Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Ta'aruf


__ADS_3

Sylia meneteskan air matanya setelah membuka cadarnya. Bukan, Sylia bukan malu dengan wajah cacatnya. Sylia takut karena menunjukkan wajah di depan laki-laki yang belum menjadi mahramnya. Sylia takut dosa, bahkan dosanya yang kemarin saja belum tentu mendapatkan ampunan Allah. Sylia cukup belajar ilmu agama dari ceramah yang Sylia tonton di aplikasi merah, juga Sylia sering membaca novel bernuansa islami, jadi Sylia takut pada Allah karena membuka cadarnya, padahal wajah bukan termasuk aurat.


Namun Sylia harus melakukan itu. Sylia juga takut jika laki-laki yang hendak melamarnya itu kecewa dengan perasaannya sendiri. Sylia cukup sadar diri untuk jatuh cinta karena dosa-dosanya, jadi Sylia tidak berharap banyak untuk bisa hidup bahagia dalam sebuah pernikahan. Sylia harus menunjukkan wajahnya di depan laki-laki itu agar rasa penasarannya terobati.


"Maafkan saya kalau wajah saya membuat kalian takut. Maafkan saya juga Kak Alman, jika Kakak kecewa karena penampilan saya tidak sesuai dengan angan-angan Kakak. Maaf jika sikap dan penampilan saya membuat Kak Alman tertarik. Saya tidak bermaksud untuk itu. Demi Allah, saya nggak pernah bermaksud menarik perhatian Kak Alman." Sylia kembali memakai cadarnya. Alzeer sangat terkejut dengan sebelah pipi Sylia yang mengerikan untuk dilihat. Namun tidak dengan Alman. Dia tersenyum manis, sangat manis tetapi Sylia tidak sedikitpun meliriknya. "Saya harap dengan ini Kak Alman tidak penasaran lagi dengan apa yang ada dibalik cadar saya. Saya bukanlah wanita suci dan terhormat. Saya kotor dan cacat. Saya tidak pantas untuk siapapun."


Sylia terus bicara, tetapi kali ini wajahnya tertunduk karena menjaga pandangan. Wajah itu tidak menampakkan rasa sedih sama sekali. Dia terlihat begitu tegar dan qona'ah dengan takdirnya. Alman terlihat menarik nafas dalam-dalam.


"Bismillah. Saya akan menikahimu secepatnya Dek Sylia. Saya ingin bertemu dengan walimu." ucapan Alman membuat semua orang disana sontak terkejut dan menatap Alman. "Saya juga bukan laki-laki yang suci. Saya juga punya masa lalu yang buruk, tetapi saya mau kita bisa saling melengkapi satu sama lain agar yang buruk itu menjadi baik dan agar yang kurang menjadi lengkap," lanjutnya.


"Lu yakin?" Erkan terlihat serius melihat Alman yang juga nampak serius. Alman menoleh pada Erkan dan menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Sylia, Kak Alman enggak memandang fisikmu. Dia mau menikahimu. Apa kamu menerimanya?" Chessy merengkuh bahu Sylia dengan senyuman manisnya dan berharap sang sahabat mau menerima laki-laki itu.


"Maaf Kak. Sylia tetap nggak bisa menerima Kak Alman. Tolong … masih banyak wanita yang lebih pantas dari saya." jawaban Sylia membuat Alman terkejut.


"Dek Sylia, saya serius. Saya tidak masalah dengan wajah Dek Sylia. Keimanan Dek Sylia yang membuat saya yakin untuk meminang. Jujur, baru kali ini saya melihat lawan jenis dengan perasaan seperti ini." ucap Alman dengan tegasnya.


"Iman saya hanya seujung kuku Kak. Saya bahkan tidak tahu apa dosa saya sudah diampuni atau belum, sedangkan seorang wanita yang telah menikah itu semua dosanya ditanggung oleh sang suami. Saya tidak mau Kak Alman ikut menanggung dosa saya. Saya hanya seorang wanita pendosa Kak. Saya tetap menolak lamaran Kak Alman." Sylia masih kekeh dengan penolakannya.


"Kamu hanya pendosa di masa lalu. Sekarang, kamu sedang memperbaiki diri dan mencari jati diri. Biarkan saya menemani apa yang kamu cari. Biarkan saya yang menyempurnakan sebagian imanmu Dek Sylia." penuturan Alman mampu membuat Sylia mendongak dan menatap wajah Alman. Ada secercah harapan di mata Alman untuk Sylia.

