
Sylia tidak merasa tenang sama sekali dengan kondisi Chessy siang itu. Sejak keluar dari kamar Chessy, dia hanya mondar mandir di dalam kamarnya. Cadarnya pun dia lepas beserta jilbabnya. Sylia sampai merasa gerah karena mondar mandir terus-menerus. "Apa aku harus kasih tahu Kak Alman ya biar Tuan Erkan cepet pulang. Aku nggak mau Chessy kenapa-kenapa. Apalagi dia belum makan sejak pagi tadi." Sylia hanya bisa memainkan jari jemarinya. Merasa cukup yakin, Sylia akhirnya mengambil benda pipih miliknya dan kemudian menekan nomor telepon Alman.
Suamiku : "Assalamu'alaikum istriku. Kangen ya jam segini udah nelpon."
"Wa'alaikumsalam Kak, aku bukan mau bercanda, ini hal serius."
Suamiku : "Ada apa Sayang? Kamu kok kayak panik gitu?"
"Kak, tolong bilang Tuan ya kalau Chessy belum makan sejak pagi tadi. Barusan aku nganter makanan ke kamarnya, tapi baru satu suapan dia mual dan akhirnya nasi yang baru masuk dimuntahin. Kata dia rasanya asin banget dan dia langsung mual. Padahal aku nyobain makanan itu nggak ada masalah sama sekali Kak."
Alman : "Hah? Nona Chessy sakit?"
"Iya Kak, Tuan suruh cepet pulang ya. Aku nggak mau Chessy kenapa-kenapa. Tolong sampaikan sama Tuan."
Alman: "Iya Sayang. Kamu tenang ya. Kita akan segera pulang."
"Iya Kak. Aku tutup ya? Assalamu'alaikum."
Sylia pun menghela napas panjang dan merasa lega karena sudah menyampaikan apa yang memang harus segera diketahui oleh Erkan. Sylia tentu tidak mau kalau Erkan marah-marah padanya perihal Chessy yang belum makan.
____________
"Bos, kita pulang sekarang." Alman main nyelonong masuk ruangan Erkan. Alman tidak peduli jika Erkan sedang diskusi hal penting, karena Alman tahu Chessy lebih penting dari apa pun yang dia punya.
__ADS_1
"Ada masalah apa?" Erkan manatap tajam Alman.
"Nona Chessy nggak mau makan sejak pagi dan barusan muntah Bos. Sylia udah berusaha bujuk buat makan tapi malah di usir." Jelas Alman. Tentu tanpa alasan dan tanpa ba bi bu lagi, Erkan segera keluar dari ruang itu bahkan tanpa pamit. "Sorry, kalian harus bisa selesaikan berkas itu. Berdoa juga kalau istri Tuan nggak kenapa-kenapa ya. Selamat bekerja." Kata Alman berpamitan mewakili Erkan.
Dalam perjalanan pulang, hati Erkan benar-benar merasa gelisah bahkan beberapa kali memarahi Alman karena jalannya yang lambat. "Lu bisa nyetir nggak sih. Percuma gue pulang sama lu. Lu turun aja biar gue yang nyetir." Erkan berusaha merebut kemudi.
"Bos, istighfar. Kalau Bos kayak gini, kita nggak akan sampe rumah dengan selamat." Bentak Alman dan Erkan pun sadar. Alman benar, karena bisa saja Erkan tiba-tiba terkena serangan panik dan tidak bisa menyetir mobil dengan benar. Bisa-bisa malah terjadi kecelakaan.
"Ya ya cepet makannya. Kalau sampe terjadi sesuatu sama Chessy, gue bakal bunuh lu." Ancaman Erkan hanya disambut dengan gelengan kepala dari Alman. Walaupun begitu, Alman tidak menyalakan Erkan karena jika itu terjadi pada Sylia, Alman juga pasti akan berbuat hal yang sama dengan Erkan.
Tiba di rumah. Erkan segera membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar. Erkan melepaskan kancing jas biru yang dia pakai dan melemparkan ke sembarang arah. Erkan segera berlari menuju kamar dan tanpa salam Erkan membuka pintu kamar itu secara kasar.
"Sayang …." Teriakan Erkan membuat Chessy terkejut bukan main. Pasalnya Chessy baru saja akan tidur dan tenggelam dalam mimpinya.
