
NOTE !!! Author hanya ingin menambah rasa para Readers untuk membaca novel ini jadi semua author lakukan hanya untuk para readers tersayang semua unsur tempat nama dan tokoh(fisual) dalam novel ini hanya untuk sebagai menambah daya tarik untuk readers
Author harap semua para readers dapat memaklumi
Next !!!!!
Sehari selesai berkunjung ke panti asuhan, kini waktu nya Iren, Sigit, dan si kembar pergi ziarah ke makam Tasya, sudah waktu nya untuk si kembar berkunjung ke rumah terakhir ibu kandung mereka, walau berat, Iren dan Sigit harus membiarkan si kembar mengetahui kebenaran sedari kecil.
Setiba nya di TPU, Rasya dan Rini sebagai anak yang pintar, tentu tidak hanya diam, mereka pun bertanya mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirin mereka
" Siapa yang meninggal ma, kok kita ke kuburan " tanya Rasya, ketika melihat banyak kuburan di sekitar nya
Pertanyaan Rasya sungguh sangat menyanyat hati Iren, namun Sigit tidak membiarkan istri kesayangan nya itu harus menjawab sendiri, atas pertanyaan yang Rasya berikan
" Sayang, papa dan mama ajak kalian kesini untuk ngenalin kalian seseorang yang belum kalian kenal, tapi papa dan mama minta, kalian harus bisa berjanji untuk tidak sedih, dan jangan pernah untuk mikir yang bukan bukan, kalian bisa gak janji untuk papa dan mama " ucap Sigit lembut, yang berusaha untuk membuat Rasya dan Rini mengerti, usia mereka yang sudah memasuki ke 7 sungguh sudah bisa berpikir layak nya seperti orang dewasa
" Kami janji tidak akan sedih, asal papa dan mama jangan pernah tinggalin Rasya dan Rini " jawab Rasya kembali, membuat Iren semakin terharu, memiliki buah hati yang tumbuh dengan pintar
" Papa dan mama sangat bangga dengan kalian, sampai kapan pun papa dan mama gak akan pernah ninggalin anak anak papa dan mama yang pintar pintar ini " ucap Sigit lembut yang tidak pernah berkata kasar untuk Rasya dan Rini
__ADS_1
Mereka pun langsung menuju makam Tasya, walau sudah ber tahun tahun, Iren selalu tidak bisa menahan tangis nya ketika melihat batu nisan yang bertulis nama kakak nya, tangis nya pun semakin jelas, ketika mereka sudah tiba di rumah terakhir alm kakak nya, di tambah ada Rasya dan Rini bersama mereka, membuat hati Iren semakin perih, merindukan sosok Tasya yang sangat mencintai dan selalu memanjakan dirinya
Kenangan demi kenangan terlintas di kepala Iren, masih begitu jelas rasanya wajah Tasya di pikiran nya, senyum nya, tawa nya , tangis nya, semakin membuat hati Iren perih, ingin rasanya ia berteriak menangisi pusaka alm kakak nya, namun ada perasaan Rasya dan Rini yang harus ia jaga
Perlahan Iren melirik kembali batu nisan Tasya, sungguh bagai tersayat sayat rasanya, sangat perih rasanya, ingin sekali rasanya Iren menangis sekencang kencang nya, meluapkan semua isi hatinya, sambil teriak memanggil nama alm kakak nya, yang sungguh amat sangat merindukan belas kasih dari kakak nya
Semakin Iren menahan tangis nya, semakin jelas pula senyum tasya terlintas di pikiran nya, seolah semua kenangan indah yang sudah mereka lewati, seketika muncul di kepala Iren, Iren kembali melirih batu nisan yang bertulis nama kakak nya, sungguh sangat pedih rasanya, mengalahkan rasa perih luka yang di taburi dengan garam, ingin sekali rasanya Iren membongkar makam alm Tasya, untuk melihat jasad kakak nya, yang sudah kembali menjadi tanah, sebegitu besar rasa rindu yang Iren tahan untuk Tasya, di tambah ia harus menahan tangis nya, semakin menambah sesak di dadanya
Sembari menaburkan bunga mawar, dan mengirimkan doa, membuat Iren harus menangis terisak, menahan tangis dalam hati nya, memendam perasaan rindu nya, membuat Sigit langsung memeluk untuk menguatkan wanita nya itu