__ADS_1


"Syl, Alman tulus. Kamu yakin nggak mau memikirkan hal ini?" Chessy mengusap lembut punggung Sylia.


"Pikirkan baik-baik atau kamu minta jawaban dari Allah lewat istikharah." sahut Erkan membuat Sylia kembali menundukkan kepalanya.


"Baiklah. Saya akan memikirkannya terlebih dahulu. Beri saya waktu." jawab Sylia.


"Jangan terlalu lama berfikir Dek Sylia, karena itu hanya akan membuatmu semakin meragu." kata Alman karena jelas dia tidak mau ada penolakan.


"Menikah bukan sesuatu yang singkat Kak. Menikah adalah ibadah terpanjang di sisa hidup kita." ucap Sylia.


"MasyaAllah, itu memang benar Dek Sylia. Saya semakin jatuh cinta padamu. Saya ingin secepatnya menghalalkanmu Dek Sylia." Alman benar-benar merasa kata-kata Sylia sebagai sebuah penyejuk di hatinya.


Sylia tertegun mendengar kata-kata Alman. Bukannya ilfill sama dia, ini malah sebaliknya. "Maaf, tapi saya harus benar-benar memikirkannya Kak." ucap Sylia.


"Saya nggak bisa maksa Dek Sylia. InsyaAllah saya akan sabar menunggu jawaban Dek Sylia. Semoga Allah senantiasa meridhoi niat baik ini untuk kita. Saya benar-benar sangat berharap bisa segera dan secepatnya menikahi Dek Sylia." tutur Alman membuat Sylia bernafas lega. Setidaknya Sylia harus berpikir keras selama beberapa hari ini.


"Betul Syl, kalian bisa saling mengenal lewat cv nanti. Ungkapkan apa yang mau dan tidaknya setelah kalian menikah nanti." Chessy begitu antusias karena sebentar lagi Sylia mendapatkan kebahagiaan yang dia cari.


"Baik. Sebelum itu saya mau memberitahu bahwa selain yang disebutkan tadi, saya juga adalah seorang anak haram. Itu sebutan dari mereka-mereka yang tidak suka dengan saya, termasuk paman dan bibi saya. Dulu, Ibu saya berhubungan intim dengan ayah saya sebelum saya menikah, jadi status saya tanpa wali dan nasab saya mengikuti ibu saya. Jika Kak Alman keberatan dengan silsilah dan nasab saya. Silahkan katakan sekarang juga sebelum kita melangkah lebih jauh lagi." Sylia bicara masih dengan nada lembut dan sopan.


"Sesungguhnya nggak ada namanya anak haram itu, karena yang haram adalah perbuatan orang tuanya. Bayi yang dilahirkan itu suci, bukan haram. Saya nggak keberatan sama sekali dengan hal itu. Kalau Dek Sylia nggak masalah saya nggak perlu menemui keluarga Dek Sylia, saya juga nggak pa-pa jika itu yang terbaik." jawab Alman dengan penuh wibawanya.

__ADS_1


"Terima kasih sebelumnya. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan memberi jawaban setelah satu minggu."


"Apa nggak bisa tiga hari aja Dek? Saya rasa tiga hari sudah cukup."


"Saya akan puasa juga, jadi saya butuh waktu lebih lama. Jika keberatan, maka kita batal …."


"Nggak, saya nggak keberatan. Kita saling tukar cv saja terlebih dahulu sebelum Dek Sylia benar-benar menemukan jawaban."


"Saya mengerti, kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum." Sylia pun pergi dan masuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Alman tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya lemas tanpa tulang karena masih harus menunggu selama satu minggu.


"Haha … udah ngebet lu pengen kawin?" Ledek Alzeer. "Tapi lu beneran nggak takut sama tu cewek?" tanya Alzeer.


"Cinta itu buta Al. Kayak lu nggak pernah jatuh cinta aja." jawab Alman dengan suaranya yang pelan.


"Gila Er, dia beneran jatuh cinta." Alzeer menoleh pada Erkan.


"Aku juga lagi jatuh cinta sama istriku." Erkan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Chessy kemudian mencium keningnya. "Cintaku nggak akan ada habisnya untuk istriku." lanjut Erkan seraya menjatuhkan kepalanya di pangkal Chessy.


"Sial. Gue harus cepet bertemu dengan Alesia." umpat Alzeer. "Gue akan balas keuwuwan kalian itu." Erkan hanya tersenyum, begitu juga dengan Alman. Chessy sendiri sedang membelai lembut rambut Erkan.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


...Hayuk tinggalin komentarnya, gimana dengan Alman dan Sylia?...


__ADS_2