Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Imun Tambahan


__ADS_3

Erkan sedang membaca semua laporan untuk proyek barunya dan hanya ada amarah yang bergemuruh dalam dadanya. "Kenapa jadi begini? Siapa yang bertanggung jawab atas proyek ini, hah?" Erkan berteriak untuk kesekian kalinya karena dokumen yang dia minta tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. "Jawab … apa kalian nggak punya mulut?" Lagi-lagi suara Erkan menggema di dalam ruangan kantor itu.


"Em, itu harusnya Bu Nayla yang bertanggung jawab Pak." Jawab salah satu karyawan memberanikan diri.


"Astaghfirullah … istighfar Er. Kamu bisa kenak serangan jantung bahkan darah tinggi nanti." kata Alman menepuk bahu Erkan yang terlihat naik pitam.


Erkan pun menghela nafas panjang kemudian duduk di kursi dan memijat kedua pelipisnya. Erkan bahkan tidak sempat sarapan dan berangkat lebih pagi hanya untuk proyek yang bernilai triliunan itu. Belum lagi, Chessy masih betah di kamar Sylia, jadi Erkan merasa tidak punya semangat saat berangkat. "Keluar kalian semua, kenapa masih berdiri disini?" Bentakan Erkan membuat semua karyawan yang ada di ruangan itu keluar dengan terburu-buru, hanya tersisa Alman disana. "Kemana Nayla, Al?" Tanya Erkan masih dengan nada tinggi.


"Dia serius dengan ucapannya kemarin kalau dia tidak akan pulang. Ponselnya mati, jadi Papi kesulitan mencari jejak Nayla karena mobilnya juga dia tinggal." jawab Alman dengan suara lirih.


"Siall …." Erkan melemparkan beberapa lembar kertas yang ada di meja kantor. Erkan benar-benar sangat marah. "Coba kamu hubungi lagi Nayla, kalau masih belum ketemu kamu minta bantuan Alzeer. Sepertinya dia lagi nggak sibuk." Erkan pun melemparkan tubuhnya di sofa dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Alman mengangguk dan segera pergi dari ruangan Erkan.


Keadaan yang seperti itu, Erkan biasanya memang lebih memilih tidur dari pada harus kembali mengeluarkan urat kemarahannya lagi dan sampai Erkan keluar dari ruangan, tidak ada satu orangpun yang akan mengganggunya di ruangan itu. Namun, sebuah ketukan pintu membuat Erkan harus kembali membuka matanya. Padahal sebentar lagi dia akan sampai ke alam mimpinya.


"Siall … siapa yang berani gang- …." Erkan ingin meluapkan emosinya lagi dengan melemparkan sebuah bantal kecil di sofa pada orang yang telah membuka pintu tanpa izin, karena setelah ketukan pintu itu, Erkan mendengar pintu ruangannya itu terbuka.


"Oh, jadi aku ganggu ya? Oke aku pergi kalau gitu." Chessy yang datang. Untungnya Chessy sudah diberitahu Alman saat sebelum masuk ke dalam ruangan kalau Erkan sedang emosional. Chessy pun berbalik badan dan hendak kembali keluar.


"Sayang …." Erkan segera bangun dan langsung lari menghampiri Chessy. Erkan segera memeluk Chessy dari belakang. "Sayang, kamu kesini nggak bilang-bilang sih? Emh … Mas kangen banget wangimu." Erkan semakin mengeratkan pelukannya.


"Katanya aku ganggu. Aku mau pergi aja kalau ganggu. Tidur aja lagi kalau ngantuk." ejek Chessy dengan nada sinis.


"Nggak mau. Maaf Sayang … tadi nggak tahu kalau itu kamu loh." Jawab Erkan seraya membopong tubuh Chessy ala bridal style menuju sofa.


"Aku bawain sarapan Mas. Kamu belum sarapankan?" Erkan menggelengkan kepalanya. Keduanya kini duduk bersama di sofa. Chessy membuka bekal makanan yang dibawa tadi dan menyiapkan sarapan untuk sang suami.


"Maunya disuapin," ucap Erkan begitu manja. Chessy hanya tersenyum dan menuruti apa mau Erkan. Suapan demi suapan begitu cepat masuk ke mulut Erkan. Dia sarapan begitu lahab dan tak henti-hentinya mencubit pipi Chessy.

__ADS_1


"Mas, hentikan, sakit …." ucap Chessy lirih dan masih terus menyuapi Erkan.


"Em … amu atik ayang …. Au emes." ucap Erkan yang mulutnya masih penuh dengan nasi.


"Makanan ditelan dulu Mas, takut keselek." Erkan pun mengambil air yang ada di gelas dan segera meneguk habis.


"Alhamdulillah. Kenyang Sayang. Makasih ya mau capek-capek kesini buat nganterin sarapan. Sekarang Mas mau makan yang lain." Chessy sedang membereskan kotak makanan di atas meja.


"Aku nggak bawa makanan yang lain Mas. Emang kamu nggak bisa nyuruh asistenmu buat pesan?"


"Nggak, maksudnya Mas mau makan kamu Sayang." Erkan meraih tengkuk Chessy dan hendak menciumnya.


