Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Jam pulang sekolah tiba, tetapi ada keributan yang membuat Chessy risih. "Biasanya kalau para cewek teriak-teriak nggak jelas begitu, pasti ada cowok ganteng di sekitar sini. Tapi di sekolah ini nggak ada cowok yang ganteng," batin Chessy yang sangat tidak peduli. Chessy terus melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang karena pasti Pak Tarjo sudah menunggunya.


"Ches, tunggu!" Teriak Sylia yang berlari ke arahnya. Tentu saja Chessy malas menunggu wanita ular itu dan terus melangkah hingga akhirnya Sylia bisa berjalan sejajar dengan Chessy. "Ih … lu tu jahat banget sih nggak mau nunggu." Sylia menepuk bahu Chessy.


"Lebih jahat lu wanita ular," batin Chessy.


"Eh kata anak-anak di depan ada cowok ganteng Ches, gue penasaran banget seganteng apa sih tu cowok sampe pada heboh begitu." Lanjut Sylia.


"Gue sih bodo amat," jawab Chessy cuek.


"Ah iya lu kan udah punya Kak Devan jadi bodo amat," celetuk Sylia meledek.


"Nggak juga," kata Chessy lagi yang masih belum terlalu menanggapi ocehan Sylia. Namun Chessy merasa ada yang aneh dengan Sylia. "Kayaknya muka lu merah, eh itu kedua tangan lu juga kemerahan. Lu sakit?" Tanya Chessy yang cukup heran dengan perubahan kulit Sylia.


"Nggak tau Ches, sejak tadi badan gue agak panas dan gatel. Mungkin efek keringat aja." Jawab Sylia santai seraya menepuk kedua pipinya. Namun tiba di depan pintu gerbang, Sylia kembali menepuk bahu Chessy untuk menunjuk seorang yang sangat mempesona di depan matanya.


"Ches, liat tuh cowok emang ganteng banget, pantes aja kalau cewek satu sekolah teriak-teriak. Gue harus kenal dia Ches," kata Sylia tak melepaskan pandangannya pada laki-laki yang dimaksud. Sedangkan Chessy sangat terkejut melihat laki-laki tersebut ternyata adalah sosok Erkan. Senyum manisnya dan mata indahnya tertuju pada dirinya. "Eh Ches, dia jalan ke arah kita'kan?" Sylia salah tingkah melihat Erkan berjalan mendekat.


"Ches, aku gantiin Pak Tarjo jemput. Aku udah ijin tadi, sekalian mau ngajak kamu jalan-jalan dulu." Ucap Erkan tentu dengan pesonanya yang membius Sylia sampai-sampai tak berkedip.

__ADS_1


"Em iya, makasih udah mau repot-repot," jawab Chessy sedikit malu karena menjadi pusat perhatian.


"Eh Ches, dia siapa? Kenalin ke gue dong, cakep banget." Sylia berbisik dan memberikan isyarat kedipan mata pada Chessy.


"Ayo Ches, keburu sore." Kata Erkan yang tidak sabar.


"Hai Kak, kenalin gue Sylia, sahabatnya Chessy." Sylia mengulurkan tangannya pada Erkan, tetapi Erkan tidak merespon dan tidak menyambut uluran tangan Sylia. "Kak? Namanya siapa?" Tanya Sylia lagi dengan senyum manja.


"Maaf, saya cuma ada urusan dengan Chessy." Ucap Erkan memberikan tatapan dingin pada Sylia membuat Chessy menahan tawanya. "Ches, buruan, waktu kita nanti tersita." Lanjut Erkan menoleh pada Chessy dan kemudian membuka pintu mobil. "Ayo Chessy …." Erkan masih memberikan senyum termanisnya pada Chessy.


"Sorry Syl, gue duluan ya? Em itu jangan lupa sampe rumah mandi. Kali aja dia nggak mau kenal karena lu bau haha …." Chessy berbisik dan tersenyum meledek pada Sylia, kemudian masuk ke dalam mobil. Jangan ditanya seberapa kesal Sylia saat itu karena hentakan kaki dan remasan tangannya serta gigi yang mengerat sudah dipastikan kalau Sylia ingin memberikan Chessy pelajaran.


