
Lima hari sudah sejak malam dimana Sylia telah dilamar oleh Alman, Sylia nyaris tidak bisa tidur bahkan sekedar membaca novel-novelnya. Sylia benar-benar fokus meminta jawaban pada sang pencipta. Hari ini Sylia bertekad untuk memberikan jawaban pasti pada Alman jika dia akan menerima lamarannya.
Pagi-pagi sekali setelah melakukan aktivitasnya membatu Surti juga Mbok Gani, setelah itu Sylia pergi menemui Chessy untuk meminta pendapat. Tentu Sylia pergi menemui Chessy setelah Erkan berangkat ke kantor. "Kamu yakin mau mengundang Kak Alman dan memberikan jawabanmu?" Chessy kembali mengulang apa yang Sylia bicarakan.
"Sebenarnya aku masih ragu Ches, tapi gimana ya, aku mimpi diberi sesuatu oleh Kak Alman. Cuma aku nggak inget itu apa. Aku rasa mimpi itu jawaban dari doaku tiga hari ini." Sylia terlihat memainkan jari jemarinya karena masih mempunyai keraguan untuk mengambil sebuah keputusan besar.
"Aku yakin Syl, kalau Kak Alman ini benar-benar tulus mencintaimu. Buktinya nggak ada sedikitpun raut wajah jijik, terkejut atau apalah sejenis saat kamu buka cadar kamu."
"Apa kamu seyakin itu Ches?"
"Aku melihatnya saat itu Syl. Aku tahu raut wajahnya yang begitu teduh. Bukannya kamu juga udah baca cv Kak Alman. Dia juga pernah berzina dan menjadi seorang pemabuk dulu. Setiap orang punya masa lalu, jadi kamu jangan terlalu takut dengan masa lalumu. Fokuslah pada masa depanmu. Kamu berhak dicintai juga."
"Aku takut …. Aku masih merasa nggak pantas mendapatkan sebuah kebahagiaan."
"Kamu bicara apa sih, kamu pantas kok. Kamu udah jadi pribadi yang lebih baik sekarang. Aku mendukungmu sepenuhnya untuk menerima lamaran Kak Alman."
"Apa aku masih boleh tinggal disini setelah menikah dengannya."
"Loh, aku bukan orang tuamu Sylia, haha … kamu ya harus ikut kemana suamimu pergi."
"Aku masih punya banyak hutang padamu Ches, juga pada suamimu. Aku masih merasa harus melayanimu."
"Haha, Sylia … kamu nggak perlu lakuin itu. Aku sudah sangat senang dengan segala perubahanmu ini. Berbahagialah Sylia. Cari kebahagiaanmu."
"Aku sayang kamu Chessy"
Sylia langsung memeluk Chessy seraya menangis terharu. Chessy hanya mengelus lembut punggung Sylia agar Sylia merasakan juga rasa sayangnya.
___________
Chessy sudah menghubungi suaminya untuk menyampaikan salam pada Alman agar malam nanti bisa datang ke rumah karena Sylia akan memberikan jawabannya. Kabar itu tentu disambut sorak gembira oleh Alman pribadi.
Chessy menyiapkan makan malam dibantu oleh Sylia serta Surti dan Mbok Gani. Semua makanan itu adalah makanan khas Indonesia. Tentu Sylia banyak bertanya juga banyak belajar dari Chessy agar saat setelah menikah nanti dia juga bisa masak enak seperti Chessy untuk suaminya.
"Kamu bisa masak begini dari mana sih Ches? Kok semua yang kamu lakukan kayak udah ahli banget, kayak koki sungguhan," kata Sylia memuji terus menerus apa yang Chessy lakukan.
"Mungkin aja takdir." jawab Chessy seraya tersenyum manis.
"Tapi semuanya yang kamu lakukan bener-bener kayak koki Ches, sat set sat set gitu," lagi-lagi Sylia tak bosan menyanjung keahlian Chessy. Bagaimana Chessy tidak ahli dalam memasak, saat bersama Devan, Chessy dituntut untuk bisa melakukan apa pun yang seharusnya dilakukan oleh ibu rumah tangga. Sambil mengurus Dhara, Chessy selalu belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan saat bersamaan kedua orang tuanya.
