Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Penjelasan


__ADS_3

Erkan diam sejenak seraya menikmati makanannya. Namun Erkan memang sudah berjanji kalau dia akan menceritakan tentang hal yang dia tahu tentang Sylia. Dimulai dengan tarikan nafas panjang, Erkan pun membuka suara. "Kamu harus tahu Ches, kalau Sylia pakai cara salah buat deketin kamu. Mungkin saja itu juga sebab kamu diberi kesempatan berada di masa sekarang." Erkan kembali diam dan meneguk es jeruknya. "Saat pertama kali ketemu Sylia di sekolah waktu itu, ada aura yang nggak biasa yang aku rasain. Terus, pertemuan keduanya benar, Sylia pakai susuk pengasihan atau bisa dibilang ilmu pelet. Waktu Sylia kesini tadi, ada bayangan hitam yang menguasai tubuh Sylia." Jelas Erkan, tetapi Chessy tidak bisa percaya sepenuhnya.


"Ilmu pelet? Di zaman serba digital ini masih ada yang begituan? Kamu ngaco Mas. Lagian Sylia masa' bisa sampe senekat itu sih pakai hal-hal yang nggak masuk akal itu!" Chessy mengibaskan tangannya karena memang tidak percaya hal tersebut. Kemudian Chessy menikmati kentang gorengnya seraya sesekali menikmati suasana di cafe.


"Di daerah Jawa ini, masih banyak Chessy, orang-orang yang menyimpang dari ajaran agama Islam, padahal dia berkedok Islam. Masih banyak juga di daerah Jawa ini yang jualannya pakai penglaris dengan mengorbankan tumbal sebagai sesajen supaya dagangannya laris dan cepet kaya. Belum kalau dendam dengan seseorang dia mainnya teluh atau santet. Buat jadi wanita paling cantik, dia pakenya susuk atau pelet. Masih banyak Ches, hal seperti itu di lingkungan kita ini. Percaya nggak percaya, tapi kita memang hidup berdampingan dengan jin dan setan. Entah itu perbuatan salah atau benar, kalau manusia itu sudah gelap mata, hal apa pun bisa terjadi walaupun itu di luar nalar. Termasuk kamu yang bisa kembali ke masa lalu untuk merubah nasibmu. Itu juga di luar nalar Ches." Erkan masih dengan sabar menjelaskan pada Chessy.


"Jadi dulu aku bisa begitu nurut sama Sylia karena di jampi-jampi gitu?" Chessy mengingat kembali masa dimana dia selalu mengikuti apa pun maunya Sylia.


"Iya, itu prediksiku. Coba kamu ingat lagi, pernah nggak kamu makan dan minum pemberian dia yang kira-kira kamu curigai dulu."


"Ah iya, dulu Sylia sering banget kasih aku air mineral yang kemasannya nggak ada di warung-warung atau supermarket. Rasanya juga beda, lebih seger. Dulu aku pernah tanya sama dia tapi dia cuma jawab yang penting air itu sehat. Papah sama Mamah juga pernah minum air itu. Oo … jadi dulu aku kenak guna-guna makanya bisa begitu menurut sama Sylia? Pantes Papah sama Mamah juga begitu sayang sama Sylia, sampe biayain kuliah Sylia dan nyukupin semua kebutuhan dia."


"Makanya aku bilang jangan makan atau minum pemberian Sylia. Bahkan kamu juga tau'kan kalau Sylia beberapa kali deket-deket sama aku, itu aku udah curiga kalau Sylia pakai susuk pengasihan. Mbah Uti sering cerita tentang hal mistis seperti itu, dan memang benar, walau nggak bisa dilihat sama mata kita, tapi percaya nggak percaya hal itu masih bisa kita temui Ches."

__ADS_1


Setelah saling bertukar cerita, Chessy mulai paham akan kebodohan yang dulu terjadi ternyata adalah pengaruh hal mistis. Padahal dia pikir Chessy terlalu sayang dengan Sylia yang sudah menyelamatkan hidupnya, bisa saja saat itu juga sengaja Sylia lakukan untuk menarik perhatian Chessy dan keluarganya.


