
Pagi ini Chessy terlihat tidak biasa. Mungkin karena kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya tidak semangat melakukan apa pun. "Sayang … kok keliatan lemes gitu? Apa kamu hamil?" Tanya Erkan dengan mata yang berbinar.
"Please deh Mas, kita baru melakukan beberapa hari yang lalu, masak udah hamil aja," jawab Chessy dengan malasnya.
"Terus kenapa dong," tanya Erkan lagi
"Mas, aku nggak mau gelar resepsi pernikahan deh." ucapan Chessy yang tiba-tiba itu membuat Erkan hampir tersedak oleh sarapannya. Segera Erkan minum agar makanan di mulutnya masuk ke dalam perut dengan sempurna.
"Kenapa Sayang? Paman sama Bibi udah menyiapkan semuanya loh." tanya Erkan dengan nada yang cukup berbeda.
"Nggak pa-pa. Aku nggak mau aja." jawab Chessy dengan santainya seraya melahap sarapannya.
"Sayang … keluargaku cukup berpengaruh di negara ini, jadi resepsi pernikahan kita penting untuk mempererat hubungan antar perusahaan dan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang lainnya."
"Iya itu hanya menguntungkan untukmu saja Mas. Nggak untukku. Seingetku, sebentar lagi Kak Rakha dan Kak Rikho akan launching produk baru di perusahaannya. Produk itu sangat penting karena keuntungannya sampai triliunan. Papah juga sibuk bantu perusahaan kedua kakakku itu di Surabaya. Mana mungkin mereka bisa datang kesini. Aku hanya akan jadi patung di antara megahnya acara yang kamu gelar itu. Aku nggak mau juga acara megah itu tanpa keluargaku."
Chessy merubah wajahnya dari santai menjadi cemberut. Chessy bahkan hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya. Nafsu makan Chessy jadi hilang gara-gara Erkan tidak menuruti apa maunya.
"Sayang …. Mana mungkin mereka nggak hadir, sedangkan kasih sayang mereka sangatlah besar untukmu." Erkan duduk menggeser kursinya agar semakin dekat dengan Chessy. "Aku nggak akan biarin kamu jadi patung. Aku bakal ajak kamu juga berkenalan dengan rekan Bisnisku nanti. Kamu akan jadi pusat perhatian di sana. Pasti banyak orang yang memuji kecantikan ratunya Erkan nanti." Erkan menggenggam tangan Chessy mencoba merayunya.
"Aku malas Mas. Aku nggak mau ganggu proyek penting kedua kakakku juga. Aku juga nggak suka keramaian dan kemewahan seperti itu. Kamu harus tahu aku bukan wanita yang gila harta dan hal-hal begituan. Aku nggak suka. Batalin aja pesta pernikahannya. Toh kita udah sah jadi pasangan suami istri." jawab Chessy melepaskan tangan Erkan. "Aku mau ke taman belakang dulu. Kamu kalau mau berangkat ke kantor berangkat aja ya." Chessy langsung berlalu dari ruang makan itu.
__ADS_1
"Meluluhkan hati Chessy sangat sulit. Bagaimana kalau dia benar-benar nggak mau gelar resepsi." Erkan hanya bisa menghela nafas panjang dan dengan langkah berat pergi ke kantor.
___________
Chessy menatap hijaunya rumput di taman kecil belakang rumahnya. Ada beberapa bunga yang Chessy tidak tahu nama dari jenis bunga tersebut. Mungkin itu bunga khas di Turki. Chessy harusnya bahagia, bahkan lebih bahagia karena apa yang dia punya sekarang melebihi apa yang dia punya dulu. Chessy belum tahu seberapa kaya suaminya itu, tetapi Chessy benar-benar belum bisa menikmati apa yang dia punya saat ini.
"Ches, kamu kenapa sih? Ada masalah?" tanya Sylia yang kemudian duduk di sisi Chessy.
"Nggak pa-pa. Kamu udah sarapan? Udah minum obat?" tanya Chessy balik.
"Aku udah sarapan. Beberapa hari ini aku nggak minum obat karena kepalaku nggak sakit. Aku minum kalau sakit aja."
"Kemaren Mas Erkan janji sama aku kalau mau beliin kamu banyak novel loh."
"Iya aku bilang karena kamu yang nyuruh aku nganter makanan waktu itu. Tapi karena kondisinya masih begini, mungkin dia lupa. Nanti aku ingetin deh."
"Nggak pa-pa Ches, aku bisa baca novel best seller dari hape kok, itu juga gratis karena ada WiFi. Semoga masalah kamu sama suamimu segera selesai ya Ches."
