Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Rujak untuk Erkan


__ADS_3

"Non, ini tespeknya." Surti memberikan dua buah tespek pada Chessy dan langsung dia buka.


"Makasih ya Mbak. Syl, kamu bisa pakek nggak?"


"Ini kan pertama kalinya buat aku Chessy … emang kamu bisa?"


"Bisa dong, aku udah pernah pake ini banyak kali, jadi udah ahli." Chessy tidak sadar kalau dia salah bicara karena sibuk membuka tespeknya.


"Hah? Kamu udah pernah pake tespek? Kapan?" Sylia ingin memperjelas ucapan Chessy.


"Eh, bukan gitu. Maksudnya itu … em aku udah pernah beli dan pake sebelumnya waktu telat mens bulan lalu. Nih, aku ajarin ya. Kamu nanti tampung pipis kamu di wadah ini sebates garis ini ya. Terus yang ini kamu celupin ke pipis sebatas garis ini. Jangan sampe lewat ya. Tapi kalau pipis kamu di wadah ini nggak lewat, ya nggak akan lewat juga dari garis disini. Nah, abis itu kamu tunggu hasilnya sekitar dua menit. Kalau di sini ada garis dua, itu artinya kamu hamil. Waktu akurat sebenernya pas pagi saat kita bangun tidur karena kondisi urine di pagi hari masih pekat, jadi alat tes kehamilan ini bisa kasih hasil yang lebih akurat." Chessy menjelaskan dengan begitu detail pada Sylia seraya menunjukkan bergantian alat tespek itu. Sylia hanya mengangguk menanggapi perkataan Chessy.


"Nona detail banget jelasinnya, kayak udah pakar aja." Ledek Surti yang membuat Chessy sadar kalau dulu dia pernah memakai alat itu beberapa kali, makanya dia tahu pasti dan tidak asing dengan alat tes kehamilan itu.


"Iya Ches, kamu nyerocos aja kayak nggak punya rem." Chessy hanya tersenyum. "Ya udah kalau gitu kita tes sekarang yuk? Atau harus tunggu besok pagi kayak kata kamu?" Sylia masih membolak-balik tespek itu karena memang pertama kalinya dia memegang alat itu.


"Mbak, tadi Mbak Surti minta yang paling bagus kan?" Chessy kini menatap Surti.


"Iya Non, ini yang paling bagus dan akurat kata petugas apoteknya." Jawab Surti dengan sangat serius.


"Kalau gitu kita tes sekarang aja Syl, biar nggak penasaran dan bisa tidur nyenyak. Ya udah aku ke kamar ya. Nanti kita duduk disini lagi kalau hasilnya udah keluar." Chessy dengan sangat antusias menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Sama halnya dengan Chessy, Sylia juga pergi ke kamarnya untuk melakukan tes kehamilan itu.


Beberapa menit kemudian, Sylia keluar dari kamarnya dan menunggu Chessy turun. Namun sampai sepuluh menit kemudian Sylia menunggu Chessy, tetapi Chessy masih belum turun juga. Akhirnya Sylia menghampiri Chessy di kamarnya.


"Assalamu'alaikum Ches," Sylia mengucap salam seraya membuka pintu kamar itu. Sylia melihat Chessy di atas tempat tidur dan sedang duduk memegangi kedua kakinya yang dilipat lalu kepala yang ditenggelamkan diantara kedua kakinya itu. "Chessy, kamu kenapa?" Chessy pun mendongak menatap Sylia. "Ches! Kamu abis nangis?" Sylia terkejut melihat wajah Chessy yang tampak sedih dengan pipi yang basah. Sudah bisa dipastikan jika Chessy usai menangis. "Kenapa, cerita sama aku." Sylia pun memeluk Chessy seraya mengusap lembut punggung Chessy.


"Aku nggak hamil Syl. Aku nggak hamil. Sepertinya aku nggak akan hamil. Hasil dari tespek itu garis satu Syl. Itu artinya aku nggak hamil. Aku pasti sedang dihukum karena … karena …." Chessy semakin terisak dalam pelukan Sylia bahkan memukul-mukul dadanya yang terasa sesak jika teringat dengan Rara yang telah meninggal.