"Ih, ini di kantor Mas. Jangan aneh-aneh."


"Salah sendiri semalem kamu tidur sama Sylia, jadi Mas nggak dapet imun Mas hari ini. Kamu harus tanggung jawab Sayangku …." Erkan pun mendekati wajah Chessy.


"Astaghfirullah, Mas. Jangan buat aku nyesel ya datang kemari. Coba aku nggak nurutin Sylia buat kesini tadi."


"Mas denger obrolan kita semalem?"


"Hm."


"Dasar tukang nguping. Udah aku mau pulang."


"Nggak akan semudah itu dong. Kamu harus kasih suamimu ini imun terlebih dahulu." Erkan kembali membopong tubuh Chessy dan membawanya ke balik lemari buku yang ternyata disana ada sebuah ruang rahasia dengan satu tempat tidur luas dan satu nakas kecil.


"Astaghfirullah, ruangan apa ini Mas? Dan … kamu ngapain ngajak aku kesini?"

__ADS_1


"Kamu bukan wanita polos Sayang, aku butuh imun supaya kerjaku lebih semangat." Chessy pun pasrah saat tubuhnya sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Satu persatu apa yang Chessy pakai telah terlepas dan Erkan pun menyerangnya bahkan hingga dua kali.


"Udah sana Mas, kamu harus kerjakan? Kuat banget sampe main dua kali. Pinggangku kayak mau patah rasanya." Gerutu Chessy seraya menarik selimutnya dan mengatur nafas karena kelelahan dengan permainan Erkan. Walaupun terpaksa, Erkan memakai satu persatu bajunya kembali.


"Kamu istirahat dulu disini ya, Mas mau kerja dulu. Nanti kita pulang bareng." ucapnya sambil mengecup kening Chessy kemudian keluar dari ruangan itu. Chessy hanya menatap punggung suaminya dibalik selimut yang menutupi tubuh Chessy. Perlahan pintu di balik lemari buku itu pun tertutup rapat.


Chessy ingin memejamkan matanya, tetapi entah kenapa pikiran Chessy malah melayang. Chessy hanya menatap pintu yang tertutup dengan rapat itu dan bahkan tak bisa dia mendengar suara apa pun dari dalam sana. Namun karena rasa lelahnya, Chessy pun terlelap.


Jam istirahat kantor telah tiba, hampir semua karyawan telah pergi meninggalkan meja kerjanya dan sebagian masih meneruskan pekerjaannya karena tanggung. Erkan melupakan Chessy yang masih terlelap di atas tempat tidur karena tiba-tiba Erkan menerima telepon dari Alzeer jika dia menemukan Nayla dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Erkan dan Alman segera menyusul Alzeer ke rumah sakit yang dimaksud.


Chessy terbangun dan segera mengenakan pakaiannya. Chessy hanya memakai sembarang jilbab pasminanya karena disana tidak ada cermin. Chessy pun membuka pintu lemari buku itu dan tidak mendapati siapapun di ruangan Erkan. "Loh, Mas Erkan kemana kok pergi nggak bilang-bilang!" gundam Chessy celingukan di ruangan itu.


Chessy menatap dan memperhatikan dengan baik isi ruangan suaminya. "Di ruangan ini harusnya ada foto pernikahanku bukan? Ah iya, aku bahkan belum melakukan foto pernikahan dan melakukan resepsi pernikahan. Sepertinya memang harus segera dilakukan." Chessy pun keluar dari ruangan Erkan. Ada beberapa orang yang menatap Chessy sinis karena bisa jadi penampilan Chessy yang sedikit berantakan membuat beberapa orang disana berpikir yang tidak-tidak. Chessy tahu jika mereka belum tahu kalau Chessy adalah istri bos mereka.


Pagi tadi, Chessy terburu-buru untuk pergi ke kantor Erkan hingga melupakan tas dan juga handphonenya, jadi Chessy seperti orang bingung mau menelpon suaminya. Chessy ingin minta resepsionis di kantor itu, tetapi Chessy tidak bisa bahasa Turki. Padahal, jika Chessy bicara bahasa Indonesia juga mereka bisa paham. Akhirnya Chessy putusan untuk pergi ke tempat parkir. Untung saja Pak Romi tidak pulang dan masih setia menunggu Chessy.


"Nona?" Pak Romi sedikit terkejut.


"Kenapa terkejut Pak?" Tanya Chessy yang seraya duduk di belakang kursi mobil.


"Tadi saya pikir Tuan buru-buru naik mobil itu sama Nona, ternyata Nona masih di dalam. Saya hubungi ponsel Nona barusan dan yang jawab Nona Sylia. Saya baru aja mau pulang. Untungnya saya merokok dulu ini tadi."


"Tuan buru-buru naik mobil?"


"Iya, sama Pak Alman."


"Tolong telpon Tuan ya Pak,"

__ADS_1


"Baik Non." Pak Romi pun menelpon Erkan, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Pak Romi juga menelpon nomor Alman tetapi hal yang sama terjadi, tidak ada yang menjawab panggilan itu. Akhirnya Chessy memutuskan untuk pulang karena mengira jika ada bisnis atau hal penting lainnya hingga Erkan melupakan Chessy sendiri.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2