Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Chessy Marah


__ADS_3

Kepergian Nayla membuat Erkan dan Alman menggelengkan kepalanya beberapa. "Astaghfirullah …." Ucap Alman seraya mengelus dadanya. "Gue ngikutin dia sejak lu pulang, Er. Gue khawatir dia berbuat yang enggak-enggak sama lu dan istri lu. Saat kita bertemu di Cappadocia itu, dia juga ada disana. Dia ngikutin kalian." Kata Alman lalu menundukkan kepalanya. "Dia masukin sesuatu tadi di makanan yang dia bawa. Gue … gue harus gimana Er?" Alman masih tertunduk.


Erkan pun menghampiri dan merangkulnya. Erkan tahu kenapa Alman begitu. "Lu harus kuat, lu pasti bisa meluluhkan hati Nayla." Ucap Erkan berusaha menenangkan hati Alman.


"Nggak mungkin. Nggak semudah itu Er. Dia sukanya sama lu, bukan sama gue. Lu tahu itu bahkan sejak dua tahun terakhir ini gue udah berusaha keras supaya dia mau sama gue. Gue emang belum cinta sama dia, tapi … tapi gue nggak mungkin bilang enggak sama Papinya." Alman kini menitikkan air mata.


"Gue ngerti maksud lu, gue ngerti. Lu harus sabar dan lu nggak boleh nyerah gitu aja. Terus minta sama Allah yang terbaik. Selama ini lu bisa keluar dari semua masalah lu, kali ini gue yakin Allah lagi rencanain hal yang baik juga buat lu." Erkan pun memeluk Alman dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Thanks Er. Gue pulang dulu. Gue nggak boleh kehilangan jejak dia." Alman melepaskan pelukannya dan segera pergi menyusul Nayla. Baru Alman turun dari tangga, sorot matanya langsung tertuju pada Sylia yang sedang melantunkan sholawat di sisi pintu kamarnya seraya menatap ponselnya. "Siapa wanita bercadar itu?" batin Alman memperlambat langkahnya dan berjalan dengan pelan supaya dia bisa lebih lama mendengarkan sholawat yang dilantunkan oleh Sylia.


Sylia mulai melangkahkan kakinya dan masih berfokus pada ponselnya. Terlihat matanya menyipit tanda Sylia sedang tersenyum. Sylia benar-benar tidak menyadari sama sekali kalau Alman ada disana, hingga akhirnya Sylia menabrak dada Alman dan menjatuhkan ponselnya. "Astaghfirullah …." Sylia berjongkok hendak mengambil ponselnya, begitu juga dengan Alman. Kedua tangan merek hampir saja bersentuhan. Sylia segera menarik tangannya karena sadar jika ada tangan yang lain yang akan mengambil ponselnya.


"Maaf. Apa aku mengejutkanmu?" tanya Alman. Keduanya sempat saling beradu pandang dan Sylia segera bangun untuk berdiri kembali. Alman memberikan ponsel Sylia seraya tersenyum. "Maaf sekali lagi. Ini ponselnya, semoga nggak kenapa. Em, kalau kenapa-kenapa kita bisa beli. Aku ganti yang baru." Sylia segera mengambil ponselnya.


"Nggak perlu. Terima kasih, aku permisi dulu." Sylia segera kembali ke kamarnya tanpa menatap Alman yang sejak tadi tersenyum manis pada Sylia.


"MasyaAllah … apa dia jodohku sesungguhnya?" batin Alman dan segera pergi untuk mengejar Nayla.


...******...


Erkan melihat Chessy sedang duduk santai menyisir rambutnya di depan cermin. Tatapannya kosong sampai Chessy tidak menyadari jika Erkan telah masuk. Erkan mendekati Chessy dengan langkah perlahan dan merasa sangat bersalah karena kejadian tadi. "Sayang …." Chessy terkejut sampai menjatuhkan sisirnya. "Ngelamun?" Chessy membalasnya dengan senyuman. "Maaf ya, aku nggak tahu kalau Nayla akan senekat itu. Sayang … aku janji …."

__ADS_1


"Nggak perlu Mas, kamu nggak perlu berucap janji dan sumpah lagi karena bisa saja kamu khilaf dan berkhianat juga seperti Devan," Chessy beranjak dari tempat duduknya dan berbaring di tempat tidur.


"Sayang … jangan samakan aku dengan Devan. Aku nggak akan pernah mengkhianatimu. Cintaku sungguh tulus. Kamu cinta pertama dan terakhirku. Kamu istri pertama dan terakhirku. Nggak akan ada pengkhianatan lagi dalam hidupmu Sayang," Erkan segera memeluk Chessy dan meletakan kepalanya di lengan Erkan. Perlahan dan penuh kelembutan, Erkan membelai rambut Chessy yang terurai. "Aku janji, apa pun yang terjadi, aku nggak akan pernah mengkhianatimu. Aku hanya akan mencintaimu seorang, Sayang. Aku sudah bersumpah dan berjanji, maka akan aku tepati." Kini Erkan memeluk Chessy, tetapi dengan cepat Chessy mendorong tubuh Erkan. Chessy pun duduk dengan memeluk bantal.


