Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)

Takdir Untuk Chessy (Ketika Cinta Mengalahkan Dendam)
Chessy Pingsan


__ADS_3

Setelah melewati jalanan yang cukup macet, mobil yang dikendarai Alman dan Erkan kini parkir di lahan depan rumah sakit yang diberitahukan Alzeer. Langkah yang cepat dan buru-buru, Alman dan Erkan tiba di ruang ICU. "Maaf Pi, saya tidak bisa menjaga Nayla dengan baik. Hukum saja saya Pi, karena saya Nayla jadi begini," perkataan yang penuh penyesalan dari Alman, dia lontarkan di hadapan Pak Naveen, ayah dari Nayla.


"Ini bukan salahmu. Papi tahu, Nayla terlalu dibutakan cintanya pada Erkan." jawab Pak Naveen dengan bijaksana dan menepuk bahu Alman. "Maafkan Nayla jika kemarin dia buat kekacauan di rumahmu Er. Pasti istrimu sangat marah." Kini Pak Naveen menepuk bahu Erkan.


"Tidak masalah Pak, istri saya bukan orang yang pemarah." jawab Erkan dengan senyuman. "Istri?" Gundam Erkan kemudian ingat jika dia meninggalkan Chessy sendirian di kantor. "Hah! Istri gue Al, istri gue kenapa tadi di tinggal?" Erkan kini berwajah panik dan langsung mengambil ponselnya.


"Sorry, gue juga lupa saking khawatir sama Nayla." jawab Alman yang ikut panik.


"Ah, sial … gue pasti kenak omel ini. Gue pulang duluan ya, kalau ada apa-apa lu telpon aja." Erkan menepuk bahu Alman. "Pak Naveen, saya pamit dulu. Ada yang harus saya selesaikan." Kata Erkan seraya bersalaman dan langsung berlari ke tempat parkir bersama Alzeer. Dialah yang paling bisa naik mobil dengan cepat di negara itu.


Erkan melihat ponselnya dan ada beberapa panggilan tak terjawab di sana, bukan dari Chessy melainkan dari Pak Romi. Segera Erkan memanggil kembali panggil itu tetapi tidak mendapatkan jawaban. "Kita langsung pulang ke rumah aja Al, kayaknya Chessy udah pulang. Semoga dia nggak ngambek lagi. Huh!" Erkan menghela nafas panjang dan mengatur nafasnya untuk kesekian kalinya karena takut jika sang istri kembali marah, padahal baru pagi tadi mereka berbaikan.


"Gue bener-bener bodoh sampe bisa lupa dua kali sama istri sendiri." Tiba di depan rumah, Erkan buru-buru masuk ke rumah dan berlari menuju anak tangga. Erkan tidak hati-hati dengan langkahnya dan tersandung anak tangga. "Astaghfirullah, sial …. Pasti karena durhaka sama istri ini," batin Erkan. Erkan segera melanjutkan langkahnya menuju kamar. Segera dia buka pintu kamarnya dan mendapati Chessy tengah berbaring dan memainkan ponselnya.


"Udah pulang Mas?" Chessy segera menyibak selimutnya dan meletakkan ponselnya di nakas. Chessy menghampiri Erkan dan memeluknya.


"Maaf, tadi Mas buru-buru dan pergi gitu aja. Maaf Sayang … jangan marah ya?" Erkan membelai lembut rambut Chessy dan mengeratkan pelukannya.


"Iya, nggak pa-pa Mas. Aku ngerti kok. Pasti penting banget ya sampe istri aja lupa. Dasar kamu …." Chessy melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Erkan. Ragu untuk memberitahu Chessy, tetapi jika kebenaran itu dia tahu dari orang lain, Erkan khawatir kalau Chessy akan semakin marah padanya.


"Sebenarnya, em … itu … sebenarnya …." Erkan menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya bingung mau mengatakan hal yang sebenarnya.


"Kenapa sih? Kok jadi gugup gitu." Erkan tersenyum kikuk dan menuntun Chessy untuk duduk di tepi ranjang. "Ada apa Mas? Ada hal buruk?" tanya Chessy lagi.


"Maaf Sayang, maaf banget pokoknya. Mas bilang gini karena Mas nggak mau ada salah paham lagi diantara kita. Jadi … tadi itu … em … Mas harus bilang yang sebenarnya. Tapi Mas mohon ya kamu jangan marah Sayang,"


"Hm, mulai nggak enak nih. Ya udah ngomong aja."

__ADS_1


"Bener nggak bakal marah?"


"Ya tergantung."


"Tuh kan, nggak jadi ngomong nih."


