
Tiba di Istanbul New Airport, Chessy dibuat kagum dan takjub karena disuguhkan dengan pemandangan desain modern dan lantai-lantai berkilau di sepanjang jalan setapak, sebanding dengan maskapai terbersih di dunia. Langit-langit yang menjuntai di atas hampir serupa dengan kubah masjid khas Turki. Sama halnya dengan Chessy, Sylia juga melongo dengan pemandangan di Istanbul New Airport itu.
Erkan hanya tersenyum manis melihat sang istri yang senang dan beberapa kali bicara dengan Sylia tentang kekagumannya dengan Turki. Erkan lalu mengajak Chessy menuju pintu keluar bandara dan disana sudah ada yang menjemput menunggu kedatangan mereka.
"Sayang, Itu mobil jemputan kita udah dateng." Chessy menoleh pada beberapa mobil yang terparkir di sana. Chessy belum tahu yang mana mobil yang dimaksud suaminya itu hingga Chessy terkejut saat sudah semakin dekat dengan mobil yang dimaksud. Di sisi mobil itu ada seorang wanita cantik dengan hijab pasmina berwarna dusty yang melingkar di lehernya dan baju setelan kemeja serba hitam sedang tersenyum mengarah pada suaminya. "Siapa dia? Mas Erkan nggak pernah cerita tentang wanita ini!" Batin Chessy yang tentu saja cemburu melihat ada wanita lain yang tersenyum manis pada suaminya. Terlebih, wanita itu begitu cantik jelita.
"Assalamu'alaikum Kak, alhamdulillah udah sampe ya. Pak masukin barang-barang Tuan Muda ke mobil ya." Ucap wanita itu menyapa dengan ramah seraya menundukkan kepalanya dan matanya hanya tertuju pada Erkan.
"Wa'alaikumsalam. Nayla, kenalkan, ini istriku, Chessy namanya." Chessy segera memeluk lengan Erkan dan tersenyum pada Nayla yang tiba-tiba raut wajahnya berubah setelah melihat Chessy. Chessy mengulurkan tangannya pada Nayla. Dia pikir wanita yang berjalan di belakang Erkan hanya seseorang yang lewat saja. Terpaksa Nayla menerima uluran tangan Chessy tetapi segera dia lepaskan kembali. "Dan ini …." Lanjut Erkan, hanya saja Sylia langsung memperkenalkan dirinya secara langsung.
"Aku pembantu baru Tuan Er dan Nona Chessy. Salam kenal." Sylia memotong ucapan Erkan dan mengulurkan tangannya pada Nayla juga. Sejenak terlihat ramah tadi, tetapi melihat Chessy dan Sylia, sikap Nayla sedikit berubah.
"Kak Er ke Indonesia untuk menikah? Kok aku nggak tahu? Paman dan Bibik juga nggak ngasih tau aku. Kak Er juga tumben bawa wanita bercadar sebagai pembantu. Emang dia bisa apa nanti dengan pakaiannya yang begitu ribet itu," Nayla terlihat terkejut, tetapi raut wajahnya dibuat biasa saja. Namun Chessy dan Sylia merasakan ada keanehan karena tentunya mereka tahu karena mereka juga wanita.
"Jangan menjudge pakaiannya Mbak Nayla," Chessy tentu tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Nayla.
"Sudah …. Ceritanya panjang. Ayo kita pulang dulu." Jawab Erkan dan langsung membukakan pintu mobil untuk Chessy, dia juga ikut masuk, sedangkan Sylia membuka pintu mobil di sisi sebelahnya. Nayla duduk di depan. Sopir pun melajukan mobilnya. "Perjalanan kita masih butuh dua jam lebih, Sayang. Tidur lagi juga nggak pa-pa." Kata Erkan seraya menggenggam erat tangan Chessy kemudian mencium punggung tangannya.
"Engga ah, tadi kan di pesawat udah tidur, masak mau tidur lagi. Aku mau lihat-lihat kota Turki yang aku impikan ini Mas," jawab Chessy yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Erkan.
__ADS_1
Sylia sendiri sibuk dengan ponselnya yang baru saja dihidupkan. Ponsel itu ponsel pemberian Pak Ginanjar. Walaupun Sylia menolak mentah-mentah, tetapi Sylia tetap dipaksa untuk menerima benda pipih yang cukup mewah itu.
