
Sylia berjalan terpaksa menuju kamarnya untuk mencari sesuatu yang bisa dijual. Sylia ingat masih ada beberapa tas dan baju yang belum dipakai. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Sylia segera pergi ke tukang loak untuk menjual tas dan baju-baju yang pernah dibelikan Chessy. Tentu baju dan tas itu dibeli bukan dengan harga murah, tetapi karena terpaksa untuk mendapatkan uang, Sylia harus menjual lebih murah.
Beberapa lembar uang merah sudah didapat, Sylia akhirnya pergi ke tempat yang cukup terpencil untuk mendapatkan air yang sudah diberi mantra supaya Chessy dan keluarganya menurut pada Sylia. Di daerah tempat Sylia tinggal, masih banyak sekali warga yang melakukan pesugihan dan mempercayai ilmu pelet. Sylia sendiri tahu tempat itu karena rekomendasi temannya. Biasanya Sylia mendapatkan setengah harga dari satu botol air karena teman Sylia itu sudah sangat langganan disana, sayang sekali teman yang dia maksud sudah mengambil air itu beberapa hari lalu, jadi Sylia harus pergi sendiri.
Dua botol air mineral dengan merk yang tidak sembarang ada di toko sudah dia dapat, Sylia segera pergi ke rumah Chessy. Uang hasil menjual baju dan tas sudah habis, dengan terpaksa Sylia harus berjalan kaki menuju rumah Chessy.
"Ah … gue siall banget sih. Gara-gara lu Ches gue jadi sengsara begini. Coba lu nggak minta Kak Rakha sama Kak Rikho buat cepet-cepet pergi ke Surabaya, pasti salah satunya bisa gue jebak supaya gue nggak hidup menderita begini lagi. Gue emang siall punya keluarga nggak sekaya keluarga lu." Sylia terus menggerutu dengan sesekali mengusap keringatnya di kening, hingga Sylia tiba di depan pintu rumah Chessy.
Rumah terlihat sepi, dan mobil ditempat parkir juga hanya ada mobil yang biasa, mobil Alphard yang hanya dipakai pergi jauh tidak terlihat disana. "Aneh, nggak mungkin Chessy pergi jauh nggak ngajak gue kan?" Batin Sylia yang kemudian mengambil ponselnya di dalam tas untuk menghubungi Chessy. Beberapa kali panggilan tidak terjawab, dan kini Sylia makin kesal karena air itu harus segera diminum sebelum khasiat yang dimaksud hilang. Sylia tidak putus asa dan kembali menghubungi Chessy, bahkan sampai sepuluh panggilan telepon, Chessy tidak mengangkatnya. "Brengseek banget sih lu Ches. Kemana lu pergi nggak ngabarin gue?" Lagi-lagi Sylia hanya bisa mengeluh kesal. Terpaksa Sylia duduk menunggu di taman kecil di depan rumah.
Sementara Chessy dan keluarganya sedang menikmati indahnya pemandangan sunset di pantai. Chessy bukan tidak tahu kalau Sylia menghubunginya, tetapi Chessy sengaja mengajak pergi Papah dan Mamahnya karena Chessy ingat kalau Sylia akan drama meminta uang untuk Della yang akan ulang tahun. Della adalah anak dari paman dan bibi Sylia. Usianya satu tahun lebih muda dari Sylia dan jiwa sosial Della cukup tinggi. Della selalu meminta orang tuanya untuk membuat pesta ulang tahun yang meriah, jadi Chessy memaksa papah dan mamahnya pergi berlibur sampai ulang tahun Della, sekitar dua hari lagi.
"Ches, kamu yakin nggak kasih tahu Sylia kalau kita liburan kesini. Kasian lo Sylia biasanya ikut kemana aja kita pergi." Tanya Bu Dewi pada anaknya.
"Yakin Mah, sekarang itu Sylia lagi sibuk ngurus sepupunya yang mau ulang tahun dua hari lagi. Soalnya tadi Sylia udah cerita di sekolah Mah. Jadi, Mamah nggak usah mikirin Sylia disini. Kita nikmati aja liburan kita." Jawab Chessy dengan santainya seraya menarik nafas menikmati udara yang sejuk di pantai itu.