"Awas lu Ches, gue nggak akan biarin hidup lu beruntung terus. Lu udah punya keluarga yang begitu harmonis dan sayang sama lu. Sekarang lu punya cowok seganteng dia? Gue bakal rebut laki-laki itu bagaimanapun caranya. Dia pasti laki-laki yang dijodohkan semalem. Sialnya gue malah abisin malam dengan Kak Devan. Laki-laki itu pasti lebih segala-galanya dari Kak Devan." Sylia pun pergi karena merasa tubuhnya makin panas dan makin gatal. Sylia bukan langsung pulang ke rumah, tetapi Sylia langsung pergi ke tempat yang memang seharusnya segera dia kunjungi karena Sylia meminum air yang seharusnya bukan dia yang minum. "Ah … tubuh gue benar-benar nggak enak. Siall … ini pasti efek dari air itu." Sylia melangkah dengan sangat cepat.


"Tante … ini Sylia dateng lagi." Ucap Sylia begitu sopan dan lemah lembut.


"Cuh …." Wanita itu meludah ke samping dan membuang kunyahan daun sirihnya. "Kamu benar-benar ceroboh. Kamu pasti minum air yang seharusnya nggak kamu minum'kan?" Tebakan sang wanita sangatlah tepat.


"I-i-iya Tante. Saya harus bagaimana? Tubuh saya panas dan sedikit gatel. Harusnya air yang ini udah nggak ada efeknya kan Tan?" Sylia memberikan botol minum sisanya di kantin tadi.

__ADS_1


"Dasar bodoh. Jelas-jelas mantra dibotol ini berbeda dengan mantra yang saya kasih terakhir kemarin. Mantra dari botol yang kamu minum, efeknya nggak langsung seperti yang kamu minta kemarin bocah bodoh." Wanita itu terlihat marah.


"La-lalu sa-saya harus ba-bagaimana?" Sylia mulai ketakutan.


"Kamu harus pasang susuk pengasihan supaya tubuhmu kembali normal. Efeknya juga semua laki-laki bisa bertekuk lutut padamu nanti, haha …." Jawab wanita itu di akhiri tawa kebanggaan.


"Mau Tan, saya mau." Sylia sangat antusias mendengarnya. Setelah menyetujui syarat dan ketentuan, Sylia melakukan beberapa ritual dan mandi kembang.


"Ingat-ingat mantranya. Laki-laki manapun bisa bertekuk lutut padamu dengan mantra itu, asalkan mantra itu kamu bisikan ditelinga. Saya akan memberikan toleransi untuk pembayarannya. Jika dalam waktu kurang dari satu bulan belum lunas, maka ada konsekuensi yang harus kamu terima terkait susuk pengasihan ini." Penjelasan sang wanita itu cukup membuat Sylia paham kemudian pulang dengan wajah bahagia.


Paman dan Bibi merasa curiga pada Sylia yang pulang dengan wajah berbeda. "Syl, kamu kayak makin cantik aja? Kamu abis dari salon? Punya duit kamu? Mana?" Kata sang paman yang menyodorkan tangannya di depan Sylia.


"Eng-enggak Paman. Sylia nggak dari salon dan Sylia belum punya uang." Jawab Sylia cukup gugup.


"Jangan bohong kamu. Cepat berikan uangnya!" Suara sang paman semakin meninggi dan tangan kanannya sudah melayang di udara.


"Sylia … nggak bohong Paman." Tangan Sylia menutupi wajahnya karena takut mendapatkan pukulan dari sang paman.


"Dasar anak nggak berguna. Udah diurus capek-capek dari kecil tapi nggak berguna sama sekali. Kamu harus cepet porotin si Chessy kalau kamu masih mau tinggal disini." Pamannya pun pergi, sedangkan Sylia menghela nafas panjang karena lega kali ini terbebas dari pukulan sang paman.

__ADS_1


"Sampai kapan gue hidup dalam ketakutan begini? Kenapa gue harus hidup menderita, sedangkan Chessy harus hidup bahagia. Tuhan … Kau sungguh nggak adil memberikan takdir padaku. Aku sangat membecimu Tuhan."


...##########################...


__ADS_2