
Sylia langsung mundur beberapa langkah menjauh dari Alzeer tetapi sayang sekali langkah mundurnya juga tidak fokus sehingga membuat Sylia jatuh jika Alzeer tidak menangkapnya. Chessy langsung meraih tubuh Sylia mengganti tangan Alzeer dan menatap sinis Alzeer. "Kenapa anda memegang dia sembarang?" Protes Chessy yang tidak terima Alzeer menyentuh tubuh Sylia.
"Maaf Non, kalau tidak saya tangkap, maka Nona ini akan terkena pecahan kaca," Alzeer melirik pecahan kaca di lantai yang berdekatan dengan kaki Sylia.
"Awas Syl, kenak pecahan gelasnya." Chessy mengajak Sylia untuk mundur menjauh dari pecahan gelas tersebut dan celingukan mencari Surti. "Mbak Surti …." tetapi setelah berteriak pun Surti tak menghampirinya. "Kemana sih Mbak Surti," keluh Chessy sedikit kesal karena Surti tidak ada.
"Sayang … udah, nggak pa-pa. Dia laki-laki yang serba bisa, jadi biarkan saja Alzeer yang bersihin pecahan gelas itu," panggil Erkan membuat Chessy cukup heran.
"Iya Nona. Biar saya saja yang bersihkan pecahan gelas ini, Nona." ucap Alzeer yang berlalu membuat Chessy kembali terkejut. Pasalnya, wajah Alzeer tak menunjukkan kalau dia adalah orang Indonesia, tetapi bahasa Indonesia-nya bagus dan sopan.
"Kamu nggak pa-pa Syl?" Chessy menatap wajah Sylia yang langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa nggak hati-hati sih? Aku khawatir, untung aja nggak pa-pa." Chessy memang terlihat begitu khawatir.
"Maaf, tadi aku agak buru mau masuk kamar dan nggak tahu kalau ada pria yang tadi itu Tapi jangan marahin dia karena dia kan bener nolong aku. Kamu aja yang berlebihan." Jawab Sylia lirih.
"Ya udah kamu masuk aja ke kamar, biar Mbak Surti nanti yang buatin es jeruknya lagi." Kata Chessy.
__ADS_1
"Nggak! Nggak usah. Aku udah nggak mood. Maaf ya buat keributan. Maaf Tuan, jadi mengganggu waktunya." Tolak Sylia seraya menundukkan kepalanya.
"Iya, kamu masuk aja ke kamar. Jangan dipikirkan lagi ya," Sylia pun menurut dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Chessy sendiri masih terus menatap Alzeer yang benar-benar membersihkan pecahan gelas itu dan memasukkannya secara perlahan ke dalam pengki, setelah itu dia sapunya pecahan kecil-kecil yang tersisa.
"Sudah bersih Non, saya permisi dulu." Alzeer terlihat begitu sopan, sayangnya wajah dingin dan cukup menyeramkan membuat Chessy tidak menyukai laki-laki itu, terutama saat tangannya dengan sengaja meraih tubuh Sylia tadi
"Sayang …. Jangan melamun." Panggil Erkan yang masih berdiri bersandar di tangga. "Ayo masuk kamar, jangan liatin dia terus dong," ajak Erkan seraya mengedipkan sebelah matanya. Chessy lagi-lagi harus menurut dan masuk ke dalam kamar bersama suaminya.
Erkan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya menepuk bagian kasur disisinya agar Chessy juga ikut berbaring disana. Chessy melepaskan jilbabnya terlebih dahulu dan menggerai rambut panjangnya dengan penuh pesona. "Sayang … kamu menggodaku?" Kata Erkan dengan senyuman penuh arti.
"Ya ampun … jangan pake jilbab kalau rambutnya masih basah, Sayang ….. Nggak baik loh. Bentar … bentar, Mas ambilin hair dryer dulu." Erkan bangun dari tidurnya dan pergi masuk ke kamar mandi untuk mengambil hair dryer. Setelah itu, Erkan berdiri di depan meja rias Chessy dan menyalakan hair dryer tersebut. "Sini, Mas bantu keringkan rambutnya." Erkan melambaikan tangannya pada Chessy yang masih duduk di tepi ranjang. Chessy sebenarnya begitu senang mendapatkan perlakuan Erkan yang begitu lembut dan manis, tetapi identitas Erkan yang masih menjadi pertanyaan buat Chessy akhirnya menepis rasa itu. Chessy pun duduk di depan cermin dan Erkan langsung membantu mengeringkan rambut istrinya.
