
Erkan dan Chessy hanya menurut apa yang dikatakan Pak Ginanjar juga Bu Dewi untuk tetap diam di sofa ruang tamu. Ada kecanggungan diantara mereka berdua. Walaupun begitu, Erkan terlihat sedang menghafalkan sesuatu.
"Mas? Lagi ngapalin ijab qobul ya?" Ledek Chessy.
"Hm." Jawab Erkan singkat.
"Cie … deg-degan ya?" Ledek Chessy lagi.
"Nggaklah. Ngapain deg-degan. Harusnya kamu yang deg-degan, Sayang …." Chessy langsung terpaku mendengar Erkan memanggilnya sayang. Hingga adzan magrib tiba, barulah keduanya beranjak dan pergi mandi lalu menunaikan ibadah sholat berjamaah.
Tepat pukul delapan malam, Nenek dan Kakek Erkan pun tiba. "Dasar bocah kurang ajar …." Begitu sampai, Nenek Erkan memukul Erkan terus menerus tanpa ampun. "Iso-isone kamu naikin anak orang sebelum waktunya hah?" Erkan benar-benar tak diberi kesempatan untuk bicara. "Koe ki ngisin-ngisini Er …. Pye Iki …." Sang Nenek masih terus memukul tubuh Erkan tanpa ampun. Walaupun pemandangan itu sangat lucu, tetapi Chessy menghampiri sang nenek untuk menenangkan.
"Mbah, sudah … nggak pa-pa Mbah, kita bicara dulu sebentar." Chessy mencoba melerai sang nenek. Untungnya sang nenek sudah terlanjur sayang dengan Chessy, jadi nenek mendengar perkataan Chessy dan duduk dengan wajah masam.
"Tenang aja Mbah, nanti Aylin laporin ke Momy sama Daddy biar diambil fasilitas yang dia punya." Kata Aylin yang ikut menenangkan Nenek dan menatap sinis Erkan. Erkan hanya mengelus dada seraya menggelengkan kepalanya.
"Mohon maafkan perbuatan anak-anak kita Mbah, anak jaman sekarang memang sangat nakal. Saya juga cukup terkejut tadi melihat hal yang tidak senonoh saat rumah sepi." Kata Bu Dewi membuat Chessy mencubit lenganya. "Apa sih Ches, emang bener'kan kalian itu nakal?" Bu Dewi terlihat kesal, padahal dalam hatinya begitu senang dan bahagia bisa melihat anaknya menikah.
"Sepurane … maaf sanget Pak Ginanjar dan Bu Dewi atas kelakuan Erkan yang buat malu." Kata Kakek menimpa. "Sebaiknya memang kita lakukan ijab qobul malam ini juga dan untuk urusan resepsi bisa belakangan setelah Nak Chessy lulus sekolah." Lanjut Kakek.
Suasana di ruangan itu pun menegang saat seorang penghulu datang ditengah-tengah keluarga. Ada rasa senang dan bahagia, ada juga rasa gugup yang Erkan rasakan saat ini. Sesaat matanya melihat Chessy yang memakai gamis putih senada dengan jilbab pasminanya, Erkan tersenyum dan menarik nafas dalam agar bisa lancar mengucapkan kalimat yang sakral baginya.
__ADS_1
Chessy sendiri tidak mau memakai kebaya ataupun memakai riasan yang diminta oleh Bu Dewi, jadi Chessy hanya memakai baju biasa saja dan make up natural. Erkan sendiri juga telah disiapkan kemeja putih panjang lengkap dengan peci hitam dan celana hitamnya. Tidak ada kemewahan sama sekali, walaupun keluarga Ginanjar cukup kaya.
Beberapa perbincangan dan persyaratan yang diminta penghulu sudah cukup dan saatnya bagi Erkan untuk angkat bicara. Walaupun terlihat begitu tampan dan cool, sejujurnya Erkan sangat gugup saat berhadapan langsung dengan Pak Ginanjar terutama setelah menjabat tangannya. Chessy duduk di belakang Erkan dan diapit oleh Bu Dewi juga Aylin, hanya bisa pasrah menatap punggung laki-laki yang tinggal beberapa detik lagi menjadi suaminya itu.
"Harap maklum ya Kak kalau Er terlalu bar-bar. Percaya sama aku, Er hanya begitu sama Kak Chessy aja. Dia nggak pernah deket sama cewek manapun, ya walaupun banyak yang begitu mendambakan Er di Turki sana, tapi hatinya cuma buat Kak Chessy seorang." Bisik Aylin pada Chessy dan hanya mendapatkan anggukan kecil serta tawa yang tertahan dari Chessy.
"Entah harus senang atau sedih, tapi gue nggak nyangka bisa secepat ini menikah sama dia. Tuhan benar-benar terlalu baik buat gue. Apa mungkin setelah ini gue bakal hamil dan Rara bisa kembali di kehidupan gue yang sekarang ya?" Pikiran Chessy masih belum berdamai. Chessy terus ribut dengan pemikirannya sendiri hingga akhirnya suara keras dan tepukan tangan menyadarkan Chessy.
