Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Tumor Otak


__ADS_3

Malam kian larut dan Chessy terbangun karena tubuh Erkan yang terus menerus bergerak mencari sebuah kehangatan pada dirinya. Chessy sebenarnya merasa kasihan pada suaminya itu karena belum bisa memberikan apa yang menjadi haknya. "Kamu benar Mas. Aku hanya punya satu kesempatan untuk bahagia di kehidupanku yang sekarang. Sylia sedang berusaha bertaubat, tapi bisa juga dia akan menghancurkan kebahagiaan yang aku punya saat ini. Tapi Mas, dia juga berhak bahagia. Aku tahu dia selama ini hanya mencari kebahagiaan dan nekad melakukan hal-hal yang nggak cukup masuk akal," gundam Chessy seraya mengusap pipi sang suami dan membuatnya membuka mata. Chessy cukup terkejut karena takut jika apa yang barusan dia katakan itu di dengarnya. Namun Erkan malah senyuman manis, bukan sebuah protes.


"Kamu bangun duluan, Sayang?"


"Kamu yang bangunin aku dengan cara nempel-nempel begini,"


"Cari kehangatan, masa' nggak boleh?"


"Maaf ya Mas aku belum bisa jadi istri yang seutuhnya buat kamu, tapi aku janji saat di Turki …."


"Jangan janji, tapi ucap insyaAllah dulu …."


"Iya, maksudnya …."


"Udah nggak pa-pa. Mas ngerti kok. Kita sholat malam?"


"Iya Mas. Makasih ya udah begitu pengertian sama aku." Chessy memeluk Erkan dan tak sengaja kakinya menyentuh sebuah benda keras di bawah sana. "Hah?" Sontak Chessy langsung melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Erkan.


"Haha … wajar dong Sayang kalau dia mengeras di cuaca yang dingin begini, karena dia butuh kehangatan."


"Ih, geli Mas … udah jang bahas itu."


"Kamu yang …."

__ADS_1


"Udah, aku mau wudhu duluan."


Chessy segera beranjak dari tempat tidurnya untuk pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Keduanya pun melakukan sholat malam berjamaah dan mengaji seperti biasanya.


____________________


Pagi itu, Chessy dan Aylin sudah selesai membuat menu sarapan. Chessy memanggil Kakek juga Neneknya kemudian memanggil Sylia yang masih duduk melmun di kamar. "Ayo sarapan dulu Syl, semuanya udah siap." Ajak Chessy seraya membantu Sylia berdiri.


"Kamu yang masak Ches?" Tanya Sylia.


"Iya, semuanya masakanku. Kamu pasti suka. Kamu harus makan yang banyak, karena melamun juga butuh tenaga." Ucap Chessy diiringi senyuman. Sylia hanya bisa membalas senyum itu tanpa banyak bertanya lagi.


Semua keluarga telah berkumpul di sebuah tikar dengan posisi duduk melingkar. Di rumah Neneknya tidak ada kursi dan meja makan, jadi hanya bisa lesehan jika ingin makan bersama. Canda tawa menghiasi suasana pagi itu. Sylia yang merasa orang asing hanya bisa ikut tersenyum sambil menikmati menu sarapannya.


Setelah sarapan bersama selesai, Chessy dan Aylin kembali bekerja sama untuk merapikan piring dan perabotan yang kotor. Sylia ingin membantu, tetapi dilarang oleh Chessy karena keadaan Sylia belum memungkinkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Sylia pun hanya bisa duduk diam melihat Chessy dan Aylin sibuk dengan pekerjaan mereka.


Sebenarnya Erkan sejak tadi memperhatikan gerak gerik Sylia dan tahu juga bahwa Sylia saat ini sedang pingsan. Erkan tentu saja tak percaya begitu saja apa yang dituturkan istrinya itu kalau Sylia akan berubah. Erkan membiarkan Sylia tergeletak beberapa saat di lantai, hanya untuk memastikan kalau Sylia benar-benar sakit atau sedang berakting. Sayangnya, sebelum Erkan memastikan apa yang dia pikirkan, Chessy sudah tiba dan begitu terkejut melihat Sylia yang tergeletak di lantai. Chessy pun berteriak memanggil Erkan dan membawa Sylia ke rumah sakit.


Chessy dan Erkan sudah menunggu Dokter yang menangani Sylia hampir dua jam lamanya. Entah kenapa begitu lama, tetapi Erkan sungguh tak mau membuang waktu demi wanita yang telah menyakiti istrinya. "Sayang, kita pulang aja yuk! Sylia kan punya keluarga, kita beritahu saja keluarganya dan kita pergi dari sini." Kata Erkan membujuk istrinya.