Menu makanan yang tertata di meja sudah habis, dan Chessy meminta untuk langsung pulang. Erkan mengiyakan permintaan Chessy dan mengantarkannya pulang. Kini Chessy sudah benar-benar nyaman dengan Erkan karena selama dalam perjalanan pulang, Chessy dan Erkan terlihat asyik bercerita dan saling tertawa.


Sementara itu, Sylia sedang mengaduk kesakitan di sebuah klinik yang tidak jauh dari cafe tadi. Devan masih harap-harap cemas melihat kondisi Sylia yang tersiram air keras. "Aduh Dok, pelan-pelan. Sakit tau! Bisa nggak sih ngobatinnya?" Sylia terus ngedumel pada Dokter yang menanganinya.


Setelah beberapa saat, wajah Sylia yang terkena air keras sudah terbungkus rapi. Tentu saja rasa sakitnya tidak hilang begitu saja. Sylia masih merasakannya rasa yang begitu panas di wajahnya. "Kak Devan, pokoknya gue harus buat perhitungan sama cowok brengseek itu terutama sama Chessy." Sylia mengepal begitu kuat saking kesalnya dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Gue nggak bisa sabar Kak. Lu bayangin wajah gue nanti kayak apa setelah ini? Dan gue nggak akan bisa sekolah kalau kondisi gue begini Kak? Belum lagi, apa kata Paman nanti yang tahu kondisi gue ini?" Sylia benar-benar sangat ingin segera membalaskan dendamnya.


"Tenang aja, gue bantuin lu kok." Devan menggenggam tangan Sylia agar lebih tenang. Sylia pun memeluk Devan dan kembali berbisik di telinganya. Entah apalagi rencana Sylia, yang jelas Sylia semakin membenci Chessy saat ini.


_____________

__ADS_1


Satu minggu pun berlalu begitu cepat bagi Chessy. Kehidupannya benar-benar berubah total. Papah dan Mamahnya kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, padahal dulu mereka berdua sibuk mengurus Sylia. Chessy juga semakin dekat dengan Erkan. Di sekolah, Chessy juga makin banyak teman karena keramahannya, belum lagi saat Erkan mengantar dan menjemputnya sekolah, Chessy sering dipuji teman-temannya karena begitu beruntung. Benar, Chessy memang sangat beruntung bisa kembali ke masa lalu dan mengubah takdir hidupnya.


Berbeda dengan Chessy, kehidupan selama satu minggu untuk Sylia sangatlah berat. Keadaan yang buruk membuat Pamannya semakin sering memukul Sylia. Bukannya segera sembuh, melainkan tiap hari Sylia harus mendapatkan luka baru di tubuhnya. Sylia yang kesal melarikan diri dari rumah Pamannya. Sebagian wajahnya yang masih terlihat jelas lukanya, membuat aktivitas Sylia terbatas karena tidak mau mendapatkan cemoohan dari orang-orang yang melihatnya.


"Gue harus gimana sekarang …." Sylia menangis meratapi nasibnya yang begitu buruk. Beruntunglah Sylia bisa bertemu dengan Devan dan Devan pun mengajaknya ke sebuah diskotik untuk menghibur diri. Benar, Sylia sangat menikmati alunan musik yang menggema dan minuman yang membuat kepalanya terasa ringan.


"Gimana Syl? Lu suka?" Tanya Devan tentu dengan senyuman yang begitu licik.


"Iya Kak, gue bener-bener terhibur. Thanks banget Kak. Gue nggak tau harus balas kebaikan Kak Devan dengan apa," jawab Sylia seraya meraba pipi Devan.


"Tentu itu hal yang mudah Syl, lu punya tubuh dan goyangan yang begitu memikat. Gue belum lupa saat pertama kali kita melakukan hal enak itu. Bagaimana kalau kita mengulangi hal yang sama Syl? Gue udah nggak kuat," Devan langsung menyambar bibir Sylia. Akhirnya kedua manusia itu melakukan kenikmatan sesaat.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2