
Chessy berdiri mematung menatap sosok wanita cantik di depannya itu. Sungguh, Chessy ingin berteriak saat itu dan mengusirnya, tetapi kakinya tiba-tiba kaku. Detak jantungnya serasa berhenti, begitu juga dengan aliran darahnya. Apa yang dia khawatirkan pasti akan terjadi. Masa lalu yang kelam itu akan terulang kembali karena sosok wanita itu. Tentu saja sosok wanita yang dimaksud adalah Nayla. Dia tidak datang sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Chessy tiba-tiba menitikkan air matanya. Lidahnya tidak bisa menjawab salam tersebut.
"Wa'alaikumsalam." jawab Erkan. "Nayla? Pak Naveen, ada apa ini?" Erkan juga ikut terkejut dengan kehadiran Nayla. Erkan merengkuh bahu Chessy untuk menenangkan pikirannya. Sekuat hati, tenaga dan pikiran Chessy kumpulan agar tersadar dari rasa terkejutnya.
"Tentu saja untuk minta kamu menikahi Nayla, untuk apalagi memangnya mereka capek-capek kesini," Chessy akhirnya bisa bicara. Tangisnya pun pecah. Chessy hendak berlari menaiki anak tangga, tetapi panggilan Nayla menahannya.
"Kak Chess …, tunggu. Aku mohon, dengarkan aku dulu. Aku ingin bicara sebentar saja Kak." kata Nayla.
"Kenapa? Apa yang harus aku dengar. Aku sudah pernah mendengar suamiku diminta wanita lain, dan saat itu aku sangat bodoh mengiyakan permintaan itu hingga aku kehilangan …." Chessy menghentikan bicaranya. Tentu tidak mungkin Chessy menceritakan kisahnya yang menikah dengan Devan dan direbut oleh Sylia hingga anaknya meninggal. Hal itu mustahil untuk orang-orang tahu dan percaya akan kenyataannya.
"Sayang …." Erkan khawatir jika Chessy akan pingsan kembali. Namun, panggilan Erkan tak membuat Chessy menoleh padanya. Mata Chessy hanya tertuju pada Nayla.
"Maaf Kak Chessy, aku memang mencintai suamimu Kak, bahkan jauh sebelum kalian menikah. Aku sangat mencintainya hingga aku lupa diri. Cintaku terlalu besar untuk Kak Erkan. Aku merasa, hanya aku yang pantas dan mengerti dia. Aku nggak rela dan nggak bisa terima kalian telah menikah." kata Nayla.
"Ya, dia laki-laki sempurna yang memang siapa aja bisa jatuh cinta, cintai dia sepuasmu dan aku akan meminta cerai darinya. Ambil dia dan hiduplah bahagia. Aku akan pulang ke Indonesia dan nggak akan menginjakkan kaki di negara ini lagi supaya kalian nggak terganggu kehadiranku." Chessy menyeka air matanya, dan akan melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.
"Nayla, apa yang ingin kamu katakan sebenarnya." Erkan benar-benar tidak mau ada kesalahpahaman lagi antara dirinya dan Chessy.
"Kak Chessy, bukan itu maksud Nayla." Chessy masih menahan langkah kakinya, walau sebenarnya langkahnya memang sangat berat. "Nayla kesini mau minta maaf, bukan mau merebut Kak Erkan. Maaf sudah membuat Kak Chessy bertengkar dengan suamimu, Kak." perkataan Nayla membuat Chessy tiba-tiba berhenti meneteskan air matanya. Entah kenapa, kata maaf itu seperti angin segar untuk Chessy. "Aku yang akan pergi dari negara ini Kak. Aku tahu aku salah. Aku salah udah buat hubungan kalian berdua berantakan. Maaf untuk itu, maaf aku tiba-tiba ada ditengah-tengah kalian. Cintaku sungguh membuat hatiku buta, bahkan aku melupakan Tuhanku. Aku benar-benar akan pergi dan nggak akan ngusik hubungan rumah tangga kalian. Tolong maafkan aku dan tolong doakan kebahagiaan untukku juga." Nayla menghampiri Chessy, menangkupkan kedua tangannya seraya meneteskan air mata tanda permintaan maaf yang tulus.
Chessy masih diam. Sorot matanya kini seolah masuk ke dalam sorot mata Nayla. Dia sedang mencari sebuah kebenaran dan ketulusan, dan itu ada. Chessy menemukan apa yang dia cari. Chessy kembali menyeka air matanya.