"Sah …."
"Hah? Udah selesai? Gue melamun sampe nggak tahu gimana Mas Erkan mengucapkan ijab qobul. Astaghfirullah …. Padahal ini moment sakral." Chessy pun diminta untuk duduk di sisi Erkan dan Chessy hanya menurut. Di ruangan itu tidak cukup ramai, hanya Pak Ginanjar dan Bu Dewi serta beberapa orang yang kerja di rumah itu. Sedangkan dari pihak laki-laki, tentu hanya Kakek dan Nenek juga Aylin saja. Saksi pernikahan sendiri hanya Pak RT dan satu orang yang diajak Pak RT. Chessy benar-benar tidak mau ada orang lain lagi. Bahkan Rakha dan Rikho belum diberitahu masalah ini.
Chessy meraih tangan Erkan untuk mencium punggung tangannya. Tangan kiri Erkan diletakkan di ujung kepala Chessy dan Erkan terlihat membaca sesuatu dengan lirih hingga Erkan pun mencium ujung kepala Chessy. Rasa yang benar-benar sakral untuk Chessy yang tak dia dapatkan dari Devan saat menikah dengannya dulu. Chessy cukup terharu dengan perlakuan Erkan.
"Pah … nggak gitu juga kali." Protes Chessy yang melirik kesal pada Papahnya.
"Loh iya kan Pak penghulu?" Pak Ginanjar membela diri dengan mengalihkan pandangannya pada Pak penghulu, seketika ruang keluarga itu jadi ramai akan tawa.
Setelah melakukan tanda tangan beberapa dokumen dan foto bersama serta acara makan-makan, keluarga dari pihak Erkan pamit pulang. Tentu saja masih mendapatkan wejangan dari sang nenek dan Erkan hanya mengangguk saja. "Pokoknya awas kamu kalau macem-macemin dia sebelum lulus sekolah?" Ancaman sang nenek sebelum naik ke dalam mobil dan hanya mengundang senyum dari Chessy dan Erkan.
Kepergian keluarga Erkan membuat Chessy menghela nafas panjang dan melangkah menuju kamarnya. Erkan juga mengikuti Chessy dari belakang tanpa Chessy sadari. Chessy menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya. "Kenapa lelah banget sih? Apa karena otakku yang terlalu banyak berpikir?" Gundam Chessy menarik perhatian Erkan.
__ADS_1
"Mau Mas pijitin?" Erkan pun duduk di dekat Chessy.
"Hah?" Chessy terkejut dan bangun dari tempat tidurnya. "Kenapa Mas disini?" Pekik Chessy.
"Loh Mas kan suami kamu Sayang," jawab Erkan dengan nada mengejek.
"Ya masak kita satu kamar sih, kan ada kamar tamu sebelum kamar aku?" Chessy mundur satu langkah dan menutup dadanya dengan kedua tangan. Entah apa yang ada dipikiran Chessy saat itu.
"Mana boleh suami istri tidur di kamar ya berbeda. Apalagi ini malam pertama kita Sayang." Erkan masih terlihat santai. Wajahnya benar-benar tak beres. Erkan pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Chessy secara perlahan.
"Mas, jangan macem-macem ya? Aku laporin ke Mbah Uti sama Aylin nanti." Ancam Chessy masih dengan tangannya yang menyilang di dada.
"Lapor aja … emang mereka bisa apa Sayang …." Erkan terus melangkah maju secara perlahan, sedangkan Chessy terus melangkah mundur untuk menghindari Erkan.
"Mas please! Jangan begini. Aku … itu … em … aku benar-benar gugup." Kata Chessy terbata-bata. Chessy pun kehabisan langkah karena tubuhnya sudah menabrak dinding. Chessy mulai bingung dan panik.
"Santai aja … bukannya kamu udah pernah melakukan malam pertama dimasa depan? Aku benar-benar penasaran sekarang, Sayang …." Erkan pun mengunci pergerakan Chessy dengan kedua tangannya. Erkan menatap Chessy dan begitu juga dengan Chessy menatap mata Erkan. Keduanya terdiam sesaat dengan pikiran masing-masing. "Apakah istriku yang datang dari masa depan ini masih perawan atau sudah …." Perkataan Erkan tertahan saat jari-jari Chessy menutup rapat mulut Erkan.
"Mas, jangan ngaco kamu. Jiwaku emang dari masa depan. Tapi ragaku masih sama dan masih suci." Chessy terlihat kesal. Namun berbeda dengan Erkan yang puas karena keusilannya berhasil membuat Chessy kesal. Chessy berjongkok dan melarikan diri menuju kamar mandi. "Aku nggak mau tahu ya, setelah sholat, Mas harus tidur di sofa." Chessy segera menutup pintu kamar mandi. Erkan hanya senyum-senyum melihat tingkah wanita yang baru saja menjadi istrinya itu.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Gimana nih kisah Chessy sama Erkan di malam pertama mereka?