__ADS_1
Malam pun tiba, ternyata Sylia malah ketiduran di kursi taman dan terbangun dengan sangat terkejut. "Ah siall kenapa gue bisa ketiduran disini." Sylia menghentakkan kakinya beberapa kali kemudian menatap kembali garasi mobil dan masih dengan keadaan yang sama. Anehnya, tidak ada satpam atau art yang menjaga rumah dan gerbang sengaja tidak dikunci. "Sebenarnya kemana mereka pergi sampai nggak ada orang sama sekali disini. Rumah sebesar ini nggak ada yang jaga juga kan aneh?" Sylia akhirnya pergi.
Berjalan kaki sambil menatap dua botol air mineral yang sudah payah dia dapatkan, Sylia jadi mempunyai ide untuk menghubungi Devan. Dia memang tidak sekaya Chessy, tetapi Devan masih bisa jadi pelarian. Akhirnya Sylia mengambil ponselnya untuk menghubungi Devan. Setelah menentukan tempat bertemu, Sylia dengan sabar menunggu Devan datang, dan hanya butuh waktu sepuluh menit Sylia bisa melihat Devan dengan motor ninja-nya.
"Udah lama Syl?" Tanya Devan seraya melepaskan helm dan turun dari motornya menghampiri Sylia.
"Enggak kok Kak. Ini minum dulu Kak, pasti hauskan?" Sylia memberikan satu botol air mineral yang sejak sore tadi dia bawa. Devan meneguk air yang diberikan Sylia.
"Ah … seger banget sih air ini." Ucap Devan menatap botol air itu dan membaca level dari botol tetapi merk botol itu cukup aneh, Devan tidak peduli dan meneguknya kembali. "Ada masalah apa kok tiba-tiba ngajak ketemuan disini?" Tanya Devan setelah rasa dahaganya hilang.
Devan menurut saja apa yang dikatakan Sylia dan duduk bersebelahan dengannya. Devan menatap Sylia dengan tatapan berbeda, artinya air yang dia minum sudah bereaksi. Sylia pun memulai sandiwaranya.
"Kak Devan taun nggak Chessy kemana?" Nada bicara Sylia cukup melow.
"Engga sih, dia nggak bilang apa-apa setelah kita ketemu tadi." Jawab Devan cukup lembut.
__ADS_1
"Jadi gini Kak, Gue lagi ada masalah serius banget." Kini nada Sylia makin sedih.
"Kenapa? Ada masalah apa Syl. Cerita sama gue, pasti gue bantu." Devan terlihat begitu khawatir.
"Gue butuh uang lima juta Kak. Tolong pinjemin Kak. Kalau enggak Paman bakal bunuh gue Kak hiks …." Sylia mengeluarkan air matanya untuk lebih meyakinkan Devan.
"Iya gue bakal bantu lu. Jangan nangis Nel, gue nggak rela liat cewek nangis. Sebentar gue ke ATM dulu buat ambil duitnya. Lu tunggu disini." Devan segera pergi menuju mesin ATM yang tidak jauh dari tempat itu. Sylia menyunggingkan senyuman karena merasa berhasil.
"Untungnya masih ada laki-laki bodoh itu jadi gue bisa selamat dari pukulan Paman nanti." Batin Sylia tertawa puas. Sylia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mendapatkan uang yang diambil Devan di mesin ATM. "Kak … makasi banget ya. Bantuan Kak Devan berarti banget. Uang ini pasti gue balikin Kak, gimana pun caranya, tapi gue mohon jangan buru-buru ya. Tunggu setelah gue dapet kerjaan." Kata Sylia dengan wajah lugu dan manisnya agar Devan makin terbawa suasana.
"Lu santai aja. Asal lu nggak kenapa-kenapa. Lu juga sahabat Chessy yang artinya sahabat gue juga. Jadi gue harus bantu lu kalau lu kesusahan." Devan terlihat begitu cool dan mempesona membuat Sylia mencium sebelah pipi Devan.
"Pokoknya terima kasih banyak Kak. Gue pergi dulu ya karena Paman udah marah-marah ini tadi nelpon gue. Kak Devan, hati-hati dijalan ya," Sylia segera pergi walaupun tahu jika Devan masih membeku karena ciumannya.
#######################
__ADS_1