__ADS_1
"Sayang …." panggilan Erkan membuat Chessy menoleh padanya. Chessy menatap Erkan dan melihatnya menganggukkan kepala. Chessy paham akan isyarat itu.
"Aku nggak tahu aku bisa maafin kamu atau enggak, tapi aku akan berusaha. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari suamiku." jawab Chessy dengan wajah datar.
"Terima kasih Chessy, kami mohon maaf atas ketidaknyamananmu. Kami benar-benar berharap kalian hidup bahagia." ucap Pak Naveen. Chessy hanya mengangguk lalu kembali membuang muka.
"Aku pamit ya Kak Chessy. Semoga kalian bahagia dan segera diberi momongan. Assalamu'alaikum." Nayla balik badan dan tanpa pamit dengan Erkan, langkahnya terus lurus menuju pintu utama. Mana mungkin Nayla bisa berpamitan dengan sosok laki-laki yang begitu penting dihatinya. Namun, Nayla tengah berjanji pada kedua orang tuanya untuk meminta maaf pada Chessy dan akan pergi dari Turki.
"Wa'alaikumsalam." jawab Chessy lirih.
"Nak Erkan, sekali lagi kami minta maaf." ucap Pak Naveen seraya menjabat tangan Erkan. Sedangkan Bu Belle tidak bicara sepatah katapun.
"Semoga Nayla mendapatkan jodoh yang lebih baik dari saya Pak." jawab Erkan membalas jabatan tangan Pak Naveen.
"Wa'alaikumsalam." jawab Erkan diiringi senyuman. Akhirnya mobil keluarga Pak Naveen pun benar-benar pergi. Chessy melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, Erkan yang baru sadar kalau Chessy menaiki anak tangga, dengan segera dirinya menyusul. "Sayang, tunggu. Nggak jadi beli es krim?" tanya Erkan mempercepat langkahnya.
"Udah nggak mood."
"Loh, kok masih nggak mood aja. Kan kesalahpahaman udah terselesaikan. Sekarang kamu tahu kan kalau kekhawatiranmu itu nggak akan terjadi. Aku seutuhnya milikmu, sekarang dan selamanya Sayang."
"Tetep nggak mood."
__ADS_1
"Jangan gitu dong, Mas bingung nih harus gimana lagi. Nayla udah bener-bener pergi Sayang. Tolong jangan cuek begini."
"Iya Nayla satu pergi dan besok akan muncul Nayla lainnya Mas." Chessy kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Chessy menghela nafas panjang karena tidak bisa dipungkiri pikirannya kini merasa lega karena Nayla benar-benar pergi dari kehidupan rumah tangganya.
"Sayang …." Erkan ikut menjatuhkan tubuhnya di sisi Chessy. "Mas harus gimana sekarang, ayo bilang Sayang. Mas akan turutin semua mau kamu." goda Erkan tetapi Chessy tidak menjawab. Matanya kini terpejam. "Sayang, kamu nggak mau tahu jumlah semua bunga ini dan makna dari bunga ini?" Erkan mendekatkan tubuhnya agar semakin menempel pada Chessy.
"Nggak penting." jawab Chessy masih bernada ketus dan memejamkan matanya.
"Sayang, bunga ini melambangkan cinta abadi loh. Bunga ini adalah perwakilan cintaku padamu Sayang. Dipuji kek, atau minimal dapetlah kecupan karena aku udah capek-capek buatin ini semua."
"Yakin kamu menyusun semua ini sendiri Mas?"
"Hehe, enggak sih. Para asisten rumah tangga yang nyusun. Aku cuma …."
"Emuah. Udah nggak usah bawel." Erkan terkejut karena Chessy benar-benar menciumnya.
"Sayang, sebelahnya belum loh." Erkan menyodorkan sebelah pipinya yang belum Chessy cium.
"Emuah." Chessy benar-benar mencium sebelah pipi Erkan dan itu membuat Erkan senang. Erkan langsung memeluk tubuh Chessy seraya menciumi kening dan juga pipinya.
"Terima kasih Sayang, terima kasih kamu mau kasih aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Aku berjanji dan bersumpah hanya akan setia padamu, apa pun yang terjadi." Chessy tersenyum. Mana mungkin hatinya tidak tersentuh oleh kata-kata Erkan. Walaupun rasa takut itu masih ada, tetapi memang tidak ada salahnya untuk percaya dan menjalani hubungan rumah tangga yang harmonis bersama Erkan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...