"Astaghfirullah, Mas. Bikin kaget aja sih. Aku baru mau tidur kamu malah teriak-teriak." Protes Chessy tetapi Erkan langsung memeluknya begitu erat. "Mas … ih aku nggak bisa napas. Kenapa sih kamu kayak orang kesurupan aja."
"Haduh Mas, kamu tuh nyerocos aja udah kayak wartawan. Aku nggak pa-pa. Kamu nggak usah berlebihan." Chessy menepis tangan Erkan dan kembali menarik selimutnya lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Erkan.
"Sayang, kalau kamu nggak pa-pa ya nggak mungkin kamu nangis sampe mata kamu bengkak dan juga nggak mau makan. Ada ap …." Erkan menghentikan bicaranya karena melihat sebuah tespek yang ada di atas nakas. Erkan melihat hasil dari alat tes kehamilan itu dan kini Erkan tahu apa yang terjadi dengan istrinya. "Sayang … kita apa kita perlu ke Dokter?" Erkan menggeser duduknya dan membelai rambut Chessy yang diikat oleh Sylia tadi.
"Nggak usah. Aku nggak pa-pa Mas. Aku cuma butuh istirahat aja. Kamu kembali aja ke kantor." Jawab Chessy tanpa membalikkan badannya.
Bukannya pergi, Erkan malah ikut berbaring dan memeluk Chessy dari belakang. Erkan menempelkan seluruh tubuhnya bahkan kepalanya agar semakin dekat dan erat dengan sang istri. Cukup lama posisi itu bahkan Erkan menikmati bau tubuh Chessy.
__ADS_1
"Sayang …. Kalau bulan ini kita gagal, kan kita bisa coba terus sampai berhasil. Anak itu titipan, kalau belum dikasih berarti Allah belum percaya sama kita dan Allah sedang menguji kesabaran kita. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya."
Mendengar itu, hati Chessy mulai tenang. Apa yang dikatakan suaminya memang benar, tapi tetap saja Chessy merasa takut jika dia tidak bisa hamil di kehidupannya yang sekarang. Chessy pun kembali meneteskan air matanya.
"Sayang, punya anak atau enggak, aku nggak akan pernah memasalahkan hal itu. Yang paling aku butuhkan itu cuma kamu, karena saat anak-anak beranjak dewasa, mereka akan punya kehidupannya sendiri. Mereka akan sibuk dengan dunia barunya. Bahkan mereka juga akan berumah tangga dan meninggalkan kita. Sedangkan kamu, kamu yang akan selalu ada disisiku hingga menua dan hingga menutup mata."
Chessy pun membalikkan badannya dan kini menatap Erkan dengan lekat. Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya yang penuh makna. Chessy tidak bisa membalas apa yang dikatakan Erkan. Chessy kemudian melemparkan senyuman tipis di bibirnya.
"Kamulah hidupku sesungguhnya. Jangan hanya karena kamu belum hamil dan kamu menjadi putus asa bahkan menyiksa diri. Inget Sayang, Allah nggak suka dengan hamba yang menyiksa dirinya. Kamu mau dibenci Allah atau disayang?"
"Di sayang Mas."
"Kalau gitu kamu jangan hanya berdiam diri di kamar. Ayo makan dan setelah itu kita akan pergi ke Dokter. Nggak ada penolakan. Mas hanya mau kamu nurut." Chessy hanya mengangguk. "Ayo pakai jilbabmu dan kita turun. Aku akan menyuapimu sampai perutmu kenyang." Chessy kembali mengulas senyum di wajahnya dan beranjak dari tempat tidur untuk pergi mengambil jilbab. "Nah, kalau senyum begitukan makin cantik." Erkan menggandeng tangan Chessy dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Mas, maaf ya udah buat kamu khawatir."
"Nggak pa-pa. Tapi jangan begini lagi ya? Kalau ada apa-apa cepet bilang. Jangan menyiksa diri lagi."
"Iya Mas."
"Gemes deh, jadi pengen makan kamu." Erkan mencubit sebelah pipi Chessy.
"Tuh kan mulai ngeselin."
__ADS_1
"Hehe … udah ayo makan."
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...