Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Senda Gurau


__ADS_3

Alman dan Sylia saling menatap penuh dengan cinta. Keduanya sangat terlihat bahagia dan terlihat begitu serasi. Namun, tentu saja gaya bicara Alman yang menggunakan bahasa baku pada istrinya itu jelas langsung mengundang tawa Erkan. "Duh … lu udah kawin Al. Gaya ngomongnya biasa aja. Risih gue denger kata 'saya'. Dan … jangan cuma janji, lu harus tepati ti janji buat bahagiain anak orang." Erkan menepuk bahu Alman. "Jangan kaku banget jadi suami. Contoh dong gue, selalu romantis," lanjutnya. Alman malah terlihat malu-malu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bohong … jangan contoh dia Kak Alman. Dia itu amat sangat menyebalkan. Jangan dicontoh, suwer deh …. Dia nggak romantis. Percaya sama aku, nggak ada yang patut dicontohkan," sahut Chessy melirik sinis suaminya yang sedang memanyunkan bibirnya. "Mau ku iket pake karet gelang Mas, bibirnya? Pasti bagus banget," ledek Chessy dan Erkan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Saya percaya sama Nona Chessy dari pada sama dia. Sejak sekolah, dia emang selalu dingin dan jual mahal banget, mana bisa tiba-tiba berubah romantis. Keliatan banget deh kalau bohong." Jawab Alman yang langsung mendapatkan pukulan keras dari Erkan di bahunya.


"Siall …. Lu mau gue pecat? Berani-beraninya jelek-jelekin Bos sendiri," Ancam Erkan yang lagi-lagi melayangkan tangannya di udara.


"Sayang … bahuku sakit di pukul sama dia. Tiupin dong, auh … banget …." Alman malah mengduh kesakitan dan menempelkan kepalanya di bahu Sylia.


"Astaghfirullah … sejak kapan gue punya temen kayak lu, jijik gue." Kata Erkan tiba-tiba merinding melihat sikap Alman yang sangat lebay menurutnya.


"Emang kamu nggak pernah kayak gitu Mas? Sok-sokan jijik segala. Mau aku timpuk?" Ucap Chessy yang sedang melipat kedua tangannya di dada.


"Eh … em itu Sayang, maksudnya nggak gitu loh," Erkan langsung salah tingkah mendapatkan teguran dari Chessy.


"Apa? Itu apa …?" Chessy makin memojokkan suaminya. Seketika Erkan langsung mendekati Chessy dan memeluk Chessy dari samping.


"Dasar Bos gila …." Ledek Alman.


"Erkan memang tergila-gila pada Chessy Manohara," jawab Erkan seraya tersenyum sangat lebar menatap wajah sang istri.


Keseruan obrolan antara pengantin baru dan pengantin lama itu berakhir saat Pak Ahmed berdehem begitu keras.

__ADS_1


"Berisik aja sih … udah kayak rumah sendiri aja," ucap Aylin melirik bergantian Erkan dan Alman. Chessy dan Sylia hanya tersenyum.


Setelah menandatangani beberapa berkas, Alman pergi bersama dengan orang asing yang Sylia tahu jika dia adalah seorang penghulu yang baru saja menikahkannya. Satu lainnya bisa saja itu asisten sang penghulu.


Paman Ahmed dan keluarganya juga pulang setelah memastikan jika Sylia baik-baik saja dan diperbolehkan pulang esok harinya. Sylia benar-benar mendapatkan kebahagiaannya hari itu. Sylia merasa tidak pantas dengan apa yang dia terima, tetapi Sylia tidak berhenti bersyukur atas kebahagiaan itu.


"Chessy, aku masih mau tinggal sama kamu beberapa hari kedepan. Bolehkan?" Sylia terlihat memohon.


"Aku nggak masalah kalau suami kamu nggak masalah." jawab Chessy seraya tersenyum. "Inget ya, kamu harus bahagia. Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat kasih tahu aku." Chessy merasa ingin kembali menitikkan air matanya.