"Nggak bisa Mas, itu nggak mungkin. Paman Sylia itu hanya menganggap Sylia itu benalu dan sebuah mesin uang. Sylia selalu mendapatkan perlakuan jahat dari Pamannya. Jadi nggak mungkin aku beritahu masalah ini pada keluarga Sylia." Terlihat jelas jika Chessy sangat khawatir dengan keadaan Sylia. Namun, apa yang dikatakan Chessy memang benar perihal sang paman Sylia yang hanya menganggap Sylia itu benalu dan mesin uang. Padahal, adanya sang paman juga atas harta peninggalan orang tua Sylia.


Sudah hampir tiga jam, dan akhirnya seorang perawat menghampiri Erkan dan Chessy karena dicari oleh Dokter yang menangani Sylia. Chessy dan Erkan mengekor pada perawat tersebut untuk keruangan sang Dokter.

__ADS_1


"Apa Dok? Tumor ganas? Di otak?" Chessy sangat syok dengan apa yang telah dijelaskan oleh sang dokter.


"Benar. Kondisi pasien cukup mengkhawatirkan saat ini. Hanya keajaiban dan dukungan dari keluarga yang akan membuat pasien bertahan dengan waktu yang lama."


"Apa tidak bisa dengan jalan operasi Dok?"


"Tidak bisa Bu, operasinya bisa dilakukan, tapi kemungkinan untuk sembuh juga hanya kurang dari lima persen saja. Tumor ini ganas, bukan lagi tumor jinak."


"Jadi, Sylia hanya punya sedikit waktu untuk menikmati hidupnya Dok?"


"Itu tergantung pada kondisi psikis juga kondisi batinnya. Kami sarankan untuk selalu membuat pasien bahagia dan jangan biarkan pasien mengalami tekanan batin. Sebenarnya pasien bisa sembuh dan jalan operasi bisa dilakukan saat tumor itu masih jinak. Kemungkinan untuk sembuh juga sangat besar, tapi sepertinya pasien mengabaikan rasa sakitnya selama ini."


Penjelasan sang dokter membuat Chessy makin merasa iba pada Sylia. Kini Chessy makin bingung harus berbuat apa untuk menolong sahabatnya itu. Padahal tadinya Chessy mau minta tolong pada keluarganya untuk memberikan Sylia tempat tinggal, tetapi bukan di Jember karena akan banyak orang yang mengenalinya. Namun, keadaannya sekarang telah berubah, Chessy tidak mungkin bisa meninggalkan Sylia tinggal sendirian saat ini.


Chessy menggenggam tangan Sylia yang masih terbaring lemas dan wajah yang pucat. Chessy benar-benar kasihan dengan takdir Sylia. Rasa dendam Chessy di masa sebelum benar-benar sudah hilang karena rasa sayangnya pada Sylia. Bahkan Chessy telah melupakan apa yang sudah dilakukan Sylia padanya.


Sylia perlahan membuka matanya, dan tersenyum pada Chessy yang terlihat begitu sedih. Bibirnya sedikit kering karena kekurangan cairan. Sylia berusaha untuk membuka mulutnya. "Aku sakit apa Ches?" Tanya Sylia dengan suara yang berat.


"Kamu cuma sakit biasa aja. Katanya kamu harus banyak makan-makanan yang sehat dan minum air putih yang banyak," jawab Chessy berbohong.


"Kamu bohong Ches, aku bukan sakit biasa. Aku punya penyakit tumor otak Ches." Ucapan Sylia membuat Chessy makin terkejut.


"Kamu tahu kalau kamu …." Suara Chessy tertahan.

__ADS_1


"Iya Ches, aku tahu saat sebelum aku kenal sama kamu." Sylia tersenyum. "Maafin aku Ches. Aku benar-benar iri denganmu yang begitu bahagia. Aku mencari kebahagiaanku dengan cara merebutnya darimu, tapi semua itu nggak berhasil. Tuhan menghukumku jauh lebih buruk. Pasti keadaanku sekarang makin parah'kan Ches? Apa kata Dokter Ches? Apa umurku nggak akan lama lagi katanya?" Chessy menggelengkan kepalanya dan kemudian meneteskan air matanya. "Kamu nggak seharusnya sedih Ches karena aku sebentar lagi akan pergi jauh. Jika saat itu tiba, tolong jangan maafkan semua kesalahanku. Aku pantas mendapatkan hukum ini." Sylia menghapus air mata Chessy. "Seberapa banyak kata maaf yang aku ucapkan, itu nggak akan bisa menebus kesalahanku. Kamu harus bahagia ya Ches saat aku nggak ada. Jangan pernah menyesali apa pun saat kepergian ku nanti,"


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2