
Chessy dan Surti sedang asik bersenda gurau di depan ruang rawat Sylia sambil menunggu Sylia selesai sarapan. Surti sesekali menceritakan bagaimana sikap dan sifat Alman saat ke rumah Erkan. Cara Surti bercerita menandakan bahwa Alman benar-benar laki-laki sempurna untuk Sylia. Chessy hanya mengangguk-angguk menanggapi apa yang Surti bicarakan. Chessy makin yakin jika Alman adalah laki-laki baik untuk Sylia dan bisa membahagiakan Sylia. Kini, Chessy seperti kehilangan beban dalam hidupnya karena merasa sangat lega karena Sylia benar-benar berubah dan mendapatkan kebahagiaan yang dia cari selama ini.
Beberapa saat kemudian, Alman keluar dari ruangan itu dan pamit pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kepulangan Sylia. Akhirnya Chessy dan Surti pun masuk dan menemani Sylia. "Gimana Syl?" tanya Chessy begitu masuk dan duduk di sisi brankar Sylia.
"Gimana apanya Ches? Rasa rendangnya? Jelas enaklah, masakanmu bener-bener nggak diragukan lagi. Kak Alman aja sampe nambah nasi loh tadi sarapannya." jawab Sylia dengan semangatnya.
"Ish, bukan itu maksudku. Tapi gimana sikap suamimu. Dia baikkan sama kamu? Kamu bahagiakan sama dia?" Chessy memperjelas pertanyaannya.
"Hei, kamu nih wartawan atau Chessy Manohara sih."
"Jawab aja sih,"
"Hm … aku dan Kak Alman baru satu hari menikah Chessy … ya namanya pengantin baru pasti fine aja dong. Kayak kamu nggak pernah jadi pengantin baru aja."
"Hei, Sylia Agustustina. Aku tuh kepo, kalau dia nggak baik sama kamu bakal aku sunat lagi dia. Enak aja main-main sama sahabat terbaikku ini."
"Chessy! Ish kamu nih. Nggak enak tuh sama Mbak Surti yang belum menikah." Protes Sylia karena merasa tabu dengan kata sunat. Sedangkan Surti hanya terkekeh. "Aku bahkan belum malam pertama tapi kamu mau sunat dia. Dasar kamu!"
"Hehe, abis kamu ditanyain kayak gitu sih jawabnya. Tinggal jawab aja baik apa enggak, gitu aja loh."
"Iya Chessy Sayang. Chessy sahabat terbaikku. Kak Alman baik kok. Dia lembut dan juga romantis. Aku merasa sangat beruntung bisa menikah sama Kak Alman. Kata-katanya bahkan begitu manis, dan aku hampir kenak diabetes saking manisnya."
"Duh, jadi iri deh."
"Hus, nggak boleh iri. Tuan Erkan juga pasti nggak kalah maniskan? Apa perlu aku sunat juga?"
__ADS_1
"Iya sih. Idemu boleh juga. Tapi pas manis ya manis. Pas bikin kesel ya ngeselin banget, sampe rasanya pengen aku ituin itunya."
"Haha …. Udah ah, kasian Mbak Surti mesam-mesem aja dengerin kita."
Chessy dan Sylia terus membicarakan suami mereka masing-masing hingga jam kepulangan pun tiba. Sylia memutuskan untuk mengikuti saran Chessy agar tinggal di rumah Erkan terlebih dahulu hingga Alman siap dengan tempat tinggal baru yang direncanakan.
______________
"Selamat datang kembali di istana Chessy Manohara. Sylia Ayundya harus banyak istirahat juga banyak-banyak diam di kamar." Chessy membentang tangannya menyambut Sylia yang sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh Alman.
"Ish, jangan lebay deh. Kamu yang Ratu disini masak melebihkan seorang seperti aku." jawab Sylia merasa jika Chessy begitu berlebihan.
"Oh tidak berlebihan, kamu sekarang juga Ratunya seorang Alman. He …. Eh iya, Kak Alman, aku udah minta Mbok Gani buat siapin kamar baru kalian. Soalnya kamar Sylia terlalu deket sama asisten rumah tangga yang lain, takutnya mereka mendengar suara-suara yang meresahkan dari pengantin baru. Jadi aku udah minta barang-barang Sylia dipindahkan juga. Disana ya?" Chessy menunjukkan sebuah kamar yang berdekatan dengan ruang tamu.
"Chessy, ih gitu amat ngomongnya. Malu tahu." protes Sylia tak ditanggapi oleh Chessy.