"Iya bener banget Mbak Sylia. Surti juga nggak meragukan keahlian Nyonya Chessy," sahut Surti yang ikut menyanjung Chessy
__ADS_1
"Sudah, jangan dibahas lagi. Sebentar lagi magrib, ayo cepet selesaikan semuanya." ujar Chessy karena memang harus bergegas menyelesaikan semua masakannya sebelum petang.
Setelah semuanya siap, Chessy bergegas membersihkan diri karena sebentar lagi sang suami akan datang. Chessy juga menghubungi Paman juga Bibinya untuk makan malam bersama karena mereka memang belum pernah makan bersama. Gara-gara kejadian Nayla saat itu, Chessy jadi tidak ada waktu untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga Erkan .
"Sayang, hmm udah wangi nih." Erkan langsung memeluk Chessy saat tiba dikamarnya.
"Hm kamu bau, cepet mandi sana. Udah mau adzan magrib," ucap Chessy seraya melepaskan pelukannya manja sang suami.
"Siap ratuku." Erkan segera melepaskan baju-bajunya di hadapan Chessy
"Hei, nggak sopan amat ya?" sentak Chessy saat Erkan akan melepaskan satu-satunya kain yang menutupi bagian bawah Erkan .
"Kenapa sih? Kan nggak apa-apa dilihat sama istri sendiri. Ya sukur-sukur mau nyuntik imun dulu biar rasa lelah suamimu ini hilang seketika." protes Erkan dengan raut wajah memelas.
"Ya nggak gini juga kali. Udah buruan sana masuk kamar mandi." Chessy pun mendorong tubuh suaminya menuju kamar mandi dan segera menutup pintunya.
"Astaghfirullah, suamiku benar-benar gila." gerutu Chessy seraya menggelengkan kepalanya.
_____________
Erkan dan Chessy masih menyempatkan diri untuk mengaji bersama setelah shalat magrib berjamaah. Kebiasaan itu memang Erkan terapkan sejak mereka menjadi pengantin baru. Chessy sendiri banyak kemajuan dalam membaca Al Qur'an membuat Erkan semakin menyayangi sang istri karena ibadahnya yang banyak peningkatan.
"A'udzubillahi Minas syaitonirrajim. Bis …."
"Loh, kenapa Mas?"
"Sayang, surah At-taubah itu haram hukumnya membaca basmallah. Ini baca ayat yang disisi yang kecil ini."
"Loh, kenapa haram Mas? Masak baca bismillah haram. Aku baru tahu kalau ada yang begini."
"Iya, bukan bacaan basmallahnya yang haram, tapi di awal ayat memang dilarang membaca basmallah karena surah ini menceritakan tentang orang-orang yang munafik, orang-orang yang jauh dari rahmat Allah sehingga orang-orang tersebut nggak boleh dimuliakan dengan lafadz-Nya. Kalau dibacakan basmalah, maka dikhawatirkan akan merubah sejarah turunnya ayat ini."
"Oo gitu. Maaf aku nggak tahu Mas."
"Iya nggak pa-pa, sekarang tahukan? Cuma satu surah ini yang nggak di awali dengan tulisan basmalah. Ayo baca ayat yang kecil-kecil itu dan langsung sambung ke surahnya."
"Iya Mas."
Keduanya pun kembali membaca Al Qur'an hingga mendapatkan dua lembar bacaan. Setelah itu Chessy dan Erkan bersiap untuk acara makan malam.
Sylia sudah menunggu Chessy di ruang makan. Sylia juga sudah selesai menyiapkan piring-piring di meja makan. Raut wajah Sylia terlihat bahagia walaupun wajah itu tertutup oleh cadar.
__ADS_1
"Duh, seneng banget ya yang mau terima lamaran." ejek Chessy menyenggol bahu Sylia.
"Apa sih," Sylia terlihat malu-malu.
