Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku

Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku
Part Khusus Dr Albern dan Sinta


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, sudah setahun Sinta berada di L.A. kondisi nya juga mengalami kemajuan pesat, walau belum bisa berlari Sinta sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan tanpa bantuan.


Sejak berhubungan denga Sinta, Dr Albern yang menanggung semua biaya hidup Sinta dan Lia disana, ia ingin menunujukkan keseriusan nya untuk wanita nya itu, dengan berat hati Sigit dan Iren pun memberhentikan untuk mengirim dana ke sahabat nya itu.


" Sayang, jangan terlalu di paksa, nanti kamu bisa jatuh " ucap dr Albern, yang selalu setia mendampingin Sinta


" Gak masalah sayang, aku bisa mengatasi nya " jawab Sinta, namun tidak lama kemudian, ia pun terjatuh ke lantai, spontan dr albern langsung berlari menghampiri nya.


" Kamu tidak kenapa kenapa kan sayang, gak ada yang sakit kan, ayok ke rumah sakit, biar aku bisa lihat apa yang cidera " ucap dr Albern yang begitu cemas, Sinta hanya bisa tersenyum melihat wajah tampan kekasih nya itu


" Maaf, aku selalu membuat kamu susah dan kwatir begini " ucap Sinta memelas


" Sayang, kamu ngomong apa sih, aku itu sangat mencintai kamu, aku mencintai semua kelebihan dan kekurangan kamu, justru aku ingin secepat nya untuk menikahi kamu, agar aku punya tanggung jawab penuh atas diri kamu, jadi aku mohon berhenti merasa sungkan, aku tidak menyukai nya " jawab dr Albern, lalu mengangkat tubuh Sinta kembali ke kursi roda nya.


" Sayang kenapa Badan kamu semakin hari semakin ringan? " tanya Dr Albern yang ingin menggoda Sinta.


" Siapa bilang, justru berat badan aku nambah, aku tau sayang pasti sedang menggoda aku, aku tau aku berat, jadi sayang gak usah gendong gendong aku lagi " jawab Sinta cemberut, yang merasa berat badan nya semakin nambah


" Kamu lagi serius apa sedang merajuk sih sayang, kok tetap cantik " jawab dr Albern yang sangat suka menggoda Sinta.

__ADS_1


" Sayang,,aku serius, lihat wajah aku " ucap Sinta sambil menunjukkan wajah serius nya.


" Kamu semakin cantik " jawab Dr Albern singkat, membuat Sinta merasa malu


" Sayang, kamu kenapa selalu menggoda ku, aku malu " sambung Sinta, sambil menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya.


" Hei sayang, kan aku sudah bilang, semakin kamu malu, semakin membuat kamu cantik, aku bersyukur punya calon istri secantik kamu " ucap dr Albern kembali, sambil melepas tangan Sinta yang menutupi wajah cantik nya.


Sinta dan Dr Albern pun sudah saling bertatapan, semakin lama semakin dalam, hingga bibir Dr Albern pun mendarat di bibir Sinta, bibir mereka pun saling *******, dan saling menikmati, hingga membuat Lia harus merasa malu, tidak sengaja harus melihat pemandangan itu.


"Aku tidak melihat nya " ucap Lia polos, yang tidak biasa melihat seperti itu.


" Aku angkat telfon dulu ya sayang " ucap Dr Albern yang selalu ijin dengan Sinta, itu yang membuat Sinta bahagia, walau sepele Dr Albern selalu menghargai nya.


Setelah selesai bicara, Dr Albern pun terpaksa meninggalkan Sinta, ada pasien kritis yang butuh jasa nya di rumah sakit, dan Sinta pun langsung mengijinkan calon suami nya itu untuk pergi.


" Max lo jaga Sinta dulu ya, gue harus pergi, ini urgent banget " ucap Dr Albern yang mempercayakan Sinta untuk nya


" Lo gak usah takut, gue disini sampai lo balik " jawab Max yang semakin hari juga memiliki perasaan untuk Sinta, Max yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sinta, membuat perasaan nya tumbuh, yang tidak bisa ia pungkiri, namun demi dr Albern, Max pun terpaksa menyembunyikan perasaan nya.