"Astaghfirullah, Chessy. Kamu jangan bicara gitu. Kamu hanya belum hamil bukan nggak akan hamil. Beda arti." Sylia kembali mengusap lembut punggung Chessy. Beberapa detik kemudian, Chessy melepaskan pelukannya dan menatap Sylia.


"Apa hasil dari tespekmu?" Tanya Chessy dengan suara lirih. Sylia ragu memberikan hasil itu pada Chessy. "Sini aku liat tespeknya." Chessy mengulurkan tangannya. Tapi Sylia ragu karena hasil di tespek Sylia adalah garis dua, yang artinya Sylia benar-benar hamil. Sylia pun menggenggam erat tespeknya dan menenggelamkan tangganya di balik baju berlengan panjang itu.

__ADS_1


"Em … itu … hasilnya … em," Sylia melirik tespek yang ada di sisi Chessy dan meraihnya secara diam-diam kemudian memberikan pada Chessy dengan raut wajah yang cukup kecewa juga.


"Hah? Kamu juga negatif?" Ada kelegaan di hati Chessy karena Sylia tidak hamil mendahuluinya. Chessy terlihat menghela napas panjang dan meletakkan tespek itu di atas nakas di sisi tempat tidurnya. "Ternyata kata Mbak Surti tadi bohong ya kalau ada aura berbeda dari wajah kita. Aku begitu berharap segera hamil karena aku merindukan seseorang. Tapi hasilnya mengecewakan." Chessy pun membanting tubuhnya jatuh di atas bantal. Pandangannya kosong dan entah apa yang sedang dia pikirkan.


Sylia merasa bersalah karena harus membohongi Chessy. Entah benar atau tidak sikapnya itu, tetapi kalau Chessy tahu jika Sylia hamil, maka Sylia bisa menebak kalau Chessy akan semakin kecewa dan bisa saja Chessy malah melakukan tindakan yang diluar nalar. Sylia pun memilih diam tanpa kata.


"Aku mau sendiri dulu. Kamu boleh keluar." kata Chessy lirih tanpa menoleh pada Sylia. Terpaksa Sylia menuruti apa yang Chessy katakan. Sylia pun keluar dan menutup pintu secara perlahan agar Chessy tidak terganggu.


"Astaghfirullah. Ya Allah … ampuni hamba telah berbohong pada orang yang telah memberikan Sylia sebuah kehidupan ini. Tapi Sylia nggak mau dia sedih Ya Allah." Sylia menyandarkan punggungnya di sisi pintu kamar Chessy. Tubuhnya tiba-tiba merosot dan kakinya terasa lemas karena telah membohongi orang yang telah memberikan Sylia kebahagiaan. "Hamba harus gimana setelah ini Ya Allah. Hamba ikhlas jika harus merelakan anak hamba ini pindah ke rahim Chessy, asalkan Chessy bahagia. Nggak seperti ini." Kali ini Sylia yang menangis. Namun tangis yang ditahan karena Sylia tidak mau Chessy tahu dia masih di luar kamarnya.


_____________


Siang itu cuaca begitu panas, tetapi tidak dengan ruangan yang full AC di kantor Erkan. Sejak pagi dirinya disibukkan dengan proyek besar yang telah dia terima beberapa hari lalu. Di temani Alman juga beberapa staf lainnya, Erkan masih terus menerus membaca laporan untuk proyek itu. Ketegangan itu pun usai saat jam makan siang telah tiba. Staf yang ada diruang tadi pun keluar untuk pergi ke kantin.


"Mau makan apa Bos?" tanya Alman seraya membereskan beberapa kertas yang masih acak-acakan.


"Entahlah. Gue ngerasa pengen makan yang asem pedes." Jawab Erkan masih menompangkan kepalanya diatas meja.


"Lemes banget Bos. Semalem nggak dapet jatah ya?" Ledek Alman.


"Ya udah kalau gitu kita cari makan diluar yang menunya asem pedes."


"Ya. Perut gue juga udah laper."


Erkan beranjak dari tempat duduknya dan mengancingkan jas yang tadi kancingnya sengaja dilepaskan. Tubuh yang tegap dan berwajah datar seperti biasanya, Erkan serta Alman pun keluar dari ruangan untuk mencari sesuatu yang menggugah selera makan Erkan.