"Aku juga nggak tahu sebenarnya aku gimana sama dia. Dia itu cukup baik, romantis, humoris dan kaya raya." Sylia tertawa mendengar kata terakhir. "Dia bilang aku cinta pertamanya saat dia masih di Jember, tapi kenapa sampe saat ini aku belum bisa benar-benar terima dia. Aku nggak tau kenapa hatiku belum bisa luluh. Aku bahkan minta resepsi pernikahan dibatalkan."
"What's? Kenapa sampe segitunya Ches?
__ADS_1
"Aku malas Syl. Entah kenapa sama sekali aku nggak ada kemauan untuk itu."
"Tapi setahu aku dari Bibi, resepsi ini penting untuk menjalin hubungan dan kerjasama dengan berbagai perusahaan Ches. Kalau batal, gimana kemajuan perusahaan suami kamu. Kalau keuntungannya banyak, kan kamu juga kecipratan Chessy …."
Chessy terdiam. Sylia memang benar, tetapi karena masalah Nayla itu membuat Chessy sangat malas melakukan resepsi itu. Bukan hanya itu, tetapi kejadian-kejadian di masa lalu membuatnya semakin malas.
"Akan aku pikirkan lagi nanti." ucap Chessy.
"Ches, setahu aku dari para asisten yang kerja disini, Tuan Erkan itu baik Ches. Dia nggak pernah bawa wanita lain kesini, ya selain si Nayla itu. Tapi kata mereka juga suamimu ini cukup dingin orangnya, baru kali ini melihatnya manis setelah menikah sama kamu. Manisnya Itu juga cuma sama kamu dan Aylin. Kata mereka loh, dan nggak mungkin dong penilaian mereka salah. Oiya satu lagi, rumah ini direnovasi setelah suamimu itu ke Indonesia. Katanya semua yang ada di rumah ini disesuaikan dengan selera wanita kesayangan. Sampe habis milyaran katanya Ches cuma buat renovasi rumah ini. Bukannya Tuan Erkan sweet banget Ches. Aku juga mikir loh waktu pertama masuk rumah ini kalau isinya hampir semua sesuai dengan seleramu."
"Kamu kok tahu banyak sih."
"Aku tanya Ches, aku hanya penasaran aja. Dia itu baik banget Ches, masa' kebaikan yang seperti itu nggak buat hatimu tergugah. Apalagi kemarin, dia begitu antusias menyusun bunga tulip itu, ya ampun Ches, susah loh cari cowok yang begitu. Kamu harus tahu kalau wajah Tuan Erkan itu benar-benar memancarkan cintanya buat kamu. Coba aja kamu kenali lebih dalam suamimu itu. Bukan hanya dari sikapnya, tapi dari semuanya yang udah dia lakukan buatmu sejak pertama menikah sampai sekarang. Coba kamu inget-inget hal manis apa aja yang selalu membuatmu berhasil tertawa dan ternyuh gitu. Kalau menurut aku nih ya, dia udah mirip sama tokoh ceo yang ada di novel-novel yang aku baca Ches. Perfecto pokoknya. Kamu jangan sia-siakan cintanya Tuan."
Chessy hanya diam mendengarkan sahabatnya itu nyerocos tak karuan. Walaupun yang Sylia katakan itu benar semua. Selama ini Erkan memang sangat manis, dan lagi pantas saja saat pertama kali masuk kamar, Chessy langsung menyukai setiap sudut di ruangan itu. Bahkan sampai pakaian yang ada di lemari juga semua style-nya Chessy suka.
"Sepertinya Erkan bertanya banyak pada Kak Rakha dan Kak Galih tentang seleraku setelah menikah denganku," batin Chessy yang hanya tersenyum masam menanggapi perkataan Sylia. Erkan melakukan hal itu hanya agar Chessy nyaman di rumah barunya. Belum lagi sikap manis dan manja Erkan memang membuat Chessy selalu merasa tenang dan senang. Chessy pun memikirkan dengan matang apa yang harus dia lakukan mulai sekarang.
"Bismillah Syl, aku memang masih takut untuk jatuh cinta. Aku takut saat aku sangat mencintainya, tiba-tiba dia berkhianat. Tapi aku akan berusaha untuk mencintai suamiku dengan tulus."
"Nah, gitu dong. Aku kan ada disini Ches, jadi jangan takut buat melakukan apa pun. Kamu ada kesulitan apa aja kamu harus cepet-cepet bilang sama aku. Aku siap bantu kamu apa pun itu Ches." Keduanya pun berpelukan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...