Erkan tak melepaskan senyuman saat helai demi helai rambut Chessy diangkat dan sesekali di sisir dengan jarinya. Benar-benar laki-laki yang tampan dan manis. Chessy tak mengalihkan pandangannya bahkan sedetik pun dari Erkan lewat pantulan cermin. "Kenapa nggak berkedip? Mas manis banget ya? Kamu pasti begitu terharu? Pasti sekarang Mas udah jadi suami idaman kamu?" Tanya Erkan yang melirik mata Chessy dari cermin.
"Iya Mas, kamu tampan, baik, manis, romantis, kaya raya juga. Tapi aku belum mengenalmu. Aku ingin mengenalmu, aku ingin tahu apa yang kamu lakukan dibelakangku. Aku ingin tahu apa yang kamu suka dan tidak, aku juga ingin tahu kamu itu orang yang seperti apa dan aku ingin tahu …."
__ADS_1
"Kamu akan tahu pada saatnya nanti. Sekarang, jalani hidupmu yang sekarang. Nikmati dan syukuri semua apa yang telah Allah berikan. Seiring berjalannya waktu, apa yang ingin kamu ketahui, akan kamu ketahui, Sayang …."
"Tapi … aku harus tahu apakah keputusan yang aku lakukan itu tepat atau tidak. Aku juga harus waspada untuk mengantisipasi hal yang sama di kehidupanku yang sekarang."
"Sayang …." Erkan meletakkan hair dryer di atas meja dan kemudian memeluk Chessy dari belakang. Erkan menghirup wanginya rambut Chessy dan kemudian menempelkan pipinya pada pipi Chessy. "Kamu hanya perlu percaya padaku kalau aku akan menjaga dan mencintaimu seumur hidupku. Aku nggak akan pernah yang namanya melirik wanita lain. Aku udah bersumpah di hadapanmu, kurang apa lagi?"
"Bagaimana dengan Nayla?" Tanya Chessy yang langsung membuat Erkan tersenyum.
"Apalagi Nayla. Jika ada wanita tercantik telanjang di depan suamimu ini, sekalipun dia yang paling cantik di dunia ini, aku akan menutup hatiku karena aku mencintaimu."
"Hatinya ditutup, tapi matanya menikmati tubuh wanita lain. Bukan matanya aja, tapi tangannya, mulutnya dan bagian tubuh lainnya. Enak banget cuma hati yang ditutup."
"Haha … bisa aja. Cara cemburumu unik Sayang." Erkan langsung mengangkat tubuh Chessy ala bridal style dan dibaringkan tubuh Chessy di atas tempat tidur. "Demi Allah … demi Rasulullah, aku hanya mencintaimu dan apa pun yang terjadi, aku, Erkan Fuat Demir hanya akan mencintai Chessy Manohara Putri Ginanjar. Apa kamu puas dengan janjiku Sayang?" Erkan menindih tubuh Chessy dan mendekatkan wajahnya. Kini hidung keduanya saling menempel. Chessy tak menjawab. Perkataan Erkan sungguh membiusnya. Chessy hanya terfokus pada kedua mata Erkan. Chessy mencari sesuatu disana, entah apa … tetapi banyak orang bilang jika mata tidak bisa berbohong.
Erkan kembali tersenyum melihat wajah Chessy yang cantik walaupun tanpa make up. Kini Erkan menempelkan bibirnya dan mencoba membuka bibir Chessy dengan lidahnya. Chessy tak menolak, hati nuraninya mengajak Chessy untuk menikmati ciuman itu. "Untuk apa aku melirik wanita lain jika wanita di depanku begitu sempurna," ucap Erkan di sela ciumannya. Akhirnya Erkan dan Chessy pun menyatukan kembali cinta mereka lewat sebuah kenikmatan surga dunia.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...