"Ya udah terserah kamu."


"Sayang, please! Jangan marah ya?"


"Iya udah iya."


"Iya apa?"


"Iya nggak marah."


"Jadi bukan urusan pekerjaan?" Chessy menekankan suaranya dan Erkan langsung menggelengkan kepalanya pelan. "Astaghfirullah Mas …." Chessy langsung bangkit dan hendak pergi tetapi dengan cepat Erkan menarik tangannya.


"Tuh kan, jangan marah dong. Dengerin dulu penjelasan Mas, Sayang." Erkan menarik tangan Chessy dan Chessy duduk kembali dengan terpaksa lalu melipat tangannya di dada. Chessy juga enggan menatap Erkan. "Nayla mencoba bunuh diri, Sayang."


"What's?"


"Iya, dia mau bonuh diri dan sekarang dia sedang kritis karena kehilangan banyak darah juga. Alman sangat panik lalu kita buru-buru kesana. Serius Yang … Mas cuma nganter Alman doang kok. Sampe rumah sakit dan ketemu Papinya, Mas langsung pulang dan sekarang ada di hadapanmu." Erkan tersenyum menunjukkan deretan giginya pada Chessy, tetapi Chessy tidak meresponnya. "Sayang …."


"Iya terserah kamu Mas. Aku mau turun dulu."


"Nggak. Temenin Mas tidur."

__ADS_1


"Ogah."


"Sayang … pokoknya harus mau. Mas nggak mau kamu marah." Erkan segera memaksa Chessy untuk berbaring dan keduanya menutup diri dengan selimut.


_______________


Malam itu setelah acara makan malam, ada Paman juga Bibi dan Aylin datang berkunjung. Setelah menjelaskan masalah Nayla dan keadaanya, Paman dan Bibi sepakat untuk segera menyelenggarakan acara resepsi pernikahan.


Mereka menanyai Chessy ingin konsep seperti apa dan bagaimana. Bahkan Chessy juga ditunjukkan beberapa gaun pengantin dari desain ternama di negara itu. Chessy benar-benar takjub dengan kekayaan Erkan.


"Tapi bukankah nggak perlu semewah itu Mas? Kayaknya itu terlalu berlebih-lebihan deh," protes Chessy saat Erkan memberikan sebuah konsep pernikahan melebihi seorang artis dan pejabat di Indonesia.


"Ya enggak lah Sayang. Keluargaku, maksudnya keluarga kita ini sangat terkenal di kalangan manapun, jadi kalau nggak mewah mereka akan mengira kalau kita bangkrut Sayang," jawab Erkan masih melihat beberapa gambar di buku katalog seraya terkekeh.


"Iya Kak Chessy, kan nikah cuma sekali seumur hidup, jadi harus wah dan mewah dong." ucap Aylin membela Erkan.


"Yaudah deh terserah kalian aja. Aku ikut aja." Jawab Chessy pasrah. Akhirnya malam itu dihabiskan untuk merancang konsep pesta pernikahan Erkan dan Chessy, karena percuma juga kalau Chessy minta agar pestanya lebih sederhana.


Waktu pun menunjukkan hampir tengah malam, dan akhirnya Chessy bisa merebahkan punggungnya yang sejak tadi duduk di ruang keluarga bersama paman dan bibi. Chessy menghela nafas lega dan hendak memejamkan matanya. Namun, dering ponsel Erkan yang ada di nakas membangunkan Chessy, sedangkan sang pemilik masih berada di kamar mandi.


Ingin hati mengangkat panggilan itu, Chessy ragu karena takutnya nggak sopan, akhirnya Chessy mengabaikan dering ponsel itu hingga ketiga kalinya, ponsel itu berbunyi. Chessy pun memutuskan untuk mengangkat panggilan itu. Ada nama Alman di layar benda pipih itu, segera Chessy mengusap tanda hijau di layar ponsel dan meletakkan ponselnya di telinga.


"Gawat Bos, lu harus cepet kemari, ini … ini gawat banget karena Nayla lagi histeris bawa pecahan kaca dan panggil-panggil na lu. Dia cari lu Bos …." Chessy sangat terkejut mendengarnya. Ingin menjawab tapi lidah Chessy kaku. Keringat dingin tiba-tiba muncul. Debat jantung jadi lebih cepat dari biasanya. Chessy seperti orang yang ketakutan. Kemudian Erkan keluar dari kamar mandi.


"Siapa yang telepon Sayang?" Erkan hendak meminta layar ponselnya, tetapi saat itu juga Chessy pingsan. "Sayang …."


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2