Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Bunga Tulip Merah


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore hari, dan Chessy masih terbaring di tempat tidurnya. Cukup lama Chessy terlelap siang itu dan otaknya mengajak Chessy untuk menikmati sebuah kebahagiaan walaupun di dalam mimpi.


Chessy ingin bangun, tetapi matanya masih berat untuk terbuka. Namun, wangi yang begitu menusuk hidungnya membuat Chessy terpaksa membuka matanya. Perlahan Chessy matanya pun terbuka dan melihat sekeliling ruangan kamarnya yang besar dan luas itu. Ada yang berubah, di setiap sudut ruang terdapat pot-pot besar dengan bunga tulip merah disana. Bukan hanya di setiap sudut ruang itu, melainkan di sisi kanan dan kiri tempat tidurnya.


Chessy mengikat rambut panjangnya, mengusap wajah dengan kedua tangannya dan mencari dimana jilbab yang harus dipakai karena Chessy ingin mencari Erkan. Seingat dia, suaminya itu tidur bersamanya. Namun saat bangun, Erkan tidak ada.


Dia belum benar-benar memutuskan untuk pulang atau tetap tinggal. Setelah bangun dari tidurnya dan melihat suasana yang cukup menyenangkan hatinya, Chessy merasa benar-benar lebih tenang. Chessy terlebih dahulu shalat ashar, barulah dia akan mencari suaminya itu.


Selesai Shalat, Chessy mengambil jilbabnya, dia pun keluar kamar. Chessy tersenyum mendapati ada banyak bunga tulip yang menghiasi hampir sepanjang jalan dari kamar menuju tangga. "Apa dia sedang membujukku? Aku nggak akan semudah itu termakan bujukannya," batin Chessy seraya menuruni anak tangga dengan perlahan.


Senyumnya kembali meredup ketika Chessy mengingat hal sebelum dirinya tertidur tadi. Ya, Chessy ingat dengan nama perempuan bernama Nayla. Chessy menepis rasa kagumnya atas hiasan bunga-bunga tulip yang menebar wangi di hidung Chessy. Masih dengan langkah kaki yang santai, Chessy menuruni anak tangga, di ujung tangga Chessy sudah melihat Erkan tengah menerima telepon dari seseorang. Chessy melangkah tanpa suara karena ingin tahu apa yang sedang suaminya bicarakan.


" …. Iya ya … bunga tulip ya udah tersusun rapi. Hm … nggak gue hitunglah itu bener ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan tangkai atau enggak. Sekarang gue harus gimana kalau sampe istri gue belum maafin gue dan tetep mau pulang ke Indonesia?" ucap Erkan dengan nada cukup menekan.


Chessy terkesan mendengar perkataan Erkan. Berapa jumlah bunganya? Chessy pun melihat sekeliling ruangan lainnya, dan benar ada banyak pot-pot dengan bunga tulip merah di beberapa sudut ruangan. "Dia emang sweet. Tapi aku nggak boleh jual murah perasaanku ini hanya karena jumlah bunga-bunga itu. Lagian kenapa harus tulip sih? Kenapa nggak bunga melati atau kembang kantil aja sekalian biar setan-setan pada datang kerumah ini," batin Chessy masih tak bersuara dan masih mendengarkan apa yang akan Erkan bicarakan.


".... Hm, begitu? Ya ya. Hm. Oke. Saran lu bagus. Ya ya, udah nggak usah banyak omong lagi, gue mau ke kamar istri gue. Ya, terserah lu. Proyek satu triliun itu harus lu urus dan lu dapetin, kalau nggak lu gue pecat. Hm … ya udah gue tutup." Erkan memutus sepihak panggilan itu. Setelah memastikan handphone barunya masuk ke dalam saku celana, Erkan terlihat sedang menarik nafas dalam-dalam. "Bismillah. Ya Allah semoga Chessy mau percaya sama hamba." Erkan pun berbalik badan dan sangat syok melihat Chessy ada di depannya sedang melipat kedua tangannya dengan wajah kesal dan tatapan yang sinis. Bahkan, Erkan sampai mundur beberapa langkah. "Sayang … kamu bikin kaget aja. Astaghfirullah," Erkan mengelus-elus dadanya.


"Kenapa kaget? Emang aku setan?" jawab Chessy tanpa merubah posisinya. Erkan segera mendekat dan mencium kening sang istri.