Ini yang membuat Sigit merasa berat untuk membawa Iren ke makam alm Tasya, Iren akan selalu menangis bahkan dulu sewaktu Iren selesai wisuda, mereka memutuskan untuk pulang ke Jakarta, dan ziarah ke makam alm Tasya, Iren menangis sejadi jadinya sampai membuat ia pingsan tidak berdaya
" Sayang, sudah kamu jangan menangis lagi, kasihan anak anak lihat kamu sedih seperti ini " ucap Sigit yang berusaha untuk menenangkan Iren, agar Iren tidak kehilangan kendali
Rasya dan Rini pun langsung menghampiri Iren yang masih menahan tangis itu
" Mama kenapa nangis " tanya Rini, yang sedari tadi melihat air mata Iren mengalir di wajah cantik nya
" Mama gak nangis kok sayang, Oh ia mama dan papa ingin kenalin seseorang yang begitu sangat mencintai kalian " ucap Iren kembali
__ADS_1
" Siapa ma, gak ada siapa siapa disini, hanya ada papa, mama dan adek Rini " jawab Rasya sambil merhatikan sekitar nya
Sigit pun langsung memeluk Iren yang sedari tadi sudah membawa Rasya dan Rini ke pelukan nya
" Dia gak pernah jauh sayang, dia selalu ada di hati mama, papa dan juga di hati Rasya dan Rini, apa pun yang mama katakan, kalian jangan pernah benci dengan mama ya, karna mama sangat menyanyangi kalian, sebenar nya mama ini bukan....." belum sempat Iren menyelesaikan ucapan nya, Sigit pun langsung memotong ucapan Iren
" Rasya, Rini sayang, sebenar nya kalian punya dua mama, Mama Tasya yang sudah melahirkan kalian, dan mama Iren yang sudah menjaga dan membesarkan kalian dari kecil, kalian senang gak punya dua mama " tanya Sigit yang ingin pelan pelan menjelaskan untuk Rasya dan Rini
" Mama Tasya dimana pa, kok gak bantu mama Iren untuk menjaga Rasya dan Rini " tanya Rasya yang begitu sangat pintar dan cepat tanggap
" Mama Tasya sudah di surga sayang, dan ini tempat mama Tasya tinggal, tapi kalian harus selalu tau kalau mama Tasya sangat mencintai kalian, dan mulai sekarang jangan lupa untuk doa in mama Tasya ya, biar mama Tasya bahagia di rumah Allah " ucap Iren, sambil memegang batu nisan Tasya
" Mama Tasya sudah meninggal ya ma, Ya Allah,,jangan buat mama Tasya sedih, buat mama Tasya bahagia, kasihan mama Tasya ya Allah, jaga mama Tasya ya Allah, agar mama Tasya tidak kesepian " ucap Rini spontan air mata Iren dan Sigit berlinang, mendengar Rini yang begitu tulus mendoakan alm mama kandung nya, seolah sudah mengerti semua dengan apa yang ingin di jelaskan oleh Iren dan Sigit
Selesai mengirimkan doa, Iren meminta Sigit untuk membawa Rasya dan Rini ke mobil, belum puas rasanya jika Iren belum menumpahkan air mata nya, dan memanggil nama alm kakak nya
Sigit tidak bisa melarang Iren, dan langsung membawa Rasya dan Rini untuk menunggu Iren di dalam mobil
" Kakak,,,Iren sudah disini kak, Iren sangat merindukan kakak, pedih sekali rasanya melihat nama kakak di batu nisan, jawab Iren kak, peluk Iren kak, hapus air mata Iren kak, sembuhkan luka di hati Iren seperti yang dulu sering kakak lakukan "
__ADS_1
" Dulu kakak berjanji untuk selalu menjaga dan melindungi Iren, kakak pembohong, justru kakak yang sudah melukai dan menyakiti hati Iren, Iren mohon kak, lihat kan wajah kakak walau sedetik saja, apa kakak gak tau bagaimana perih nya hati Iren sekarang, jawab Iren kak, peluk Iren kak, Iren mohon, hikss,,hikss,,hiksssðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ " ucap Iren melampiaskan kerinduan nya, sungguh ia sangat merindukan Tasya, yang selalu memanjakan dirinya
Sigit yang sudah bisa membayangkan, apa yang akan di lakulan Iren, segera menyusul Iren ke makan Tasya, yang di takut kan Sigit pun terjadi, melihat Iren yang sudah terbaring sambil memeluk nisan alm kakak nya