tahu dengan gamblang apa yang dia maksud. Kini Chessy mengubah posisi duduknya.
"Iya. Gue kembali ke kehidupan gue tujuh tahun lalu. Kehidupan yang dimana saat itu gue lebih memilih kabur dan kawin lari dengan Devan dari pada ketemu lu. Gue terlalu menuruti apa yang Sylia katakan, bahkan gue begitu mencintai laki-laki brengsseek itu. Gue kehilangan anak gue Rara. Saat pulang dari pemakaman, gue tertabrak mobil, tapi saat gue bangun, gue udah ada di tempat tidur gue. Tempat tidur yang sama dengan tujuh tahun yang lalu. Gue pikir ini kesempatan kedua yang Tuhan berikan." Jelas Chessy panjang lebar dan semua itu tak membuat Erkan terkejut.
"Aku ngerti maksud kamu." kini Chessy yang terkejut dengan ucapan Erkan. Bagaimana bisa laki-laki itu tidak terkejut sama sekali dengan apa yang dia ceritakan. Bahkan tidak banyak pertanyaan yang dia terima. Chessy menoleh dan menatap Erkan sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Wajahnya begitu santai. Apa benar dia percaya? Harusnya dia terkejutkan? Tapi wajahnya begitu santai. Sebenernya cowok macam apa sih dia? Atau jangan-jangan dia juga mengalami hal yang sama?" batin Chessy.
"Ches, mulai sekarang, tolong andalkan aku Ches. Aku siap bantu kamu. Aku nggak akan biarin kamu melakukannya sendiri. Katakan saja apa yang bisa aku lakukan buatmu? Aku siap!" Chessy benar-benar tidak percaya dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut Erkan.
"Kenapa kamu begitu percaya dengan apa yang gue bilang?" Chessy masih ragu pada Erkan.
"Aku udah bilang'kan Ches, aku khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu. Aku mencintaimu Ches, aku benar-benar khawatir. Ijinkan aku bantu kamu Ches. Jangan lakukan semuanya sendiri." Chessy pun yakin jika Erkan bisa dipercaya.
"Apa lu benar-benar bisa gue percaya? Bahkan orang tua gue juga pasti hanya tertawa kalai gue cerita ini semua." kata Chessy.
__ADS_1
"Apa pun yang menyangkut masalahmu. Aku percaya Ches." Ucapan Erkan membuat Chessy tersenyum. "Aku suka senyum manismu itu Chessy Manohara Putri Ginanjar."
...##################...