"Mas, apa kamu nggak lihat bagaimana Nayla berakting tadi? Apa kamu nggak pernah liat sinetron ikan terbang? Lihat Nayla begitu terobsesi padamu. Aku juga dengar kalau dia memasukan sesuatu ke makanan yang dia bawa tadi."


"Iya Sayang …."


"Cukup Mas. Aku yakin Mas, sebentar lagi ayahnya Nayla akan kesini dan memohon sama kamu untuk menjadikan Nayla istri kedua. Dia akan bilang kalau selama ini Nayla nggak pernah minta apa-apa dan kali ini dia cuma minta kamu jadi suaminya. Lihat dan tunggu saja Mas, itu pasti akan terjadi seperti film ikan terbang itu." Chessy membuang muka.


"Haha … kamu lucu banget sih. Kamu terlalu banyak nonton sinetron Sayang. Apa yang kamu pikirkan itu nggak akan pernah terjadi karena Nayla udah di jodohin sama Alman. Ayahnya Nayla nggak suka sama Mas, Sayang. Haha …." Erkan tak berhenti tertawa, sedangkan Chessy kini menatap sinis suaminya itu. "Udah ya udah, kamu jangan mikir aneh-aneh. Serius ini, apa yang barusan kamu pikirkan, nggak akan pernah terjadi." Erkan merangkul bahu Chessy kemudian mencium lembut keningnya.


"Kalau nggak percaya ya udah." Erkan pun meninggalkan Chessy dan masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena waktu magrib sudah tiba.


Malam itu Chessy lalui hanya dengan wajah yang bersedih. Chessy menghabiskan banyak waktu dengan Sylia di depan televisi. "Kamu serius Ches?" Sylia sendiri tak habis pikir dengan apa yang diceritakan Chessy.


"Iya Syl, kamu setuju dan sependapat sama aku'kan?" Chessy mencari sebuah pembela dari Sylia.


"Aku baru aja baca novel yang mirip banget ceritanya sama yang kamu ceritain. Aku baca novel itu di Noveltoon Ches, dan ini tadi tuh kisahnya nyesek banget tau. Ya Allah, jangan sampe apa yang baru aja kamu ceritain itu terjadi."


"Kamu baca novel? Sejak kapan?"

__ADS_1


"Sejak punya ponsel baru dari Papah. Soalnya iklannya muncul terus dan aku penasaran. Akhirnya aku download deh."


"Terus gimana kelanjutan cerita yang kamu ceritain itu? Mereka menikah?"


"Ya iyalah … mereka menikah karena si laki-laki nggak bisa berkutik. Ayahnya si pelakor itu berkuasa, jadi dengan terpaksa laki-laki itu nikahin si cewek pelakor, kalau nggak dia juga bakal bunuh diri."


"Kenapa tu penulis bikin cerita kayak gitu sih. Apa nggak kasihan sama istri pertamanya."


"Bukan gitu Chessy … istrinya belum hamil juga, dan lagi ayah si laki-laki itu me desak buat cepet kasih keturunan, jadi mau nggak mau si istri sah ya ngalah dong."


"Tapi aku belum lama nikah sama Mas Erkan, masak mau desak aku buat cepet hamil, malam pertama aja baru beberapa hari yang lalu. Pasti penulis novel yang kamu baca itu mengalami hal serupa. Terus … terus akhirnya gimana?"


"Aku belum selesai baca, hehe …. Jangan salahin penulisnyalah. Dia kan bikin novel buat menghibur juga."


"Huh … ya ya maaf. Tapi ceritamu gantung. Nggak asik." Kedua wanita itu benar-benar menikmati cerita mereka masing-masing hingga lupa waktu. Sylia menyadari bahwa waktu sudah hampir tengah malam. Sylia meminta Chessy untuk segera naik ke kamarnya, tetapi Chessy malah minta untuk tidur bersama Sylia.


"Nggak mau ah, kasian suamimu dianggurin Ches."


"Biarin aja biar tahu rasa dia. Ngakunya aja sekarang cinta mati sama aku, tapi liat aja besok kalau kisahku bakal sama kayak novel yang kamu baca itu. Tu ayah si Nayla bakal ngemis-ngemis kesini. Udah ah, aku mau tidur sama kamu aja." Chessy segera menarik tangan Sylia untuk segera masuk ke dalam kamar Sylia. Malam itu, Chessy benar-benar tidur berdua dengan Sylia dan akan melewati kebiasaan yang selalu dia lakukan dengan Erkan di sepertiga malam.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2