__ADS_1


" Sinta Lo makan dulu ya, ini sudah waktu nya untuk minum obat, agar Lo bisa cepat sembuh " ucap Max yang sudah akrab dengan panggilan Sinta, dan Sinta yang tidak memiliki perasaan untuk nya pun hanya menganggap biasa, di tambah Sinta juga sudah mengetahui siapa Max sebenar nya.


" Terimakasih, Gue kayak nya sudah terlalu sering ngerepotin lo " jawab Sinta, namun di bantah oleh Max


" Tidak masalah, gue juga kan seorang dokter, jadi gue juga akan membantu lo agar lo bisa cepat sembuh, walau tidak sehebat Albern, tapi gue masih ngerti untuk ngobatin pasien " sambung Max sambil menyuapi Sinta.


" Max, gue boleh tanya sesuatu gak? " tanya Sinta, membuat Max penasaran apa yang hendak ingin di tanyakan oleh Sinta


" Silahkan, gak ada yang melarang " jawab Max singkat


" Lo jangan tersinggung, gue hanya penasaran kenapa lo gak kerja di rumah sakit, sementara lo seorang dokter? " tanya Sinta, spontan wajah Max berubah sedih, pertanyaan Sinta seakan mengingatkan dirinya ke masa lalu.


" Gue minta maaf, gue gak maksa lo buat jawab, santai saja " ucap Sinta kembali yang menyadari perubahan wajah Max


" Gak Masalah, lo wajar bertanya seperti itu, dan setiap orang yang belum mengenal gue juga akan bertanya seperti itu, jika mereka tau gue seorang dokter. gue itu dokter yang tidak berguna, bahkan gue gak pantas mendapat gelar itu, bertahun tahun gue berjuang, gue belajar keras hanya untuk menjadi seorang dokter, dengan tujuan gue bisa menyembuhkan nyokap gue, tapi nyokap gue harus mati di tangan gue sendiri, kejadian nya 4 tahun yang lalu, nyokap gue kena kanker payudara, gue kira dengan melakukan operasi nyokap gue bisa sembuh, tapi justru gue menyebabkan nyokap gue harus pergi " jawab Max menceritakan luka yang selama ini ia pendam, sejak kejadian itu Max sama sekali tidak ingin menjalan kan tugas nya sebagai dokter, air mata nya pun mengalir deras, hanya dengan Sinta ia kembali menceritakan masalah terpahit di hidup nya, Sinta yang menyaksikan itu pun merasa bersalah, tidak seharus nya ia mempertanyakan sesuatu yang membuat nya penasaran


" Max gue minta maaf, gue gak bermaksud mengingat kan lo dengan kejadian yang sudah menimpa hidup lo, tapi lo harus tau, itu semua bukan kesalahan lo,gue yakin Alm nyokap lo tidak ingin melihat lo seperti ini, gue mohon lo jangan hidup di bayangi dengan rasa bersalah seperti ini, itu semua sudah ke hendak tuhan, lo sudah melakukan yang terbaik " ucap Sinta yang mencoba menenangkan Max, Max yang sangat merasa terpukul itu pun langsung memeluk dan menumpahkan Seluruh air mata nya di baju Sinta.


" Semua orang nyalahin gue, keluarga gue bahkan sangat membenci gue, hidup gue hancur, gue merasa bersalah, andai gue tidak menjadi dokter, nyokap gue pasti masih hidup " sambung Max dengan nada suara terputus putus karena tangisan nya.

__ADS_1


" Tidak, itu bukan salah lo, suatu saat keluarga lo pasti bisa mengerti, mereka hanya butuh waktu, jadi lo harus bisa bangkit, jangan biarkan perasaan ini menghancurkan hidup dan masa depan lo " ucap Sinta yang sangat merasa empati dengan Max, mungkin semua orang akan melakukan hal yang sama dengan kejadian yang sudah menimpa Max.


__ADS_2