
Hukum Islam sebenarnya memang cukup berat jika kita melanggarnya. Namun semuanya itu akan jadi mudah jika kita sendiri taat. Rajam itu sendiri adalah hukuman bagi seseorang yang melakukan zina. Rajam atau lebih disebut sebagai dilempari batu sampai mati. Sedangkan pada pelaku yang belum menikah, hukuman zina diganti dengan hukum cambuk sebanyak 100 kali serta diasingkan selama satu tahun lamanya.
"Astaghfirullah, Mas … itu … itu … Sylia dan Devan. Mas … kasian Sylia Mas," Entah kenapa Chessy langsung meneteskan air matanya melihat Sylia yang tanpa menggunakan sehelai benang bersama Devan. Keduanya hanya tertunduk karena pasti malu dilihat banyak orang.
"Iya Pak kita rajam aja anak nggak tau diri ini karena udah ngotorin kampung kita. Mereka kira kita nggak kebagian akibatnya karena perbuatan mereka." Salah seorang warga kembali angkat bicara. Chessy hanya bisa melihat dan mendengarkan keluh kesah para warga yang hadir disana.
"Mas, apa kamu nggak bisa nolong Sylia? Kalau Devan, aku nggak peduli Mas, tapi Sylia Mas, aku kasian banget." Chessy memeluk lengan Erkan seraya menyandarkan kepalanya di bahu dan mengusap air matanya. Hati Chessy tiba-tiba luluh melihat keadaan Sylia yang amat menyedihkan itu.
"Mas nggak bisa Sayang, maaf … mungkin ini balasan untuknya. Ini cara Allah membalas apa yang udah dia perbuat. Belum lagi hukum pezina memang berat Sayang." Erkan mengusap lembut pipi Chessy untuk menenangkan perasaannya. "Kita biarkan mereka yang mengambil tindakan untuk Sylia juga Devan."
"Tapi Mas … lihat dia, bukankah udah cukup buat Sylia begitu malu dan luka memar di tubuhnya itu pasti sakit Mas. Kasian dia. Dan … kalau … dan kalau sampai di rajam … aku, aku … nggak tahu lagi Mas." Lagi-lagi Chessy tak bisa menahan rasa iba yang mendalam untuk Sylia dan masih dengan air mata yang membasahi pipi. Hati nuraninya tentu saja tak bisa berbohong melihat keadaan seorang sahabat yang dulu begitu dia sayang. "Bukannya Islam itu nggak memberatkan hambanya Mas. Sylia pasti mau bertobat setelah ini. Aku yakin Mas, tolong dia …." Chessy masih memohon pada suaminya untuk menolong Sylia.
"Kamu benar, tapi dosa zina itu berat Sayang. Apalagi Sylia juga menyekutukan Allah dengan menggunakan ilmu pengasihan dan pelet. Maaf, Mas nggak bisa bantu apa-apa. Sebaiknya kita pulang saja ya. Mas mohon … biarkan dia." Erkan hendak memapah jalannya Chessy, tetapi Chessy masih menahan lengan Erkan yang dia peluk tadi.
Chessy benar, Islam itu memang tidak memberatkan, tetapi hukuman untuk seorang pezina memang seperti itu. Bahkan Allah tidak mengampuni hamba yang menyekutukan-Nya kecuali dengan taubat nasuha. Bagi Erkan, melihat Sylia di rajam juga bukan suatu kesalahan mengingat perbuatannya memang tidak terampuni.
"Tunggu Mas, aku … aku nggak bisa ninggalin Sylia begitu aja Mas …. Aku mau lihat dia. Kamu bener-bener nggak bisa bicara dengan warga disini Mas. Kamu kan dulu tinggal lama di sekitar sini. Kamu pasti dikenal dan bisa bernegosiasi dengan mereka buat bantu ringanin hukumannya." Chessy masih terus membujuk Erkan. Namun, Erkan hanya menggelengkan kepalanya. "Mas, kasian Sylia Mas …. Aku mohon …." Chessy mendongak menatap Erkan dengan linangan air mata. Erkan pun menghapus air mata itu dan menuntunnya untuk menjauh dari kerumunan.
__ADS_1
"Kita pulang saja ya? Kita serahkan semuanya pada Allah, Dia maha adil. Walaupun Allah menghukum Sylia, tapi Mas yakin Allah juga yang akan menolongnya. Allah tahu apa yg terbaik untuk hamba-Nya, Sayang. Percayalah," Chessy mulai bisa menerima kenyataan dan memang benar, urusan Sylia biar jadi urusan-Nya. Chessy pun menurut untuk diajak pulang.