"Emang aku punya siapa lagi selain kamu Ches. Aku akan sangat merepotkan kamu terus menerus. Kamu nggak usah khawatir." jawab Sylia seraya tersenyum. "Terima kasih Ches, terima kasih atas kebahagiaan ini. Jika bukan karena ketulusanmu memaafkan kesalahanku, aku nggak yakin aku bisa sebahagia ini sekarang." Sylia memeluk Chessy


"Kamu yang menciptakan kebahagiaanmu sendiri. Bukan aku, tapi kamu harus janji untuk tetap bahagia, jangan stress lagi, jangan banyak pikiran dan kurangi baca novel," kedek Chessy dan Sylia langsung terkekeh.


"Apa sih Kak Alman." Sylia melepaskan pelukannya dan kembali menundukkan kepalanya karena malu.


"Sini, gue aja yang dipeluk. Nggak kalah anget kok pelukan sama gue," Ledek Erkan seraya membentangkan kedua tangannya di depan Alman.


"Oh no! Gue masih sangat normal. Apalagi sekarang, sudah berstatus menikah …." jawab Alman dengan kedua tangan yang menyilang.


"Sayang, kita beri waktu pengantin baru ini untuk berduaan. Kamu nggak mau jadi obat nyamuk disinikan?" Goda Erkan seraya meraih bahu Chessy untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Eh iya ya. Em, aku pulang ya Syl. Sekarang udah ada yang jaga kamu dua puluh lima jam." Chessy beranjak dari tempat duduknya seraya terkekeh.

__ADS_1


"Chessy … jangan meledek begitu. Kamu mau buat pipiku Semerah apa?" kata Sylia yang semakin malu dengan ucapan Chessy.


"Loh, benerkan Kak Alman? Awas lo kalau nggak jaga baik-baik sahabatku ini, urusannya sama aku," ancaman Chessy membuat Alman hanya mengangguk dan tersenyum. "Tuh kan, suamimu setuju. Hm … aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi bawain sesuatu yang enak buat dimakan. Sekalian bawain baju ganti nanti. Assalamu'alaikum." Chessy dan Erkan pun pergi setelah mendapatkan jawaban atas salamnya.


Kini di ruangan itu hanya tinggal Alman dan Sylia karena pasien di sebelah Sylia sudah pulang semalam. Sylia terlihat canggung, begitu juga dengan Alman yang tiba-tiba gugup setelah kepergian Erkan dan Chessy. Alman kemudian duduk di kursi di sisi brankar Sylia dengan pandangan yang entah kemana, yang penting bukan ke arah Sylia karena dia masih malu-malu.


"Kak," panggil Sylia membuka pembicaraan karena Alman cukup lama diam.


"Ya Dek Sylia." jawab Alman kemudian bertatap dengan Sylia.


"Aku minta maaf." Sylia tertunduk.


"Loh, kenapa tiba-tiba minta maaf." Alman terkejut dan berdiri. Alman meraih tangan Sylia kemudian dikecupnya.


"Maaf karena semua yang akan kita lakukan di malam pertama kita bukanlah hal pertama kalinya bagiku. Tolong, jangan berharap aku akan bergetar dan malu-malu saat Kak Alman pertama kali menyentuh tubuhku, karena itu sudah pernah aku lakukan dengan laki-laki lain. Maaf, tidak ada kesan pertama yang berkesan yang bisa aku berikan pada Kak Alman karena tubuh kotorku." Alman tak kuasa mendengar perkataan Sylia lalu memeluknya.


"Tapi, aku laki-laki pertama yang mendapatkan cinta tulusmu, Sayang. Kita akan melakukan semuanya untuk pertama kalinya dan dengan sebuah hubungan yang halal di mata-Nya. Mari … kita beribadah bersama menuju janah-Nya."


Sylia tentu saja hanya bisa berucap syukur yang tiada hentinya. Hatinya kini bergetar mendengar perkataan Alman. "Terima kasih banyak Kak. Semoga … kita bisa menjalani bahtera rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah," Sylia pun membalas pelukan Alman seraya menitikkan air mata kebahagiaannya.


"Aamiin … Aamiin ya Rabbal 'alamin."


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2