Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku

Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku
BAB 95


__ADS_3

"Begini mas, kira-kira di sini ada menyediakan toko obat atau sejenisnya, gak?" tanya Sigit malu-malu, membuat Adit bisa mengerti apa maksud Sigit tersebut, tentu saja ini bukan hal pertama untuk Adit, melayani sepasang suami istri yang sedang bulan madu, jadi ia akan tau apa yang akan dibutuhkan atau yang sedang di cari para tamunya tersebut.


"Oh, saya bisa mengerti maksud bapak, pak Sigit gak usah malu-malu, tugas saya di sini melayani semua kebutuhan bapak, jadi apa pun yang bapak butuhkan tinggal bilang ke saya" sahut Adit semangat, membuat Sigit bisa percaya kepadanya


"Syukurlah mas Adit bisa mengerti apa maksud saya, saya jadi merasa lega, kira-kira di mana saya bisa beli obatnya mas, saya gak tega lihat istri saya kesakitan" sambung Sigit kembali tanpa merasa ragu.


"Mari ikut saya pak, tempatnya tidak jauh dari sini, ini merupakan salah satu pelayanan dari kami, menyediakan klinik serta dokter yang ahli untuk bertugas membantu para tamu yang berkunjung jika mengalami kesusahan" kata Aditya menjelaskan, sehingga membuat Sigit merasa semakin lega, tidak sia-sia ia mengeluarkan uang ratusan juta untuk menyewa pulau tersebut.


Setelah mendapat obat untuk Iren, Sigit pun cepat-cepat kembali ke kamar, ia tidak tega membiarkan Iren sendiri lama-lama.


Setibanya di kamar, Sigit melihat Iren yang sudah tertidur dengan pulas hanya dengan memakai handuk, sehingga membuatnya merasa gemes dengan istri cantiknya itu, pelan-pelan Sigit menghampiri Iren, ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Istri cantiknya itu.

__ADS_1


Sigit membuka handuk yang masih melekat di tubuh Iren, sehingga membuatnya kembali terpana dengan keindahan tubuh Iren, kali ini ia tidak dapat menahan gejola yang membara dari dalam dirinya, ia pun mulai menjalankan aksinya di tubuh Iren, sehingga membuat Iren harus terbangun dari tidurnya.


"Sayang" rengek Iren saat melihat Sigit sudah berada di atas tubuhnya.


"Maafin mas ya sayang, mas benar-benar gak bisa menahan hasrat, mas" ucap Sigit yang sudah dikuasai oleh *****


Iren pun tersenyum melihat suami nakalnya itu, dengan senang hati, Iren pun membiarkan Sigit memangsa dirinya.


setelah itu, Sigit pun menuntun senjatanya ke dalam mahkota Iren, pelan-pelan ia mencoba untuk memasukkannya, walau masih kesusahan, akhirnya, kini pedang Sigit sudah menancap ke sarungnya. Irene hanya bisa memejamkan mata, ia menikmati serangan yang Sigit berikan. ******* demi ******* pun memenuhi kamar mereka, Sigit seakan tidak peduli saat Irene menjerit, ia benar-benar menikmati permainan yang mereka lakukan.


Setelah merasa puas, Sigit pun mengambil air hangat untuk membersihkan mahkota Irene, dengan hati-hati ia mengoleskan salap yang diberikan dokter itu kepadanya, perlakuan Sigit membuat Irene merasa sedikit nyaman dan memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh Sigit.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Sigit pun menyusul Irene untuk istrahat, ia juga sudah benar benar merasa lelah. Sebelum ia memejamkan mata, tidak lupa Sigit mengecup kening dan bibir Iren, ia benar-benar sangat merasa bahagia, ia mendapatkan kebahagiaan yang selama ini belum pernah ia dapatkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, silau matahari membuat Irene terbangun dari tidur nyenyaknya, Irene sungguh merasa bahagia saat membuka mata, ia melihat wajah tampan Sigit tepat di hadapannya, tanpa menunggu aba-aba, Irene pun langsung mencium lembut bibir suami tampannya itu.


Iren langsung beranjak dari tempat tidur lalu bergegas mandi, ia tidak ingin menggangu tidur Sigit yang masih tidur dengan nyenyak, setelah semua selesai, Iren pun ke dapur untuk menyiapkan serapan. Irene sengaja untuk tidak membiarkan para pelayan menyediakan serapan mereka, yang penting semua bahan makanan sudah tersedia, sisanya biar ia yang urus sendiri.


Dear readers


Jangan lupa untuk selalu dukung dan vote sebanyak-banyaknya untuk karya aku, biar aku semakin semangat buat up tiap hari


aku sayang kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2