"Kak, Chessy jail ih, pengen rasanya ngejar dia dan gelitikin pinggangnya," lagi-lagi Sylia protes.
"Udah yuk masuk kamar. Istriku memang harus istirahat yang cukup supaya bisa mengeluarkan suara-suara yang indah nanti,"
"Kak … kok ikut-ikutan Chessy sih. Males ah."
Sylia sampai menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya menatap kesal dan bibir yang mengerucut pada Alman. Tatapan itu hanya dibalas senyuman oleh Alman. Perlanhan Alman mendorong kursi roda Sylia dan masuk ke dalam kamar yang Chessy tunjukkan tadi.
"Sayang, aku nggak mau ya lama-lama tinggal disini. Aku bakal urus secepatnya tempat tinggal kita. Nggak pa-pa ya?" kata Alman seraya menutup pintu kamar dan menguncinya.
__ADS_1
"Iya Kak, nggak pa-pa. Aku bakal ikut kemanapun kamu membawaku." jawab Sylia tersipu malu. Alman pun berjongkok di depan kursi roda Sylia. Diraihnya tangan Sylia dan kemudian diciumnya punggung tangan itu dengan lembut.
"Aku mencintaimu Sylia Agustustina. Aku sangat mencintaimu. Hiduplah bahagia denganku sampai kapanpun." ucap Alman begitu tulus hingga Sylia akan menangis saking terharunya. Sylia tidak menjawab sepatah katapun. Sylia merasa lidahnya kaku karena bingung juga harus menjawab apa. "Sayang, kalau udah siap, aku mau meminta hakku sebagai seorang suami. Hm? Aku akan lembut dan hati-hati."
Kini jantung Sylia seakan berhenti berdetak karena mendengar kata demi kata yang Alman ucapkan. Entah kenapa rasanya Sylia begitu bahagia mendapatkan perlakuan Alman karena ini pertama kalinya dia akan melakukan hal itu secara halal. Sylia bukan menjawab melainkan malah menangis. Alman membuka cadar Sylia dan menghapus air matanya.
"Aku nggak tahu harus membalas cintamu dengan apa lagi Kak selain dengan tubuhku, baktiku dan ketulusanku. Tapi aku begitu merasa kotor untukmu yang begitu mencintaiku. Aku bahkan nggak tahu harus bilang apa sama penciptaku karena mengirimkanmu yang begitu sempurna ini. Aku …."
Ucapan Sylia terhenti saat bibir Alman mendarat di bibirnya. Sylia membulatkan matanya karena terkejut. "Aku akan membaringkanmu di tempat tidur, Sayang." ucap Alman disela ciuman singkatnya. Sylia benar-benar terbius oleh perlakuan Alman. Saking nggak sadarnya, Sylia tidak ingat kapan Alman mengangkat tubuhnya dan tiba-tiba Sylia sudah terbaring di tempat tidur. "Jangan menatapku seperti itu Sayang, nanti aku makin jatuh cinta sama kamu dan nggak rela jauh-jauh darimu." Kata Alman seraya mengusap sebelah pipi Sylia yang mulus.
"Apa kamu benar-benar nggak merasa jijik dan takut dengan wajahku Kak? Aku …." lagi dan lagi apa yang Sylia ragukan selalu dipatahkan oleh ciuman Alman.
"Menurutmu kalau aku seperti apa yang kamu pikirkan, apa mungkin aku akan menciummu berkali-kali dan juga meminta hakku? Jangan berpikir yang nggak-nggak. Em, sekarang kamu istirahat dulu ya kalau gitu. Aku mau ke kantor." Alman bangun dari tempat tidur itu dan menarik selimut untuk menutup tubuh Sylia. Ada rasa kecewa dalam benak Sylia saat Alman tidak jadi meminta haknya dan malah akan pergi ke kantor.
"Kak!"
"Hm?"
"Itu, em nggak jadi deh. Hati-hati dijalan ya. Jangan pulang telat. Tapi apa nggak sebaiknya besok aja ke kantornya. Ini udah siang masak mau berangkat ke kantor."
"Apa kamu udah siap?" Sylia langsung merona. Alman seolah tahu apa yang ada dibenak Sylia. "Kalau kamu siap, aku nggak jadi pergi ke kantor. Aku bakal ikutin saran istriku."
"Em, itu …."
Alman kembali ke tempat tidur dan langsung menindih tubuh Sylia. Pada akhirnya kedua pasangan itupun melakukan apa yang semestinya mereka berdua lakukan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...