Saat keluar dari lift, Erkan melihat ada beberapa staf wanitanya sedang tertawa di bagian resepsionis. Ada lima orang wanita disana sedang berdiri dan menikmati sebuah makanan yang Erkan baru tahu bentuk dari makanan tersebut.


"Semoga kamu dan bayimu kuat ya San."


"Hm. Pasti seneng banget setelah penantian dua tahun dan sekarang hamil juga."

__ADS_1


"Eh ini bumbu rujak lu bikin sendiri San? Kok enak banget sih. Khas makanan Indonesia seperti ini ya?"


Begitulah yang Erkan dengar dari beberapa staf wanitanya. Erkan penasaran dengan makanan yang tiba-tiba menarik matanya itu. Erkan pun menghampiri mereka. "Ehem, sedang apa kalian?" Sapa Erkan masih dengan expresi wajah yang sama.


"Eh Pak. Selamat siang." Kompak kelima staf wanita itu.


"Ya. Saya cuma penasaran dengan itu." Erkan melirik sebuah rujak yang ada di kotak makan dengan ekor matanya.


"Oh, ini rujak namanya Pak. Sandra sedang hamil muda dan biasanya makanannya lebih dominan ke asem pedes. Pak Er mau coba?" tawar salah satu wanita dan dia langsung mendapatkan pukulan dari teman wanita yang lain.


"Gila kamu nawarin Bos makanan beginian." bisik salah satu lainnya.


"Hm, saya memang tertarik." Erkan mengambil tusuk gigi yang ada di sisi kotak makan itu dan menusukan satu buah mangga muda yang telah dilumuri oleh sambal kacang yang kental dan begitu pedas. Erkan tidak ragu sama sekali memasukan makanan yang dia ambil tadi ke mulutnya. Erkan mengunyah mangga muda itu dan merasakan setiap rasanya. Asem pedas seperti itulah yang dia mau. Rujak itu benar-benar membuatnya ketagihan hingga untuk keduanya Erkan kembali menusukan satu mangga muda itu lagi dan kembali memakannya. "Kenapa ini enak sekali. Apa tadi namanya." Tanya Erkan yang memang terlihat begitu menikmati makanan itu.


"Ini namanya rujak Pak. Sandra ini asli orang Indonesia, jadi ini seperti makanan yang wajib untuk ibu yang tengah hamil muda." Jawab salah satu wanita itu.


"Em, kamu hamil?" Erkan melirik wanita yang bernama Sandra itu.


"Iya Pak. Baru masuk usia lima minggu." Jawab Sandra.


"Wanita hamil nggak boleh makan yang terlalu pedas seperti ini, apa kamu nggak tahu?" Tanya Erkan lagi dengan expresi yang masih biasa saja.


"Iy-iya Pak. Saya cuma makan sedikit tadi. Cuma buat obat dari jabang bayi Pak. Mulut saya belum merasa enak kalau belum makan rujak." Begitu penjelasan Sandra.


"Em gitu ya kalau lagi hamil. Oke, karena kamu nggak boleh makan yang terlalu pedas, rujak ini buat saya saja." Tanpa rasa malu dan gengsi, Erkan mengambil kotak makan yang berisi rujak itu. Kelima wanita itu sampai melongo melihat sikap Bosnya.


"Iy-iya Pak. Silahkan." Kata Sandra dan Erkan pun berlalu keluar dari kantor seraya memakan kembali rujaknya dengan begitu santai. Setelah melihat Bosnya keluar dari kantor, para wanita itu tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan sikap sang Bos.


"Bos, nggak punya malu." Ledek Alman saat keduanya telah masuk ke dalam mobil.


"Lu juga mau?" Erkan menyodorkan satu buah mangga muda yang telah berlumur sambal kacang kental itu mendekati mulut Alman. Penasaran dengan rasanya, Alman pun terpaksa membuka mulutnya dan mengunyah apa yang disiapkan ke mulutnya.

__ADS_1


Alman merem melek merasakan rasa asam yang luar biasa dari mangga muda tersebut dan setelah beberapa keunyahan, Alman segera menelannya. "Astaghfirullah, makanan asem begini gimana lu bisa makan dengan muka datar. Dasar aneh," Alman langsung mengambil botol mineral dan segera meminumnya. Sedangkan Erkan hanya menahan tawanya.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2