"Maaf, tadi Mas lagi serius banget. Eh tiba-tiba kamu berdiri disini. Gimana? Udah merasa baik? Em kamu suka bunganya nggak?" Erkan tersenyum manis dan menginginkan jawaban yang membuat puas.

__ADS_1


"Nggak. Bunganya jelek. Aku mau makan. Aku lapar." kata Chessy langsung melangkah melewati Erkan.


"Sayang, Mas ambilin ya? Mas suapin juga. Kamu mau makan sama apa?" Erkan berjalan di depan Chessy dengan langkah mundur.


"Nggak usah repot-repot, aku punya tangan. Aku bisa sendiri," jawab Chessy masih dengan nada ketus.


"Sayang … jangan gitu dong. Mas mau melayanimu." Erkan menghentikan langkahnya dan membuat Chessy menabrak dada bidang Erkan.


"Ih, kenapa sih berhenti mendadak. Bikin aku makin kesel aja. Minggir!" Chessy melanjutkan langkahnya, tetapi kembali dihadang Erkan. "Ngapain sih. Minggir … aku lapar." kini Chessy bernada tinggi.


"Sayang, sama suami nggak boleh begitu. Dosa loh." kata Erkan dengan nada lembut.


"Nggak nyadar kamu juga udah buat banyak dosa sama aku Mas? Jadi kita impas." jawab Chessy.


"Udah, nggak usah banyak omong. Aku lapar. Cepat suapi aku." ucap Chessy dan Erkan langsung melepaskan pelukannya.


"Kamu mau makan apa Sayang?" Erkan segera menuntun Chessy untuk duduk di kursi meja makan.


"Mau makan mie instan rasa soto. Kasih telor dan sosis. Kasih sayuran juga. Bawang goreng dan irisan cabe jangan lupa," jawab Chessy masih dengan nada datar.


"Siap. Suamimu ini akan masak mie instan terenak yang pernah kamu makan selama ini. Tunggu disini baik-baik ya." ucap Erkan seraya mencium sebelah pipi Chessy dan segera pergi ke dapur yang hanya bersebelahan dengan Chessy duduk.

__ADS_1


Mie instan pesanan Chessy Manohara siap tidak sampai sepuluh menit. Mencium baunya yang super enak itu membuat Chessy tersenyum lebar dan tidak sabar untuk segera memakan mienya karena cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta.


"Ini dia mie instan pesanan istriku tercinta." Erkan meletakkan semangkuk mie sesuai dengan apa yang Chessy inginkan.


Chessy langsung mengambil garpu dan mengambil mie itu untuk ditiupnya dan dimasukkan ke dalam mulut. "Hm, enak banget." ucap Chessy merasakan rasa mie instan buatan Erkan.


"Nggak jadi disuapin?" tawar Erkan.


"Nggak usah deh, kelamaan." jawab Chessy seraya memasukan lagi satu suap mie instannya. Erkan hanya bisa menatap sang istri makan dengan lahapnya. "Alhamdulillah. Kenyang juga. Kayaknya abis ini makan es krim enak deh," ucap Chessy melirik Erkan agar dia peka untuk membeli Chessy es krim.


"Mau dibeliin Sayang. Kamu suka rasa apa? Rasa mangga? Coklat? Stroberi? Atau rasa apa? Ayo Mas anter beli es krim. Kamu bisa makan sepuasnya yang kamu mau Sayang. Eh jangan banyak-banyak deh, takut sakit perut." Erkan sangat antusias dengan keinginan Chessy.


"Em, kalau gitu kita berangkat sekarang." jawab Chessy tersenyum tipis dan beranjak dari tempat duduknya.


"Kita mau ke mall atau swalayan atau ke pabriknya langsung?" kata Erkan berusaha bercanda.


"Nggak sekalian tuh pabrik es krim di beli juga?" jawab Chessy ketus.


"Kalau kamu maunya itu, nggak masalah. Berapa sih harga pabrik es krim? Biar Mas suruh Alzeer buat beli pabrik es krim disini." jawab Erkan dengan bangganya.


"Ah, iya aku lupa kamu sultan. Jadi mau apa tinggal bilang aja. Udah buruan ah. Nanti keburu nggak pengen lagi." Chessy memutar bola matanya dan melangkah menuju pintu utama.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." belum sampai pintu utama, Chessy dikejutkan dengan sosok tamu tak di undang yang ada di ambang pintu.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2