"Syl, kamu lagi apa sih?" Tanya Chessy penasaran dengan Sylia yang terus menatap layar ponselnya.
"Ah, nggak pa-pa." Sylia buru-buru memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas selempangnya.
"Kak … mau makan dulu atau langsung pulang?" Tanya Nayla tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.
"Sayang, kamu mau makan apa langsung pulang?" Erkan malah bertanya pada Chessy terlebih dahulu.
"Em, makan dulu juga boleh Mas. Tadi di pesawat nggak kenyang makannya." Jawab Chessy dengan suara manja. Chessy tahu jika wanita di depannya yang bernama Nayla itu punya sesuatu yang disembunyikan.
"Pak Romi, kita berhenti di restoran biasanya ya. Favoritnya Tuan," kata Nayla seraya tersenyum menatap lurus ke depan.
"Iya Kak Chessy, tempat itu tempat favorit Kak Er sejak ke Turki. Aku sama Kak Er sering banget makan bersama loh, disana enak-enak banget makanya dan banyak juga menu makanan Indonesia." Ucap Nayla dengan nada lumayan aneh di telinga Chessy.
"Oiya, kayaknya kita jangan makan disana deh Mas." Chessy kini melipat tangannya di dada dengan muka masam.
"Kenapa Sayang?" Tanya Erkan.
__ADS_1
"Soalnya kamu disana makan sama wanita lain." Jawab Chessy.
"Haha … Nayla cuma sekertaris, Sayang. Disana juga Mas nggak makan berdua aja tapi sama beberapa klien. Senyum dong, jangan cemburu gitu, hm?" Erkan mencubit sebelah pipi Chessy dengan manja.
"Tetep aja dia bukan mahram kamu Mas." Chessy masih terlihat marah.
"Hmm Kak Chessy, aku cuma kerja sama Kak Er kok, jadi Kak Chessy nggak perlu cemburu." Walaupun Nayla begitu terlihat ramah, naluri seorang wanita itu tidak pernah salah.
"Udah, jangan ngambek ya." Erkan mengusap ujung kepala Chessy. "iPadku mana, Dek?" Erkan mengulurkan tangannya ke arah Nayla dan Nayla memberikan apa yang Erkan minta. Sayang, Chessy belum sadar dengan panggilan Erkan pada Nayla.
Setelah itu, Chessy hanya menempel pada Sylia dan malas dekat dengan Erkan karena Erkan sendiri sibuk dengan Ipad-nya yang diberikan Nayla tadi. Perjalanan hampir satu jam dan Erkan masih fokus dengan pekerjaan yang sepertinya begitu penting. Sylia yang mengeluh pusing kini sedang tertidur di bahu Chessy. Melihat hal itu, Nayla memberanikan diri untuk bertanya. "Kak Chessy deket banget sama pembantu?" Cara bicara Nayla cukup membuat Chessy kesal.
"Dia sahabatku, bukan pembantu." Jawab Chessy ketus. "Lagian sekertaris kok banyak omong sih kamu. Urusan ini nggak ada urusannya sama pekerjaan kamukan?" lanjut Chessy dan berhasil membuat Nayla kesal.
"Iya maaf Kak Chessy, aku cuma pengen akrab aja sama Kak Chessy. Maaf ya Kak Er kalau aku buat istri Kak Er marah. Aku cuma pengen bicara santai aja." Nayla menoleh pada Erkan dan menitikkan air matanya lalu sengaja menghapusnya di depan Erkan.
"Ches, kamu jangan keterlaluan bicaranya. Nayla cuma mau akrab'kan? Maaf ya, istriku belum pandai bergaul." Erkan kembali fokus dengan Ipad-nya lagi.
"Hah? Kamu belain dia Mas?" Chessy makin kesal dan merubah posisi duduknya. Sylia terkejut dan bangun dari tidurnya. "Jawab Mas? Kamu belain wanita itu?" Chessy mengambil Ipad-nya yang dipegang Erkan.
__ADS_1
"Chessy … kamu tahu nggak suamimu ini lagi fokus sama kerjaan yang udah aku tinggal lama demi kamu. Kenapa kamu nggak sopan ngambil Ipad-nya yang sedang aku gunakan?" Chessy terkejut dengan nada bicara Erkan. Tiba-tiba tubuh Chessy lemas dan hampir saja menjatuhkan Ipad-nya itu. Segera Erkan mengambil Ipad-nya dan fokus kembali.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...