Dirasa waktu masih belum sore, bukannya pulang Erkan mengajak Chessy ke rumah Nenek dan Kakeknya. Disana juga Erkan berharap Aylin bisa menghibur Chessy karena mereka cukup dekat sejak pertama kali mereka berdua bertemu.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
"Alhamdulillah, Mantuku datang berkunjung. Ujiannya mpun rampung Cah Ayu?" Sapa Nenek Erkan seraya memeluk bergantian cucunya.
"Mpun Mbah Uti. Alhamdulillah baru hari ini selesai." jawab Chessy dengan senyuman. Chessy tentu tak mau terlihat sedih karena perkara Sylia, takutnya juga Erkan yang akan kena omel sang nenek.
"Waa … Kak Chessy …." Aylin yang baru tahu dengan kedatangan Chessy langsung memeluknya. "Ih … baru berkunjung sih, aku kangen tau'. Mentang-mentang udah punya istri lu juga nggak mau jengukin Mbah Uti sama aku." Keluh Aylin seraya memukul bahu Erkan.
"Oke oke ... tapi aku minta kalian harus temenin aku jalan-jalan. Aku bete' banget karena Mbah Uti nggak bolehin aku pergi jauh. Padahal kan, entah kapan lagi aku bisa ke Indonesia." Aylin melirik sinis neneknya.
"Kamu anak perempuan Nduk. Mbah Uti nggak mungkin biarin anak perempuan keluyuran sendiri. Bisa-bisa Mbah Uti dimarahin sama Mamymu nanti." Jawab Mbah Uti.
"Iya Mbah Uti bener. Kalau gitu kita jalan-jalan sekarang aja." Sahut Erkan dan langsung mendapati Aylin yang sumringah dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Chessy pun mengobrol dengan sang nenek. Ada canda tawa disana yang membuat Erkan tersenyum melihat istrinya tak sedih lagi.
__ADS_1
"Jadi rencana kembali ke Turki kapan Er?" pertanyaan sang nenek membuat Erkan sedikit bingung. Erkan memang harus segera kembali ke Turki. Selain untuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan sang baba, Erkan juga harus melanjutkan studi s2 dan juga mengurus studi s1 untuk istrinya. Namun, Erkan masih ragu untuk memboyong Chessy ke Turki. Erkan tentu tahu bagaimana perasaan Chessy yang baru bisa merasakan kehangatan keluarganya, tetapi sudah akan meninggalkan mereka kembali.
"Mungkin minggu depan Mbah." jawab Erkan dengan wajah ragu.
"Kok seperti nggak yakin ngono? Opo ono masalah Cah Ayu?" Sang Nenek menatap Erkan dan Chessy bergantian. "Kalau ono masalah, dibicarakan baik-baik dan diselesaikan seng apik. Perkoro rumah tangga memang nggak gampang Cah Ayu, tapi kalau saling pengertian terus terbuka karo pasangan lain, tabayun misal, insyaAllah … Mbah Uti yakin kalian bisa jadi keluarga seng ayem tentrem koyok Mbah Uti karo Mbah Kakung." Sang Nenek berusaha memberikan wejangan.
"Enggeh Mbah Uti. Mohon doanya nggeh. InsyaAllah Chessy siap jadi istri Mas Erkan dan ikut boyong ke Turki." Jawab Chessy seraya menggenggam tangan sang nenek.
"Wah, aku ketinggalan apa nih kok kayaknya serius banget obrolannya." Tiba-tiba Aylin menyela.
"Anak kecil nggak usah tahu." Jawab Erkan ketus.
"Tuh liat Kak Chessy, suamimu itu emang selalu begitu kalau ngomong sama aku. Kak Chessy nanti harus banyak-banyak sabar ya Kak sama sikap Er. Huh, padahal aku sama Kak Chessy cuma beda setahun doang tapi dianggap anak kecil." Aylin pun membuang muka dan tak mau melihat saudaranya itu.
"Chessy jelas beda." Jawab Erkan lagi.
"Tetep aja umur kami nggak beda jauh. Berarti lu nikahin anak kecil." Sahut Aylin tak mau kalah dan langsung merangkul Chessy. "Udah yuk Kak Chessy, aku males deh berantem sama dia. Bisa-bisa aku darah tinggi kalau bicara sama Er. Mbah Uti Aylin tinggal dulu ya." Aylin segera mengajak Chessy berjalan menuju mobil setelah berpamitan dan mencium tangan neneknya diikuti oleh Erkan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...