"Iya loh keliatan banget kalau kamu tuh semangat mau menyambut calon suami ehem." Chessy masih saja meledek Sylia.
"Iya iya, aku emang seneng. Dasar bawel," jawab Sylia yang kemudian kembali ke dapur untuk mengambil sendok yang akan diletakkan di sisi piring.
"Kak Sylia …." Teriak Aylin membuat Sylia makin bahagia. Aylin langsung memeluk Sylia dengan begitu antusias. "Ih … aku seneng banget deh Kak Sylia mau menikah sama Kak Alman. Dia tuh super baik loh. Jadi Kak Sylia cocok banget sama Kak Alman." Aylin benar-benar terlihat bahagia mendengar kabar akan Sylia yang akan dipinang oleh Alman.
"Iya, makasih ya," ucap Sylia membalas pelukan Aylin.
"Eh, aku penasaran nih wajah Kak Sylia yang nanti ketemu Kak Alman gimana, ugh … pasti merah kayak udang rebus deh haha, boleh buka cadar nggak nanti hee …." Aylin ikut-ikutan meledek Sylia.
"Kamu jangan ikut-ikutan Chessy. Dari tadi Chessy juga godain aku. Sekarang aku merasa pipiku bener-bener kayak udang rebus deh." jawab Sylia seraya mencubit pipi Aylin.
"Eh, Kak Alman belum dateng ya? Ih … gimana sih kok belum dateng, padahal aku udah nggak sabar lihat wajahnya yang pasti malu-malu tapi mau." Aylin mencolek pinggang Sylia yang sontak membuat Sylia meloncat dan mundur satu langkah dari Aylin.
"Ih, jail banget sih kamu." protes Sylia tak membuat Aylin berhenti menggodanya.
"Udah-udah, ayo sini duduk. Kita tunggu sang pangeran datang. Paman, Bibi ayo duduk sini." Chessy menghampiri Paman Ahmed juga Bibi Lunara untuk bersalaman. "Bibi, maaf ya, Chessy belum sempat meluangkan waktu Chessy bersama Bibi sama Aylin." Chessy memeluk sang bibi dan mengajaknya untuk duduk di ruang makan.
"Iya, Bibi mengerti kok. Tenang aja. Bibi bukan orang pendendam loh," goda sang Bibi seraya mencolek pipi Chessy
"Ini semua masakan Chessy Lo Bi. Hm Bibi pasti ketagihan sekali makan masakan Chessy," ucap Sylia.
"Wah, sepertinya enak banget ini." jawab Bibi Lunara menatap semua menu makanan di meja makan.
"Assalamu'alaikum." Ditengah canda tawa mereka, Alman tiba bersama dengan Alzeer. Alman sendiri adalah seorang yatim piatu yang diasuh oleh Pak Naveen. Sejak Nayla pergi, Pak Naveen cukup sibuk dengan anak perempuannya, jadi Pak Naveen tidak bisa melamarkan Sylia untuk Alman.
Semua orang serentak menjawab salam dari Alman. Erkan langsung menyambut hangat Alman dan memeluknya seraya menepuk keras punggung Alman. "Selamat ya, sekarang lu udah mau punya jodoh." bisik Erkan meledek Alman.
Entah kenapa saat melihat Alman datang, pandangan Sylia menjadi sedikit kabur. Kepalanya juga sakit dan Sylia merasakan sesuatu yang aneh menjalar di tubuhnya. "Astaghfirullah. Aku kenapa?" batin Sylia masih kuat untuk berdiri walaupun pandangannya tertunduk. "Lin …." Sylia memanggil nama Aylin dan berpegangan tangan dengan Aylin. Seketika Aylin langsung menoleh pada Sylia dan Aylin malah merasa jika Sylia sedang merasakan debaran jantung yang begitu cepat.
"Cie, pangeran dateng jantungnya pasti deg-degan nih," goda Aylin. Namun detik demi detik Sylia tidak bisa menahan rasa sakitnya dan Sylia pun pingsan.
"Kak Sylia …."
"Sylia …."
"Dek Sylia …."
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...