
Sigit yang merasa tidak nyaman di sofa, langsung mengangkat tubuh Iren ke ranjang yang masih dihiasi dengan mawar merah.
Keduanya kini sudah saling merasa bergairah, hingga mereka saling menyerang satu sama lain.
"Kamu beneran udah siap, kan, sayang?" tanya Sigit kembali.
"Ia sayang, tolong berikan Irene nafkah batin," jawab Irene, sehingga membuat hasrat Sigit semakin bergejolak.
Sigit pun langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Irene, kemudian langsung disambut Irene, mereka saling ******* satu sama lain, dan saling bertukar air liur.
setelah itu, Sigit mulai meraba-raba tubuh Irene, sembari beradu bibir dengan Irene, Sigit pun mulai mendaratkan tangannya di buah dada Irene, yang selama ini hanya bisa ia pandang dari luar. Buah dada Irene benar-benar padat dan kenyal, sehingga membuat Sigit tidak tahan untuk tidak meremasnya.
Sigit benar-benar sangat merasa bergairah, ia merapikan rambut Irene, lalu menjilat leher dan telinga Irene. Ruangan itupun dipenuhi dengan erangan dan juga ******* manja dari bibir Irene, sehingga membuat Sigit semakin tinggi.
Perlahan, Sigit pun mencoba untuk menerobos mahkota Irene, Irene merasa sakit yang luar biasa, Irene pun menjerit dan Sigit langsung membungkam mulut Irene dengan mulutnya. Sigit kembali ******* bibir Irene, sehingga membuat Irene tidak memiliki kesempatan untuk menjerit.
Setelah senjatanya berhasil menerobos masuk, Sigit pun menyeka air mata yang mengalir di wajah cantik istrinya itu, Sigit pun berbisik, "Maafkan mas sayang," bisiknya, kemudian Sigit mulai memaju mundurkan senjatanya, sehingga membuat Irene menjerit dan mendesah.
__ADS_1
Sigit benar-benar merasa puas, akhirnya ia bisa merasakan surga dunia dari Irene, ditambah Irene juga masih perawan, membuat Sigit semakin mencintai Irene.
"Terimakasih, sayang, kamu sudah memberikan harta yang paling berharga untuk mas" ucap Sigit, yang sudah terbaring lelah di samping Irene.
"Iya mas, Irene juga berterimakasih, mas sudah sabar menunggu dan sudah memberikan nafkah lahir batin untuk Irene" jawab Irene dengan suara menahan sakit.
Sigit menyadari ada yang aneh dengan Istri tercintanya itu, ia segera bangkit dan memeriksa keadaan mahkota Irene, benar saja, akibat permainannya, menyebabkan mahkota Irene terlihat merah dan bengkak.
"Mas minta maaf sayang, gara-gara mas, kamu harus menahan sakit seperti ini" ucap Sigit merasa bersalah.
"Tidak apa-apa mas, sakitnya cuman perih biasa kok, gak usah kwatir begitu" jawab Irene lembut, Irene tidak ingin membuat Sigit merasa bersalah.
"Ya sudah, kita bersihin dulu ya, nanti biar mas cariin obatnya, mas gak tega lihat begini" sambung Sigit.
"Iya mas," sahut Irene, setelah itu, Sigit pun mengangkat tubuh Irene ke kamar mandi.
Dengan lembut, Sigit pun memasukkan tubuh Irene ke bathub yang sudah di penuhi dengan air, airnya masih dihiasi bunga mawar yang segar, Sigit benar benar memanjakan Irene, ia tidak membiarkan Irene melakukan apa-apa untuk tubuhnya.
__ADS_1
Dengan perasaan cinta, Sigit pun mulai menggosok seluruh badan Irene, sehingga membuat Irene merasa sensasi yang luar biasa.
"Mas sangat mencintai kamu sayang" bisik Sigit, membuat Irene benar benar merasa melayang.
Perlahan-lahan, Sigit pun mulai membersihkan mahkota Irene yang sudah terlihat bengkak itu, sehingga membuatnya merasa gemes sendiri dan ingin menerkam kembali surga dunianya itu.
Namun niatnya Sigit ulur kembali, ia tidak tega jika harus melukai Irene hanya karena sebatas nafsunya saja.
Setelah mereka selesai mandi, Sigit kembali mengangkat tubuh Iren ke kamar, perlakuan Sigit benar benar membuat Irene semakin jatuh cinta dengan Suaminya itu.
"Kamu di sini dulu ya sayang, mas pergi cari obat dulu, mas gak tega lihat kamu nahan sakit begitu" ucap Sigit ketika sudah selesai memakai baju santainya.
"Jangan tinggalin Irene sayang, Irene takut sendiri di sini" rengek Irene manja, sejak Sigit berhasil merebut mahkotanya, membuatnya bersikap semakin manja kepada Sigit.
"Mas gak lama kok sayang, Kamu sabar nungguin mas ya, ini kan demi kamu juga" ucap Sigit dengan lembut dan akhirnya Iren pun hanya bisa menyetujui perintah suaminya itu.
Sigit pun keluar kamar mencari pelayan vila yang sudah ia sewa itu, tidak menunggu lama, ia pun melihat Aditya yang sedang duduk santai sambil menatap indahnya pemandangan pantai di malam hari.
__ADS_1
"Permisi mas Adit, malam-malam begini saya menyusahkan mas Adit" ucap Sigit merasa sungkan, mesti itu sudah kewajiban Adit untuk melayani dirinya.
"Gak usah merasa sungkan pak Sigit, justru saya senang, jika bapak membutuhkan tenaga saya, kalau boleh tau, ada masalah apa pak, hingga bapak harus repot repot keluar mencari saya, padahal bapak bisa tinggal telfon dari kamar, biar saya yang datang menjumpai bapak" jawab Adit merasa sungkan, ia takut membuat Sigit kecewa atas pelayanannya.